ulasan. resensi. kesan.

ulasan. resensi. kesan. ini bukuku, apa bukumu?
Tampilkan postingan dengan label taft. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label taft. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 April 2015

Under the Southern Stars

Under the Southern StarsUnder the Southern Stars by Anida Dyah

My rating: 4 of 5 stars


aku membaca buku ini lama sekali. hampir satu bulan lamanya.
penuturannya lambat dan pelan, dan karena aku tidak sedang dalam perjalanan, maka aku lebih sering menulis ketimbang membaca. dan satu hari ketika aku sedang stuck dalam menulis, aku membacanya lagi.

aku melihat lagi pribadi anid yang tertutup, yang tersembunyi di balik cerita-cerita serunya. aku salut bahwa ia berani untuk bercerita di dalam bukunya, tentang motivasi, tentang masa lalu, tentang harapan seseorang, tentang hal-hal yang mungkin tidak mudah diungkapkan.

dan seperti seorang teman pernah berpendapat padaku, tulislah dengan jujur, beranilah membuka hati, dengan begitu kamu akan merebut pembacamu. dan aku melihat itu lagi dalam cerita-cerita anid ini. bagaimana konflik tidak terselesaikan, bagaimana rindu yang melanda, bagaimana keberanian ditantang, dan bagaimana tetap menyembunyikan pribadi. anid bercerita tentang dirinya dalam porsi yang cukup, tidak cengeng dan minta perhatian.

pada akhirnya, perjalanan bukan sekadar pernah melangkah di destinasi-destinasi yang dituju, tapi tentang memahami orang lain dan juga diri sendiri. membacanya memang membuat aku bersyukur pada perjalanan yang pernah kulalui, tak hirau lagi akan patah dan kesal yang pernah kulewati.

perjalanan memiliki makna pribadi, dan jalur yang dilintasi amat menantang emosi. dan ketika menutup buku ini, aku diam. tidak ada lagi hal yang diirikan dari sebuah kisah happy ending. life is about how you look at.





View all my reviews

Terre des Hommes: Bumi Manusia

Terre des Hommes: Bumi ManusiaTerre des Hommes: Bumi Manusia by Antoine de Saint-Exupéry

My rating: 4 of 5 stars


Setiap perjalananku bermula, sejak lepas landas aku memasrahkan diriku pada langit. Pada birunya atmosfer dan awan-awan yang berarak. Aku paling suka duduk di tepi jendela, memandang keluar, memperhatikan bangunan di bawah sana yang perlahan mengecil, memandang arus sungai yang berkelok, danau-danau yang tampak seperti pecahan genangan, pepohonan seperti gerumbulan hijau, gunung-gunung yang dikitari awan tipis, tepian garis pantai yang kontras dengan birunya laut, kapal-kapal yang menuju daratan, hingga cuma biru di sekeliling.

Namun aneh sekali pelajaran geografi yang kuterima waktu itu! Guillaumet tidak memberi pelajaran tentang Spanyol kepadaku; ia menjadikan Spanyol sahabatku. Ia tidak membicarakan hidrografi ataupun penduduk, bukan juga binatang ternak. Ia tidak berbicara tentang kota Guadix, tapi tentang tiga pohon jeruk dekat Guadix sepanjang sebuah ladang : "Waspadalah kepada pohon-pohon jeruk itu, tandai pada peta..." Dan sejak itu, pada petaku, pohon jeruk menempati tempat lebih penting daripada Sierra Nevada. Ia tidak berbicara tentang kota Lorca kepadaku, tapi tentang rumah petani dekat kota Lorca. Tentang sebuah rumah petani yang hidup. Dan tentang para petaninya. Dan tentang para petani perempuannya. Dan pasangan itu, yang entah berada di mana, seribu lima ratus kilometer dari kita, memiliki peranan yang luar biasa pentingnya. Mereka tinggal dengan nyamannya di lereng gunung, seperti penjaga mercu suar, dan di bawah naungan bintang-bintang, mereka selalu siap menolong manusia. (h.16)



Satu malam ketika aku mengangkasa membelah gelap, lepas dari bandara Minangkabau, meninggalkan lampu-lampu sepanjang jalur lepas landas, mulai menjauh dari daratan. Tak lama yang terlihat hanya lampu-lampu kota, kemudian kerlip samar di perbukitan, sampai menembus awan dan tak ada cahaya lagi yang nampak. Cuma gelap di luar jendelamu. Lalu tiba-tiba gemuruh terdengar dan pesawat mulai terguncang. Lampu kabin dimatikan dan kami semua harus menggunakan sabuk pengaman. Mengintip keluar jendela hanya lampu-lampu pada sayap dan sesekali terang di ujung sana oleh petasan kilat. Yang bisa dilakukan hanya berdoa.


Jadi perlahan-lahan aku meninggalkan matahari. Aku meninggalkan dataran keemasan yang terbentang luas yang akan menyambutku manakala terjadi kerusakan... Aku meninggalkan patokan-patokan yang mungkin menunjukkan jalan kepadaku. Aku meninggalkan lekukan-lekukan gunung di langit yang memberitahuku kalau ada bahaya. Aku memasuki malam. Aku terbang. Yang tersisa untukku hanyalah bintang-bintang...


Kematian bumi itu terjadi perlahan-lahan. Dan sedikit demi sedikit pula aku kehilangan cahaya. Bumi dan langit menyatu perlahan-lahan. Bumi naik dan seolah-olah seperti asap. Bintang-bintang pertama bergetar seperti dalam air hijau. Masih harus menunggu lama sebelum mereka berubah menjadi intan yang keras. Aku masih harus menunggu lama sebelum dapat menyaksikan permainan bintang jatuh yang sunyi. Di tengah malam-malam tertentu, aku telah melihat begitu banyak percikan beterbangan seolah-olah ada embusan angin besar di antara bintang-bintang. (h.134)

Antoine de Saint-Exupéry adalah seorang pilot berkebangsaan Perancis yang bertugas awal sebagai pilot pesawat pos yang terkenal dengan bukunya Le Petite Prince. Ia lebih bercerita tentang pengalaman batinnya ketika melintasi Sahara, yang banyak memakan korban pesawat di masa itu atau pengalaman sahabatnya menyelamatkan diri di tengah pegunungan salju di Andes. Ia berkisah tentang manusia-manusia yang ditemuinya, tentang karakter, perbedaan, cara pandang. Orang-orang yang terkadang memandangnya musuh, atau teman. Namun sebagai pembawa pesawat pos, dirinya selalu ditunggu, dianggap pembawa kabar dari seberang.


