ulasan. resensi. kesan.

ulasan. resensi. kesan. ini bukuku, apa bukumu?
Tampilkan postingan dengan label nonfiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nonfiksi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 September 2015

Jadilah Warga Dunia



Saya ingat, dulu ketika membaca buku The World is Flat-nya Thomas L. Friedman, saya berpikir, betapa tidak adilnya di negara kami, karena kita bahkan tidak bisa mendelegasikan pekerjaan ke negara lain seperti Amerika Serikat yang pegawainya bisa pulang pada jam enam sore, lalu meminta koleganya di India untuk meneruskan pekerjaannya (dan saat itu di India masuk jam kerja) sehingga menghemat biaya lembur dalam US dolar, dan target pekerjaannya pun selesai. Semua senang, mendapat sesuai kebutuhan. Kalau di negara sini, mana mungkin kita mendelegasikan pekerjaan ke Amerika. Bisa-bisa nombok karena biayanya tinggi.

Jadi dunia itu memang berputar, dengan kebutuhannya masing-masing sesuai waktunya. Jadi yang diperlukan untuk berhasil adalah tim yang bagus dan jejaring yang bersahabat. Buku Menjadi Warga Dunia ini mengetengahkan beberapa ide yang kurang lebih lebih mudah diwujudkan sebagai satu persona untuk mendapatkan kualitasnya terhadap posisinya. Karena buku ini sudah selesai kubaca ketika berbincang-bincang dengan penulisnya di kafe 89, Kemang, jadi yang kulakukan selanjutnya adalah membawa buku ini ke kantor, ke sekretariat, dan meminta orang-orang untuk membacanya. Jadi aku tidak sendiri dalam menelan buku ini, tapi juga berbagi supaya orang-orang mendapatkan ilmu yang kurang lebih sama.

Beberapa tips dan trik ini sudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk untuk mengelola pekerjaan maupun hubungan baik dengan klien. Etos-etos kerja yang dibangun inilah yang harus diterapkan untuk menjadi bagian dari dunia, bukan cuma ternganga dan terbersit iri melihat banyak sekali enterpreneur muda yang berhasil. Bagaimana mereka menerapkan kedisiplinan sehingga bisa menjadi seseorang yang diakui dunia. Satu kunci besar : Kerja Keras.

Salah satu bagian favoritku adalah 'be a passionate contributor', karena aku suka menjadi seseorang di balik layar, berani mengerjakan hal-hal karena passion. Dengan menjadi bagian dari satu tim dan mengerjakan dengan riang gembira sehingga menularkan semangat pada yang lain. Sebenarnya banyak lagi bagian-bagian yang sering kubaca dari tulisan ibu Eileen Rachman di Kompas Minggu. Wanita yang juga merupakan CEO Experd ini juga rutin menulis di situ.

Karena itu semangat ini harus dibagikan, bukan cuma sekadar membaca sendiri. Setiap orang yang menjadi bagian dari satu tim harus memiliki kesadaran yang sama supaya bisa bahu-membahu ketika mengahadapi kesulitan atau konflik. Semuanya berkesadaran untuk maju untuk mencapai keberhasilan bersama.


Jadilah Warga Dunia
Eileen Rachman
Gramedia Pustaka Utama, 154 halaman

Rabu, 31 Oktober 2012

Rp 3 Jutaan Keliling India dalam 8 Hari

Rp 3 Jutaan Keliling India dalam 8 HariRp 3 Jutaan Keliling India dalam 8 Hari by Rini Raharjanti
My rating: 2 of 5 stars

Aku paling nggak suka baca buku perjalanan yang di judulnya ada nominal rupiahnya. Kenapa? Ya, nggak bakal up to date aja gitu. Buku dengan judul 'sekian juta keliling dimana' itu nggak lebih dari taktik dagang supaya orang merasa murah dan beli buku itu. Padahal bisa saja buku itu baru dibaca beberapa tahun kemudian, dengan kondisi perekonomian yang terbaru. Jadi sebenarnya yang penting dari buku catatan perjalanan itu adalah menceritakan tentang tempat yang dilalui dan apa yang dirasakan dalam perjalanannya.

Kenapa aku mengambil buku ini? Pertama alasannya adalah India gitu lho! My number one wish list sejak SMA untuk dikunjungi. Karena aku menganggap India itu eksotis, masih kuat mempertahankan kebudayaannya, nggak hilang ditempa gerusan zaman pop. Bangunan, kuil, Gangga, Taj mahal, jalanan yang ramai, rumah bertumpuk di daerah perbukitan, dan muka-muka India yang khas banget. Ingat uniknya muka Preethi Sethi VJ MTV itu yang nggak kehilangan ke-India-annya walau sudah masuk ranah global.

Alasan kedua, karena buku ini murah, harganya hanya 10 ribu saja di obralan. Jadi lumayan lah bisa diintip itinerarinya, ke mana aja sih si penulis berjalan-jalan. Syukur-syukur bisa diikuti. Walaupun banyak catatan perjalanan bertebaran di blog-blog orang, memegang buku itu emang enak karena bisa ditenteng-tenteng ke mana pun, jadi bisa kebayang-bayang kalau suatu kali aku ke India itu ngapain aja.

Si penulis memaparkan perjalanannya di India mulai dari Kolkata, Varanasi, Pushkar, Jaipur, sampai kembali lagi. Banyak juga sih diceritakan tips-tips menarik bagaimana berjalan-jalan di India, cara menghalau anak-anak kecil yang selalu membuntuti, bagaimana menghindar dari calo hostel atau taksi, yang banyak diperlu-perlukan di India. Kalau bagaimana temple atau yang dituju diceritakan agak sekilas kalau menurutku, mungkin saking banyaknya temple yang ia kunjungi jadi nggak terlalu khas lagi. Untuk informasi hostel, touris centernya lumayan lengkap. Menarik ketika ia melihat upacara-upacara keagamaan di India yang tak terjadwal, juga tak sengaja berada di Pushkar ketika Holy Day yang penuh warna-warni coreng-moreng di jalanan. Aku sendiri sudah lama tahu Holy Day ketika baca Balada Si Roy 10: Epilog beberapa tahun silam. Sejak baca buku itu memang ingin sekali ke India sebagai traveler, namun waktu tak mengijinkan. Sepertinya seandainya aku ke India kini pun hanya akan sebagai turis saja. Makanya aku tertarik dengan buku ini bukan 3 jutanya, tapi 8 harinya. Kira-kira 8 hari bisa sampai Ladakh atau Darjeeling, atau Kalimpong di utara nggak ya? Nah, kebetulan di buku ini si penulis nggak sampai sana, sih. Jadi sepertinya aku akan memodifikasi itinerarinya kalau benar-benar jalan ke sana.

Nah, karena si penulis mungkin menulis di era buku perjalanan belum terlalu beken, maka yang paling mengganggu adalah fotonya. Bagaimana bisa sih kita dapat informasi dari foto yang bertebaran ukuran 3x4 cm begitu? Yang difoto bangunan, pemandangan, sama sekali nggak menarik fotonya. Jadi terpaksa aku mencari tahu di tempat lain tentang informasi gambarnya. Sementara penggambaran lewat tulisan juga tidak terlalu deskriptif. Mungkin memang sesuai judulnya, ia menitikberatkan pada biaya, yang memang dituliskan dengan cukup rinci.

Aku ingat di satu diskusi buku dengan salah seorang penulis cerita perjalanan, ia ditanya oleh pengunjung, ”Alangkah baiknya kalau di bukumu lebih banyak fotonya. Jadi kita bisa melihat apa yang dilihat olehmu.”
Jawab si penulis,”Mas, ketika anda membaca satu halaman itu, apakah anda terbayang akan suasananya, akan apa yang mas lihat?”. Si penanya mengiyakan. Si penulis berkata,”Nah, kalau begitu memang saya tidak usah menampilkan foto. Anda terbayang dengan membacanya. Saya ini bukan fotografer, daripada ditampilkan tidak bagus, lebih baik saya mencoba menulis dengan bagus.”

Jadi kalau melihat judulnya dengan nominal, sebenarnya buku ini benar adanya, semacam panduan jalan-jalan saja. Tapi, lebih baik selalu pastikan lagi dengan informasi terbaru sehingga bila berjalan-jalan benaran, tidak terpaku pada harga-harga yang dituliskannya. Lebih baik lagi siapkan dua kali lipat. Oh, iya, tiga juta ini nggak termasuk tiket pesawat Jakarta-Kuala Lumpur-Kolkata dan sebaliknya lho.





