ulasan. resensi. kesan.

ulasan. resensi. kesan. ini bukuku, apa bukumu?
Tampilkan postingan dengan label fiksi-sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi-sejarah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Oktober 2013

The Various Flavours Of Coffee - Rasa Cinta dalam Kopi

The Various Flavours Of Coffee - Rasa Cinta dalam KopiThe Various Flavours Of Coffee - Rasa Cinta dalam Kopi by Anthony Capella

My rating: 4 of 5 stars


Aku bukan penggemar kopi. Bukan karena tidak suka, tapi lebih ke masalah kesehatan. Minum kopi bisa membuat perutku mual dan berkeringat dingin. Mungkin karena kandungan kafein di dalamnya yang memacu detak jantung lebih cepat dan juga memacu asam lambung untuk berproduksi sehingga hanya kembung yang kurasakan ketika memaksakan diri menenggak segelas kopi yang berbau harum untuk memaksa mata tetap melotot ketika lelah.

Sialnya, aku mencintai aroma kopi.

Lalu kusadari, masalahku dengan kopi ini hanya terjadi ketika minum kopi instan dalam sachet. Semua kopi sachet yang kuminum, sampai yang namanya terkenal secara internasional pun berefek sama pada perutku. Sampai aku menemukan satu merk yang dihidangkan padaku ketika aku meeting di pabrik pembuatnya. Yang juga memproduksi permen kopi terkenal. Harumnya membuatku mencicipnya sedikit ketika masih panas dan berbuih. Eih, satu jam, dua jam, sampai pulang, tak bermasalah dengan perutku. Akhirnya sesekali aku mencobanya, hanya dengan merk dan jenis itu.

Namun memang kopi itu harus diminum dalam kondisi tertentu. Kadang aku nyaman meminumnya, kadang juga tidak. Mungkin ada satu kondisi lelah yang tak tertanggungkan oleh kopi.

Awal tahun ini aku terbang ke Belitong. Di sana terkenal dengan kedai kopinya sebagai tempat bermasyarakat, bersosialisasi antar penduduknya. Aku mencoba minum kopi di saat sarapan di satu kedainya. Aromanya yang harum, dari bubuk kopi lokal yang dimasak terus menerus di tungku batu, menguarkan bau yang menggoda untuk dicicip. Dan ternyata, tidak bermasalah dengan perutku.

Aku jarang minum kopi kecuali butuh. Dan terkadang aku lebih memilih minuman lainnya untuk menjaga mata dari kantuk. Namun kopi-kopi lokal ini, yang dimasak dengan air mendidih, bukan dengan air dispenser, memang memberikan sensasi menggoda. Sehingga aku pun jadi rajin mencobai kopi-kopi lokal di tempat-tempat yang kudatangi.

Membaca buku ini membuatku merindukan lagi harumnya kopi. Bagaimana ia berada di gudang dan meraup segenggam biji kopi untuk dibaui, membuatku kembali ke gudang harum di belakang toko Kopi Aroma Bandung. Cara menikmati kopi dengan mencium dan menyesapnya sebagai teman diskusi membuatku percaya bahwa peminum kopi adalah pemikir. Bertualang mencari bibit kopi terbaik hingga Afrika dan Brasil, hingga sejarah moka yang berasal dari kota Mecca. Dalam beberapa cerita lain yang pernah kubaca juga dikisahkan bahwa kopi dibawa ke Indonesia oleh pedagang dari Arab.

Kopi yang tersaji dari rumah hingga gelas di warung atau di kafe mahal di sebuah pusat perbelanjaan memberikan gengsi pada lokasi meminumnya.
Tapi untukku tempat minum kopi hanya satu : di material berbahan gelas. Aku nggak suka kopi di cangkir kertas.



