ulasan. resensi. kesan.

ulasan. resensi. kesan. ini bukuku, apa bukumu?
Tampilkan postingan dengan label travel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label travel. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 April 2015

The Valkyries

The ValkyriesThe Valkyries by Paulo Coelho

My rating: 3 of 5 stars


break a pact. accept forgiveness. and make a bet.

We are not alone. The world is changing, and we are part of the transformation. The angels guide us and protect us. Despite all the injustice in the world, and despite the things that happen to us that we don't deserve, and despite the fact that we sometimes feel incapable of changing what is wrong with people and with the world, and despite all of the Grand Inquisitor's arguments - love is even stronger, and it willhelp us to grow. Only then will we be able to understand the stars and miracles.


Aku tidak terlalu suka buku ini. Ceritanya penuh imajinasi mistis yang bisa membawamu sedikit sesat, kecuali bahwa pandanganmu bisa menguatkan akan keberadaan Tuhanmu sendiri. Dibanding Aleph yang terasa natural, pencarian Paulo akan malaikat di sini membuatnya sedikit terlihat gila. Sebenarnya lama kelamaan aku agak curiga, apakah Paulo ingin menjadi Nabi baru dengan agama cinta?

Tapi aku melihat kesetiaan Chris. Kerelaan hatinya untuk mendampingi apa pun yang dilakukan suaminya. Membuatnya pasrah menjadi orang gila kedua yang melintasi gurun demi mencari malaikat. Ketulusannyalah yang membuat terenyuh, sehingga sebenarnya pesan-pesan dari yang di Atas jatuh melalui Chris, namun sayang Paulo tidak tahu. Mungkin demikianlah egois berkata.



View all my reviews

Under the Southern Stars

Under the Southern StarsUnder the Southern Stars by Anida Dyah

My rating: 4 of 5 stars


aku membaca buku ini lama sekali. hampir satu bulan lamanya.
penuturannya lambat dan pelan, dan karena aku tidak sedang dalam perjalanan, maka aku lebih sering menulis ketimbang membaca. dan satu hari ketika aku sedang stuck dalam menulis, aku membacanya lagi.

aku melihat lagi pribadi anid yang tertutup, yang tersembunyi di balik cerita-cerita serunya. aku salut bahwa ia berani untuk bercerita di dalam bukunya, tentang motivasi, tentang masa lalu, tentang harapan seseorang, tentang hal-hal yang mungkin tidak mudah diungkapkan.

dan seperti seorang teman pernah berpendapat padaku, tulislah dengan jujur, beranilah membuka hati, dengan begitu kamu akan merebut pembacamu. dan aku melihat itu lagi dalam cerita-cerita anid ini. bagaimana konflik tidak terselesaikan, bagaimana rindu yang melanda, bagaimana keberanian ditantang, dan bagaimana tetap menyembunyikan pribadi. anid bercerita tentang dirinya dalam porsi yang cukup, tidak cengeng dan minta perhatian.

pada akhirnya, perjalanan bukan sekadar pernah melangkah di destinasi-destinasi yang dituju, tapi tentang memahami orang lain dan juga diri sendiri. membacanya memang membuat aku bersyukur pada perjalanan yang pernah kulalui, tak hirau lagi akan patah dan kesal yang pernah kulewati.

perjalanan memiliki makna pribadi, dan jalur yang dilintasi amat menantang emosi. dan ketika menutup buku ini, aku diam. tidak ada lagi hal yang diirikan dari sebuah kisah happy ending. life is about how you look at.





View all my reviews

The Dusty Sneakers: Kisah Kawan di Ujung Sana

The Dusty Sneakers: Kisah Kawan di Ujung SanaThe Dusty Sneakers: Kisah Kawan di Ujung Sana by Teddy W. Kusuma

My rating: 4 of 5 stars


Aku mengenal kedua penulisnya. Bukan mengenal dengan baik, hanya satu kali bertemu dalam satu acara temu traveler. Tapi saat itu, Twosocks meminjam buku favoritku, dan Gypsytoes tersenyum manis sekali. Ketika aku tahu ia menulis buku, it would be a good book. Beberapa kali aku pernah mampir ke blog mereka, dan menemukan rasa yang manis dan hangat. Dan itu yang membuatku, ah, aku harus punya buku mereka, hehe!

Dan aku langsung suka dengan cara bercerita mereka yang kenes dan lincah. Tulisan Gypsytoes sangat rapi seperti deretan gigi-giginya, sementara tulisan Twosocks segar seperti cara ia tertawa. Tanpa ada keterangan siapa yang menulisnya, aku bisa membedakan mana tulisan Twosocks atau Gypsytoes.

Cerita mereka menginspirasiku untuk menuliskan kisah yang, ah, tidak bisa dibilang sama. Tapi ya, tulisannya mengingatkanku untuk menulis pada gaya lama, bercerita pada seseorang. Seperti menulis surat saja. Cerita Twosocks keliling Indonesia, atau cerita Gypsytoes keliling Eropa.

Ya, tujukan saja tulisanmu pada seseorang.