View all my reviews

Sabtu, 28 Januari 2012

Meraba Indonesia: Ekspedisi "Gila" Keliling Nusantara

Meraba Indonesia: Ekspedisi Meraba Indonesia: Ekspedisi "Gila" Keliling Nusantara by Ahmad Yunus
My rating: 5 of 5 stars

#2011-50

Dalam beberapa bulan ini, banyak kesempatan untuk membaca tentang Indonesia, tanah tumpah darahku ini. Dari Arus Baliknya Pramoedya sampai Potongan Cerita di Kartu Pos nya Agus Noor. Masih masuk dalam daftar ingin saya baca adalah Nasionalismenya Pandji.
Benar adanya bahwa buku adalah jendela dunia...
Berkesempatan membaca Meraba Indonesia seperti membangun mimpi-mimpi masa muda saya. Yang suka bertualang. Mimpi saya untuk menjelajahi Indonesia yang indah ini. Mimpi yang terpaksa harus saya gantungkan sesaat demi cita-cita masa kecil. Maka saya gembira sekali ketika diminta untuk memoderatori diskusi bukunya, bercerita tentang suka duka sepak terjang orang-orang yang berani mengelilingi Indonesia, untuk membaginya dengan kita, memberikan jendela pandang untuk kita yang belum berkesempatan untuk itu.

Ini bukan buku catatan perjalanan seperti kebanyakan yang hanya membahas asyik-asyiknya suatu perjalanan. Lebih banyak ditonjolkan sisi humanisnya di sini. Dan perjalanan ini dilakukan di Indonesia! Negeri yang penuh dengan keindahan sekaligus ketidakindahan birokrasinya. Kecantikan yang menutupi coreng moreng di baliknya. Negeri yang sulit untuk dijelajahi karena tersebar di pulau-pulau, sementara transportasi airnya masih jauh dari layak melayani.

Indonesia dari perjalanan Yunus dan Farid dari sisi-sisi terluarnya, yang mereka jalani dari Bandung ke Jakarta, Teluk Kiluan Lampung, Bengkulu, Pulau Enggano, Kepulauan Mentawai, Padang, Tapanuli, Nias, Simeulue, Aceh, Sabang, Medan,..
Di sini mereka meraba tradisi lokal yang masih erat dengan keseharian warga masyarakat. Tato di kepulauan Mentawai, yang perlahan menghilang seiring dengan stigma negatif pemerintahan Orde Baru terhadap perajah tubuh ini. Upacara lompat batu di Nias yang kaya dengan seni budayanya, rumah Omo Hada rumah tradisional Nias yang temasuk dalam World Endangered Heritage, mengingatkan saya akan kekecewaan ketika kuliah saya melewatkan masa ekskursi ke Nias (suatu hari kelak saya akan ke sana..) lalu berpindah ke Simeulue dengan tradisi ‘smong’ yaitu menyelamatkan diri ke dataran tinggi ketika terjadi pasang surut tiba-tiba. Cerita-cerita singkat, namun memberi kesan menarik akan kekhasan daerah-daerah ini.

Selat Malaka, Pulau Penyengat, Pulau Natuna, ke Pulau Kalimantan, Pontianak, Sintang, Pulau Karimata, terus menyusuri sisi selatan dan timur Kalimantan, hingga Derawan, Nunukan dan Tarakan..
Ini pahitnya Indonesia. Bertemu polisi lautan yang seharusnya mengayomi namun malah memeras kapal-kapal yang lewat, kalau begini, bagaimana transportasi laut bisa maju jika untuk menjalaninya sehari-hari pun penuh ketakutan begitu. “Sudah biasa,” katanya. Tidak bisa, jerit batin saya.
Pun melihat Natuna yang berlimpah gas namun rakyatnya tetap tidak makmur. Ini menjadi pertanyaan besar sekali buat Indonesia. Kenapa di daerah-daerah yang hasil alamnya melimpah tapi penduduk di situ tak bisa ikut merasakan imbasnya? Tak hanya Natuna. Bangka Belitung, Papua, dan banyak daerah lain di Indonesia tak pernah menjadi bahan evaluasi. Kenapa hanya sisi eksploratifnya yang ditonjolkan dari daerah-daerah tersebut. Kenapa sisi pengembangan sumberdaya manusia di daerah tidak menjadi salah satu prioritas selain berapa dolar yang bisa dihasilkan oleh daerah itu?
Berpindah ke Kalimantan, potret hutan hujan tropis raksasa itu seakan sirna oleh potret keringnya sungai Kapuas, salah satu yang terpanjang di Indonesia, punahnya hutan oleh area kelapa sawit, pembukaan lahan gambut. Apalagi Kalimantan sekarang. Menurut cerita teman, banyak orang berlomba-lomba mendulang batubara tanpa memikirkan efek samping dari tambang yang ia buka. Banyak lubang-lubang menganga yang hanya dihijaukan kembali sekenanya. Menurut teman saya, perusahaannya berusaha menaati peraturan dengan menanam kembali seribu pohon, namun sesudah itu dibiarkan. Apa yang terjadi? Hutan tropis itu tidak pernah kembali. Tanpa perawatan, tanaman akan mati. Mungkin Yunus dan Farid tidak menuliskan itu sekarang, tapi suatu saat kelak, kebusukan-kebusukan ini harus dibongkar.

Makassar, Takabonerate, Wakatobi, Pulai Banggai, Pulau Togean, Pulau Miangas, Ternate, Raja Ampat, Banda Neira, Merauke..
Di sinilah potret kelautan Indonesia. Ketika mereka menggantungkan diri pada laut yang memeluk keseharian. Laut yang menjadi energi untuk hidup sehari-hari. Maka akan miris ketika mereka tahu bahwa Indonesia akan mengimpor ikan. Sementara mereka bersusah payah bertaruh nyawa setiap hari ke laut.

Dan potret-potret kehidupan lain yang ditampakkan dalam keseharian petualangan mereka. Mungkin mereka hanya tamu, mungkin mereka tidak ikut merasakan apa yang dialami. Tapi mereka berani untuk melaporkan apa yang ada di negeri tercinta ini, supaya semua sadar apa yang terjadi di tepian pantai Indonesia, bukan hanya duduk santai penuh fasilitas di kota bernama Jakarta. Mereka petualang. Penjelajah.


View all my reviews

Selimut Debu

Selimut DebuSelimut Debu by Agustinus Wibowo
My rating: 5 of 5 stars

#2011-44

Pernah saya menonton film tentang sekelompok orang invalid, di padang pasir, yang mengejar-ngejar kaki palsu yang diterbangkan dengan parasut. Ketika membaca bagian rumah sakit untuk orang cacat ini, yang pekerja RSnya pun orang cacat juga, saya teringat film itu. Dulu saya masih tidak punya bayangan, negeri dongeng manakah yang penduduknya banyak yang invalid itu?

Membaca pemaparan Gus Weng tentang bahaya ranjau di mana-mana, bom yang bisa meledak kapan saja, di mana saja, saya menangis. Tuhan, kenapa masih ada perang? Kenapa orang tidak puas dengan tanahnya berdiam dan masih harus merampas tanah orang lain. Kenapa orang masih saling menyakiti?

Bom, ranjau, kematian, yang bagaikan berita biasa. Kepala manusia yang berharga lebih murah dari kepala kambing. Semua diselimuti pasir yang berarak, hanya debu belaka, di mana-mana.
Meringis melihat Gus Weng dibohongi oleh supir-supir truk, bahagia ketika dia disambut ramah laksana saudara di mana-mana, geram ketika ia dipukuli polisi, sampai miris, ketika seseorang bilang 'I like you very much' dan..

Negeri ini, negeri sejuta pasir, negeri bekas peperangan, tempat para NGO menangguk dana 'rehabilitasi' yang lebih banyak dialirkan untuk operasional pegawainya, tempat para perempuan merasa nyaman di dalam burqa-nya. Negeri ini, yang dikelilingi oleh pasir dan debunya, yang melindunginya dari pandangan mata, debu juga yang menyimpan ribuan ranjau yang siap meledak kapan saja ia diinjak. Debu seperti burqa yang melindungi dengan anonimitas, tetapi tak tahu bahaya kecantikan apa yang dikandung di sana.

Afganistan, negeri debu, apa kekayaanmu yang membuatmu terjebak dalam perang berkepanjangan? Apakah dirimu hanya benteng untuk negeri dingin di utara sebelum menghadapi selatan yang panas? Apakah dirimu benteng untuk penguasa-penguasa daratan minyak sebelum diserbu dari utara?


Minaret Jam. Apakah ini menara masjid, menara intai, menara dengan indahnya menjulang di tengah padang debu dan bebatuan. Beruntunglah selamat dari badai zaman. Lepas dari gempuran karena di lindungi oleh tebing curam.