View all my reviews

Selasa, 23 Juli 2013

Kapitan Pedang Panjang

Kapitan Pedang PanjangKapitan Pedang Panjang by Fira Basuki

My rating: 4 of 5 stars


Namaku Lelananging Djagad, artinya lelaki yang amat lelaki atau sebutan lain untuk Arjuna. Aku lari dari keluargaku yang ningrat untuk mencari pengalaman hidup. Aku tidak mau disekolahkan ke negeri Belanda, negeri penjajah yang merampas harta negeriku. Aku menceburkan diri ke lautan, dengan nahkoda Kapten Darmo, dan kapalnya Sembrani, si pemilik Pedang Panjang. Kapten Darmo berkata bahwa Sembrani si kuda terbang akan menuntun jalannya di lautan. Jika sedang dalam keputusasaan, Sembrani akan muncul, dan menolongmu.

Aku bertempur melawan Belanda di lautan, sesaat sebelum kemerdekaan tanah air yang kucintai ini. Lepas dari tawanan tentara Belanda aku ditahan oleh Jepang, kaum kuning kecil yang datang dari timur dan ingin menguasai tanahku juga lautku. Semua demi kekuasaan. Diselamatkan Sekutu, aku merapat. Kembali ke Surabaya, menjejak tanah kembali. Dan bertemu dengan Kemuning, nenekmu, Laras.

Ombak bergulung-gulung. Gelap gulita, petir menyambar-nyambar. Padahal baru saja kami berjalan, kenapa sudah diterjang ombak seperti ini. Kapal Sembrani, demikian kuberi nama seperti Kapal Jung Jawa yang dulu dimiliki Kapten Darmo, bergoyang ke kiri kanan terempas ombak.
“Gulung layaaaar!” teriakku.
Satu per satu layar digulung dengan susah payah karena angin seperti menentangnya. Sebagai nahkoda pun aku tidak akan berfungsi banyak karena kemudi bergerak sendiri ke kiri dan ke kanan. Keadaan jadi gelap gulita, semua cahaya di kapal mati. Kami mati-matian mengeluarkan air dari kapal.
Ya, Gusti! Jangan biarkan kapal ini terbalik!
(h.86)



Namaku Laras Maharani Djagad. Aku orang tua tunggal yang sedang membaca buku harian kakekku. Hidupku tidak bisa dibilang normal. Aku mengejar cinta seorang Rain, yang kukenal dan berpisah, dan berusaha merebut cintanya. Aku tahu Rain ada, dan bersamaku, tapi apakah hatinya untukku? Sementara aku terus membangun karirku, bepergian ke luar negeri, untuk memantapkan hatiku apakah aku memilihmu, Rain. Tapi apakah kau memikirkanku di kala aku memikirkanmu? Apakah kau bisa menerimaku dan Rose, yang juga merindukan seorang ayah?

Ada garis hidup yang harus dijalani. Ada kebetulan yang mungkin terjadi. Ada kaitan yang di luar nalar kita. Ada petunjuk yang datang dari mimpi. Masa lalu dan masa kini, tak berbeda, hanya dipisahkan oleh hitungan waktu. Ada doa yang harus dipanjatkan. Pedang warisan ini harus berjalan ke mana ia harus berada. Ini adalah jalan pedang mencari tuannya.

Ketika saatnya lepas, maka harus ikhlas. Karena takdir sudah menyuratkan demikian.

Aku membaca buku dengan plot baju mundur yang menarik. Mengenang petualangan Djagat, meriuh dengan pelarian Laras. Mengikuti ombak dan Sembrani Djagat, dan gemuruh hati Laras. Mereka sama-sama kuat dalam dunianya masing-masing. Dalam perjuangan, atau dalam pesta. Masalah itu bisa dibuat, bisa juga tak terprediksi. Namun bahagia itu diciptakan.