View all my reviews

Terre des Hommes: Bumi Manusia

Terre des Hommes: Bumi ManusiaTerre des Hommes: Bumi Manusia by Antoine de Saint-Exupéry

My rating: 4 of 5 stars


Setiap perjalananku bermula, sejak lepas landas aku memasrahkan diriku pada langit. Pada birunya atmosfer dan awan-awan yang berarak. Aku paling suka duduk di tepi jendela, memandang keluar, memperhatikan bangunan di bawah sana yang perlahan mengecil, memandang arus sungai yang berkelok, danau-danau yang tampak seperti pecahan genangan, pepohonan seperti gerumbulan hijau, gunung-gunung yang dikitari awan tipis, tepian garis pantai yang kontras dengan birunya laut, kapal-kapal yang menuju daratan, hingga cuma biru di sekeliling.

Namun aneh sekali pelajaran geografi yang kuterima waktu itu! Guillaumet tidak memberi pelajaran tentang Spanyol kepadaku; ia menjadikan Spanyol sahabatku. Ia tidak membicarakan hidrografi ataupun penduduk, bukan juga binatang ternak. Ia tidak berbicara tentang kota Guadix, tapi tentang tiga pohon jeruk dekat Guadix sepanjang sebuah ladang : "Waspadalah kepada pohon-pohon jeruk itu, tandai pada peta..." Dan sejak itu, pada petaku, pohon jeruk menempati tempat lebih penting daripada Sierra Nevada. Ia tidak berbicara tentang kota Lorca kepadaku, tapi tentang rumah petani dekat kota Lorca. Tentang sebuah rumah petani yang hidup. Dan tentang para petaninya. Dan tentang para petani perempuannya. Dan pasangan itu, yang entah berada di mana, seribu lima ratus kilometer dari kita, memiliki peranan yang luar biasa pentingnya. Mereka tinggal dengan nyamannya di lereng gunung, seperti penjaga mercu suar, dan di bawah naungan bintang-bintang, mereka selalu siap menolong manusia. (h.16)



Satu malam ketika aku mengangkasa membelah gelap, lepas dari bandara Minangkabau, meninggalkan lampu-lampu sepanjang jalur lepas landas, mulai menjauh dari daratan. Tak lama yang terlihat hanya lampu-lampu kota, kemudian kerlip samar di perbukitan, sampai menembus awan dan tak ada cahaya lagi yang nampak. Cuma gelap di luar jendelamu. Lalu tiba-tiba gemuruh terdengar dan pesawat mulai terguncang. Lampu kabin dimatikan dan kami semua harus menggunakan sabuk pengaman. Mengintip keluar jendela hanya lampu-lampu pada sayap dan sesekali terang di ujung sana oleh petasan kilat. Yang bisa dilakukan hanya berdoa.


Jadi perlahan-lahan aku meninggalkan matahari. Aku meninggalkan dataran keemasan yang terbentang luas yang akan menyambutku manakala terjadi kerusakan... Aku meninggalkan patokan-patokan yang mungkin menunjukkan jalan kepadaku. Aku meninggalkan lekukan-lekukan gunung di langit yang memberitahuku kalau ada bahaya. Aku memasuki malam. Aku terbang. Yang tersisa untukku hanyalah bintang-bintang...


Kematian bumi itu terjadi perlahan-lahan. Dan sedikit demi sedikit pula aku kehilangan cahaya. Bumi dan langit menyatu perlahan-lahan. Bumi naik dan seolah-olah seperti asap. Bintang-bintang pertama bergetar seperti dalam air hijau. Masih harus menunggu lama sebelum mereka berubah menjadi intan yang keras. Aku masih harus menunggu lama sebelum dapat menyaksikan permainan bintang jatuh yang sunyi. Di tengah malam-malam tertentu, aku telah melihat begitu banyak percikan beterbangan seolah-olah ada embusan angin besar di antara bintang-bintang. (h.134)

Antoine de Saint-Exupéry adalah seorang pilot berkebangsaan Perancis yang bertugas awal sebagai pilot pesawat pos yang terkenal dengan bukunya Le Petite Prince. Ia lebih bercerita tentang pengalaman batinnya ketika melintasi Sahara, yang banyak memakan korban pesawat di masa itu atau pengalaman sahabatnya menyelamatkan diri di tengah pegunungan salju di Andes. Ia berkisah tentang manusia-manusia yang ditemuinya, tentang karakter, perbedaan, cara pandang. Orang-orang yang terkadang memandangnya musuh, atau teman. Namun sebagai pembawa pesawat pos, dirinya selalu ditunggu, dianggap pembawa kabar dari seberang.


Jadi kami mengajak mereka terbang, dan begitulah tiga orang di antara mereka sempat mengunjungi Prancis yang tidak mereka kenal. Mereka termasuk ras yang sama dengan orang-orang, yang ketika pergi ke Senegal denganku, menangis melihat pepohonan.