Gus, awalnya aku iri sekali padamu. Perjalanan ke negeri ini hanya cocok untuk laki-laki. Perempuan sepertiku tak akan bisa berjalan-jalan bebas tanpa pendamping di negeri ini. Tapi membaca pengalamanmu yang menderita, naik turun truk, menginap di samovar, aku bertanya2, apa aku berani? Maka kubuang jauh2 rasa iriku dan mengikuti perjalananmu. Apalagi membaca bahwa ada perempuan Malaysia yang bisa, hmm, siapa tahu nanti aku bisa?





View all my reviews

Sabtu, 26 November 2011

Kedai 1001 Mimpi: Kisah Nyata Seorang Penulis yang Menjadi TKI

Kedai 1001 Mimpi: Kisah Nyata Seorang Penulis yang Menjadi TKIKedai 1001 Mimpi: Kisah Nyata Seorang Penulis yang Menjadi TKI by Valiant Budi
My rating: 4 of 5 stars

#2011-30#

*dulu pinjam, karena baru dapat dari Klub Buku, jadi pengen bikin review*

Gila, kalo saya bilang, bahwa motivasi Valiant untuk pergi ke Arab Saudi itu untuk nyari bahan tulisan, dan nyari pengalaman. Gila di sini bukan berarti kurang waras, tapi cool aja gitu, sampe ada orang yang sangat nekad begitu. Dan bukan pengalaman manis yang didapat, namun juga pengalaman pahit. Toh, setiap pengalaman adalah pembelajaran bukan? Dan pengalaman adalah guru yang terbaik.

Saya menyarankan pembantu saya untuk baca ini, supaya dia nggak tergoda untuk pergi ke Arab Saudi. Bukan semata-mata karena takut ia diapa-apain orang di negeri orang, tapi juga karena kalau ia meninggalkan saya, lalu siapa yang membantu mengurusi keluarga saya? Lha, si pembantu ini sudah seperti keluarga sendiri. Tapi tak ayal, ketika lagi ada kebutuhan uang, kadang-kadang ia mencetuskan keinginannya untuk pergi ke Arab. Saya sih tidak bermaksud menakut-nakuti dia dengan membaca buku ini, justru berita di koran atau televisi tentang penyiksaan TKI lebih menakutkan.

Buku ini lucu, banyak menceritakan bagaimana Valiant berusaha suka di tengah duka, kelicikan-kelicikan yang terjadi, dan jelas, buku ini menceritakan banyak tentang karakter bangsa Arab dalam memperlakukan bangsanya sendiri, terutama perempuan, dan sikapnya terhadap pendatang. Memang sih ada yang baik, tapi koq sepertinyna defaultnya itu ya yang petantang petenteng itu ya.

Mendapatkan buku ini kembali di kala stress mendera di kantor akibat kekurangan orang, yah, jadi teringat juga dengan pengalaman si Valiant, yang menjadi babu, waiter dan barista sekaligus, dan akhirnya membuat saya bersyukur. Kalau di sini saya bisa pulang dan ketemu keluarga saya untuk melepas stres, lha kalau di sana? Hmm... tapi kerja lebih dari 100 jam seminggu memang berasa penyiksaan (tiba-tiba curcol). Tanpa dibayar lembur pula.. (curcol tahap2). Untunglah hanya terjadi menjelang deadline proyek saja.

Buku ini sempat dibahas dalam salah satu sesi siaran di RPK FM beberapa waktu yang lalau, dan kebetulan memang cocok sekali dengan berita saat itu tentang kasus TKI-TKI Indonesia yang dihukum di Arab Saudi. Jadi semakin mengintimidasi bahwa orang Arab memang begini-begitu. Yah, tidak jauh dari pendapat saya selama ini sih.

"There's a thing that money can't buy. It's called ATTITUDE." (hal. 371)

****
-sesi siaran-
satu kata buat buku ini:

rhe : mimpi.
thata : realita.
indri : pengalaman.
yancen : enak.

dan yang jadi saya tahu, bahwa ice cappucinno itu sebenarnya tidak ada. karena cappucinno dibuat dari kopi yg dicampur susu yang dihangatkan lalu dikocok hingga berbuih.
masa hangat dikasih es?


View all my reviews

Sabtu, 18 September 2010

Boy Tales of Childhood (Boy: Kisah Masa Kecil)

Boy Tales of Childhood (Boy: Kisah Masa Kecil)Boy Tales of Childhood by Roald Dahl

My rating: 4 of 5 stars


#2010-60#



Sekolah di Inggris pada masa Roald Dahl sekolah begitu mengerikan! Memoar ini sepertinya membuka perih masa sekolah Dahl.



Semua ancaman kesalahan berbuah pukulan rotan pada pantat yang menyisakan pedih. Nggak cuma hukuman dari guru, tapi juga bullying dari senior yang merasa dirinya lebih kuat sehingga merasa bisa melakukan apa saja. Seorang prefek, boazer, dapat menyuruh si junior bahkan untuk menghangatkan WCnya. Ugh, sungguh senioritas yang menyebalkan. Sebenarnya apa efek hukuman? Untuk membuat jera, atau untuk menakut-nakuti? Pola keras yang diterapkan memang menyaring mental, yang lembek akan lewat, yang kuat akan bertahan.



Aku rasa, ini sebabnya Dahl sering membuat ceritanya rada-rada sadis. Ingat kepala sekolah Trunchbull di Matilda yang menarik kepang rambut seorang anak dan melemparkannya. Atau buaya raksasa jahat yang bernasib malang yang diputar-putar dan dilempar ke bulan oleh gajah.

Tapi ada juga yang berbuah manis. Seperti juga inspirasi Charlie dan chocolate factory didapat dari pengalamannya sebagai tester Cadbury. Atau kekerasan yang dialaminya menyisakan kesan yang membenci kekerasan, membuat perangainya menjadi lembut.



Tapi mungkin yang paling berpengaruh adalah ibunya. Ibunya yang selalu membebaskannya untuk memilih jalan hidupnya. Sehingga ia dapat bertanggung jawab, dan bahagia sebagai pilihan hidupnya.





View all my reviews

Nyanyi Sunyi Seorang Bisu 2

Nyanyi Sunyi Seorang Bisu 2Nyanyi Sunyi Seorang Bisu 2 by Pramoedya Ananta Toer

My rating: 5 of 5 stars


#2010-50#



Buku kedua ini aku baca dengan selang waktu hampir 9 bulan dari buku pertamanya. Ketika membaca buku pertamanya aku merasakan dementor effect, karena jadi nggak enak rasa, nggak enak hati, membayangkan yang dialami Pramoedya di Pulau Buru. Efek yang cukup lama untuk tidak gembira, hingga membaca buku lucu sesudahnya aku tidak bisa tertawa.



Karena itu aku akhirnya baca buku ini, dalam rangka rencana kunjungan ke rumah Pram di Bojonggede, dan wawwwww!!! Ternyata isinya manis dan menyenangkan. Membuat aku tersenyum dan terharu. Biografi masa kecilnya, curhat beliau, catatan tentang siapa ayah dan ibunya. Membuatku terpana dan terus menerus membacanya. Sampai-sampai aku menargetkan bahwa buku ini harus tamat sebelum kunjunganku ke rumah Pram akhir Mei lalu, jadi aku punya bahan untuk diskusi kehidupannya beliau. Dan ternyata tidak berhasil, berkaitan dengan suasana hati yang tidak mendukung kala itu, jadi hanya menamatkan beberapa bab yang bercerita tentang masa kecilnya. Dan membuat aku makin terpana dengan tulisan hati ini.



Kulanjutkan dengan membaca cukup lama di angkot menuju rumah Pram (akibat ketinggalan kereta). Pram, yang sangat mengagumi ibunya, yang berjuang untuk kehidupan dan pendidikan anak-anaknya. Tak heran, dalam tulisan-tulisannya, Pram banyak bercerita tentang perempuan. Tentang perempuan yang kuat dan tabah. Ah, aku jadi iri sama ibunya Pram. Bagaimana bisa hidup setegar beliau, ya?



Di rumah Pram juga diskusi soal kehidupannya, pemutaran film dokumenter, dan ngobrol-ngobrol dengan mbak Astuti. Tentu berbeda penceritaan dari buku dengan yang dituturkan oleh mbak Astuti atau film tersebut. Buku kan ditulis oleh Pram sendiri, jadi emosinya, kegembiraannya, kesedihannya tergambar lewat ungkapan kata-kata yang terangkai.



