ulasan. resensi. kesan.

ulasan. resensi. kesan. ini bukuku, apa bukumu?
Tampilkan postingan dengan label comedy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label comedy. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 November 2011

Cinta di Dalam Gelas

Cinta di Dalam GelasCinta di Dalam Gelas by Andrea Hirata


#2011-34#

Akhirnya, Pakcik!!! Akhirnyaa!!
Kutemukan juga bagaimana seorang Maryamah berubah menjadi Maryamah Karpov..
Lalu, kenapa judul buku ini bukan Maryamah Karpov saja? Kenapa bisa buku sebelumnya tentang Menyelamatkan cinta tersasar di seberang Lautan itu mendapatkan judul yang amat dramatis ini??

Lihat bagaimana Pakcik menggambarkan permainan catur laksana medan perang, di mana kuda menyerang, benteng bertahan, Raja yang tertusuk, prajurit pelindung, seperti berada di suatu pertempuran yang dahsyat! Sungguh, Pakcik adalah pencerita piawai dalam hal ini. Mengembalikan penceritaan khas melayu, dengan kebiasaan-kebiasaan harian yang unik, dengan gaya bercerita seperti pada seorang teman, yang bisa akan terdiam, dan mengikuti cerita terus-menerus, karena penasaran dengan pertempuran-pertempuran Maryamah.

Boi, kau tengok itu Maryamah. Dari seorang buruh timah, yang belajar bahasa Inggris, lalu belajar catur lintas dunia dengan teknologi bernama internet kepada seorang grandmaster dunia. Dalam cerita ini, itu mungkin, Boi. Semua tekad yang bulat akan bisa mencapai tujuannya. Perempuan yang menantang satu kampung bermain catur. Aku sih tak tahu seberapa mungkin itu bisa terjadi, Boi. Aku sendiri tak bisa bermain catur. Jika ditanyakan padaku tentang main ular tangga, halma, atau kartu, bisa aku ajari sedikit-sedikit. Namun catur, aku buta.

Tapi cerita Pakcik ini, Boi, bisa menggambarkan ke seseorang yang buta catur pun bisa menikmatinya. Tidak hanya dengan menonton ke-32 pion hitam putih itu menari, namun kisah tragedi, kemenangan, airmata, darah, mewarnai kisah setiap langkah dalam 64 kotak itu. Hingga seorang Qui Genus Humanum Ingenio Superavit pun hanya mendapat porsi satu bab, ah, hanya dua halaman mungkin.

Lalu cinta? Cinta di dalam Gelas? Gelas siapa? aah, ke kebun lah kau A Ling! Kali ini Pakcik sudah bosan dengan kisah cintamu yang mengangkat tenggelamkan Ikal, sehingga mendaratkanmu di sudut, tidak tersentuh cerita. Ya, cintalah pada bergelas-gelas kopi yang dijual di warung Paman, tempat pertandingan ini diramaikan. Bukalah Buku besar peminum kopi yang akan membuatmu terbahak, sama ketika kau menyusun daftar sakit gilanya si Ikal sejak Laskar Pelangi.

Ah, aku menemukan Paman di sini, Boi. Paman!! Kukira 'Paman' sudah punah ditelan 'Om', 'Lik', 'Tulang', dll. Kukira Paman hanyalah istilah kenangan yang akan kujumpai di buku bahasa Indonesia tanpa tahu di belahan mana di bumi nusantara ini yang masih memanggil adik laki-laki ayah atau ibu dengan sebutan Paman. Rasanya ingin kupeluk erat-erat Paman ini, kutemukan setelah bertahun-tahun hilang dari kosakataku.

Dan demi rambut ikalku, aku akan mengangkat 4 jempol apabila buku ini berjudul selayaknya, Maryamah Karpov!!!


View all my reviews

Padang Bulan

Padang BulanPadang Bulan by Andrea Hirata
My rating: 3 of 5 stars

#2011-32#

Pakcik, buat saya sih nggak masalah apabila cerita ini dikasih judul Padang Bulan atau Serunai burung Punai misalnya. Bukannya di buku sebelumnya anda sudah 'menceritakan' Maryamah Karpov yang cuma menjelaskan sekilas lalu dan menuai amat banyak kritik, menghabiskan energi membacanya untuk mencari tahu siapa itu Maryamah, dalam seluruh cerita yang bertema 'Penyelamatan A Ling bukan oleh Maryamah, tapi oleh mimpi-mimpi Lintang'.