Ketika aku mengunjungi mereka kembali di tenda, mereka bercerita mengagumi gedung pertunjukan musik di mana perempuan-perempuan telanjang menari di antara bunga-bungaan. Laki-laki itu, yang tidak pernah melihat pohon, air mancur, atau bunga mawar, hanya tahu melalui Quran adanya taman tempat mengalir sungai-sungai karena begitulah digambarkan surga. Bagi mereka, surga dengan isinya yang cantik-cantik hanya dapat dicapai melalui kematian pahit di atas pasir oleh tembakan seorang pengkhianat, setelah menjalani tiga puluh tahun kesengsaraan. Tetapi Tuhan mengecewakan mereka, karena telah menganugerahkan semua kekayaan itu kepada orang Prancis, tetapi tidak mengharuskan mereka untuk menebusnya dengan kehausan atau kematian. Itulah sebabnya para kepala pasukan yang sudah tua itu kini bermimpi. Itulah sebabnya seraya mengamati Sahara yang terbentang, kosong, di sekeliling tenda mereka dan yang sampai mereka mati hanya memberikan kesenangan sedikit sekali, mereka mencurahkan isi hati :

"Kau tahu... Tuhan orang Prancis... Ia lebih murah hati kepada orang Prancis jika dibandingkan Tuhan orang Moor kepada orang Moor!" (h.100)

Melihat dunia dari atas sebenarnya tak jauh beda dengan kita yang menyusurinya lewat roda. Hanya sesuatu yang datang dari atas terkadang lebih didewakan, dianggap lebih istimewa. Masih ingat film God Must be Crazy ketika adegan terlemparnya botol Coca Cola dari pesawat dan disambut dengan banyak pertanyaan 'apakah ini?' oleh yang menemukannya di bawah? Seandainya botol itu tiba melalui dunia yang lebih horisontal, mungkin akan lebih lambat dan lebih mudah pengertian akan dicapai.

Pertanyaan tentang hidup, ketika batas antara hilang dan kematian begitu tipis, tentang harapan yang terus dipupuk selama berhari-hari terdampar jatuh di gurun pasir, mencari oase-oase yang kadang semu di antara pilihan untuk melanjutkan atau bertahan ditemukan. Bergerak sambil terus meninggalkan jejak atau pasrah ditelan udara panas yang bisa membuat gila. Cerita panjang tentang melintasi pasir yang menyesatkan hanya dengan bantuan kompas, tanpa tahu di mana mereka sebenarnya dalam peta panduan yang mereka bawa.

Setiap tempat adalah satu titik istimewa di peta, yang punya cerita sendiri dari siapa yang pernah membuat jejaknya. Bisa terkenang akan pepohonan yang berbuah ranum, bisa tentang jalan berkelok yang berdebu, bisa tentang guncangan di udara, atau gadis-gadis cantik yang menggetarkan hati, bahkan sekadar perasaan bangga pernah tersesat dalam satu pecahan ombak. Bahkan tidak punya rasa atasnya pun tidak menjadi masalah. Hidup memang bagian dari perjalanan. Safe flight.




View all my reviews

Wisata Bumi Cekungan Bandung

Wisata Bumi Cekungan BandungWisata Bumi Cekungan Bandung by Budi Brahmantyo

My rating: 5 of 5 stars


buku keren dengan 9 jalur geotrek menyusuri cekungan bandung.
sudah menjalani 4, akan lima bulan depan.
perjalanan yang sip, keren, mengasyikkan deh..

https://www.goodreads.com/topic/show/...



View all my reviews

7 Divisi

7 Divisi7 Divisi by Ayu Welirang

My rating: 4 of 5 stars


Alam, memang menjadi tempat belajar untuk mengenal pribadi masing-masing. Yang kuat, yang manja, yang tabah, akan diperlihatkan seketika mereka berhadapan dengan alam. Untuk yang sering jalan ke gunung, pasti sifat egois itu makin lama makin terkikis. Ketika di alam, semua adalah satu tim, karena cuma alam dan mungkin kematian yang bisa memisahkan.

Aku bisa merasakan guruh yang menyapu langit Arcawana, berjalan di punggungan-punggungan tipis, menemukan tebing satu-satunya jalan, terpaksa nge-camp di jalur, dari kata-kata yang ditutur Ayu. Bagaimana Gitta menapaki pitch demi pitch di tebing itu, seperti cerita film yang terbayang-bayang di kepalaku. Arcawana dalam bayanganku adalah Argopuro, gunung yang kulihat di latar belakang jauh ketika aku berdiri di menara pandang Taman Nasional Baluran, tak jauh dari Banyuwangi.

Sebenarnya cerita ini bernilai 4* bagiku, jika tidak ada jalur kereta yang salah, atau beberapa penulisan istilah teknis yang salah, jadi agak-agak mengganggu di awal. Demikian juga dengan nama-nama penduduk desa misterius di Arcawana. Namun akhirnya aku bisa menikmati cerita selanjutnya dengan tidak terlalu mengindahkan itu, cuma memberi catatan-catatan khusus.

Ide ceritanya menarik, karena agak jarang buku tentang gunung, yang ditulis oleh pendaki gunung beneran pula. Walaupun perekrutannya agak mirip dengan film 'Now You See Me', tapi cerita keseluruhannya cukup menarik untuk dibaca pembaca remaja yang butuh tema alternatif.

Jadi walaupun turun menjadi 3* tapi akhirnya kukembalikan lagi menjadi 4 karena jika aku kenal penulisnya, pasti aku tambah satu *.

Terus menulis, Ayu.




View all my reviews

Minggu, 09 Maret 2014

Sarongge

SaronggeSarongge by Tosca Santoso

My rating: 5 of 5 stars


Satu setengah tahun yang lalu, aku melihat buku ini di lantai basemen Blok M Square. Pertama melihat aku langsung tertarik, berjudul Sarongge, karya Tosca Santoso, dengan sampul sebuah pohon besar yang rindang, dengan pengantar Ayu Utami. Saat itu aku tidak menanyakan harganya, karena takut mahal dan belum tahu harga aslinya. Dan lagi, jumlah buku yang belum kubaca di rumah juga menumpuk banyak, sehingga aku tidak berniat menambah timbunanku itu.