Dan akhirnya pada acara tanya jawab, aku bertanya, kenapa sih buku-buku Pram dilarang? Soalnya dari sejak aku baca Bumi Manusia dan cerita-cerita lainnya yang diterbitkan oleh Lentera, rasanya ceritanya yang begitu saja. Tidak menyinggung soal ’bahaya laten komunis’ yang ditakutkan oleh pemerintah Orba. Kalau buku ’Nyanyi Sunyi’ jilid 1 kan memang banyak menyebut nama-nama pejabat Orba, jadi kupikir karena buku ini (yang hanya terbit 10 hari lalu dilarang), maka pejabat Orba menjadi alergi terhadap buku ini.



Jawaban dari mas Ronny karena memang buku-bukunya membawa ke arus pemikiran keterbukaan, kalau mau dipahami lebih dalam (ketahuan kan kalau aku hanya terperangah oleh kata-kata saja, tapi kurang mencerna), yang ditakutkan pemerintah, rakyat yang bebas mengungkapkan pendapatnya sendiri, menjadi berani seperti tulisan-tulisannya Pram. Yang lebih lucu (mengernyitkan dahi) info dari Amang soal isi SK pelarangan buku, salah satunya adalah karena kalau buku-buku Pram diijinkan, akan ada pengidolaan buku Pram, yang berakibat dengan kenaikan harga jual secara tidak wajar. Wah, pemerintah Orba, jawaban yang kurang bisa diterima nalar kayaknya. Kalau dilarang karena takut harganya mahal, ya diperbanyak saja, ditaruh di perpustakaan. Ini jelas upaya pengkerdilan pikiran masyarakat.



Dituliskan sebagai surat kepada anak-anaknya, tentang perjalanannya di Eropa, dan sampai ke sisi-sisi kehidupan pribadinya, perasaan inco (rendah diri) yang sering dialaminya. Melihat buku ini untuk lebih mengenal siapa Pram, siapa yang membentuk pribadinya seperti sekarang ini, siapa orang-orang yang mempengaruhi tulisan-tulisannya, bagaimana sikap beliau sebenarnya. Sangat beruntung berkesempatan membaca buku ini.



Setiap generasi muda punya tempatnya, waktu dan tantangan-tantangannya sendiri. Setiap generasi punya kecenderungan patriark atas yang lebih muda punya hak untuk memberontak. Hanya pemberontakan yang diekspresikan melalui pemesuman dan penggondrongan, menolak nilai-nilai yang dihasilkan oleh generasi sebelumnya. Boleh jadi satu hal yang kurang cukup lucu.

Terserah padamu sendiri.


dari halaman terakhir.









View all my reviews

Jakarta Punya Selera

Jakarta Punya SeleraJakarta Punya Selera by Fanny Fadila

My rating: 2 of 5 stars


#2010-43#



Nyam.. nyam.. nyam..

Membaca buku ini menerbitkan air liur saya. Sehingga yang tertarik untuk saya review bukanlah isi buku ini, tapi tempat-tempat makan yang ada di dalamnya. Kebetulan sih beberapa tempat sudah pernah dicoba.



Ikan Bakar Babe Lili, Jl Wahid Hasyim

Walaupun tempatnya sangat jelek, dengan dinding2 yang menghitam oleh jelaga ikan, dan hanya meja-meja panjang berlapis formica, namun kelezatan bumbunya mengguncang lidah. Sambelnya kecap dan tomat, tapi entah apa yang ada di bumbu ikannya enak banget..

Favorit saya ikan kakap bakar, ikan kambing-kambing andalan babe lili, dan cumi bakaaarr!! Cumi bakarnya gede-gede dan enaak sekali..



Nasi Goreng kambing Kebon Sirih

Makanan favorit malam hari, bumbunya, kambingnya, hmm.. Walaupun cuma tenda kaki lima, tapi gunungan nasi gorengnya benar-benar menerbitkan selera. Rujak asinan yang disajikan juga enak untuk menetralisir lemak kambingnya.



Coto Buntu Daeng Tata, Casablanca, Tebet

Naaah, ini yang mungkin banyak orang suka, tetapi sungguh rasanya tidak cocok dengan selera saya. Kecuali iga bakarnya yang besar dan berbumbu, dan es pallu butungnya yang enak, lainnya terasa aneh di lidah saya.



Roti Bakar Eddy

Tempat nongkrong favorit. Makanan macam-macam, harga yang lumayan, tempat yang hidup, bonus terang bulan kalau purnama. Bisa berlama-lama sampai tengah malam tanpa takut diusir.



Seafood Ayu Kelapa Gading

Tempatnya nyempil di belakang ruko dekat Balai Samudra. Kepitingnya enak banget, dan harganya bagus. Satu kepiting harganya 25000 (eh, itu 2 tahun yang lalu). Walaupun hanya tenda-tenda, tapi pilihan rasa tetap lebih utama kan.. Ikan-ikan bakarnya juga enak bumbunya. Variasi saus tiram, saus padang, dan lain-lain.



Ayam Bakar Mas Mono

Bumbunya ngeresep deh. Tempatnya rame banget. Kalau lagi nggak bosen sama ayam, cobalah makan di sini. Yang di Tebet ya.



Masih banyak lagi daftar yang lain, menunggu untuk dicoba..

Nungguin untuk ditraktir jugaa..





View all my reviews

Whatever You Think, Think the Opposite

Whatever You Think, Think the OppositeWhatever You Think, Think the Opposite by Paul Arden

My rating: 3 of 5 stars


#2010-43#



I WISH.



I WISH means : wouldn't it be nice if ...

Jika anda selalu mengambil keputusan yang benar, keputusan yang aman, keputusan yang diambil oleh orang kebanyakan, Anda akan sama dengan orang-orang lain.



Always wishing life is different.




Aku rasa aku punya sejuta 'I wish' di kepalaku. Mencoba menahan-nahannya untuk tidak keluar terkadang menyulitkan.



Tidak ada sudut pandang yang benar, anda selalu benar, anda selalu salah. Semuanya hanya tergantung sudut pandang mana anda melihat.



Betul. Cobalah untuk sesekali memposisikan pada lawan anda, coba masuki pikirannya dan baca apa yang membuat meretka berpikir tentang anda.



Instead of waiting of perfection, run with what you've got, and fix it as you go.



Belum tentu yang anda desain langsung disetujui. Kerjakan semaksimal mungkin, tapi jangan terlalu lama berkutat pada hal kecil. Beri perhatian, namun jangan keterusan. Kembalilah sesudah presentasi.



Pengetahuan membuat kita main aman. Rahasianya adalah dengan tetap berjiwa kekanak-kanakan.



Kalau saja aku tidak tahu kalau mengendara mobil ngebut di jalan raya itu dilarang. Kalau saja aku tidak tahu kalau memanjat pohon kelapa itu sulit. Jadi bisa melakukan apa saja sesuka kita, sebebas-bebasnya dalam ranah ketidaktahuan. Kehati-hatian seperti jalan berjingkat. Lebih asyik melompat, toh? Deru adrenalin itu seru!!









View all my reviews

Sokola Rimba: Pengalaman Belajar Bersama Orang Rimba

Sokola Rimba: Pengalaman Belajar Bersama Orang RimbaSokola Rimba: Pengalaman Belajar Bersama Orang Rimba by Butet Manurung

My rating: 5 of 5 stars


#2010-41#



"Pasal 31 (1) Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan."



Sebenarnya, aku lupa dengan isi pasal-pasal UUD 45 yang terakhir kubaca sewaktu SMA. Dan seiring dengan perkembangan politik di negeri ini yang semakin cepat pergerakannya, membuat aku memilih untuk melewatkan apa yang terjadi dalam tata kenegaraan. Ketika meng-goggling kata-kata di atas, ternyata banyak pasal-pasal UUD 45 yang sudah banyak berubah redaksionalnya karena di-amandemen beberapa tahun yang lalu.



Ternyata hal-hal di atas yang tertanam dalam kepalaku sejak belajar PMP SD sampai SMA lupa begitu saja begitu saya masuk bangku kuliah dan mulai hanya memperhatikan nilai-nilai yang ada di masyarakat, tanpa menengok dan membahas lagi tata redaksional kata-kata yang harus ditulis sama persis ketika ujian itu.



Pendidikan memang hak warga negara. Bangsa yang mencapai kemajuan dilihat dari kemajuan tingkat pendidikannya. Bahkan sampai tingkat pelosok pun seharusnya memang diupayakan untuk adanya tenaga pendidik yang mumpuni.



Warga negara berhak mendapatkan pendidikan, dan betapa sulitnya untuk menerjemahkan kata-kata itu menjadi satu tindakan yang seharusnya merupakan perpanjangan tindakan dari UUD yang menjadi pegangan kita.

Amat disayangkan Dinas Pendidikan Nasional yang hanya berkutat pada sekolah formal, tingkat kelulusan, ujian, yang menjadi momok tahunan bagi dunia pendidikan, tetapi perhatian pada apa pendidikan itu sebenarnya, yang lebih dibutuhkan oleh seluruh ‘warga negara’ seperti yang termaktub, malah kurang.