View all my reviews

Jumat, 28 Juni 2013

Korupsi

KorupsiKorupsi by Pramoedya Ananta Toer

My rating: 4 of 5 stars


Aku sering heran melihat orang yang tidak beralasan tetapi malah korupsi. Sudah punya rumah, mobil, istri, tetap saja berkorupsi karena iri hati melihat orang-orang di sekitarnya yang tampak lebih makmur. Mungkin karena korupsi itu adalah dosa kebanyakan, dosa bebarengan, sehingga dibilang, "ah, dia saja melakukan tidak apa-apa, kenapa kita tidak korupsi juga?"

Sementara itu, kenapa juga orang miskin berkorupsi. Karena kekurangan, karena ada kesempatan, karena memang membutuhkan untuk memperpanjang hidupnya. Namun sayang, ketika uang panas itu dipakai, selalu tidak bertahan lama. Selalu hanya ada sebentar kemudian lenyap habis juga untuk hal-hal tak berguna. Selalu ada rasa salah ketika memberikan uang hasil korupsi untuk hal-hal yang baik. Seakan uang itu hanya berguna untuk pemenuhan kebutuhan-kebutuhan yang tidak penting. Bukankah seharusnya masih bisa hidup dengan hasil yang biasa?

Upeti, nilep, apapun itu bagian dari korupsi. Sudah sekian lama di Indonesia. Bahkan Pramoedya yang menuliskannya sejak dulu masih relevan dibaca sampai sekarang. Novel ini juga yang mengilhami Tahar Ben Jelloun untuk menulis cerita Corruption di negaranya.

Berita-berita di televisi hingga hari ini tentang korupsi masih menyakitkan hati rakyat Indonesia. Tidak pernah berkurang, malah semakin ditambah-tambahi. Just wonderring, kapan hilang korupsi dari negara kami?



View all my reviews

Emilie Jawa 1904

Emilie Jawa 1904Emilie Jawa 1904 by Catherine Van Moppes

My rating: 4 of 5 stars


Eropa-batavia 1904.

Seorang perempuan dengan suaminya bertugas di Batavia tahun 1904. Jaman ketika Belanda menerapkan politik etis di Indonesia, yang dijajahnya selama bertahun-tahun. Emilie berangkat naik kapal laut dan melalui perbagai pelabuhan-pelabuhan di Asia Tengah dan Timur. Perjumpaan-perjumpaannya dengan orang-orang Eropa yang sama-sama bertugas ke Timur Jauh tidak mengendurkan semangatnya untuk mempelajari eksotisme Timur walaupun orang-orang itu sudah memperingatinya akan hal-hal buruk yang mungkin terjadi di Hindia Belanda.

Cerita ini bagaikan sebuah catatan harian, yang ditulis dengan begitu rincinya mulai dari keberang 6 2 atan kapalnya, pelabuhan-yang disinggahi, hotel-hotel yang ditinggali, restoran-restoran di sudut Colombo, sampai rumah candu di Singapura yang membuat Emilie tersesat karena ada huru hara di antaranya. Emilie tidak melihat adanya perbedaan dari Eropa hingga Asia karena semua hal yang ia terima selalu dengan gaya Eropa. Padahal ia ingin sekali mempelajari hal lokal yang ada di tempat-tempat yang ia singgahi.

Emilie menceritakan hari-harinya tinggal di Batavia, intrik politik yang terjadi antar penguasa, pembagian kelas antara orang Eropa dan pribumi lokal yang menurutnya aneh. Di sini didapat gambaran tentang kota ini di masa lampau, termasuk daerah Pecinan Glodok yang sudah terkenal sejak masa itu. Gaya sosialita nyonya-nyoya Eropa masa itu pun diceritakannya. Emilie merasa tertekan karena ia tidak bisa mengungkapkan pendapat-pendapatnya karena ia seorang perempuan. Suaminya Lucien pun merasa gamang karena mereka sendiri berkebangsaan Perancis namun bekerja untuk pemerintah Belanda, yang prinsip berpikirnya berbeda.

Ia memberontak lari, mendapati petualangan dalam cinta, yang membuatnya menyadari bahwa bangsa Eropa di tanah Hindia adalah ilusi, seharusnya tidak berada di situ karena mereka tidak pernah mencintai tanah itu, hanya demi tugas dan kedudukan saja. Apa yang ia pilih?