Beberapa bulan kemudian, tiba-tiba aku ingat lagi dengan buku itu, ketika daerah Sarongge mulai diperbincangkan di twitter. Baru aku tahu, bahwa Sarongge itu nama daerah di kawasan Puncak, di mana di sana ada program adopsi pohon dari Green Radio. Aku mulai mencari lewat toko buku online yang ternyata sudah tidak ada stok dan akhirnya menanyakan ke penulisnya langsung @toscasantoso via twitter. Ternyata di toko-toko buku di Jakarta sudah tidak ada, dan masa iya aku keliling seluruh toko buku? Jakarta itu kan propinsi, sehingga agak sulit dicapai ujung satu dengan satunya lagi. Bisa berhari-hari kalau keliling.

Untunglah, dengan pertemananku dengan pencinta-pencinta buku, ada yang memberi tahu kalau buku ini masih ada di Toga Mas Semarang. Aku langsung menitip pada rekan BBI Tezar dibelikan dan kubilang nanti kuambil kalau aku ke Semarang. Tetapi buku dikirimkan lewat seorang teman pada bulan September 2013, ke Jakarta, dan belum ketemu juga denganku sampai aku ke Semarang di Oktober 2013 (Kubilang juga apa, Jakarta itu propinsi, bikin janji temu aja susah!). Akhirnya buku itu sampai di tanganku pada bulan Desember 2013, bersama dengan Tezar ke Jakarta, dan bertemu juga dengan Essy yang dititipi bukunya. Oh iya, pada bulan Nopember ketika aku berjalan-jalan ke Toga Mas Depok, aku menemukan 2-3 eksemplar juga buku Sarongge ini. (laahh, tahu ada di sini ngapain nitip?)

[caption id="attachment_2119" align="aligncenter" width="500"]
sarongge (sumber : toscasantoso.tumblr.com)
sarongge
(sumber : toscasantoso.tumblr.com)[/caption]

Ekspektasiku tidak salah. Aku terharu membaca bab-bab awal buku ini. Bercerita tentang kawasan petani di Sarongge yang terdesak oleh hutan Perhutani yang mengakibatkan mereka tidak bisa berladang lagi. Berebut cahaya matahari antara pepohonan hijau dengan sayuran yang ditanam petani. Disalahkan atas berpindah-pindahnya lahan berladang. Dan petani yang terdesak oleh pemodal besar yang menguasai pertanian komoditas tertentu yang sedang 'in' sehingga berebut pasokan air dari sumber bersama. Dan mereka selalu kalah karena kurangnya pengetahuan sehingga sering dikelabui oleh pasal-pasal buatan penguasa.

Meskipun mengambil bentuk novel, tapi buku ini menjejali kita tentang pengetahuan tentang tanaman-tanaman tropis, kehidupan petani Indonesia yang terkena dampak besar oleh salah guna olah lahan oleh pemerintah, dari sisi pengetahuan Husin, seorang Sarjana Pertanian yang mengabdikan harinya untuk membantu masyarakat desa Sarongge memaksimalkan daerahnya di bidang pertanian. Juga dari sisi Karen, pejuang lingkungan yang mempertahankan hak tanah ulayat yang semena-mena diaku menjadi tanah pemerintah untuk ‘dijual’ kepada perusahaan pemegang HPH atau pemilik izin tambang.

Mengikuti perjalanan Husin, seperti berada di sampingnya saat ia menjelaskan tanaman ki hujan, cecenet, rasamala, saat langkahnya satu per satu mendaki Gunung Gede menyusuri jalur ritual penduduk menuju makam Eyang Suryakencana, sedih melihat gambaran edelweiss yang lama kelamaan berkurang karena ratusan pendaki menghancurkan proses hidupnya. Menghidupkan pertanian organik dengan bahan alam untuk pupuk dan pembasmi hamanya. Memaksimalkan potensi-potensi hutan untuk dinikmati bersama oleh warga di kaki gunungnya. Menikmati alam dengan sederhana.

Tiap kali di bawah tenda seperti ini, saya merasa alangkah sedikitnya sebetulnya ruang yang dibutuhkan manusia.
[h.83]


Bersama Karen yang menyerang pengusaha hutan di Riau yang ingin mengubah hutan gambut menjadi kelapa sawit, dan bertahan dari pengusaha tambang di Sumba, hingga pengejarannya di Papua, membuat gemas. Kenapa orang demikian serakah ingin memperkaya dengan menggali terus menerus dari bumi yang subur ini, yang sudah memberikan secukupnya untuk masyarakat yang ada di sekitarnya dan merawatnya kembali, kemudian jatuh ke tangan orang-orang yang mengaku pintar, namun hanya bisa mengeksploitasi, meraup sebesar-besarnya, tanpa berpikir untuk mengembalikan kondisi itu sehingga bisa bermanfaat untuk sekitarnya? Masyarakat sekitar menjadi miskin, kehilangan tempat mencari bahan makanannya karena sudah berubah menjadi tambang, dan memaksakan penggantinya sesuai caranya seolah-olah itu adalah yang benar untuk penduduk setempat.