Jadi kami mengajak mereka terbang, dan begitulah tiga orang di antara mereka sempat mengunjungi Prancis yang tidak mereka kenal. Mereka termasuk ras yang sama dengan orang-orang, yang ketika pergi ke Senegal denganku, menangis melihat pepohonan.


Ketika aku mengunjungi mereka kembali di tenda, mereka bercerita mengagumi gedung pertunjukan musik di mana perempuan-perempuan telanjang menari di antara bunga-bungaan. Laki-laki itu, yang tidak pernah melihat pohon, air mancur, atau bunga mawar, hanya tahu melalui Quran adanya taman tempat mengalir sungai-sungai karena begitulah digambarkan surga. Bagi mereka, surga dengan isinya yang cantik-cantik hanya dapat dicapai melalui kematian pahit di atas pasir oleh tembakan seorang pengkhianat, setelah menjalani tiga puluh tahun kesengsaraan. Tetapi Tuhan mengecewakan mereka, karena telah menganugerahkan semua kekayaan itu kepada orang Prancis, tetapi tidak mengharuskan mereka untuk menebusnya dengan kehausan atau kematian. Itulah sebabnya para kepala pasukan yang sudah tua itu kini bermimpi. Itulah sebabnya seraya mengamati Sahara yang terbentang, kosong, di sekeliling tenda mereka dan yang sampai mereka mati hanya memberikan kesenangan sedikit sekali, mereka mencurahkan isi hati :

"Kau tahu... Tuhan orang Prancis... Ia lebih murah hati kepada orang Prancis jika dibandingkan Tuhan orang Moor kepada orang Moor!" (h.100)

Melihat dunia dari atas sebenarnya tak jauh beda dengan kita yang menyusurinya lewat roda. Hanya sesuatu yang datang dari atas terkadang lebih didewakan, dianggap lebih istimewa. Masih ingat film God Must be Crazy ketika adegan terlemparnya botol Coca Cola dari pesawat dan disambut dengan banyak pertanyaan 'apakah ini?' oleh yang menemukannya di bawah? Seandainya botol itu tiba melalui dunia yang lebih horisontal, mungkin akan lebih lambat dan lebih mudah pengertian akan dicapai.

Pertanyaan tentang hidup, ketika batas antara hilang dan kematian begitu tipis, tentang harapan yang terus dipupuk selama berhari-hari terdampar jatuh di gurun pasir, mencari oase-oase yang kadang semu di antara pilihan untuk melanjutkan atau bertahan ditemukan. Bergerak sambil terus meninggalkan jejak atau pasrah ditelan udara panas yang bisa membuat gila. Cerita panjang tentang melintasi pasir yang menyesatkan hanya dengan bantuan kompas, tanpa tahu di mana mereka sebenarnya dalam peta panduan yang mereka bawa.

Setiap tempat adalah satu titik istimewa di peta, yang punya cerita sendiri dari siapa yang pernah membuat jejaknya. Bisa terkenang akan pepohonan yang berbuah ranum, bisa tentang jalan berkelok yang berdebu, bisa tentang guncangan di udara, atau gadis-gadis cantik yang menggetarkan hati, bahkan sekadar perasaan bangga pernah tersesat dalam satu pecahan ombak. Bahkan tidak punya rasa atasnya pun tidak menjadi masalah. Hidup memang bagian dari perjalanan. Safe flight.




View all my reviews

Minggu, 09 Maret 2014

Fight Club

Fight ClubFight Club by Chuck Palahniuk

My rating: 4 of 5 stars


aku nggak tahu kenapa membutuhkan lebih dari 6 bulan untuk menamatkan buku ini. serius, kupikir ketika itu aku memulainya dengan pikiran yang waras dan dunia yang sukacita. tak berhasil menyatukan moodku dengan buku ini.

dan ketika kamu merasa kalah, dan butuh teman, dan ingin menghancurkan apa saja yang ada di dekatmu. yah, itu yang dirasakan Joe, ketika semua miliknya hilang dalam sekejab dan ia memulai kehidupannya yang baru.

setiap orang berhak marah, mencaci, membanting dan memukul apa saja. namun selalu ada batasan-batasan di dalam jaringan manusia. norma boleh dan tidak boleh, batas gila maupun wajar yang bisa diterima, batasan yang diciptakan manusia. ketakutan-ketakutan yang dibatasi oleh pikiran-pikiran sendiri. berusaha melompat untuk tidak mengenali semuanya.

aku belajar untuk berhenti marah, berhenti menyalahkan keadaan. mencoba mencari sesuatu yang memang diriku, atau seseorang yang membuatku jatuh cinta lagi.

kadang entah siapa yang ada di dalam diri, si penceria, si semangat, si motivator, atau si pencemburu, si cengeng, si menyerah pada kondisi yang ia tidak bisa dapatkan. atau bukan siapa-siapa, yang menerima kenyataan yang sudah jujur, dan berharap keadaan sebaliknya. berharap suatu saat jawaban itu akan berubah.

dan kadang pengen bilang ke seseorang yang selalu mencelamu, "eh, kamu tuh biasa aja. nggak usah sombong. cih!"



View all my reviews

Fira dan Hafez

Fira dan HafezFira dan Hafez by Fira Basuki

My rating: 4 of 5 stars


"Memiliki seharusnya mengajarkan kita tentang kehilangan dan kehilangan seharusnya mengajarkan kita tentang memiliki.”

Kata-kata itu update-an seorang teman-yang tidak terlalu akrab- di twitter tadi malam. Kedengerannya klise khas kata-kata motivator ya? Tapi buat siapa pun yang pernah memiliki kehilangan, pasti tahu rasanya seperti ini. Tidak seperti orang-orang yang hidupnya begitu normal, yang lempeng aja sok memberi nasihat.