Cerita cinta lanjutannya, dengan judul 'Padang Bulan' (yang merupakan novel pertama dari dwilogi ini) seperti sebuah judul 'aman' yang tidak akan menimbulkan banyak perdebatan, seperti halnya akan lebih tidak bermasalah lagi bila anda menjudulinya 'Pelayaran yang Tertunda' atau 'Kepak Sayap Juang Merpati Muda'. Karena itu aku baru membacanya sekarang, Pakcik.

Ceritanya sih cukup menarik dan lucu. Sesudah penyelamatan A Ling yang dramatis di buku sebelumnya, dan bagaimana Ikal masih berusaha mendapatkan A Ling yang tidak semudah itu walau sudah ada di 'genggaman'nya. Cinta itu misteri, Boi! Tidak ada yang bisa mengerti cinta selain cinta itu sendiri. Bahkan seorang master dari lautan seberang pun baru terkena mabuk cinta di kampung halamannya. Sehingga mengembalikan dirinya pada cinta daripada mengejar kesuksesan yang menjadi cita-cita orang2 di sekitarnya, bukan keinginannya sendiri. Yah, cinta itu termasuk mempertaruhkan harga diri, Boi! Jangan kalah dengan seorang Chow Yun Fat! Katanya..

Tekad yang kuat juga ditunjukkan oleh tokoh lain, Enong, perempuan pendulang timah pertama di situ. Gadis kecil yang berubah menjadi perkasa akibat tekanan di sekelilingnya. Yang hingga dewasa masih memiliki keinginan untuk belajar Bahasa Inggris. Sangat kontras dengan Ikal, yang mendapatkan banyak kesempatan untuk belajar, tapi malah tidak mengamalkan ilmunya, karena diperdaya cinta. Cinta, Boi!

Wow, lihat Pakcik, siapa yang anda bikin waras di sini? Rupanya paham umum bahwa laki-laki bertindak berdasarkan logika dan perempuan berdasarkan emosi atau perasaan dijungkirkan di sini Lihat si Ikal yang berulang kali kena omel ibunya karena terlalu memenangkan perasaannya pada A Ling, dan Enong yang bersikap realistis, berjuang demi hidupnya, keluarga dan mimpi2nya sendiri dan menimbulkan simpati.
Atau memang perjuangan hidup yang semata-mata termotivasikan oleh apa yang dicita-citakan? Kurasa, itu agak benar adanya.
Tabik, Pakcik!



View all my reviews

Senin, 26 September 2011

Stupid and Contagious

Stupid and ContagiousStupid and Contagious by Caprice Crane

My rating: 4 of 5 stars


#2010-88#




I feel stupid and contagious
Here we are now, entertain us..


Lirik lagu dari Nirvana di atas sepertinya mengilhami si penulis untuk memberi judul buku ini Stupid and Contagious, apalagi ada satu bagian yang menceritakan perjalanan ke Seattle pada hari peringatan bunuh dirinya Kurt Cobain, yang anehnya kenapa diterjemahkan jadi 'jodoh dari kamar sebelah', sepertinya misterinya berkurang. Jadi terbaca jelas bahwa ketika mereka diceritakan bertetangga, jadi berjodoh.

Cerita ini memuat dua sudut pandang, dari sisi Heaven, dan dari sisi Brady, yang dimuat dalam bab yang bergantian. Bukan sesuatu yang baru, karena banyak cerita pun dituliskan dalam gaya demikian. Tapi keunggulan gaya cerita ini adalah, emosi-emosi si tokoh bisa lebih tergali, karakter, latar belakang, perasaan terasa lebih cocok diceritakan dalam sudut pandang 'aku' karena ada dua 'aku' di sini, Heaven dan Brady.

Seperti mempertanyakan sebuah pertanyaan lama, apakah dua orang laki-laki dan perempuan yang selalu bersama-sama bisa hanya berteman saja, tanpa ada rasa lain dalam hati mereka?
Bisa dijawab ya atau tidak. Tidak sedikit hubungan cinta berawal dari persahabatan, dan tidak sedikit juga pertemanan menjadi persahabatan. Sering juga suatu hubungan persahabatan menjadi gagal ketika mengungkapkan cinta, ketika ketulusan berteman menjadi sesuatu yang posesif.