Dan ini menimbulkan pertanyaan baru, apakah pendidikan bisa distandarisasi? Apakah kemampuan dan daya tangkap seseorang harus disamakan dalam parameter bernama ujian? Tak bisakah kita diujikan pada hal2 yang kita minati saja? Boleh tidak sih apabila dalam hal-hal yang kita tidak minati hanya berlaku 'sudah mengetahui' tanpa harus memahami?



Pendidikan, adalah bagian dari kemajuan. Tanpa pendidikan, kita akan jalan di tempat, tidak akan berkembang menjadi manusia yang inovatif. Namun pendidikan, tidak hanya didapat dari sekolah. Bahkan Butet pun masih belajar untuk memahami pendidikan ketika ia menjadi pendidik. Targetnya bukanlah masyarakat itu terdidik, tapi membuat masyarakat itu sadar bahwa pendidikan adalah suatu kebutuhan mereka. Sehingga mereka akan sukarela mengikuti apa yang ia ajarkan. Dengan itu ia berusaha menjadi salah satu dari mereka, sehingga membuka hati untuk belajar.



Seperti halnnya mereka memilih apa yang mau mereka pelajari. Pola pendekatan yang seperti Butet ini yang diperlukan untuk kawasan2 yang di pelosok, yang jauh dari pola ajar guru datang, murid belajar, seperti di kota, tapi menjadi guru datang, guru mendengar, guru belajar, dan guru mencari cara yang tepat untuk menjadi bagian dari murid-muridnya.



Sangat inspiratif, dan sangat menimbulkan iri buatku yang sering melihat hal serupa, namun tak bisa berbuat apa-apa. Dan menimbulkan tanya, ‘kemana aja sih Diknas?’. Padahal sebenarnya banyak yang bisa kita perbuat, tidak hanya tanya yang tidak menghasilkan apa-apa. Mudah-mudahan, ini saatnya untuk berubah.





View all my reviews

Ekspedisi Tanah Papua - Laporan Jurnalistik Kompas: Terasing di Pulau Sendiri

Ekspedisi Tanah Papua - Laporan Jurnalistik Kompas: Terasing di Pulau SendiriEkspedisi Tanah Papua - Laporan Jurnalistik Kompas: Terasing di Pulau Sendiri by Tim Ekspedisi Tanah Papua Kompas 2007

My rating: 4 of 5 stars


#2010-31#



Kenapa tidak kalian biarkan saja kami hidup seperti ini??



Mungkin itu yang ada di dalam pikiran orang Papua ketika menyadari bahwa pendatang mulai mengambil tanah mereka, mulai menambang emas, mengorek setiap kekayaan logam dalam bumi cenderawasih ini, dan hanya sisa butiran yang diberikan pada si penduduk asli. Mengejar cenderawasih, untuk diawetkan dalam kotak kaca, mencuri kebebasan mereka. Memaksa untuk tinggal di rumah batu, keluar dari rumah jerami mereka yang katanya tidak sehat. Membuat mereka jadi jongos di tanah mereka sendiri. Membeli alam yang sebenarnya tidak dijual. Merasa pintar dan membodohi penduduk asli. Memaksa untuk makan nasi, padahal mereka sangat suka sagu.



Pendidikan, infrastruktur, dan kesehatan. Tiga hal tersebut mutlak untuk diprioritaskan untuk membangun suatu daerah tertinggal. Pendidikan untuk membuat mereka berpikir mandiri. Infrastruktur untuk sarana komunikasi dengan dunia luar. Kesehatan untuk menjaga keberlangsungan etnis negeri ini. Beberapa pendapat tokoh pendidik, kesehatan dan politik tertuliskan di buku ini. Bahkan ada pendidik yang berasal dari Makassar yang rela mengabdikan diri untuk Papua. Bangun fasilitas kesehatan, sekolah, dan jalan untuk pemerataan. Tapi jangan dibuat sebagai suatu ‘proyek’ baru sehingga menelantarkan kebutuhan.



Terkadang, ini menjadi ujung tombak yang tajam namun mampu melukai dirinya sendiri. Saya sempat berpikir, kalau infrastruktur semakin bagus, seharusnya arus kemajuan bisa sampai ke tengah pedalaman. Tapi yang terjadi adalah, orang pedalaman yang turun ke kota-kota. Dan mereka dipaksa untuk berintegrasi dan memiripkan cara hidupnya dengan orang kota. Maka asimilasi yang terjadi adalah canggung. Pembangunan harus dengan pendekatan budaya dan kultur sosial masyarakat setempat. Kalau hanya berpatokan kemajuan tanah Jawa, akan hilang kealamiannya.



Papua, masih banyak pe-ermu untuk menjadi mandiri. Bukan menjadi putih atau berambut lurus yang kami ingin, tapi didengar bahwa apa yang harus dilakukan untuk Papua harus berasal dari kekayaan budayanya itu sendiri. Janganlah tarian adat punah hanya sebagai penyambut tamu. Janganlah budaya korupsi, salam tempel proyek membuatmu menggadaikan tanah ulayat keluargamu. Lupakan mabuk, kembalilah menjadi lelaki yang pejuang berburu untuk keluarga. Alammu masih luas, masih kaya. Bahagialah dengan alammu. Bahagialah dengan kekayaan dan kecantikan yang kau miliki. Kealamian yang terjaga. Jangan menangis....





View all my reviews

Catatan Harian Seorang Dokter

Catatan Harian Seorang DokterCatatan Harian Seorang Dokter by Faisal Baraas

My rating: 4 of 5 stars


#2010-30#



Waktu kecil, saya pernah bercita-cita jadi dokter…



Tanpa motivasi apapun, selain bahwa itu adalah profesi yang sering muncul dalam kolom cita-cita, selain guru dan insinyur. Kalau akhirnya saya memantapkan diri untuk bercita-cita jadi insinyur sejak kelas tiga SD, dan lebih khususnya jadi arsitek ketika kelas 5 SD, tentunya bukan saya tidak menganggap profesi dokter tidak prospektif, tapi lebih karena ketakutan akan cerita hantu-hantuan di rumah sakit, dan belum lagi cerita bahwa kalau kuliah kedokteran harus membedah mayat sendirian, pas OSPEKnya musti masuk-masuk kamar mayat. Dan ditambah cerita serem lainnya yang membuat seorang anak keriting 8 tahun ketakutan (apalagi eranya film Indonesia waktu itu Warkop DKI yang terjebak di kamar mayat dan sejenisnya), pupuslah cita-cita saya menjadi dokter, berganti dengan insinyur, apalagi dengan ketertarikan luar biasa terhadap pekerjaan-pekerjaan engineering.



Meskipun demikian, saya tidak memupuskan harapan di bidang kesehatan, karena pas SMP saya masuk PMR, yang banyak belajar tentang cara-cara menolong orang dalam kecelakaan, segala tipe P3K, balut membalut luka, mengenali fraktur, dan belajar teknik pernapasan buatan (secara teori tentunya), sebenarnya saya masih ingin jadi dokter, tapi ternyata ketertarikan pada gambar lebih besar, ditambah lagi saya sangat payah dalam hafalan, nilai biologi yang gak pernah lebih dari 7 dikalahkan gemilang oleh fisika, dan matematika. Saya berpikir, takdir orang lainlah untuk jadi dokter, mungkin bukan saya.



Sewaktu kuliah, saya pernah mendapatkan pendidikan cinta alam, latihan SAR, yang mentornya adalah TBM-UI (Tim Bantuan Medis UI), dari fakultas kedokteran, yang siap untuk terjun lapangan setiap kali ada kondisi SAR, menambah pengetahuan dan membuat saya bisa membedakan fungsi CTM dan Parasetamol. Dan membuat saya tidak menelan Amoxicillin sembarangan. Mentor ini terampil membuat tandu, melakukan teknik membalut untuk menekan pendarahan, menguasai tali-temali dan pengetahuan obat-obatan dan tanaman2 yang mengandung obat.

Saya pikir, walaupun tidak menjadi dokter, dalam kondisi darurat saya harus dapat menyelamatkan diri saya sendiri. Karena itu kalau bepergian ke luar kota (jauh dari kota), tak lupa satu set peralatan P3K pasti saya bawa, demi untuk jaga-jaga kalau ada apa-apa.



Buku ini, menceritakan tentang keseharian seorang dokter, yang ditempatkan di sebuah kampung Melaya di Bali, dimana dia dibantu oleh seorang mantri kesehatan. Dokter ini merasa mendalami kondisi sosial masyarakat desa tersebut, yang dicurahkan lewat catatan-catatan hariannya, tentang penyakit-penyakit yang umum diderita masyarakatnya, tentang curahan hati pasiennya, tentang pembangunan yang tidak merata, renungan-renungannya tentang tokoh-tokoh kesehatan, pro kontra kontrasepsi.



