ulasan. resensi. kesan.

ulasan. resensi. kesan. ini bukuku, apa bukumu?

Sabtu, 28 Januari 2012

When God was A Rabbit

When God was A RabbitWhen God was A Rabbit by Sarah Winman
My rating: 2 of 5 stars

#2011-45

Rasanya memang nggak biasa kalau kamu punya kelinci yang dikasih nama ‘god’. Atau ‘tuhan’. Atau mungkin kita saja yang nggak terbiasa untuk mengerti sekeluarga yang tidak percaya Tuhan. Mungkin kita bisa bilang aneh. Mungkin juga tidak. Keluarga dengan ayah dan ibu atheis, anak lelaki gay, tante lesbi, anak perempuan dengan rahasianya, sahabat perempuan yang masuk penjara, dan hadiah undian yang amat besar.

Dari awal ceritanya memang agak aneh dan penuh teka-teki. Banyak rahasia-rahasia yang disembunyikan dan tidak terungkap. Atau mungkin sebenarnya tersirat, tapi tidak tersurat. Agak aneh memang, karena kelihatannya buku ini cerita kehidupan keluarga yang diceritakan di atas.

when god was a rabbit : dari kalimatnya menjelaskan satu masa, ketika keluarga ini punya kelinci bernama ‘god’. Lalu apa istimewanya? Apa kelebihan kelinci ini? Apa ia seperti Edward Tulane di The Miraculous Journey of Edward Tulane Apa bedanya ketika ada ‘god’ dengan tidak ada ‘god’ (kelinci, maksud saya). Sepertinya keluarga ini tetap berjalan baik-baik saja. Jadi apa istimewanya kelinci ini? Mungkin ia hanya dijadikan satu simbol, penanda masa kecil.

Then what?? *bacanya geregetan*

Cerita ini menarik, tentang keluarga unik. Ngebayanginnya kalau film ini difilmkan mungkin seperti film The Kids are Allright, tentang 2 anak yang diasuh sepasang orangtua lesbian. Drama yang unik.

Tapi saya tidak bisa menikmati ceritanya. Apa cuma saya yang merasa demikian? Kenapa beberapa kalimat saya pasti mikir apa ya kalimatnya dalam bahasa inggris..
Maaf buat penerjemahnya yang kebetulan saya kenal. Kalimat-kalimatnya terasa ‘terjemahan banget’ dan agak tidak mengalir. Apa kata-kata dalam kalimat-kalimat asli tidak bisa diganti menjadi satu paragraf baru ya? Saya sih tidak tahu etik penerjemahan, tapi apabila dalam penerjemahannya kata per kata ini menimbulkan kekakuan (salah makna sih, tidak) apa boleh agak dibetulkan begitu? Maaf, karena saya bukan penulis juga, hanya pembaca, jadi kurang bisa memberikan saran kalimat.

h.127. scene : menatap ruang kosong yang ditinggalkan sebelum pindah.
Tidak ada piano untuk bermanuver; lukisan untuk mendandani tembok, atau karpet bertekstur berat untuk menghangatkan lantai batu. Tak ada lampu duduk yang menyembunyikan bayangan di sudut seperti penumpang gelap, atau peti kayu besar era Victoria yang berisi linen serta sachet-sachet lavender, dan berusaha keras menyingkirkan kelembaban selama bulan-bulan musim dingin. Tidak, semua itu belum kami punyai, tapi akan menyemarakkan hidup kami kelak.
Tidak ada piano yang bisa kami kelilingi (jika maksudnya manuver adalah itu), lukisan penghias dinding, atau karpet tebal penghangat lantai batu...
Tidak, semua itu belum kami miliki,...

h.152. scene : di perahu.
Kutelungkupkan tangan di depan alis, sinar matahari menusuk dan menerpa permukaan air, menyoroti buih yang centang perenang. Saat itu salah satu hari pengujung musim panas, baik alam maupun Joe merespons. Ia berbaring di lapisan jok dan menutupi wajahnya dengan topi memancing.
Kutudungkan tangan di atas mata,...menyoroti buih yang centang perenang (maaf dengan sering digunakannya kata ini akhir-akhir ini, saya nggak ngerti apa sih artinya centang perenang? Saya kira sejenis kondisi tali..).. hari penghujung (atau memang pengujung yang benar?) .. maupun Joe merespon (tanpa ‘s’)...

h.163. scene : di halaman.
Hari itu musim panas dan cerah, hari pertamaku melihat Mr. Arthur Henry berjalan memasuki desa mengakibatkan banyak mulut ternganga dan gosip Cornish yang bermacam-macam di siang hari. Ia mengenakan linen rangkap empat, kemeja bergaris biru dan kuning, serta dasi polkadot merah muda yang sangat besar hingga lehernya hampir tak terlihat. Ia membawa tongkat di satu tangan dan surat kabar di tangan sebelah lagi. Lalu sesekali ia mengibaskan tawon yang tertarik pada wangi manisnya bebungaan yang menguar dari kulit pucatnya.
Apa sih gosip Cornish atau linen rangkap empat? Mungkin perlu ditambahkan catatan kaki di sini.