Aku nggak bisa bohong, bahwa air mataku menggenang sambil membaca buku ini, membaca cerita sederhana yang dituturkan Fira tentang Hafez, suami keduanya yang meninggal sebelum umur 30 tahun mendadak karena aneurisma. Aku masih ingat dua tahun lalu, ketika aku membaca kabar kematian Hafez, dan kutuliskan status di google+ ku : "Bagaimana rasanya mencintai seperti itu?"

Cerita kehidupan singkat yang manis, masa-masa yang dilewati berdua, cara berkomunikasi, hal-hal sederhana yang dijalani, sekadar naik motor berdua yang lucu, Hafez, kamu pantas dicintai seperti itu. Bahwa seseorang yang kehilanganmu akan mengenangmu dengan cara yang indah.

Aku mengenal buku-buku Fira sejak masa awal umur 20-anku, dan entah kenapa merasa cocok. Buku-bukunya seperti menjadi teman, karena tidak disesaki dengan banyak petuah dan hidup itu seharusnya bagaimana, tetapi mengalir begitu saja, sesuatu sebab yang mungkin terjadi dan akibat dari hal-hal yang diungkapkan.

Fira menjelaskan bukan bagaimana perempuan menjadi tegar, tapi tentang kesakitan itu sendiri. Tentang hal-hal yang mesti ditanggungkan. Tentang jatuh cinta yang salah, tentang hati yang berbalik arah, tentang raga yang meninggalkan jiwa, tentang mabuk, ketidakbahagiaan, dan kegagalan dalam tangisan. Karena hal-hal itu ada, namun tidak pernah mampir di kehidupan orang normal, yang kehidupan cintanya semulus cerpen masa SMA. Dan ini yang banyak tidak dimengerti orang. Akibatnya orang sibuk men-judge, asik menasehati, tanpa tahu bagaimana rasanya kalah. Orang enak saja bilang, 'sudahlah' ketika sesak di dada ingin teriak, bukannya memberikan belanga untuk menangis.

Haters always everywhere. Ketika banyak orang mengatakan lebay, berlebihan, karena sebenarnya mereka tidak tahu apa-apa soal kehilangan. Atau mereka terlalu sombong ketika berhasil mengatasinya.

Apakah saya berhenti menangis gara-gara sudah menulis ini? Tidak. Saya masih menangis setiap hari, bangun tidur, sebelum tidur, bahkan ketika saya berjalan sendirian di mal. Pasrah, ikhlas, bukan berarti saya tidak menangis. Ijinkan saya menangis. Bahkan setiap air adalah cerminan hati saya. Bukan karena sedih, tapi karena saya manusia dan saya mencintai Hafez. (h.110)

I feel you, mbak Fira. Ketika gamang dan rapuh memang seseorang rentan menangis. Aku pun masih seperti itu. Terkadang mentertawakan kehidupan, terkadang mengingat sambil menangis. Setelah tiga tahun yang lalu, terlalu banyak perubahan dalam diriku. Karena aku sadar yang berdiri adalah sesuatu yang rapuh, bisa hancur dalam sekali sentuh. Seperti tanah liat yang berdiri karena air, dan lebur ketika airnya menguap. Atau tanah yang berdiri tegak, namun hancur hanyut dibawa arus air..

Ketika Fira bercerita tentang Syaza Galang, anak dari pernikahan pertamanya, pastinya aku juga teringat Bintang. Gadis luar biasa sabar yang setiap hari menantiku pulang, yang seperti Syaza, aku juga tak tahu ketika ia tahu-tahu bisa naik sepeda roda duanya. Yang amat pandai dan tak lupa mengatakan I Love You sebelum tidur. Yang kukecup pipinya setiap pagi. Bintanglah guruku, tempat belajar sabar, yang membuatku lupa akan nada-nada tinggi, mencoba bagaimana memahami orang lain. Mungkin juga saking sabarnya kami sampai selalu 'ya, sudahlah' ketika ada yang jahat dan menyakiti. Bintang sering diganggu teman2nya di sekolah. Tapi ia tidak pernah membalas. Ia menjauhi dan main dengan teman2 yang baik dengannya. Ia sabar kalau meminta sesuatu dan kubilang tunda dulu. Yang jelas apa pun yang kujanjikan padanya akan kutepati. Yang tidak mampu kukatakan tidak. Karena demikianlah aku mengajarkan janji.

Hujan. Air mataku ditarik awan. Dilipatgandakan. Lalu dijatuhkan. Agar kau tahu sedih tak terperikan.
Mereka menyebut aku perempuan hujan. Karena aku perempuan.
Dan aku berteman hujan. Simpel, tapi kamu tak mengerti juga, kan?
Tangan aku kecil. Hati aku besar. Apalagi ruang memaafkan. Semua kutumpahkan. Pada hujan. (h.119)


Terima kasih kak Lisa Febrianti untuk pembicaraan kita dua tahun silam, yang mengajarkan bagaimana menghadapi kehilangan. Semoga kehidupanmu sekarang membahagiakan, dan bayi dalam kandunganmu kini lahir dengan selamat.

Terima kasih untuk seorang ibu dari dua anaknya yang sudah dewasa, yang memberikanku kesempatan berkata jujur tentang hidup, mengajari menghargai kesendirian, dan berpesan,”Nggak ada jodoh yang sempurna, mbak In.”

Seperti banyak orang yang tetap sayang Fira, semoga aku pun punya kesempatan yang sama.









View all my reviews

The Fault In Our Stars - Salahkan Bintang-Bintang

The Fault In Our Stars - Salahkan Bintang-BintangThe Fault In Our Stars - Salahkan Bintang-Bintang by John Green

My rating: 5 of 5 stars


I like this book. I do liiiikeeeee this book...

I like this book because this is not just about cancer between Hazel and Augustus, this also about love, pain, and trust.
Selama ini aku selalu berpikir persepsi. Sakit itu persepsi. Trauma itu persepsi. Tapi dengan kanker, hal-hal ini benar terjadi tanpa dipersepsikan. Sesuatu yang harus dihilangkan dengan pereda sakit. Sakit itu nyata, menggerogoti dari dalam seperti dan sewaktu-waktu meledak seperti granat.