Di sini diramu ide yang sama. Lajang, bertetangga, dengan tingkat stress yang sama. Heaven, mantan PR, dengan pekerjaannya sebagai pramusaji dan pelanggan yang terkadang menyebalkan. Brady, pencari bakat di dunia musik, yang kesulitan mencari artis untuk diorbitkan sebagai penghasilan bagi perusahaan rekamannya. Waktu senjang mereka yang dilalui di apartemen diisi dengan obrolan-obrolan dan celoteh khas tetangga. Lebih sering ledek-ledekan. Apalagi tingkah Heaven yang sering membuka surat Brady karena salah kotak surat.

Kebersamaan, canda, kesal, marah, lama kelamaan akan tumbuh menjadi cinta. Kebutuhan untuk tidak kehilangan. Keinginan untuk ada, walaupun menyebalkan, walaupun bikin marah. Dan cinta datang tanpa permisi.

Kalau komentar saya untuk buku ini: lucu.
Jenis cerita komedi cinta yang menyenangkan dibaca, tidak terpaku pada bahasa mendayu-dayu atau kata-kata manis. Tidak ada pangeran sempurna di sini, atau cinderella mencari cinta. Keduanya hanya orang biasa, dengan permasalahannya masing-masing. Wajar, manusiawi, dan tidak berlebihan. Setiap orang bisa mengalami hal yang sama.

Tabik untuk penerjemahnya, yang meminjami buku ini.. (lirik bos-jadi nambah 1*)

Hello, hello, hello, hello, how low?
Hello, hello, hello, hello, how low?
Hello, hello, hello, hello, how low?
Hello, hello, hello, hello
With the lights out it's less dangerous
Here we are now entertain us
I feel stupid and contagious
Here we are now entertain us
A mullato an albino
A mosquito my libido
A denial


*moshing*

View all my reviews

Sabtu, 18 September 2010

Vollidiot

Vollidiot.Vollidiot. by Tommy Jaud

My rating: 1 of 5 stars


#2010-66#



mestinya buku ini ada tulisannya 'buat cowok' atau sejenisnya, karena isi ceritanya bener-bener bikin eneg, bikin gak nyaman cewek yang baca (dalam hal ini :gue).



ok, sebagai sebuah buku berjudul voll idiot, beneran si tokohnya idiot banget, tolol malah menurut gue, sama sekali gak menghargai apa yang dia dapet.



yang ada di kepala dia cuma sex doang, yang merasa hidupnya hancur karena dia jomblo di umur 30, jadi gak bisa menyalurkan nafsunya.

berbagai cewek berseliweran di sini, yang dia mau kencani, ataupun cewek-cewek yang mengajaknya kencan. mulai dari pemandu wisata, manager, coffee girl starbucks, teman les bahasa spanyol, sampai pembantu rumah tangganya! beneran sok kegantengan banget ini orang, walaupun dia pemilih, tapi hidupnya benar-benar dilingkupi oleh tindakan-tindakan bodoh, gak pake mikir. ternyata apa? emang gak bakal dapet apa-apa karena ekspektasinya terlalu tinggi sih.



males enggak sih baca yang beginian??



mungkin kalau di jerman ratingnya lumayan tinggi karena lucunya, mungkin agak cocok dengan konteks kehidupan di sana, tapi buat gue ceritanya sangat bikin males. unmotivated.

dan lagi penerjemahannya juga kurang halus, banyak pilihan kata yang nggak enak dirangkaikan. typo mungkin ada, tapi keluwesan berbahasa saja sudah nggak enak, jadi membuat susah payah menyelesaikannya. it's all about girls, games, and beers..





View all my reviews

Kamis, 12 Agustus 2010

My Stupid Boss

My Stupid BossMy Stupid Boss by Chaos@work

My rating: 3 of 5 stars


Membaca buku ini mengingatkan gue pada...............diri saya sendiri.
Apa ya pikiran anak2 asuhan saya di kantor??

***
Menunggu cetakan gambar di plotter. Fyi, mencetak gambar A1 di plotter kantorku memakan waktu 7-10 menit perlembar. Otomatis, karena kertas gulungan akan terpotong sendiri sesuai ukuran. I (Indri)lewat ketika D(drafter, jurugambar) sedang menunggu gambar.
I : Lho, kamu ngapain disitu? Emangnya kalau kamu lihatin itu plotter bakal tambah cepet nyetaknya? Emangnya kayak kamu kalo saya liatin baru bisa cepet kerjanya? Sana balik lagi gambarnya dibikin Pdf juga!
D1 : (bengong dan balik ke mejanya. mungkin juga dia kesel sama gue)

***
Sore-sore jam 4. Bos gue masih nongkrong d mejanya.
I : On, gambarnya selesein. Jam 5 udah mesti beres.
D1: Loh, emang mau diemail, Bu?
I : Nggak, biar saya bisa asistensi dan pulang tenggo jam 5.30. Kamu nanti tenggo langsung pulang ya. Biar saya gak disuruh nglembur ngawasin kamu.