“Kolonialisme haruslah menjadi kebanggaan kaum humanis. Kaum pribumi harus didorong untuk berevolusi ke arah yang berkesesuaian dengan takdirnya, sejalan dengan pikiran bangsa dan lingkungannya.” (h.120)

Apakah benar?




View all my reviews

Sabtu, 29 Desember 2012

Pulang

PulangPulang by Leila S. Chudori
My rating: 5 of 5 stars

Setiap aku melakukan perjalanan, orang yang baru kukenal selalu bertanya, “Mbak, aslinya mana?”. Lalu aku cuma jawab simpel, “Jawa, Mas.” Kupikir cukup sampai di situ, namun orang itu akan lanjut bertanya,”Jawanya mana?”. Lalu aku bingung mau pilih yang mana, jawaban variatif pun kulontarkan, tergantung yang nanya dan lokasi bertanyanya sih. Kalau berada di daerah timur, aku akan menjawab, dari Jakarta tempat kerjaku, atau dari Bandung rumah orangtuaku sekarang atau Depok tempat tinggalku atau Cirebon kota kelahiranku. Itu Jawa bukan? Iya dong, kan berada di Pulau Jawa. Sementara kalau mengenalku lebih jauh pasti akan tahu bahwa ada beberapa kota lain yang pernah aku tinggali, tempat aku pernah merasa pulang.

Kemudian ditanya lagi,”Jadi pulangnya ke mana nih, mbak?” Jawabannya tentu bervariasi tergantung tujuanku saat itu. Pulang sebenar-benarnya memang ketika kita berada di rumah, tempat tidur sehari-hari. Namun aneh rasanya karena ketika hampir tidur di rumah aku selalu merasa ingin berada di tempat lain, di tempat-tempat impianku. Pernah aku berkata, aku ingin berada di suatu tempat begitu lama sehingga aku merindukan pulang. Ya, di antara perjalananku saat ini, aku belum pernah merindukan pulang. Kadang aku rindu Bintang, namun ketika ia bertualang bersamaku, maka tak ada lagi yang membuatku ingin pulang. Aneh? Ya, karena terlalu seringnya aku tidak berada dekat dengan orang-orang terdekatku, teknologi yang membuat bisa berkomunikasi kapan saja, jadi rasa kangen itu hampir tidak ada. Dan juga karena aku selalu bisa diterima di rumahku yang mana saja, sehingga biasa-biasa saja. Pulang, ya, pulang. Beraktivitas sejenak di rumah, kemudian pergi lagi. Bisa dihitung berapa hari dalam setahun aku berada di rumah yang kutinggali selama sehari penuh.

Tidak demikian dengan Dimas Suryo, yang tidak sengaja berada di pengasingan dan tidak bisa pulang ke rumahnya di Indonesia. Kehidupan sebagai seorang eksil politik di negeri orang, tujuan dari pelarian-pelariannya di luar negeri, bukan karena keinginannya untuk bertualang, namun nasiblah yang mendamparkan hidupnya di Perancis, direndahkan oleh rezim kekuasaan yang menganggap dirinya adalah salah satu dari bahaya laten yang pernah menghantui Indonesia. Pemerintah yang ketakutan akan kembalinya salah satu musuh politik berusaha menghalangi kembalinya tokoh-tokoh yang dianggap bisa menghidupkan kembali faham yang dilarang di Indonesia itu.

Kehidupan Dimas Suryo ini mengundang haru. Kerinduannya pada Indonesia, pada ibu dan adiknya yang dilabeli E.T (eks Tapol) di KTP-nya , lewat surat-surat yang diterimanya, deritanya di negeri orang, hasrat untuk bertahan hidup dengan terus memasak masakan Indonesia, bahkan bersama teman-temannya membangun restoran Indonesia. Kerinduan yang dipendamnya dalam bentuk dua stoples kunyit dan cengkeh sebagai pengobat laranya akan keinginannya untuk pulang.