Augustus Walters, the hot cute guy playing basketball menderita kanker yang mengharuskan sebelah kaiknya diamputasi, jatuh cinta pada Hazel Grace, penderita kanker paru di sebuah forum support group.
Sampai akhirnya mereka menjadi dekat, dan Augustus mengajak Hazel ke Belanda untuk menemui penulis favoritnya Peter Van Houten.

Di sana mereka sadar bahwa mereka jatuh cinta.

“I'm in love with you," he said quietly.

"Augustus," I said.

"I am," he said. He was staring at me, and I could see the corners of his eyes crinkling. "I'm in love with you, and I'm not in the business of denying myself the simple pleasure of saying true things. I'm in love with you, and I know that love is just a shout into the void, and that oblivion is inevitable, and that we're all doomed and that there will come a day when all our labor has been returned to dust, and I know the sun will swallow the only earth we'll ever have, and I am in love with you.”


Ketika jatuh cinta, keinginan terbesar adalah bersamanya, memandang matanya, melihat senyumnya, bercerita sehari-hari tentang hal-hal tak penting, tentang buku yang dibaca bersama, permainan bersama, dan impian-impian akan masa depan.....

Tapi ketika masa depan itu tidak ada, dan yang ingin dilakukan adalah menghargai setiap waktu bersama, ketika jarak tidak menjadi masalah, ketika takut bukan lagi ancaman, ketika kematian terasa dekat, ketika air mata sudah tak ada artinya... yang ada hanya cinta yang membangunkan setiap hari, waspada apa yang akan terjadi hari itu, di sisa waktu yang sempit..

There are days, many of them, when I resent the size of my unbounded set. I want more numbers than I’m likely to get, and God, I want more numbers for Augustus Waters than he got. But, Gus, my love, I cannot tell you how thankful I am for our little infinity. I wouldn’t trade it for the world. You gave me a forever within the numbered days, and I’m grateful.”

Dan sakit itu menjadi teman yang harus dijalani bersama dengan hidup. Dimaafkan sebagai kesalahan. Karena cinta dengan sakit bisa dijalani tanpa penyesalan...






View all my reviews

One Amazing Thing

One Amazing ThingOne Amazing Thing by Chitra Banerjee Divakaruni

My rating: 5 of 5 stars






View all my reviews

Sabtu, 14 April 2012

Perjalanan ke Atap Dunia

Perjalanan ke Atap DuniaPerjalanan ke Atap Dunia by Daniel Mahendra
My rating: 5 of 5 stars

Perjalanan adalah Keberanian Bermimpi


"Kang, kita mau jalan-jalan ke Curug Malela tanggal 23 April, ikutan yuk!"
"Wah... Kok tanggal segitu. Tanggal segitu aku masih di Tibet/Nepal. "
"Sampai Nepal? Sekarang masih di Bangkok? Napak tilas jejak si Roy?? *iri* "
"Belum. Sekarang udah di Chengdu (China).
Nanti malam baru mau naik kereta ke Lhasa (Tibet)."
"Wah, jalan-jalan melulu nih... Seru banget...
Nanti dinapaktilasin ah perjalanannya.. "

Waw! Tibet? Nepal? Yang di kaki Everest?

***
Itu percakapan terakhirku dengan Daniel, ketika ia dalam perjalanan. Beberapa bulan kemudian aku tak mendengar kabarnya lagi. Di mana berada dan kapan ia pulang, aku tak tahu. Hanya status twitter-nya yang terbaca Om Mani Padme Hum tak berubah dari waktu ke waktu.

Sampai pada suatu hari tak sengaja aku membuka situs blog miliknya, yang menampilkan Journey to the Rooftop of the World, berupa catatan-catatan perjalanannya ke Tibet, yang sudah sampai episode belasan kalau nggak salah. Deuh, kemana aja aku? Kok nggak baca dari awal?

Lalu kujejaki tulisannya dari awal. Sejak ia menceritakan mimpinya untuk mengunjungi Tibet. Sebuah catatan perjalanan yang dilakukan sendiri, tentang perjalanan mengenali diri sendiri. Menggapai mimpi masa kecilnya, yang memanggil-manggil. Yang ia coba abaikan sebagai salah satu pemaafan akan impian yang dikiranya tak akan terwujud. Namun ternyata semesta mengamini. Mimpi itu dipanggil dari angannya. Perjalanan menggapai mimpi yang kemudian dirawi menjadi sebuah catatan panjang yang ada di tanganku untuk dibaca.

***
Pada suatu hari, muncul pertanyaan seperti ini :
Kamu tahu bedanya mimpi dan khayalan?
Mimpi didapat saat tidur, dan khayalan dipikirkan saat bangun, pikirku. Ketika kita bermimpi, kita tidak sadar apa yang kita mimpikan, ketika berkhayal kita tahu apa yang kita inginkan, kita khayalkan, walau kadang tak tahu bagaimana cara memenuhi khayalan itu.

Lalu perjalanan macam apa yang dilakukan petualang ini? Ketika ia membaca Tintin in Tibet, ia berkhayal untuk dapat mengunjungi tempat itu. Kuil, salju, dan petualangan menyusuri pegunungan di dataran tertinggi dunia, menghantui pikirannya. Dijadikannya khayalan itu sebagai bagian dari mimpinya, yang terkadang muncul lewat alam bawah sadarnya. Sampai lewat masa remajanya yang dihabiskan di antara gunung dan api unggun, mungkin harapan itu masih tertanam baik-baik dalam kepalanya.

Kamu tahu? Mimpi adalah harapan yang tertunda. Akan terus bersemayam dalam kepala, andaikata kau tidak berani melangkah mewujudkannya. Siapa sangka, membutuhkan waktu dua puluh lima tahun untuk memantapkan sebuah khayalan yang berubah menjadi mimpi, ketika sebuah tangan yang tiba-tiba menarik mimpi ke masa kecil, untuk kemudian dilontarkan sampai tujuan. Dan ia bangun untuk menyongsongnya.