Di Papua, ratusan pohon sagu ditebang untuk diubah menjadi kebun kelapa sawit, sementara penduduk yang terbiasa makan sagu diminta mengganti makan beras, yang juga harus diimpor dari luar Papua. Jangan tanya tentang perusahaan tambang tembaga yang menemukan emas ketika mereka mendapat hak untuk 'merusak' gunung suci yang berada dalam wilayah ulayat suku Amungme. Gunung tembaga ini adalah duku-duku sebutan untuk gunung suci yang dianggap sebagai tempat kembalinya arwah setelah mati. Ketika gunung sudah hilang ditambang, ke mana arwah mereka pergi? Kepercayaan ini diingkari begitu saja. Diabaikan.

Misalnya tambang tembaga itu ditemukan di bawah Tembok Ratapan Yerusalem, apakah orang Yahudi akan membiarkan tempat suci mereka digusur buldoser penambang? Kalau tanah Emas ada di bawah Ka'bah di Mekah, apa ada yang berani menambang di sana? Atau kalau sumber uranium ada di bawah bait Allah di Yerusalem, siapa yang akan membongkar tempat suci itu tanpa membangkitkan perlawanan orang Kristen? Agama-agama besar punya pembelanya sendiri. Sedangkan kepercayaan Amungme akan lenyap, bersama gunung mereka yang setiap hari dikeruk buldoser.
(h.300)


Aku seperti mencintai negeri ini sekaligus membenci pengelolanya. “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.” itu tak lebih dari jargon yang ditanamkan semasa sekolah. TANPA adanya penanaman mental yang cukup bahwa kita HARUS menjaga negeri ini, maka negeri ini akan jatuh pada mental serakah seperti masa penjajah yang dijilat oleh kerajaan yang mau daerahnya aman. Seharusnya tidak begitu. Seharusnya dengan berbagai macam disiplin ilmu yang membuat jumlah intelektual muda meningkat negeri ini dan sadar tingkat kritisnya negeri ini. Seharusnya pengusaha-pengusaha ini sudah waktunya berpindah generasi yang lebih melek lingkungan. Seharusnya belajar dengan musnahnya budaya, pemukiman, akan mengakibatkan berkurangnya kekayaan negeri ini, yang tidak sekadar dijadikan tontonan, tapi membiarkan hidup dengan kebiasaan-kebiasaan budayanya. Berpikir global tidak melupakan yang lokal.

Biarkan zamrud itu berkilau lagi...


Inilah saat kita
menjemput embun dan matahari
Tanpa kata. Tanpa peta
Tak perlu janji hari nanti
[h.125]


minggu panas : 23.02.2014 : 17.02 : menanti hari bumi 22 april

[caption id="attachment_2120" align="aligncenter" width="500"]
program adopsi pohon (sumber : toscasantoso.tumblr.com)
program adopsi pohon
(sumber : toscasantoso.tumblr.com)[/caption]

View all my reviews



Jumat, 01 November 2013

Mahameru Bersamamu

Mahameru Bersamamu by Ken Ariestyani

4 of 5 star

<i>Lalu, satu langkah di depannya, saya berhenti, langkah saya bertambah berat, napas saya tersengal, saya tersungkur di pasir Mahameru... Saya membiarkan diri seperti itu untuk beberapa saat. Bibir saya bergetar mengucap syukur atas kesempatan yang diberikan-Nya. Hampir pukul setengah sepuluh saya tiba di Mahameru. (h.201)</i>

Bahagia itu sederhana. Sesederhana keinginan nonton konser Sheila on 7. Sejak beken tahun 2000-an, sempat gagal nonton di tahun 2011, baru minggu lalu akhirnya aku nonton penampilan Duta, Erros dkk dalam satu konser bersama ulang tahun satu stasiun radio. Sendirian tentu saja, karena di lingkungan teman-teman yang anak metal ini jarang yang jadi Sheila gank. Eih, perjuangan banget kan nontonnya?

Sesederhana keinginan nonton konser Bon Jovi yang entah kapan manggungnya lagi, karena dulu waktu manggung di Jakarta aku masih SMA dan tak diijinkan ke Jakarta. Eih, sederhana? Sulit gitu dicapainya. Mari lupakan konsep bahagia itu sederhana.

Bahagia adalah ketika kamu menginginkan sesuatu dan terwujudkan. Sesuatu kondisi yang bisa disyukuri. Bisa terwujud begitu saja, atau dengan perjuangan. Seperti Ken, yang punya mimpi 'dinyanyikan Janji Suci-nya Yovie dan Nuno di puncak Mahameru', yang ia tulis bareng-bareng di status twitternya.

Setelah berinteraksi lewat dunia maya oleh rekan-rekan setim-nya, persiapan naik gunung, plus perasaan gundah gulana yang melatari pelariannya, Ken menghadapi ujian penaklukan dirinya. Iya, gunung! Gunung bukanlah destinasi penaklukan. Di gununglah tempat mengukur kemampuan, menurunkan ego, mempertebal solidaritas, sadar diri untuk berjuang terus, dan terus untuk sampai puncak. Di sini diperlihatkan rasa sabar, tantangan untuk tidak menyerah, juga keikhlasan pada diri sendiri.

Semeru sendiri adalah gunung tertinggi di pulau Jawa, yang menjadi puncak impian banyak pendaki di pulau Jawa, baik pendaki pemula maupun pendaki senior yang ingin kembali lagi. Alam perjalanannya yang indah dengan hamparan berbagai vegetasi dataran tinggi memikat banyak orang untuk datang dan lagi.