Di beberapa bagian aku menangis haru membacanya. Sungguh ini cerita yang tak pernah aku dengar selama masa sekolahku. Bagian Indonesia yang terkubur yang ditutupi seolah itu borok negeri. Luka yang tak pernah diobati. Betapa sulitnya menjadi terpinggirkan. Kecintaan pada negeri namun tak pernah diakui. Sementara yang ditebarkan hanyalah bibit-bibit kebencian pada mereka. Orang Indonesia di Paris tak mau sama sekali menengok mereka, hanya mencemooh belaka.

Kerinduan Dimas Suryo, dan teman sepelariannya Nugroho dan Risjaf sedikit terobati ketika mereka tahu bahwa Lintang, anak Dimas harus mengambil data studinya di Indonesia tahun 1998, tepat ketika pecah revolusi baru lagi di Indonesia meruntuhkan orde baru, yang sudah menyiksa mereka selama bertahun-tahun, dengan tidak menghilangkan kewarganegaraan mereka, dan menghilangkan kesempatan mereka untuk pulang berkumpul dengan keluarganya. Lintang yang menjadi saksi runtuhnya rezim yang mencengkeram nama keluarganya itu mendapati betapa mirisnya menjadi dirinya sendiri, juga ayahnya yang tak puya tempat pulang.

Bacaan hebat sebagai penutup akhir tahun. Membacanya seperti membuka sejarah bangsa, memperlihatkan sisi lain yang selama ini ditutupi oleh kurikulum sejarah. Suatu kebenaran yang tidak bisa dibungkus rapat lagi. Dan membuatku menghargai sebuah PULANG.


View all my reviews

Sabtu, 28 Januari 2012

Arus Balik: Sebuah Epos Pasca Kejayaan Nusantara di Awal Abad 16

Arus Balik: Sebuah Epos Pasca Kejayaan Nusantara di Awal Abad 16Arus Balik: Sebuah Epos Pasca Kejayaan Nusantara di Awal Abad 16 by Pramoedya Ananta Toer
My rating: 5 of 5 stars

#2011-37

Nenek moyangku orang pelaut
Gemar mengarung luas samudera
Menerjang ombak tiada takut
Menembus badai sudah biasa

Angin bertiup, layar berkembang
Ombak menderu di tepi pantai
Pemuda b'rani bangkit sekarang
Ke laut kita beramai-ramai


NUSANTARA. Apa yang bisa saya ceritakan tentang negeri ini? Sebuah negeri di tengah lautan luas, dengan pulau-pulau yang subur akan rempah-rempah di antaranya. Penghasil lada, pala, kayumanis, yang diburu di seluruh dunia. Cengkeh dan rokok kretek yang tak ada duanya.

Ya, dulu kita tergantung pada laut sebagai jalan membuka dunia. Pedagang dari Arab, Cina, India yang bersahabat membeli rempah dan menjual sutra. Kejayaan nusantara adalah armada. Phinisi yang membentangkan layarnya perkasa. Karena laut adalah pelindung kita. Pada angin kita berlayar, pada gelombang kita terjang.

Tetapi menunggu lebih lama adalah kebinasaan..

Di sini ada Wiranggaleng, pemuda desa yang pandai dan jujur, amat patuh pada atasannya, selalu mengikuti tanpa sadar benar dan salahnya. Prajurit yang berbakti, setia pada junjungan, abdi yang jujur dan dipermainkan kekuasaan. Kepiawaiannya di laut dan darat mendatangkan jaya untuk tahta, namun bala untuk diri dan keluarganya.
Prajurit, sejak dulu hidupmu selalu susah, tak berubah, hanya digunakan sebagai alat penguasa, martir untuk kejayaan tahta.