When you want something all the universe conspires in helping you to achieve it. (The Alchemist-Paulo Coelho)

Dan bergulirlah perjalanan petualang ini menuju negeri impiannya. Dengan berbagai kebetulan-kebetulan keberuntungan yang menaunginya, sahabat-sahabat yang diandalkan, ia melangkahkan kaki ke negeri awan itu. Si petualang ini bercerita pengalamannya menginap di bandara, lalu naik kereta dari Chengdu ke Lhasa, bercerita apa yang ditangkap mata, apa yang dibaui hidungnya, siapa yang ditemui, bahasa yang tak ia pahami, bahkan teman merokok dengan bahasa yang berbeda. Ya, karena kereta adalah kendaraan favoritnya, maka tak salah jika ia mengupas banyak hal dalam perjalanan kereta selama dua hari dua malam itu. Ke dataran tinggi naik kereta, kenapa tidak?

Di Tintin in Tibet diceritakan tentang Tintin yang mencari sahabatnya Chang, yang hilang di pegunungan kawasan Tibet. Dalam perjalanan ini, apa yang dicari oleh petualang ini ?

Mungkin seandainya ia memang tidak mencari sesuatu, namun banyak yang ia temui. Ia banyak bertemu dengan teman-teman baru dari berbagai negara. Teman-teman yang (irinya) sudah mengunjungi negeri kita yang indah. Teman-teman dengan berbagai tindak tanduk, dari sesama backpacker seperti dirinya, sampai yang selalu bertambah volume bawaannya. Kata orang sih, teman yang terdekat adalah teman yang ada di saat kita sama-sama susah. Mungkin karena dinikmati dengan gembira, perjalanan ini tidak dirasa susah. Jadi tetap dekatkah pertemanan yang tercipta dalam perjalanan ini?

Kamu ajak kami mengelilingi negeri impianmu itu. Kuil-kuil indah dengan para biksu yang beribadah di dalamnya. Sebuah kegiatan keagaamaan yang dikomersilkan sebagai situs wisata. Hatimu terusik. Kamu putuskan menjelajah kota sendiri. Dan di situ kau lihat kehidupan sehari-hari. Menyeberang jalan dalam pengawasan tentara. Sholat di masjid yang kamu yakini tertinggi di dunia. Bercakap dengan orang sekitar.

Aku ngeloyor pergi melihat-lihat jalanan, kota, kampung, masyarakat setempat, atau pedagang di sepanjang jalan. Bagiku melebur langsung pada kehidupan setempat jauh lebih mengasyikkan dan lebih memberikan arti. Karena bersentuhan langsung dengan nadi kehidupan sebuah tempat justru memberikan gambaran tentang wajah tempat itu sendiri. (Monastery, h.163)

Perjalanan, selalu memberikan kebahagiaan untuk yang menikmatinya. Sehingga deru angin, jalan buruk, terpaan hujan, hanya dirasakan sebagai pengalaman. Karena memang tergantung apa yang mau diraih, apakah proses perjalanannya, atau tujuan perjalanannya. Apabila yang penting adalah tujuannya, maka segala cara tercepat, terefektif, harus dilakukan. Apa pun untuk mencapai tujuannya itu. Apabila yang penting prosesnya, maka dicari jalan supaya dalam proses perjalanannya yang lebih panjang itu bisa bermakna. Proses ini tidak selalu mudah, namun terkadang juga kesulitan bisa lewat tanpa berarti. Apalagi perjalanan yang diawali dari mimpi. Dari sesuatu yang hanya dari angan-angan belaka, dan diwujudkan. Bukan hanya tujuannya, namun prosesnya pun juga harus bisa dinikmati.

Mimpi itu masih panjang rupanya. Mungkin masih ada mimpi-mimpinya yang belum terwujud. Masih ada cahaya matahari, desau angin, dan mungkin gadis manis yang menunggu. Juga orang-orang yang menanti kisahmu. Cerita-ceritamu membangkitkan mimpi-mimpi lama yang sempat mengeram di kepalaku. Perlahan aku mulai menata apa yang sebenarnya aku inginkan, dan apa yang bisa aku lepaskan. Mimpi itu kini seperti menanti-nanti untuk terwujud. Mimpi untuk melakukan hal-hal yang selama ini cuma ada dalam pikiran.

Namun satu hal pasti yang dapat kutarik kesimpulan dari semua ini, paling tidak untuk diriku sendiri, adalah: beranilah bermimpi! Beranilah memiliki keinginan! Walau pikiran sadar kita menafikan kemungkinan-kemungkinan itu, tetap beranilah menetapkan tujuan. Karena nyatanya, ketika kita berani memutuskan untuk menggapai mimpi kita, alam bawah sadar kita justru bekerja membantu kemungkinan-kemungkinan mimpi tersebut menjadi kenyataan. Dengan dan lewat cara yang tak pernah kita duga sebelumnya. (Pulang, h.341)

Petualang, apa yang membuatmu pergi? Apa benar kamu hanya mengejar mimpi? Mungkinkah kau pergi hanya untuk merasakan bagaimana rindu pulang?

Bandung, 14 April 2012. 23:32
Indri Juwono.
Pembaca buku. Pengamat jalan. Arsitek.


View all my reviews

Sabtu, 28 Januari 2012

Meraba Indonesia: Ekspedisi "Gila" Keliling Nusantara

Meraba Indonesia: Ekspedisi Meraba Indonesia: Ekspedisi "Gila" Keliling Nusantara by Ahmad Yunus
My rating: 5 of 5 stars

#2011-50

Dalam beberapa bulan ini, banyak kesempatan untuk membaca tentang Indonesia, tanah tumpah darahku ini. Dari Arus Baliknya Pramoedya sampai Potongan Cerita di Kartu Pos nya Agus Noor. Masih masuk dalam daftar ingin saya baca adalah Nasionalismenya Pandji.
Benar adanya bahwa buku adalah jendela dunia...
Berkesempatan membaca Meraba Indonesia seperti membangun mimpi-mimpi masa muda saya. Yang suka bertualang. Mimpi saya untuk menjelajahi Indonesia yang indah ini. Mimpi yang terpaksa harus saya gantungkan sesaat demi cita-cita masa kecil. Maka saya gembira sekali ketika diminta untuk memoderatori diskusi bukunya, bercerita tentang suka duka sepak terjang orang-orang yang berani mengelilingi Indonesia, untuk membaginya dengan kita, memberikan jendela pandang untuk kita yang belum berkesempatan untuk itu.