Ken, yang kukenal dari seorang teman lewat jejaring facebook mengatakan, buku pertamanya ini adalah perjalanan hati, bukan sekadar penaklukan gunung. Bagaimana perjalanan menjadi pelariannya hingga berubah menjadi sebuah pencarian pengisi hati yang memotivasinya untuk lanjut dan terus walau lelah melanda perjalanannya.

Membaca tuturannya yang kalem di buku ini mengulang arti bahagia yang sederhana. Rasanya bahagia ketika pesan singkat dibalas, rasanya bahagia ada yang menemani ngeteh di tengah malam, rasanya bahagia ketika ketemu kelebatan punggungnya. Dan rasa itu makin memuncak dan besar ketika pelarian itu berubah menjadi pencarian momen bahagia. Dan Semeru itu latar indah yang tergambarkan.

Iya, bahagia itu sederhana, ya. 
Bisa dirasakan di mana saja.

<i>Mereka, ada yang sudah lama menyimpan dalam angan keinginan untuk menyambangi Mahameru. Namun terganjal berbagai hal. Kesibukan aktivitas sehari-hari mendapat porsi paling besar dalam daftar tertundanya niat mereka pergi ke sana. Tak sedikit juga yang menjadikan Semeru sebagai tujuan pertama dalam sejarah pendakian mereka, termasuk saya. (h.65)</i>

Selasa, 02 Oktober 2012

The Celestine Prophecy

The Celestine Prophecy (Manuskrip Celestine)The Celestine Prophecy by James Redfield
My rating: 2 of 5 stars

i read a lot of coelho and gaarder, i enjoyed every word on it.
but i don't like this book. the idea is okey, but the prophecy is yeah.. well..
it can't made me imagine the beautiful Peru, which is a place i want to be there. it just an ordinary 'running adventure' novel. plus philosophy.

i think i'd better back to Mocondo.

View all my reviews

Minggu, 29 Juli 2012

Para Pemuja Matahari

Para Pemuja MatahariPara Pemuja Matahari by Lutfi Retno Wahyudyanti
My rating: 4 of 5 stars

Naia mungkin refleksi mimpi-mimpi masa remajaku. Keberanian, kenekatan yang ia miliki, untuk menjelajahi alam ini dengan kedua kakinya, sendiri pula, membuatku teringat pada pahlawan petualangku masa itu, Roy Boy Harris, tokoh rekaan Gol A Gong dalam serial Balada Si Roy yang menemani masa remajaku. Beda Naia dengan Roy sangat jelas, Naia perempuan dan berasal dari keluarga berkecukupan, sehingga bisa liburan dengan uang saku yang cukup, sementara Roy seorang anak yatim di Banten, harus menulis untuk membiayai perjalanannya. Yang sama dari mereka adalah tekad untuk melihat dunia, melihat kehidupan tidak dari yang sehari-hari dijalani. Yang membuat bersyukur atas karunia yang diberikan di atas.

Menariknya mengikuti petualangan Naia karena ia berasal dari keluarga yang berkecukupan. Ingin tahu saja bagaimana sih anak yang seharusnya bisa manja ini survive di jalanan, di alam, di desa, di tempat-tempat yang tidak semua orang bisa menerima kebaikannya. Naia menjalaninya ketika berumur 19 tahun! Saat umurku segitu, aku juga sedang tergila-gila jalan-jalan dengan teman-temanku di pencinta alam. Namun, aku tidak punya keberanian sehebat Naia untuk pergi sendiri ke Kanekes, Baduy, salah satu tempat impianku saat itu, yang aku tahu tempat itu juga dari Balada Si Roy yang kubaca, juga karena disiplin ilmu yang kujalani membuat aku selalu tertarik pada permukiman tradisional, ruang hidup sederhana yang dibutuhkan oleh manusia.

Beberapa tempat yang dituju Naia memang merupakan tempat-tempat yang ingin kutuju sejak muda. Akhirnya tiga tahun lalu aku sampai juga ke Baduy (sudah bukan 19 tahun lagi, itu pun dengan tour, bukan backpacker ala Naia) aku sangat bersyukur karena selain permukiman tradisional memang peminatan khususku, kampung Baduy yang tenang, damai dan memberikan energi positif kembali ke kita. Rasanya kembali ke masa jalan kaki 5-6 jam di siang hari, dengan pemandangan indah, ngobrol dengan bapak-bapak Baduy yang membantu membawakan ransel, anak-anak gadis yang cantik-cantik berkulit kuning langsat. Aku cukup beruntung karena sewaktu aku ke sana ketika mereka sedang kerja bakti mengganti dinding rumah yang dari gedhek bambu, dan atap pelepah. Seandainya di Baduy dalam boleh memotret, pasti sudah kuabadikan proses kerja baktinya. Setiap rumah dikerjakan oleh 15-an lelaki, dengan rangka bambu, lantai juga dari papan dan bambu. Rumah-rumah ini pun tidak menggunakan paku, hanya berpegangan pada pasak dan ikat rami untuk penguat rangkanya. Teknologi tradisional yang mereka pahami turun temurun ini tentang mendirikan bangunan tidak pernah punah, senantiasa dilestarikan dengan transfer wawasan ketika kerja bakti ini. Ketika aku tiba di sana sekitar pukul 2 siang, ternyata hari itu mereka sudah mengganti dinding dan atap 15 rumah sejak pagi! Dan aku senang sekali karena Baduy itu cerita pertama Naia, karena ketika pergi ke Baduy 3 tahun yang lalu juga menjadi semacam come back ke dunia perjalanan setelah vakum beberapa tahun. Dan aku menjadi sangat bersyukur karena sampai sekarang masih punya energi untuk menikmati Indonesia yang indah ini.