***
Sore lainnya kira-kira jam setengah 5. Office boy keliling nawarin sapa mau beli gorengan. Berhibung seporsi cm 2500 perak, gw tawarin ke seluruh tim gw 3 orang.
I : On, Ton, Tok, mau batagor ya? Ok Yul, sekalian 4 nih (sambil nyodorin 10rban). Itu gambar kalo udah langsung dicetak A3 kertas bekas ya? Saya mau periksa.
Jam 5.15an batagor datang.Gue makan batagor sambil pegang pulpen merah untuk meriksa gambar bikinan anak2 itu. Tak lama kemudian gw keluar ruangan.
I : Naah, ini diberesin. Udah jelas kan tinggal dikit lagi. Tok, kamu nyesuain gambarnya Oni. On, liatin tuh si Antok. Nanti kalo sudah selesai cetak taroh di meja saya.
D1: Bu, lembur nih bu?
I : Ya iyalah... kamu kan tau ini mesti jadi untuk besok siang. Tinggal dikit ini kamu selesaikan aja. Saya pulang dulu ya!
D2: Oalaah.. pantesan disogok batagor.. disuruh lembur to..

***
Gue lagi meriksa laporan QS. Sambil online tentunya. Eh, salah satu anak buah tim struktur masuk ruangan ke meja saya.
D3: Bu.. hmm, online to bu??(sambil senyam senyum)
I : Ada apa sih? (keganggu)
D3: Bu, ada cemilan nggak? Biasane ono..
*gubrak! ngegangguin gw online aja nih*
I : Ada, ambil aja tuh di laci..
D3: Makasih, Bu.. (sambil ngambil seplastik kripik singkong dan senyum gembira)
Gue geleng-geleng kepala.


***
Terkadang tim yang lain yang lagi santai suka mengganggu tim gue yang lagi hectic. Dalam saat ini gue harus menertibkan mereka.
I : Yan! Ngapain sih kamu deket2 Oni gitu? Oni kan banyak kerjaannya..
Jangan diajak ngobrol melulu..
D3: Mengko wae maneh ya, On!
Dan dia ngeloyor lagi ke mejanya untuk maen Solitaire.
I : Yan, jangan maen di jam kerja dong.. kan nggak enak sama Bos..
D3: Gak keliatan gini lho,Bu. Begitu si Mami di ujung situ kan udah saya ganti lagi ke CAD (sambil memperagakan kecepatan nggantinya)

***
Komputer gue sering tiba-tiba disconnect ke server. Yah, karena kalau di tengah gue sedang bekerja(padahal gue lebih banyak di studio daripada di ruangan gue) tau2 terjadi hal demikian, maka..gw pake voice command..
I : Waaaaan, ini komputer kenapa sih disconnect melulu!!!
Dan drafter merangkap staf IT kantor pun tergopoh2 memeriksa komputer gue.

***
Susahnya menjadi makhluk cantik di tengah gerombolan lulusan STM ini adalah kalau mau sholat bareng.
Selesai berwudhu..
D3: Bu, udah wudhu?? (dan dia nyolek sikut saya..)
I : Yaaann.. kan gue udah wudhu nih, kan batal lagi.. Lo tau nggak kalo gue wudhu lagi tuh buang2 air!! Inget dong jangan boros air!! Di gunung kidul sana tuh orang kesusahan air tauuu!!!

***
Keliatannya judes ya gue, tapi yang menggaji mereka alias bos saya lebih galak lagi (ya iyalah).. Yah, buktinya mereka sih have fun karena sering gue ajak karaokean, nonton, gue pinjemin buku. Pokoknya gue sih menyayangi anak buah gue dan mereka juga sebaliknya. Susah senang bersama-sama, kalau mereka bisa lembur gue bisa pulang lebih seneng gue. Hehehehe.. sedikit share waktu gue kehilangan satu di blog gw.. rumahbintang.wordpress.com/kehilangan

mudah-mudahan buku ini bisa untuk pereda stress di kantor..
ketimbang baca Catcher untuk pereda stress, hayo???

View all my reviews >>

Drunken Marmut: Ikatan Perkumpulan Cerita Teladan (Cicitan Harimau Pidi Baiq)

Drunken Marmut: Ikatan Perkumpulan Cerita Teladan (Cicitan Harimau Pidi Baiq)Drunken Marmut: Ikatan Perkumpulan Cerita Teladan by Pidi Baiq

My rating: 2 of 5 stars


Sepertinya ini berkaitan dengan perasaan hati saya.