Ini bukan buku catatan perjalanan seperti kebanyakan yang hanya membahas asyik-asyiknya suatu perjalanan. Lebih banyak ditonjolkan sisi humanisnya di sini. Dan perjalanan ini dilakukan di Indonesia! Negeri yang penuh dengan keindahan sekaligus ketidakindahan birokrasinya. Kecantikan yang menutupi coreng moreng di baliknya. Negeri yang sulit untuk dijelajahi karena tersebar di pulau-pulau, sementara transportasi airnya masih jauh dari layak melayani.

Indonesia dari perjalanan Yunus dan Farid dari sisi-sisi terluarnya, yang mereka jalani dari Bandung ke Jakarta, Teluk Kiluan Lampung, Bengkulu, Pulau Enggano, Kepulauan Mentawai, Padang, Tapanuli, Nias, Simeulue, Aceh, Sabang, Medan,..
Di sini mereka meraba tradisi lokal yang masih erat dengan keseharian warga masyarakat. Tato di kepulauan Mentawai, yang perlahan menghilang seiring dengan stigma negatif pemerintahan Orde Baru terhadap perajah tubuh ini. Upacara lompat batu di Nias yang kaya dengan seni budayanya, rumah Omo Hada rumah tradisional Nias yang temasuk dalam World Endangered Heritage, mengingatkan saya akan kekecewaan ketika kuliah saya melewatkan masa ekskursi ke Nias (suatu hari kelak saya akan ke sana..) lalu berpindah ke Simeulue dengan tradisi ‘smong’ yaitu menyelamatkan diri ke dataran tinggi ketika terjadi pasang surut tiba-tiba. Cerita-cerita singkat, namun memberi kesan menarik akan kekhasan daerah-daerah ini.

Selat Malaka, Pulau Penyengat, Pulau Natuna, ke Pulau Kalimantan, Pontianak, Sintang, Pulau Karimata, terus menyusuri sisi selatan dan timur Kalimantan, hingga Derawan, Nunukan dan Tarakan..
Ini pahitnya Indonesia. Bertemu polisi lautan yang seharusnya mengayomi namun malah memeras kapal-kapal yang lewat, kalau begini, bagaimana transportasi laut bisa maju jika untuk menjalaninya sehari-hari pun penuh ketakutan begitu. “Sudah biasa,” katanya. Tidak bisa, jerit batin saya.
Pun melihat Natuna yang berlimpah gas namun rakyatnya tetap tidak makmur. Ini menjadi pertanyaan besar sekali buat Indonesia. Kenapa di daerah-daerah yang hasil alamnya melimpah tapi penduduk di situ tak bisa ikut merasakan imbasnya? Tak hanya Natuna. Bangka Belitung, Papua, dan banyak daerah lain di Indonesia tak pernah menjadi bahan evaluasi. Kenapa hanya sisi eksploratifnya yang ditonjolkan dari daerah-daerah tersebut. Kenapa sisi pengembangan sumberdaya manusia di daerah tidak menjadi salah satu prioritas selain berapa dolar yang bisa dihasilkan oleh daerah itu?
Berpindah ke Kalimantan, potret hutan hujan tropis raksasa itu seakan sirna oleh potret keringnya sungai Kapuas, salah satu yang terpanjang di Indonesia, punahnya hutan oleh area kelapa sawit, pembukaan lahan gambut. Apalagi Kalimantan sekarang. Menurut cerita teman, banyak orang berlomba-lomba mendulang batubara tanpa memikirkan efek samping dari tambang yang ia buka. Banyak lubang-lubang menganga yang hanya dihijaukan kembali sekenanya. Menurut teman saya, perusahaannya berusaha menaati peraturan dengan menanam kembali seribu pohon, namun sesudah itu dibiarkan. Apa yang terjadi? Hutan tropis itu tidak pernah kembali. Tanpa perawatan, tanaman akan mati. Mungkin Yunus dan Farid tidak menuliskan itu sekarang, tapi suatu saat kelak, kebusukan-kebusukan ini harus dibongkar.

Makassar, Takabonerate, Wakatobi, Pulai Banggai, Pulau Togean, Pulau Miangas, Ternate, Raja Ampat, Banda Neira, Merauke..
Di sinilah potret kelautan Indonesia. Ketika mereka menggantungkan diri pada laut yang memeluk keseharian. Laut yang menjadi energi untuk hidup sehari-hari. Maka akan miris ketika mereka tahu bahwa Indonesia akan mengimpor ikan. Sementara mereka bersusah payah bertaruh nyawa setiap hari ke laut.

Dan potret-potret kehidupan lain yang ditampakkan dalam keseharian petualangan mereka. Mungkin mereka hanya tamu, mungkin mereka tidak ikut merasakan apa yang dialami. Tapi mereka berani untuk melaporkan apa yang ada di negeri tercinta ini, supaya semua sadar apa yang terjadi di tepian pantai Indonesia, bukan hanya duduk santai penuh fasilitas di kota bernama Jakarta. Mereka petualang. Penjelajah.


View all my reviews

Dan Hujan Pun Berhenti

Dan Hujan Pun BerhentiDan Hujan Pun Berhenti by Farida Susanty
My rating: 4 of 5 stars

#2011-41

kamu mau bunuh diri?
ya, tapi kalau besok tidak hujan...


seberapa besarnya gue pengen mati, sebesar itu juga gue pengen hidup.
setiap kali gue pengen mati, gue takut. takut apa? takut bakal bagaimana gue kalo mati nanti. dan ternyata, gue emang belum siap. makanya gue belum mati. Tuhan memang belum ngijinin.

gue bahagia. gue bahagia ketika gue memang bahagia, dan sedih ketika gue sedih. ya, memang orang yang paling bisa menguasai moodnya adalah pembohong. menampilkan wajah palsu ceria di balik keramahan mereka. padahal mereka kesal luar biasa. kadang-kadang gue bisa nampilin muka seperti itu. kadang-kadang juga enggak. saat ketika gue jujur ini banyak orang gak terima. mereka pengen gue tetep bersikap manis walaupun lagi kesel. mereka minta gue tetep sabar. mereka gak mau terima kondisi gue sebenernya.

gue suka kesel sama orang-orang yang sok nasehatin gue. hear, jangan sok nasehatin deh kalo elo belum pernah ngalamin kayak gini. ini pake emosi, pake rasa. ngandelin logika lebih salah lagi.