Maka ia merasa kehilangan desa ini ketika ia dipanggil lagi ke ibukota, dan bertugas di salah satu poliklinik rumah sakit terkenal. Ia pun tetap berusaha untuk lebih menyelami perasaan pasiennya, yang lebih sering berkeluh dengan banyak masalah hingga merasa berdebar jantungnya. Pentingnya untuk menyadari untuk mengurangi stres.



Terus terang, saya lebih suka pada bagian ia berada di desa tersebut. Di sini dokter menjadi seseorang yang dipercaya untuk mengambil tindakan yang hanya ia yang bisa. Semangat gotong royong dan musyawarah akan selalu membantu mereka untuk memecahkan masalah. Tapi mereka selalu butuh dokter yang selalu siap membantu ketika ada masalah kesehatan. Upaya untuk tawar menawar dengan maut pun dengan bantuan dokter. Dan kehidupan adalah harga yang sangat mahal.



Saya sangat salut pada dokter yang rela untuk hidup di pedalaman untuk membantu sesamanya. Perjuangannya yang berat untuk mengentaskan masalah-masalah kesehatan, untuk memberikan harapan hidup yang lebih baik pada kawasan tersebut. Karena saya pikir, menjadi dokter adalah tugas mulia. Saya iri. Bukan hanya karena menjadi dokter karena anda akan mendapatkan penghasilan besar, tapi karena anda diberi kesempatan untuk berbuat baik lebih pada sesama, lebih dari sekedar hanya mengobati luka fisik, namun juga luka hati. Jadi ingat salah satu film favorit saya, Patch Adams, yang bercerita tentang dokter yang mati-matian mempertahankan kliniknya yang disalahkan padahal ia membantu masyarakat sekitarnya. Apakah menolong harus diperlambat dengan birokrasi?



Dan sekarang, saya agak sedikit ingin Bintang untuk jadi dokter. Tentunya saya tidak bisa memaksakan keinginan saya pada anak tiga setengah tahun yang pandai menyanyi ini untuk menjadi dokter, tapi saya mencoba untuk menanamkan sikap menolong dan welas asih bisa menjadi motivasi untuk menjadi dokter kelak di kemudian hari. Dan tidak dengan menakuti tentang kamar mayat dan OSPEK yang mengerikan (yang tidak saya alami itu). Saya siap kalau harus berpisah karena dia harus menolong banyak orang yang lebih membutuhkannya. Apalagi dokternya dia sekarang sangat baik hati dan kebetulan dokter Angkatan Darat pula yang sudah terjun ke pedalaman-pedalaman Indonesia. Mudah-mudahan dia sayang sama dokternya, dan jadi ingin menjadi dokter juga.





View all my reviews

Sabtu, 11 September 2010

Mengapa Seks Itu Asyik?

Mengapa Seks Itu Asyik?Mengapa Seks Itu Asyik? by Jared Diamond

My rating: 4 of 5 stars


#2010-27#



baca itu seru!

baca ini saru!




Begitu mungkin yang ada di pikiran orang-orang ketika membaca buku ini, dilihat dari judulnya ‘Mengapa Seks itu Asyik’. Sesudah membaca buku ini, aku merasa buku ini bisa dihadiahkan pada anakku ketika nanti dia menginjak masa remaja, dan organ reproduksinya tumbuh sempurna. Namanya juga punya anak perempuan, jadi harus dijaga baik-baik.



Seperti dijelaskan di pengantarnya, buku ini tidak akan mengajari anda posisi-posisi baru dalam menikmati hubungan seks, namun dapat membantu anda untuk mengerti mengapa tubuh anda terasa sebagaimana yang anda rasa, dan mengapa kekasih anda bertingkahlaku seperti sekarang.



Perbandingan antara manusia dan mamalia lainnya (beberapa malah dengan serangga!) untuk menjelaskan bahwa mungkin manusialah yang menganggap seks itu sebagai kegiatan rekreatif, sementara yang lain hanyalah sebagai upaya untuk meneruskan keturunan. Maksudnya sebagai rekreatif adalah manusia mampu bercinta di luar masa subur mereka, kapan saja mereka mau, sedangkan hewan-hewan, adalah untuk meneruskan keturunan mereka. Bahkan anehnya (kata anjing) kenapa dilakukan di ruang tertutup dan tersembunyi?



Nah, di buku ini saya mendapatkan pencerahan bahwa kata-kata ‘nafsu binatang’ yang sering dilampiaskan adalah salah kaprah belaka, yang benar adalah murni ‘nafsu manusia’, karena penjelasan-penjelasan di buku ini melihat betapa sopannya binatang yang hanya bercinta pada masa suburnya, karena memang ditunjukkan dengan tanda-tanda tubuh yang jelas, tidak seperti manusia yang bisa terus menerus sebulan penuh, walaupun tanpa suatu pertanda yang kasatmata, bahkan bagi laki-laki, yang organ reproduksinya bisa sampai ia tua, masih bisa melakukan aktivitas seksualnya.



Adalah feromon, (yang sayangnya kurang dijelaskan mendalam dalam buku ini sehingga saya terpaksa buka Wiki untuk menjelaskannya) sesuatu yang mendasari sebelum tingkat hubungan lebih lanjut antara makhluk lain jenis.

Feromon adalah sejenis zat kimia yang berfungsi untuk merangsang dan memiliki daya pikat seks pada hewan jantan maupun betina.

Zat ini berasal dari kelenjar endokrin dan digunakan oleh makhluk hidup untuk mengenali sesama jenis, individu lain, kelompok, dan untuk membantu proses reproduksi. Berbeda denganhormon, feromon menyebar ke luar tubuh dan hanya dapat mempengaruhi dan dikenali oleh individu lain yang sejenis (satu spesies).
, wikipedia.



Pada manusia, tidak tampak jelas feromonnya, karena feromon dijelaskan sebagai ‘bau yang dikeluarkan manusia’, namun daya rangsang yang akan mengaktifkan hormon estrogen dan progesteron jelas terasa awalnya di kulit. Tentunya ingat kalian apa yang tahu-tahu dirasa ketika kekasihmu tiba-tiba menggenggam tanganmu, bahkan sentuhan ringan pun bisa membuat dada deg-deg plas tidak karuan, raut muka merah padam, bahkan kadang-kadang ada yang keluar keringat dingin.

Dan tiba-tiba he can’t out of your mind.



Lalu dijelaskan mengenai kenapa manusia (seharusnya) berdua dengan pasangannya dalam membesarkan anak-anak mereka. Jelas bahwa anak-anak manusia tidak bisa makan sendiri sampai umur tertentu (biasanya sih 6-8 tahun), sementara anak-anak mamalia lain ketika lepas masa menyusuinya, maka mereka akan belajar untuk mencari makan dan mempertahankan hidupnya sendiri, karena itu beberapa anak mamalia hanya dalam pengasuhan betinanya saja, termasuk untuk melindungi dan melatihnya. Peran jantan sebagai pemburu (pencari makan) jelas nampak dalam berbagai sisi kehidupan mamalia, termasuk manusia, namun selain itu pula, betina pun juga harus mencukupi kebutuhan anak-anaknya. Pendapat ini masih diperdebatkan sih di kalangan manusia, terutama yang berkaitan dengan isu-isu sosial dan isu perjuangan hak-hak wanita.



Perempuan lebih menarik dari pria??



Itu benaaar!!!



Salah satu hormon progesteron memang memproduksi lemak di bagian-bagian tertentu perempuan seperti dada dan bokong, yang menyebabkan laki-laki akan terkunci penglihatannya ketika melihat seorang perempuan berbadan indah lewat di depannya, dan tak jarang usil menggoda dengan kata-kata. Sedangkan perempuan, walaupun ada laki-laki keren bodynya lewat paling hanya dilihat saja namun ditelan rasa penasarannya dalam hati.



Kalau saya tanya pada teman perempuan, lo suka nggak sama Cameron Diaz ? Ada kemungkinan perempuan suka memuji kaumnya sendiri, jadi mereka tetap akan bilang, iya, gue suka, matanya itu loh, bikin penasaran, dan senyumnya manis, pasti bikin cowok geregetan. Nah, jelas perempuan itu menarik, sampai perempuan sendiri mau mengakuinya.