jalan batu

Selain Baduy, tempat-tempat lain yang dikunjungi Naia juga bikin ngeces, membangkitkan jiwa jalan-jalanku ke mana pun (selain Gunung Salak, sih, karena gunung itu agak mistis juga). Segara Anakan, Karimun Jawa, Kawah Ijen, tempat-tempat yang bukan merupakan obyek wisata umum yang dikunjungi masyarakat. Tidak semua dijalani dengan mudah, beberapa kesulitan yang khas dan wajar terjadi di sini. Kehabisan bis, sakit, kehabisan uang, jauh dari ATM, dan lainnya. Nggak semua pendapatnya juga mudah diterima orang lain. Lihat Naia yang ditolak uang pemberiannya di Segara Anakan, ketemu Bowo yang sinis yang suka menyalahkan keadaannya sendiri.

“Kalau tiap hari cuma dapat sedikit, kenapa kau masih jadi nelayan? Kenapa enggak cari pekerjaan lain?” tanya Naia.
“Sejak kakek buyut, keluargaku nelayan. Selain itu, aku juga nggak punya keahlian lain. SMP aja aku nggak lulus.”
“Aku nggak ngelihat hubungan antara nggak punya keahlian dengan tidak lulus SMP. Kau kan bisa ambil les atau minta orang lain ngajarin keahlian yang pengen kamu punya. Pernah dengar nama Thomas Alva Edison nggak? Dia dulu SD aja nggak lulus. Tapi dia bisa nyiptain lampu yang sekarang dipakai di seluruh dunia. Kartini juga cuma lulusan SD. Tapi dia suka baca buku dan majalah.”
“Itu kan kata kamu yang orang kaya dan nggak tahu kerasnya hidup. Kau k alau pengen sesuatu tinggal minta ke orang tua. Beda dengan aku.”
Naia diam saja. Aku nggak ngerti. Kenapa orang selalu memakai make keadaan sebagai alasan kenapa dirinya nggak maju? Toh, banyak orang di dunia ini gagal sekolah tapi bisa jadi pengusaha sukses? Kenapa orang lebih memilih untuk menerima nasibnya begitu saja seagai hal yang tidak bisa diubah? Lalu menghabisi separuh hidupnya untuk menyesali hal-hal yang tidak bisa ia capai. Mulai dari nyalahin keluarganya lah, nyalahin pemerintah lah. Pokoknya nyalahin apa pun selain dirinya sendiri dan tetap nggak mau berubah! (h.134-135)


Begitu banyak hal yang ditemui dan berbeda dari sudut pandang kita memang bikin ngelus dada. Inilah perjalanan sesungguhnya, ketika kita melihat berbagai pandangan dari orang lain dengan latar yang berbeda-beda sehingga membentuk pendapat masing-masing atas sesuatu hal. Dan kita nggak bisa marah karenanya. Kalau kita nggak suka ya sudah, tetapi tetap saja kita berteman dengan yang berpendapat beda. Memaksakan pendapat nggak selalu lebih baik, namun bisa memberikan benih permusuhan. Ini baru dari pemuda desa. Bagaimana kalau ketemu aparat pemerintahan ya?

Aku mengenal Lutfi ketika berkunjung ke Jogja bersama teman-teman Goodreads. Ternyata, ia juga rajin berjalan-jalan mengelilingi Indonesia (ngintip blognya). Pantas kalau sebagian petualangannya diceritakan di sini. Setelah lama tidak membaca karya fiksi genre perjalanan karya penulis Indonesia, tulisan Lutfi ini memberikan semacam oase menarik. Seandainya banyak remaja yang membaca buku ini, pasti banyak juga anak-anak yang bernekat-nekat keliling Indonesia dan bersyukur bahwa dirinya beruntung. Memang sih, cara yang dipakai Naia ini agak salah (itu makanya dulu aku bilang nggak bisa senekat Naia), tapi rasanya masih ada cara yang lebih diijinkan orang tua.

Satu kata saja : Keren!

Karimun Jawa, Bromo, Kawah Ijen, Meru Betiri.. here I come...

View all my reviews

Sabtu, 28 Januari 2012

Meraba Indonesia: Ekspedisi "Gila" Keliling Nusantara

Meraba Indonesia: Ekspedisi Meraba Indonesia: Ekspedisi "Gila" Keliling Nusantara by Ahmad Yunus
My rating: 5 of 5 stars

#2011-50

Dalam beberapa bulan ini, banyak kesempatan untuk membaca tentang Indonesia, tanah tumpah darahku ini. Dari Arus Baliknya Pramoedya sampai Potongan Cerita di Kartu Pos nya Agus Noor. Masih masuk dalam daftar ingin saya baca adalah Nasionalismenya Pandji.
Benar adanya bahwa buku adalah jendela dunia...
Berkesempatan membaca Meraba Indonesia seperti membangun mimpi-mimpi masa muda saya. Yang suka bertualang. Mimpi saya untuk menjelajahi Indonesia yang indah ini. Mimpi yang terpaksa harus saya gantungkan sesaat demi cita-cita masa kecil. Maka saya gembira sekali ketika diminta untuk memoderatori diskusi bukunya, bercerita tentang suka duka sepak terjang orang-orang yang berani mengelilingi Indonesia, untuk membaginya dengan kita, memberikan jendela pandang untuk kita yang belum berkesempatan untuk itu.