Back cover :
Sementara itu, Elly memiliki rahasia besar yang disimpan erat-erat dari orang tuanya dan hanya diketahui oleh kakaknya, Joe. Tuhan jelas tidak sedang bermain dadu dalam hidup Ellie. Namun, ketika kemudian seekor kelici muncul dengan nama GOD, kehidupan Elly dan keluarganya pun berubah.
Elly dan Ellie. Apa nama panggilan bisa tidak konsisten dalam penulisan verbalnya? Kalau di dalam percakapan, mungkin bisa. Tapi kalau kalimat biasa, mungkin lebih baik tetap konsisten. Apalagi ini back cover.

Rahasia-rahasia yang ada di awal cerita, apakah terungkap di akhir? Kalau saya baca sih terungkap, namun dalam kondisi masih dirahasiakan (dari pembaca, untuk tokoh2nya sih, terungkap). Apa tabu untuk diungkapkan dengan gamblang? Rasanya enggak. Apa memang ceritanya begitu? Sengaja dengan gaya teka teki? Seperti menyembunyikan sesuatu yang dialami tokoh utama dengan menceritakan drama bertahun-tahun. Isu yang mau diangkat menjadi tidak kelihatan, tentang atheis dan rahasia Elly, tenggelam dalam kejadian-kejadian yang dialami keluarga ini, pindah rumah, gay, penjara, homeschool. Mungkin juga cerita ini ditulis tidak untuk menceritakan isu itu.

Mungkin hanya tentang hidup.




View all my reviews

Selimut Debu

Selimut DebuSelimut Debu by Agustinus Wibowo
My rating: 5 of 5 stars

#2011-44

Pernah saya menonton film tentang sekelompok orang invalid, di padang pasir, yang mengejar-ngejar kaki palsu yang diterbangkan dengan parasut. Ketika membaca bagian rumah sakit untuk orang cacat ini, yang pekerja RSnya pun orang cacat juga, saya teringat film itu. Dulu saya masih tidak punya bayangan, negeri dongeng manakah yang penduduknya banyak yang invalid itu?

Membaca pemaparan Gus Weng tentang bahaya ranjau di mana-mana, bom yang bisa meledak kapan saja, di mana saja, saya menangis. Tuhan, kenapa masih ada perang? Kenapa orang tidak puas dengan tanahnya berdiam dan masih harus merampas tanah orang lain. Kenapa orang masih saling menyakiti?

Bom, ranjau, kematian, yang bagaikan berita biasa. Kepala manusia yang berharga lebih murah dari kepala kambing. Semua diselimuti pasir yang berarak, hanya debu belaka, di mana-mana.
Meringis melihat Gus Weng dibohongi oleh supir-supir truk, bahagia ketika dia disambut ramah laksana saudara di mana-mana, geram ketika ia dipukuli polisi, sampai miris, ketika seseorang bilang 'I like you very much' dan..

Negeri ini, negeri sejuta pasir, negeri bekas peperangan, tempat para NGO menangguk dana 'rehabilitasi' yang lebih banyak dialirkan untuk operasional pegawainya, tempat para perempuan merasa nyaman di dalam burqa-nya. Negeri ini, yang dikelilingi oleh pasir dan debunya, yang melindunginya dari pandangan mata, debu juga yang menyimpan ribuan ranjau yang siap meledak kapan saja ia diinjak. Debu seperti burqa yang melindungi dengan anonimitas, tetapi tak tahu bahaya kecantikan apa yang dikandung di sana.

Afganistan, negeri debu, apa kekayaanmu yang membuatmu terjebak dalam perang berkepanjangan? Apakah dirimu hanya benteng untuk negeri dingin di utara sebelum menghadapi selatan yang panas? Apakah dirimu benteng untuk penguasa-penguasa daratan minyak sebelum diserbu dari utara?


Minaret Jam. Apakah ini menara masjid, menara intai, menara dengan indahnya menjulang di tengah padang debu dan bebatuan. Beruntunglah selamat dari badai zaman. Lepas dari gempuran karena di lindungi oleh tebing curam.


Gus, awalnya aku iri sekali padamu. Perjalanan ke negeri ini hanya cocok untuk laki-laki. Perempuan sepertiku tak akan bisa berjalan-jalan bebas tanpa pendamping di negeri ini. Tapi membaca pengalamanmu yang menderita, naik turun truk, menginap di samovar, aku bertanya2, apa aku berani? Maka kubuang jauh2 rasa iriku dan mengikuti perjalananmu. Apalagi membaca bahwa ada perempuan Malaysia yang bisa, hmm, siapa tahu nanti aku bisa?