Kalau saya bilang ke teman pria, saya suka Tom Cruise, kebanyakan laki-laki akan tertawa dan meledek, masa sih sama Tom Cruise aja suka.. atau komentar-komentar lain yang (sst..) menunjukkan bahwa dia merasa tersaingi (?). Bahkan Ayu Utami, di bukunya Parasit Lajang cerita bahwa dia ditertawakan teman-teman lelakinya karena mengatakan dia suka Van Damme.



Perbedaan lawan jenis membuat kita mengerti apa yang terjadi, banyak lagi yang dijelaskan dalam buku ini secara ilmiah, baik dengan organ organ reproduksi, maupun efeknya ke kehidupan keseharian. Kalau mau lebih lanjut tentang organ-organ yang menimbulkan rangsangan yah, tidak ada dalam buku ini, karena itu materi yang lebih adult, lebih baik mencari info tentang ini di Cosmopolitan atau FHM.



"Nggak ada masalah yang perlu dijelaskan, kecuali mengapa Jared Diamond begitu idiot. Kamu nggak ngerti mengapa kita melakukan seks sepanjang waktu? Ya karena itu asyik!" hal. 89





View all my reviews

Aku Anak Matahari

Aku Anak MatahariAku Anak Matahari by Gola Gong

My rating: 4 of 5 stars


#2010-7# bookswap

Sekantung harapan diletakkan di meja

Disuruhnya aku memilih

:hidup atau mengurung diri



Aku memilih hidup

Maka udara harus aku hirup:

segalanya adalah perjuangan!




Heri H Harris, atau dikenal sebagai Gola Gong, menceritakan tentang masa kecilnya, sejak ia masih berlengan dua hingga kecelakaan yang merenggut tangan kirinya.



Kedua orang tuanya yang guru sekolah selalu memberinya semangat dengan nada positif sehingga membuat ia tidak minder. GG tumbuh menjadi remaja yang tetap berprestasi dalam olahraga, juara bulutangkis, dan penulis kisah perjalanan yang handal.



Sewaktu remaja ia ingin naik motor, ayahnya hanya punya vespa dengan kopling tangan kiri , lalu dikatakan bahwa akan ada motor jepang yang koplingnya di kaki. Lalu ketika honda C70 itu ada, GG pun bisa bepergian naik motor. Ketika GG ingin belajar lompat galah, ayahnya menyodorkan galah, bukannya melarangnya karena ia berlengan satu. Begitupun sekantung kelereng yang menjadi inspirasi puisi di atas, yang didapatnya ketika pulang dari rumah sakit usai diamputasi.



GG adalah penggiat Rumah Dunia, yang bermimpi bahwa anak-anak akan selalu belajar, seperti mimpi2 yang terus dikembangkannya sejak ia kecil, seperti mimpinya keliling dunia yang baru berwujud di Asia.



Cerita dan puisi adalah ciri tulisannya. Kesadarannya untuk pergi menyongsong matahari, untuk jadi lelaki yang pemberani, juga rendah hati, dan mau berbagi.



Novel-novel GG menemani masa remajaku, membalikkan keteraturan hidupku yang hanya sekolah saja, menjadi pejalan yang bermimpi untuk menapakkan kaki ke jalan2 di bumi ini, mencari petualangan hidup yang arif, dengan diskusi dan dialog bersama alam. Melihat sisi dunia dari bumi itu sendiri, belajar dan terus berusaha, tanpa menyerah. Keluar dari rutinitas dan melebur dengan bumi...





Ada mimpi di atas pohon

kupanjat ia, pindah ke awan

aku terbang meraihnya

pindah ia terbawa hujan

aku minta pada matahari

jadilah ia pelangi



mimpi kini di depanku

dibungkus kado harum mewangi

hadiah itu untukku

dari matahari







View all my reviews

Kamis, 12 Agustus 2010

My Stupid Boss

My Stupid BossMy Stupid Boss by Chaos@work

My rating: 3 of 5 stars


Membaca buku ini mengingatkan gue pada...............diri saya sendiri.
Apa ya pikiran anak2 asuhan saya di kantor??

***
Menunggu cetakan gambar di plotter. Fyi, mencetak gambar A1 di plotter kantorku memakan waktu 7-10 menit perlembar. Otomatis, karena kertas gulungan akan terpotong sendiri sesuai ukuran. I (Indri)lewat ketika D(drafter, jurugambar) sedang menunggu gambar.
I : Lho, kamu ngapain disitu? Emangnya kalau kamu lihatin itu plotter bakal tambah cepet nyetaknya? Emangnya kayak kamu kalo saya liatin baru bisa cepet kerjanya? Sana balik lagi gambarnya dibikin Pdf juga!
D1 : (bengong dan balik ke mejanya. mungkin juga dia kesel sama gue)

***
Sore-sore jam 4. Bos gue masih nongkrong d mejanya.
I : On, gambarnya selesein. Jam 5 udah mesti beres.
D1: Loh, emang mau diemail, Bu?
I : Nggak, biar saya bisa asistensi dan pulang tenggo jam 5.30. Kamu nanti tenggo langsung pulang ya. Biar saya gak disuruh nglembur ngawasin kamu.

***
Sore lainnya kira-kira jam setengah 5. Office boy keliling nawarin sapa mau beli gorengan. Berhibung seporsi cm 2500 perak, gw tawarin ke seluruh tim gw 3 orang.
I : On, Ton, Tok, mau batagor ya? Ok Yul, sekalian 4 nih (sambil nyodorin 10rban). Itu gambar kalo udah langsung dicetak A3 kertas bekas ya? Saya mau periksa.
Jam 5.15an batagor datang.Gue makan batagor sambil pegang pulpen merah untuk meriksa gambar bikinan anak2 itu. Tak lama kemudian gw keluar ruangan.
I : Naah, ini diberesin. Udah jelas kan tinggal dikit lagi. Tok, kamu nyesuain gambarnya Oni. On, liatin tuh si Antok. Nanti kalo sudah selesai cetak taroh di meja saya.
D1: Bu, lembur nih bu?
I : Ya iyalah... kamu kan tau ini mesti jadi untuk besok siang. Tinggal dikit ini kamu selesaikan aja. Saya pulang dulu ya!
D2: Oalaah.. pantesan disogok batagor.. disuruh lembur to..

***
Gue lagi meriksa laporan QS. Sambil online tentunya. Eh, salah satu anak buah tim struktur masuk ruangan ke meja saya.
D3: Bu.. hmm, online to bu??(sambil senyam senyum)
I : Ada apa sih? (keganggu)
D3: Bu, ada cemilan nggak? Biasane ono..
*gubrak! ngegangguin gw online aja nih*
I : Ada, ambil aja tuh di laci..
D3: Makasih, Bu.. (sambil ngambil seplastik kripik singkong dan senyum gembira)
Gue geleng-geleng kepala.


***
Terkadang tim yang lain yang lagi santai suka mengganggu tim gue yang lagi hectic. Dalam saat ini gue harus menertibkan mereka.
I : Yan! Ngapain sih kamu deket2 Oni gitu? Oni kan banyak kerjaannya..
Jangan diajak ngobrol melulu..
D3: Mengko wae maneh ya, On!
Dan dia ngeloyor lagi ke mejanya untuk maen Solitaire.
I : Yan, jangan maen di jam kerja dong.. kan nggak enak sama Bos..
D3: Gak keliatan gini lho,Bu. Begitu si Mami di ujung situ kan udah saya ganti lagi ke CAD (sambil memperagakan kecepatan nggantinya)

***
Komputer gue sering tiba-tiba disconnect ke server. Yah, karena kalau di tengah gue sedang bekerja(padahal gue lebih banyak di studio daripada di ruangan gue) tau2 terjadi hal demikian, maka..gw pake voice command..
I : Waaaaan, ini komputer kenapa sih disconnect melulu!!!
Dan drafter merangkap staf IT kantor pun tergopoh2 memeriksa komputer gue.

***
Susahnya menjadi makhluk cantik di tengah gerombolan lulusan STM ini adalah kalau mau sholat bareng.
Selesai berwudhu..
D3: Bu, udah wudhu?? (dan dia nyolek sikut saya..)
I : Yaaann.. kan gue udah wudhu nih, kan batal lagi.. Lo tau nggak kalo gue wudhu lagi tuh buang2 air!! Inget dong jangan boros air!! Di gunung kidul sana tuh orang kesusahan air tauuu!!!

***
Keliatannya judes ya gue, tapi yang menggaji mereka alias bos saya lebih galak lagi (ya iyalah).. Yah, buktinya mereka sih have fun karena sering gue ajak karaokean, nonton, gue pinjemin buku. Pokoknya gue sih menyayangi anak buah gue dan mereka juga sebaliknya. Susah senang bersama-sama, kalau mereka bisa lembur gue bisa pulang lebih seneng gue. Hehehehe.. sedikit share waktu gue kehilangan satu di blog gw.. rumahbintang.wordpress.com/kehilangan

mudah-mudahan buku ini bisa untuk pereda stress di kantor..
ketimbang baca Catcher untuk pereda stress, hayo???