Ini bukan buku catatan perjalanan seperti kebanyakan yang hanya membahas asyik-asyiknya suatu perjalanan. Lebih banyak ditonjolkan sisi humanisnya di sini. Dan perjalanan ini dilakukan di Indonesia! Negeri yang penuh dengan keindahan sekaligus ketidakindahan birokrasinya. Kecantikan yang menutupi coreng moreng di baliknya. Negeri yang sulit untuk dijelajahi karena tersebar di pulau-pulau, sementara transportasi airnya masih jauh dari layak melayani.

Indonesia dari perjalanan Yunus dan Farid dari sisi-sisi terluarnya, yang mereka jalani dari Bandung ke Jakarta, Teluk Kiluan Lampung, Bengkulu, Pulau Enggano, Kepulauan Mentawai, Padang, Tapanuli, Nias, Simeulue, Aceh, Sabang, Medan,..
Di sini mereka meraba tradisi lokal yang masih erat dengan keseharian warga masyarakat. Tato di kepulauan Mentawai, yang perlahan menghilang seiring dengan stigma negatif pemerintahan Orde Baru terhadap perajah tubuh ini. Upacara lompat batu di Nias yang kaya dengan seni budayanya, rumah Omo Hada rumah tradisional Nias yang temasuk dalam World Endangered Heritage, mengingatkan saya akan kekecewaan ketika kuliah saya melewatkan masa ekskursi ke Nias (suatu hari kelak saya akan ke sana..) lalu berpindah ke Simeulue dengan tradisi ‘smong’ yaitu menyelamatkan diri ke dataran tinggi ketika terjadi pasang surut tiba-tiba. Cerita-cerita singkat, namun memberi kesan menarik akan kekhasan daerah-daerah ini.

Selat Malaka, Pulau Penyengat, Pulau Natuna, ke Pulau Kalimantan, Pontianak, Sintang, Pulau Karimata, terus menyusuri sisi selatan dan timur Kalimantan, hingga Derawan, Nunukan dan Tarakan..
Ini pahitnya Indonesia. Bertemu polisi lautan yang seharusnya mengayomi namun malah memeras kapal-kapal yang lewat, kalau begini, bagaimana transportasi laut bisa maju jika untuk menjalaninya sehari-hari pun penuh ketakutan begitu. “Sudah biasa,” katanya. Tidak bisa, jerit batin saya.
Pun melihat Natuna yang berlimpah gas namun rakyatnya tetap tidak makmur. Ini menjadi pertanyaan besar sekali buat Indonesia. Kenapa di daerah-daerah yang hasil alamnya melimpah tapi penduduk di situ tak bisa ikut merasakan imbasnya? Tak hanya Natuna. Bangka Belitung, Papua, dan banyak daerah lain di Indonesia tak pernah menjadi bahan evaluasi. Kenapa hanya sisi eksploratifnya yang ditonjolkan dari daerah-daerah tersebut. Kenapa sisi pengembangan sumberdaya manusia di daerah tidak menjadi salah satu prioritas selain berapa dolar yang bisa dihasilkan oleh daerah itu?
Berpindah ke Kalimantan, potret hutan hujan tropis raksasa itu seakan sirna oleh potret keringnya sungai Kapuas, salah satu yang terpanjang di Indonesia, punahnya hutan oleh area kelapa sawit, pembukaan lahan gambut. Apalagi Kalimantan sekarang. Menurut cerita teman, banyak orang berlomba-lomba mendulang batubara tanpa memikirkan efek samping dari tambang yang ia buka. Banyak lubang-lubang menganga yang hanya dihijaukan kembali sekenanya. Menurut teman saya, perusahaannya berusaha menaati peraturan dengan menanam kembali seribu pohon, namun sesudah itu dibiarkan. Apa yang terjadi? Hutan tropis itu tidak pernah kembali. Tanpa perawatan, tanaman akan mati. Mungkin Yunus dan Farid tidak menuliskan itu sekarang, tapi suatu saat kelak, kebusukan-kebusukan ini harus dibongkar.

Makassar, Takabonerate, Wakatobi, Pulai Banggai, Pulau Togean, Pulau Miangas, Ternate, Raja Ampat, Banda Neira, Merauke..
Di sinilah potret kelautan Indonesia. Ketika mereka menggantungkan diri pada laut yang memeluk keseharian. Laut yang menjadi energi untuk hidup sehari-hari. Maka akan miris ketika mereka tahu bahwa Indonesia akan mengimpor ikan. Sementara mereka bersusah payah bertaruh nyawa setiap hari ke laut.

Dan potret-potret kehidupan lain yang ditampakkan dalam keseharian petualangan mereka. Mungkin mereka hanya tamu, mungkin mereka tidak ikut merasakan apa yang dialami. Tapi mereka berani untuk melaporkan apa yang ada di negeri tercinta ini, supaya semua sadar apa yang terjadi di tepian pantai Indonesia, bukan hanya duduk santai penuh fasilitas di kota bernama Jakarta. Mereka petualang. Penjelajah.


View all my reviews