kata orang cerita di sini terlalu emosional banget. terlalu teenage banget. anak yang pemarah banget. sure, kalau hidup lo lempeng-lempeng aja, dan gak pernah kesangkut masalah ini itu, atau elo termasuk orang yang tolerannya tinggi, elo akan ngerasa cape baca buku ini. begitu banyak teriakan emosi di sini, begitu labil tokoh-tokohnya. tokoh yang sendirian, yang dihantui mimpi buruk setiap hari. bukan cerita anak sma yang menye-menye jatuh cinta digodain saling benci lalu jadi cinta. tapi tentang menyakiti karena sakit, dendam amarah dan ketabahan menghadapinya. tentang masalah yang bertubi-tubi, yang dibuat sendiri dan konsekuensinya.

tentang ketakutan luar biasa dan ketidaktakutan sama sekali.
tentang ambisi hidup sendiri padahal tak bisa mandiri.
tentang kesombongan bisa mengatasi hidup tanpa orang lain.
tentang satu proses menjadi dewasa. marah itu wajar, tapi histeris itu enggak.

mun isukan teu hujan.. istilah bahasa sunda untuk sesuatu yang nggak pasti..
bisa ya, bisa enggak..
bisa jadi, bisa enggak..
liat aja besok deh..
gimana nanti..

View all my reviews

Mistress of Spices (Penguasa Rempah-Rempah)

The Mistress of Spices (Penguasa Rempah-Rempah)The Mistress of Spices by Chitra Banerjee Divakaruni
My rating: 4 of 5 stars

#2011-40

Tahukah kau, Tilo, hal yang paling menyedihkan di dunia? Itu adalah ketika kau memeluk seseorang yang paling kau cintai sampai hanya memikirkannya saja sudah seperti kilauan cahaya di dalam kepalamu, sedangkan kau merasakan bukan kebencian, kau merasakan kekosongan besar yang mengembang di dalam dirimu, dan kau tahu kau bisa memeluknya atau melepaskannya pergi, dan tidak ada perbedaan antara keduanya. h.207

Perempuan dan rempah-rempah, seharusnya seperti hal yang tak dapat dipisahkan. Di mana pun ia berada, aroma rempah menyelimuti tubuhnya. Pun dengan Tilo, yang ditunjuk untuk berada di Amerika bukan sekedar menjual rempah-rempah, namun juga menolong orang-orang dengan rempahnya itu. Itu misinya.

Dengan jahe, akar kebijaksanaan yang bertonjolan, ia menolong Geeta, gadis India yang hampir hilang di metropolis.
Dengan kalo marich, lada hitam, yang mempunyai kemampuan untuk menyedot keluar rahasia-rahasiamu.
Dengan dhania, biji ketumbar, berbentuk bulat seperti bumi, untuk menjernihkan penglihatanmu. Bila direndam dan diminum, airnya membersihkan dirimu dari kesalahan-kesalahan lama.
Dengan kayu manis, pembuat sahabat, kayu manis dalchini cokelat hangat seperti kulit, untuk menemukan bagimu seseorang yang akan berlarian bersamamu dan tertawa bersamamu dan mengatakan Inilah Amerika, tidak terlalu buruk.

Rempah-rempahlah yang membisikkan padanya siapa dari mereka yang harus diberikan pada orang-orang yang melangkah masuk ke tokonya. Rempah-rempah yang memutuskan untuk bicara, atau tidak bicara ketika ia melanggar peraturan sebagai penguasa. Rempah juga yang menolongnya memberikan kemudaan ketika ia ingin, ketika jiwa aslinya memberontak untuk merasakan gairah yang menggoda.

Dan ia sudah memilih.. Perempuan harus memilih bagaimana hidupnya harus dijalani. Dan cinta yang ia ingini.


View all my reviews

Sabtu, 18 September 2010

Balada Si Roy

Balada Si RoyBalada Si Roy by Gol A Gong

My rating: 5 of 5 stars


#2010-45#



Kudengar gemuruh ombak lautan

Nyanyian daun-daun dan serangga malam

Angin mendesau membisikkan sesuatu

Dan bau tanah pegunungan memanggiliku

Maka kutinggalkan rumah dan ranjang mimpi

Pergi mengembara ke belantara sunyi

Menggendong ransel sarat beban

: o, apa sebenarnya yang kauburu?

Lakon apa yang ingin kau mainkan?

Ya, akulah si pengembara

Terus bergerak ke cakrawala

Walau beribu kali tersungkur kenyataan

Jiwaku menolak kebuntuan jalan

Ya, akulah si pengembara!



(toto ST radik)




Puisi ini ada di buku 5 Blue Ransel. Tidak tercetak di edisi bundel. Karena favorit saya, saya mengutipnya untuk anda. For my legendary book that change my life...



*****



Percayakah anda, kalau perjalanan akan mengubah hidup seseorang? Aku percaya. Perjalanan (seharusnya) akan membuat hidup anda menjadi lebih berarti, karena dengan bertemu dengan berbagai orang, berbagai kalangan, akan membuat anda memperluas pola pikir anda, memperluas cara pandang, tidak hanya dengan satu sudut pandang saja.



Remaja Roy suatu saat merasakan apa yang dialami perempuannya. Suatu ketika ia melihat dari sudut pandang Ani, wanita yang dicintainya sejak SMA, bagaimana untuk melepaskan impian dan membahagiakan keluarganya. Juga Jesse, Ongki, sepupunya Rani, Mimi di jogja, Nona di Ambon, Ina di India, hingga Suci, pelabuhannya, sejatinya, tempat curhatnya, kemana hatinya berpulang.



Remaja Roy juga yang sesak atas apa yang dialami Toni, bagaimana menjadi invalid, Iwin sahabatnya, Edi yang selalu menasehatinya, Mumu, si pencuri Blue Ranselnya, juga bagaimana ia memberikan salamnya pada Dullah, yang sudah menyakiti dan mengira menghancurkannya. Dan ia mendapatkan persahabatan dengan pukulan. Luka tak pernah sembuh, namun dari situ persahabatan belajar.



Namun pengalaman perjalanan tak terbayar selain oleh pengalaman itu sendiri.. Hantaman, tantangan, kesulitan, akan membuat lebih kuat, lebih yakin dalam menghadapi hidup.