“Kesalahan orang-orang pandai ialah menganggap yang lain bodoh, dan kesalahan orang-orang bodoh ialah menganggap orang-orang lain pandai.”

Di sini ada Almawasa, syahbandar berlidah ular, makelar dari segala urusan adipati, penasihat yang hanya mementingkan diri sendiri. Licik, bengis, dan bermulut manis, Almasawa adalah otak dari persekongkolan, pengkhianatan, dan kebohongan terorganisir, tak punya nyali bila berdiri sendiri.
Cih! Sepertinya Almasawa banyak meninggalkan keturunan di nusantara masa kini. Ratusan pembohong, pembisik, penyebar isu, penjilat kelas kakap, muncul sebagai berita sehari-hari, melakukan pembenaran sana-sini, bertindak seolah-olah mewakili orang banyak, tapi sebenarnya memeras, dan mengiris-iris pedih.

"Semua Allah yang menentukan, Kanjeng Sunan," Manan masih juga membuka mulut. "Semua Kanjeng Sunan, tetapi yang yang tahu bertanggung jawab hanyalah manusia."

Di sini ada Sultan Trenggono, yang berkedudukan di Demak, bukan tepi laut. Kurang berhasrat mendirikan bandar besar di Jepara, namun lebih membesarkan pasukan darat. Menyerang perbatasan tetangganya sendiri, untuk memperbesar kerajaannya, dengan dalih penyebaran agama.
Kita punya laut, Sultan. Kita punya potensi yang bisa dikembangkan, kita punya jalan, kita punya kekayaan yang akan dicuri bila tidak terjaga. Kenapa darat yang diperkuat? Kenapa bukan kapal yang dibangun untuk menghadapi Peranggi?

Ah, jenderal tua itu. Rupanya ia meniru Trenggono selama 32 tahun memerintah. Diperkuatnya Angkatan Darat tempat ia dibesarkan, menciptakan pemimpin-pemimpin yang haus kekuasaan. Yang tega mengorbankan rakyat, saudara sendiri untuk memuluskan siasat kejayaan. Yang memungut upeti untuk kehidupan jaya yang semu. Dan menganaktirikan Angkatan Laut, penopang kejayaan Nusantara di masa lalu.

"Barang siapa kehilangan air, dia kehilangan tanah, barang siapa kehilangan laut, ia kehilangan darat.."

Nusantara negeriku. Kau berikan Pramoedya yang menulis kisah demikian dramatis. Kata-kata yang indah, pengobar semangat dan pelipur lara di negeri yang tuli ini. Lihat strategi perang Wiranggaleng, Kala Cuwil, Banteng Wareng. Lihat semangat juang yang tak pernah patah. Lihat prajurit yang begitu mulia demi keutuhan negerinya.
LALU KITA APA?

Apa kita hanya orang-orang yang berteriak-teriak IN-DO-NE-SIA di tepi lapangan bola? Apa kita hanya orang-orang yang berteriak TU-RUN-KAN di depan gedung MPR?

Berbuatlah untuk negeri ini, seperti Wiranggaleng, si prajurit.
Karena negeri ini tidak berdosa.
Penguasalah yang tidak bisa mengelolanya dengan baik. Jangan biarkan ia jatuh ke tangan penjilat dan pembohong yang mengatasnamakan negeri, namun tak lebih dari pencuri uang rakyat.

Air adalah kehidupan, darah yang mengaliri nadi. Laut adalah penghubung, pemersatu negeri nusantara ini. Surga keindahan Indonesia.

Jalesveva Jayamahe! Di laut kita jaya!

7 bintang.


View all my reviews

Sabtu, 11 September 2010

Aku Ingin Menciummu Sekali Saja

Aku Ingin Menciummu Sekali SajaAku Ingin Menciummu Sekali Saja by FX Rudy Gunawan

My rating: 3 of 5 stars


#2010-15#



Mencari jawaban untuk pertanyaan2 besar memang seperti mencari sebuah koin di hutan bakau. Kita hanya bisa menemukannya dengan menggali dan mengais2 setiap jengkal tanah. Mencari jawaban untuk pertanyaan2 besar memang seperti mencari sebuah ciuman terindah.