View all my reviews >>

Eat, Pray, Love - Makan, Doa, Cinta

Makan, Doa, CintaMakan, Doa, Cinta by Elizabeth Gilbert

My rating: 3 of 5 stars


EAT at ITALIA
Describe how you healing yourself in culinary..
There’s so many beautiful thing in Italy that make you hmmmm… sllruup..
those pasta, gelato, pizza, ravioli, and those Italian man are delicious!!!
Tidak salah rupanya Liz Gilbert ini jalan-jalan ke Italia... Dalam penyembuhan depresi dirinya sesudah perceraian dengan suaminya yang memakan waktu panjang, Italia, negara kecil dengan bangunan yang indah, penduduk yang cantik dan tampan, dan makanan yang sangat lezat, membuatnya melupakan akan Depresi dan Kesepiannya..
Orang Italia adalah rajanya bel far niente berarti ”keindahan tidak melakukan apa-apa” (h.72).
Makanan.. banyak makanan di sini yang dipamerkan, mulai dari pizza dan gelato di Naples, sausages di Florence, ayam kalkun di ulangtahun Luca Spaghetti, pasta ravioli di seukuran topi paus, gurita dan squid dengan salad pedas (glek!), sayur mayur dalam kaldu, kelinci kukus dengan daun thyme di Sisilia. Di Syracuse, ia menemukan keju halus yang ditaburi pisthacio, remah-remah roti yang mengambang dalam minyak beraroma, potongan daging dan buah zaitun... membuat berat badannya naik 23 pound.

Dalam dunia yang kacau dan rusak serta penuh dengan penipuan kadang-kadang hanya keindahan yang bisa dipercaya. Hanya kehebatan seni yang tidak bisa dikorupsi. Kesenangan tidak dapat ditawar-tawar. Dan kadang-kadang makanan merupakan hal yang paling berharga dan nyata. h.137

PRAY at INDIA
Describe how you healing yourself in meditation..
Liz Gilbert berada di Ashram, India selama empat bulan, berusaha mencari ketenangan dengan meditasi dan yoga, menemukan kesulitan-kesulitan alami yang ditemukan untuk mempelajarinya. Berusaha untuk duduk tenang dalam meditasi, sementara pikiran-pikiran meracau di sekelilingnya
Berusaha keras menghafalkan syair-syair pujian, yang membuatnya pusing kepala, mengeluh ketika diharuskan bangun pada pukul tiga pagi, untuk menyanyikan syair. Lucunya, dalam masa penolakannya atas ritual ini malah ia terkunci di kamar oleh teman sekamarnya, sehingga ia harus melompat jendela untuk masuk dalam kuil.
Monolog dalam bagian ini begitu cerdas, sehingga saya bisa merasa seperti Liz, tersenyum dalam harapannya menjadi hening. Bahagia saat ia menjadi key hostess yang menerima curahan hati dari teman-teman seperguruannya.

Seberapa besar cintamu padaku? Siapa yang memegang kendali h.188

LOVE at INDONESIA
Describe how you healing yourselt by heart…
So many beautiful beach, farm, greenery, building, ritual..
Keramahan penduduk Indonesia dan Bali yang menawan hati.. sama dengan yang kurasakan dengan pulau ini. Kita dapat melihat cinta disitu..
Tak heran Bali menjadi tempat berbulan madu bagi banyak orang.
Bagaimana jatuh cintanya Liz Gilbert secara alami, mungkin bukan kebetulan. Bagi sebagian orang biasa, bagi yang lainnya luar biasa. Orang-orang yang ditemui Liz selama di Bali banyak memberikan pencerahan terhadap hidupnya. Di sini juga sedikit dijelaskan tentang kehidupan di Bali, penduduknya.
Cinta itu misteri. Karena itu tidak saya jelaskan disini.

****
Dear woman, whoever you are, think that you always will find your happiness through everything in your dream. Don’t make your leg stiff at the place you stand. Catch it, find it..



View all my reviews >>

Jumat, 09 Juli 2010

sayang anakku...

30 Hari Jadi Murid Anakku30 Hari Jadi Murid Anakku by Mel

My rating: 4 of 5 stars


Lucu ya, ketika kisah si kecil dijadikan buku seperti ini. Mengingatkan pada kehidupan sehari-hari. Begitu banyak hal yang aku lewati bersama anak, yang memang mengajari aku akan hal-hal baru, karena ternyata sifat kami ada perbedaan, ataupun cerminan diriku sendiri.
Terkadang kita tak sadar, kita mengajari si kecil sesuatu yang baik, dan akhirnya ia mengingatkan kita akan itu kalau kita salah. Kita bilang, jangan bohong nak, maka kita pun tidak boleh bohong.
Berat memang menjadi orang tua, tapi beberapa sisi kehidupan yang diolah oleh Mel memang kita ajarkan untuk anak-anak, yang kalau dituruti menjadi pembelajaran kembali untuk kita orang tua. Orang tua terkadang lupa, hanya ingin mendewasakan anak2nya. Menganggap yang benar adalah duduk manis, belajar supaya pintar, makan yang banyak. Kita seringkali lupa bahwa anak-anak pun punya karakter masing-masing.
Betapa bahagianya saya kalau pulang kerja ketemu Bintang dan dia teriak “Bunda pulaaangg!!!” sambil memeluk dan menggeret-geret saya sambil membawa buku kesayangannya, sementara saya sebenarnya capek dan pegel-pegel.
Betapa berharganya quality time yang dihabiskan bersama Bintang, berdua bersama Bintang, datang ke kopdar GRI di bunderan HI.. yang berakhir dengan acara lari-lari dan kejar2an berdua, mirip dengan digambarkan oleh kakak Mel sebagai kencan-kencan bersama si Sulung.
Anak adalah inspirasi. Vitaminku setiap pagi adalah tawa Bintang. Obat pegelku kalau malam adalah celotehannya yang cadel. Capekku kalau lari pagi bersamanya dan berakhir dengan gendongan. Aku sedih kalau dia sakit. Ia sedih kalau lihat bundanya sampai menangis marah kalau ia kelewatan nakal.
Mungkin isi buku ini tidak ‘menampar’ saya seperti Gieb. Tapi lebih untuk menguatkan saya bagaimana cara menghadapi Bintang, yang mungkin di kemudian hari akan cerewet dan kritis seperti Si Sulungnya Mel. Menghadapi anak tidak perlu dengan segudang aturan, tapi dengan hati, dengan bicara. Anak adalah sahabatku. Sama seperti ibu adalah sahabatku.

View all my reviews >>

Waiting for Daisy: A Tale of Two Continents, Three Religions, Five Infertility Doctors, an Oscar, an Atomic Bomb, a Rom

Waiting for Daisy: A Tale of Two Continents, Three Religions, Five Infertility Doctors, an Oscar, an Atomic Bomb, a RomWaiting for Daisy: A Tale of Two Continents, Three Religions, Five Infertility Doctors, an Oscar, an Atomic Bomb, a Rom by Peggy Orenstein

My rating: 4 of 5 stars


Lho.. koq blum ada yang review.. padahal kan dibagi gratis ke yang ikut Jelajah Rahasia Meedee 2..

Caara menulisnya sih biasa aja (atau terjemahannya yang ga begitu bagus), tapi ceritanya menarikk sekali..
Kisah wanita ini, seorang penulis workaholic yang tiba2 ingin punya anak di umur 36 tahun, sudah mencoba berbagai macam cara, mulai dari minum pil penyubur Clomid, minum ramuan biarawati, ikut bayi tabung, dapat donor sel telur, akupuntur, bahkan adopsi anak dari Jepang.. semuanya gagal.
Ia sangat terobsesi oleh keinginannya untuk punya anak.
Tiga kali ia hamil dalam namun tidak pernah mencapai enam minggu, Semua berakhir di meja kuret.
Ia hanya punya satu indung telur dan pernah menderita kanker payudara.
Beruntunglah ia punya suami seorang sutradara film asal Jepang yang sangat mencintainya dan sangat sabar dan penuh pengertian untuk mengerti keresahan hatinya.
Ia bahkan dapat donor sel telur dari salah satu fans bukunya, namun cara inipun tidak berhasil.
Akhirnya, ketika suaminya menyadarkannya untuk tenang dan mulai mnyadari dan menjalani hidupnya seperti biasa lagi, setelah lelah dengan semua cara yang mereka jalani selama enam tahun, setelah ia melepaskan semua stresnya..
Lahirlah Daisy.. di usianya yang ke 42 tahun.

View all my reviews >>