Ketika seseorang itu sangat hancur, cuma ada dua pilihan, kalah dan mati, atau bangkit dan melanjutkan hidup....

Itu pilihan, bukan kesempatan. Dirimulah yang memilih bersorak menang, atau terpuruk kalah.



Kehidupan memang mengajarkan segalanya. Kegembiraan hingga kepedihan. Bagaimana sikap kita dan sampai mana kita tabah dan ikhlas untuk menghadapi semuanya.



****



Lelaki dimiliki wanita, tapi dia memiliki semua.

Dia harus pergi, tapi juga harus pulang,

Karena ada yang dikasihi dan mengasihi,

Ya, lelaki memang harus pergi, tapi juga harus pulang



(hal 597)












View all my reviews

Sabtu, 11 September 2010

Aku Anak Matahari

Aku Anak MatahariAku Anak Matahari by Gola Gong

My rating: 4 of 5 stars


#2010-7# bookswap

Sekantung harapan diletakkan di meja

Disuruhnya aku memilih

:hidup atau mengurung diri



Aku memilih hidup

Maka udara harus aku hirup:

segalanya adalah perjuangan!




Heri H Harris, atau dikenal sebagai Gola Gong, menceritakan tentang masa kecilnya, sejak ia masih berlengan dua hingga kecelakaan yang merenggut tangan kirinya.



Kedua orang tuanya yang guru sekolah selalu memberinya semangat dengan nada positif sehingga membuat ia tidak minder. GG tumbuh menjadi remaja yang tetap berprestasi dalam olahraga, juara bulutangkis, dan penulis kisah perjalanan yang handal.



Sewaktu remaja ia ingin naik motor, ayahnya hanya punya vespa dengan kopling tangan kiri , lalu dikatakan bahwa akan ada motor jepang yang koplingnya di kaki. Lalu ketika honda C70 itu ada, GG pun bisa bepergian naik motor. Ketika GG ingin belajar lompat galah, ayahnya menyodorkan galah, bukannya melarangnya karena ia berlengan satu. Begitupun sekantung kelereng yang menjadi inspirasi puisi di atas, yang didapatnya ketika pulang dari rumah sakit usai diamputasi.



GG adalah penggiat Rumah Dunia, yang bermimpi bahwa anak-anak akan selalu belajar, seperti mimpi2 yang terus dikembangkannya sejak ia kecil, seperti mimpinya keliling dunia yang baru berwujud di Asia.



Cerita dan puisi adalah ciri tulisannya. Kesadarannya untuk pergi menyongsong matahari, untuk jadi lelaki yang pemberani, juga rendah hati, dan mau berbagi.



Novel-novel GG menemani masa remajaku, membalikkan keteraturan hidupku yang hanya sekolah saja, menjadi pejalan yang bermimpi untuk menapakkan kaki ke jalan2 di bumi ini, mencari petualangan hidup yang arif, dengan diskusi dan dialog bersama alam. Melihat sisi dunia dari bumi itu sendiri, belajar dan terus berusaha, tanpa menyerah. Keluar dari rutinitas dan melebur dengan bumi...





Ada mimpi di atas pohon

kupanjat ia, pindah ke awan

aku terbang meraihnya

pindah ia terbawa hujan

aku minta pada matahari

jadilah ia pelangi



mimpi kini di depanku

dibungkus kado harum mewangi

hadiah itu untukku

dari matahari







View all my reviews

Kamis, 12 Agustus 2010

Tsotsi

TsotsiTsotsi by Athol Fugard

My rating: 3 of 5 stars


tinggal mencari waktu..

***
Pura-pura nggak lihat catatan-catatan si empunya buku, supaya membaca tetap dalam imajinasi sendiri, saya merasa agak bosan di awalnya, namun ternyata penggambaran detilnya yang bagus, terperinci, dan terasa nyata, membuat saya menikmati buku ini.

Korban-korban pembunuhan digambarkan dengan sangat bagus. Tokoh kepala geng itu sendiri, Tsotsi digambarkan pada akhir cerita, juga kawannya si Boston, pemuda terpelajar yang terjebak dalam dunia hitam.

Untuk saya yang jarang membaca buku bunuh membunuh, buku ini sangat menarik, sehingga menggoda saya untuk membacanya terus hingga habis.
Ada pergolakan batin, ada cinta, ada peka, ada rasa.

Seorang Tsotsi yang dingin dapat luluh hatinya oleh seorang bayi, dimana ia ingat lagi dengan kehadiran seorang ibu. Ternyata, jauh di lubuk hatinya kehadiran rang tua amat penting bagi dirinya.

Ternyata seorang mati rasa mampu menjadi seseorang yang sangat peka...

View all my reviews >>

Jumat, 09 Juli 2010

Kisah Langit Merah

Kisah Langit MerahKisah Langit Merah by Bubin Lantang

My rating: 4 of 5 stars


bubin, my favorite beside gong.

cerita tentang indonesia, kebobrokan politik, kisah cintanya dengan Daria.. semua disusun dengan plot bolak balik namun mengalir rapi.
semua membandingkan dengan masterpiece bubin, anak2 mama alin.
Gaya cerita yang sama, cowok banget, kuat, tidak mellow, mengingatkan aku sepintas bahwa tokoh Langit ini adalah Kekes, kembar tertua di AAMA. Sedangkan adiknya Matahari, mengingatkan pada 'Ra, kembar ketiga, yang bengal, tukang bikin onar, tapi sayang banget sama keluarganya.

Ingat tokoh Kori di akhir AAMA yang diceritakan tewas kecelakaan? Dengan tidak adanya tokoh saudara perempuan mungkin bubin ingin melepaskan diri dari kisah AAMA dan memulai tulisannya lagi.
bubin menunjukkan konsistensi gaya tulisannya yang tegas dan runut, namun bersemangat dan bergelora. Laki bangeet!! Apakah karena dia tidak jadi scripwriter (saya tidak tahu), karena yang pengarang era dia tulisannya sekarang lebih mendayu2 (karena jd scripwriter?) Hilman, Arini, Adra, Zara, bahkan Gong (setelah baca cinta-Mu seluas samudra yang lbh mirip naskah sinetron).




View all my reviews >>