Ya, sebuah ciuman terindah. Sebuah ciuman terindah sangat sulit ditemukan karena ia tidak ditentukan oleh mahirnya seseorang berciuman atau hebatnya sensasi sebuah ciuman.

Tidak.

Ciuman terindah ditentukan hanya oleh ketulusan dan kedalaman cinta dari sepasang manusia yang melakukannya.


126.



Mengenang Theys Hiyo Eluay

novel ini penuh metafor yang berhati-hati.



Adakah sebuah jawaban? Adakah sebuah jawaban untuk satu pertanyaan saja. Satu pertanyaan yang paling mendasar : mengapa kita harus saling bunuh? Mengapa tidak pernah ada 'kasih' dalam politik?

124.





View all my reviews

Jumat, 09 Juli 2010

Rahasia Meede

Rahasia Meede: Misteri Harta Karun VOCRahasia Meede: Misteri Harta Karun VOC by E.S. Ito

My rating: 5 of 5 stars


Benar-benar takjub membaca buku ini.. walaupun alurnya melompat-lompat, namun pendalaman ceritanya mengagumkan. Cerita sejarah yang tak pernah kita dapatkan bisa terangkum di sini. Ito benar-benar pencerita ulung, membuat aku tak mau lepas dari buku ini dan menghabiskannya hanya dalam waktu 2 hari.
Sejarah kependudukan Belanda seolah diubek-ubek,diputar, dijelaskan hingga mengungkap suatu rahasia. Buku yang layak untuk dibaca apabila anakmu nanti kesulitan belajar sejarah seperti aku, mendingan baca buku2 sejarah setara PAT, atau buku ini sebagai variasi.
Penceritaan dari Pulau Banda, Mentawai, Onrust, dan seputaran Jakarta..
juga korps Sandy Yudha Kopassus (yang entah ada atau tidak), tentang orang-orang yang berotak brillian dan mampu mengingat menceritakan sejarah.. Cathleen, Kalek, Batu, Gatot, Rafael, Robert, Erick.

Terasa sekali suspensenya, namun memang ada kalimat yang terlalu berpanjang-panjang. Serasa baca Dan Brown karena plotnya yang cepat dan terus berlari.
Kalau dibandingin ma PAT, ya masih jauh lah.. tapi mudah2an buku ITO mendatang semakin matang.
Tambahan lagi, sebaiknya buku ini tidak dibuat film. Bukan apa-apa, dialog yang panjang2 akan membosankan, walaupun sambil memandang kepulauan Banda. Yah, kecuali sutradaranya mau membuat setting ceritanyanya juga, seperti film dalam film lah.. Kedua, Batu dan Roni Damhuri kan orang yang sama, kalau difilmin nanti ketauan nanti nggak surprise deh kayak baca bukunya. Pak Guru Uban juga gampang ketauan.
Daripada nanti kita kecewa, lebih baik hiduplah dalam khayalan masing-masing..
@yang lain & ito, Yang hilang itu bukannya emas monasnya doang, bukan tugu monasnya??


View all my reviews >>

mayor jantje

Mayor Jantje: Cerita Tuan Tanah Batavia Abad Ke-19 Mayor Jantje: Cerita Tuan Tanah Batavia Abad Ke-19 by Johan Fabricius

My rating: 3 of 5 stars


menceritakan seorang belanda di tanah kekuasaannya, di daerah citeureup, dan sekitar kelapa nunggal, cibinong.
sang mayor ini dan pengejarannya terhadap nonnie, yang ditentang oleh agriphina, anaknya sendiri, yang sangst mencintai alm ibunya.
perjalanan mayor di sekitar istana kecilnya hingga saat kematiannya dalam kesepian.
mayor yang sangat pemurah.

View all my reviews >>