1. Saya membacanya di malam hari, saat yang nggak bagus untuk baca buku komedi, apalagi sesudah menuntaskan 40 lbr Nyanyi Sunyi - Pramudya. Alhasil saya tidak ketawa baca buku ini, karena masih terpengaruh oleh buku PAT itu.

2. Selanjutnya saya baca malam hari lagi.. Sambil makan malam namun tidak bisa konsentrasi karena sambil diganggu oleh si kecil. Jadilah bacanya sepotong2, dan juga ada beberapa bagian sdh pernah saya baca di blog. Dulu sih terpingkal-pingkal, tapi sekarang biasa aja.

3. Biasanya buku Pidi Baiq selalu saya baca di perjalanan, entah kenapa kali ini tidak, karena saya terburu2 ingin membacanya, di tengah tumpukan to-read list di hari minggu malam, dan kejadiannya seperti no 1.

4. Jangan baca buku karena kejar setoran deh, supaya yang dibaca jadi banyak misalnya, jadinya tidak enjoy...
Buku komedi jangan jadi pelarian buku serius, nanti akan kejadian seperti no 1.

Sebenarnya saya suka buku ini, karena saya suka yang ringan dan segar, tapi karena saya tidak ketawa seperti buku2 sebelumnya, yaa.. 2 bintang cukuplah, karena buku ini tdk bisa mengubah perasaan hati saya..

View all my reviews >>

Jumat, 09 Juli 2010

Drunken Molen: Kumpulnya Kisah Tidak Teladan (Cacatnya Harian Pidi Baiq)

Drunken Molen: Kumpulnya Kisah Tidak Teladan (Cacatnya Harian Pidi Baiq)Drunken Molen: Kumpulnya Kisah Tidak Teladan by Pidi Baiq

My rating: 3 of 5 stars


Senin, 23 Maret 2009
setting : KRL
Pagi yang cerah setelah sesorean kemarin hujan besar yang mengakibatkan halaman depan dan belakang nampak seperti kolam, buku yang kuputuskan menemani perjalanan pagi ini adalah Drunken Molen, karya Pidi Baiq.
Sesampai di stasium yang alhamdulillah, KRL langganannya masih ada, langsung ngambil gerbong nomer 2 dari depan dan buka kursi lipat (maklum, orang telat nggak kebagian kursi resmi ).
Sempat tengok kiri kanan, ya ampun.. bener nggak ya aku bakal baca buku ini disini? Nanti kalo ngikik-ngikik gak jelas, diliatin orang-orang , dianggap penumpang tak berbudaya lagi. Ternyata hanya ada ibu-ibu dan bapak-bapak di sekelilingku yang asyik baca koran, membuatku tak merasa bersalah untuk membuka buku ini. Cuek ajalah, kalo emang ceritanya lucu dan harus ketawa, kan nggak kenal ini sama sebelah.
Sesudah Syukuran Naruto, sampai di kisah Drunken Molen, agak terhenyak karena ceritanya biasa aja. Kurang lucu. Ato karena masih jaim takut diliatin ma sebelah? Tapi yang di Dirgahayu Bolu Ketek mengharukan, soalnya doorprizenya lucu-lucu.
Mulai deh senyum-senyum sendiri.. Ketika mendongak, wah, sekarang di depanku ada mas-mas dengan pakaian rapi lengan panjang garis-garis bawa tas ransel dengan merk terkenal, entah dia sales asuransi atau asisten manager bank terkenal, yang langsung memalingkan pandangannya ketika aku melihatnya. Ih, ketangkep basah nih yee.. Mau juga mas baca bukunya.. (kalau aku Pidi Baiq, pasti orang ini udah tak ajak ngobrol).
Jadi sekalian takpameri bukunya di mukanya dia (lha KRL tambah penuh). Sayang sekali cerita berikutnya ”TTS Kebut, I Am Sterdan, SMP Lion King”, mampu membuat aku jaim dan hanya senyam senyum norak.
Namun ”Tangga Studio Foto, Patung Pengamen, Basa Basi Bisu” bisa membuat ketawa karena... ya ampyun.. ancur banget sih ni orang. Ups, untung ketawanya ditutupi buku, jadi nggak keliatan ma mas-mas sales asuransi alias asisten manager. Atau mungkin juga dia denger? Posisi udah berdiri nih, siap-siap turun. Mungkin kalau mas-mas itu ketemu aku kemarin waktu aku lagi baca ’Kota Rumah Kita’ Marco Kusumawijaya, persepsinya tentang diriku akan beda daripada sekarang. Mungkin dia akan berpikir diriku adalah cewek pemerhati kota, bukannya pembaca kumpulan komedi seperti sekarang. Atau mungkin juga dia tidak berpikir apa-apa.. Memangnya di dalam KRL harus mikir? Ada juga harus jaga keseimbangan kan..
o ow, pintu dimana aku berdiri berhenti tepat di alur sebrangan stasiun manggarai. Ketika pintu terbuka, jadi harus lompat 60 cm. Hop!

Di siang hari bolong
setting: ruang makan kantor
Sesempatnya dibaca 'Cuidad de La Habana'ngapain sih orang ini ke Havana? kekurangan orang lucu ta? 'Lowongan Mulia' ini sih sumpah kerjaan iseng banget, tapi bisa buat pertimbangan kalo ngirim lamaran ini ke mantan bos yang buka lowongan. ' Djoko Gledek' mhhk.. bikin keselek minum ngebayangin anehnya muka si pelayan ngeliat Pidi ngobrol ma 'teman khayalannya'

Sesudah Badai
setting : KRL (lagi)
Tau nggak, gara-gara aku baca Pidi Baiq lagi, tadi hujan badai di Jakarta.. Duh, bunyinya menderu-deru sampe atap pada bocor dan sebagian penghuninya berpindah tempat.
Jadilah abis magrib aku pulang dengan keinginan yang besar untuk menyelesaikan buku ini. Waduh, ternyata karena tadi hujan jadi KRL telat dan penuuh banget, aku cuma dapet nyempil di pintu dan senderan cari posisi senyaman mungkin untuk ngikik.. Seraya melongok-longok mana ya manusia serupa mas-mas tadi pagi, adanya cuma sekumpulan manusia berwajah Garut (emang sunda pisan tampangnya).
Membaca 'Serabi The Beatles', 'The Nazar', 'Berburu UFO' adalah sisi lain Pidi sebagai manusia kaya yang baik hati yang lebih suka beramal daripada pelit, namun juga menimbulkan kesan iseng tiada duanya.
Akhirnya aku ketawa terkekeh2 di depan sekumpulan manusia Garut tersebut membaca cerita 'Napak Tilas'
Oh, mengapa jadi sepi rumah ini? Oh, mengapa saya jadi nanya itu terus? Ibu belum pulang juga dari pergi. Ingat ibu lagi, ibu saya yang kini tua adalah yang dulu lincah, adalah yang dulu pernah jadi instruktur senam pada setiap jumat pagi di GSG. Itu ibu adalah ibu saya yang pada suatu hari, sepulang dari GSG, tanya-tanya cari tahu siapa orangnya yang sudah sengaja menukar isi kaset SKJnya dengan kaset ceramah Zaenuddin MZ., sehingga bukan musik SKJ yang lalu terdengar oleh ibu-ibu yang siap senam, tapi suara Bapak Haji Zaenudin MZ menyapa "assalamualaikum" untuk memulai ceramahnya.
Entah kenapa bagian ini lucu banget, sampe ketika mengetiknyapun aku ketawa lagi. Gak kebayang aja muka ibu-ibu itu, atau ngebayangin muka ibuku sendiri (yang juga ngajar senam lansia) kalo ada anaknya yang bandel ngerjain dia kayak gini..
Kikikik...

View all my reviews >>

Drunken Monster: Kumpulan Kisah Tidak Teladan (Cacatan Harian Pidi Baiq)

Drunken Monster: Kumpulan Kisah Tidak Teladan (Cacatan Harian Pidi Baiq)Drunken Monster: Kumpulan Kisah Tidak Teladan by Pidi Baiq

My rating: 3 of 5 stars


salah satu yang bener-bener nampol banget, ya kisah drunken monster!!
ngebayangin tampang istrinya pidi seperti ngeliat muka gue sendiri..
hahaha...
mungkin gitu tampang gue kalo ngeliat suami gue pulang malem sesudah ditelpon gak diangkat-angkat..
mirip banget kejadiannya, dengan cerita yang dibuat-buat dan mimik muka yang dilucu-lucuin.
intropeksi tuh untuk istri yang galak, padahal suaminya bener2 kerja..
(hihihi...padahal sambil nunggu gw online di GR)

View all my reviews >>