View all my reviews

33 Pesan Nabi: Jaga Mata, Jaga Telinga, Jaga Mulut

33 Pesan Nabi: Jaga Mata, Jaga Telinga, Jaga Mulut33 Pesan Nabi: Jaga Mata, Jaga Telinga, Jaga Mulut by Vbi Djenggotten
My rating: 4 of 5 stars

#2011-43

dapat hadiah dari tante Sweetdhee buat ulang tahunnya Bintang yang ke 5.

pagi ini dibaca bintang,
"jaga mata, jaga telinga, jaga mulut.."
"yang jaga hidung siapa, bun?? "


*bundanya ngikik*

View all my reviews

Pengakuan Pariyem: Dunia Batin Seorang Wanita Jawa

Pengakuan Pariyem: Dunia Batin Seorang Wanita JawaPengakuan Pariyem: Dunia Batin Seorang Wanita Jawa by Linus Suryadi
My rating: 4 of 5 stars

#2011-42

Perempuan jawa itu, nduk..
Lihat sampul depannya. Seorang perempuan Jawa masa lalu dengan tubuh molek dan sintal, memakai kemben dan kain jarik, bersimpuh seperti layaknya abdi emban. Tolok ukur kecantikan beberapa dekade silam.
Pariyem, babu pada keluarga bangsawan Jawa, yang ikhlas sebagai abdi dalem, menyuarakan ceritanya seperti dongeng pengantar tidur. Cerita dari dirinya sendiri, sampai cerita tentang kehidupan di luar sana.

”Berapa lama beban saya tanggung
yang membelit pundak dan punggung
Ibarat benang bundhet
walau sukar bisa diurai
Ibarat senar ruwet
walau susah bisa diudhari
Tapi bathin dan perasaan manusia
tak ada dukun kampiun
sanggup menyidikara”
(h.90)

Pariyem bahagia dengan hidupnya sebagai babu. Ia pasrah akan dunianya. Tak ada teriakan, tak ada tuntutan. Dunia dihadapannya adalah takdir yang harus dilalui. Yang dijalaninya dengan perasaan legowo kalau ada rintangan, syukur kalau ada anugerah.

”Nonton wayang itu jangan dipikir
tapi mesti dirasa dan diresapkan
Kita bagaikan air sungai – mengalir-
hanyut ke dalam lakon dan karawitan
yang dipergelarkan oleh ki dalang
Ramai bukan karena gamelan
Sunyi bukan karena kuburan
Tapi yang ramai seramai gamelan
yang sunyi sesunyi kuburan
Itulah rahasia di dalam batin
sebagai pusat getaran.”
(h.115)

Pariyem mungkin tidak tahu, bahwa hidup tidak sesederhana itu. Atau ia tahu, namun tidak ambil pusing karenanya. Seperti seorang perempuan Jawa yang harus selalu manut apa kata lelaki. Tak boleh mengeluh, tak boleh berkesah. Mungkin hanya bisa berbagi, namun selebihnya harus disimpan dalam hati.

”Sungguhpun hanya begini saja
Batin saya sudah merasa bahagia
Lha apa ta tujuan orang hidup itu
kalau bukan mencapai kebahagiaan?
Lha saya sudah mendapatkannya, kok
tak perlu saya berpaling pandang
Dalam menggelinding dan terbanting
di pusat roda yang digelandang
Oleh Sang Waktu – Bethara Kala
tiap saat dan tiap harinya
Tiap pekan dan tiap bulannya
tiap musim dan tiap tahunnya
Dan tahun demi tahun terus berjalan
tak kenal ampun, tak kenal sayang
para pembangkang pun akan termakan
Dan tahun demi tahun terus berjalan
Menggelindingkan dan menggelandang
--- setiap insan
tanpa terkecuali saya --- “
h.238

***
kado ultah yang ke 31 tahun lalu.

View all my reviews

Dan Hujan Pun Berhenti

Dan Hujan Pun BerhentiDan Hujan Pun Berhenti by Farida Susanty
My rating: 4 of 5 stars

#2011-41

kamu mau bunuh diri?
ya, tapi kalau besok tidak hujan...


seberapa besarnya gue pengen mati, sebesar itu juga gue pengen hidup.
setiap kali gue pengen mati, gue takut. takut apa? takut bakal bagaimana gue kalo mati nanti. dan ternyata, gue emang belum siap. makanya gue belum mati. Tuhan memang belum ngijinin.

gue bahagia. gue bahagia ketika gue memang bahagia, dan sedih ketika gue sedih. ya, memang orang yang paling bisa menguasai moodnya adalah pembohong. menampilkan wajah palsu ceria di balik keramahan mereka. padahal mereka kesal luar biasa. kadang-kadang gue bisa nampilin muka seperti itu. kadang-kadang juga enggak. saat ketika gue jujur ini banyak orang gak terima. mereka pengen gue tetep bersikap manis walaupun lagi kesel. mereka minta gue tetep sabar. mereka gak mau terima kondisi gue sebenernya.

gue suka kesel sama orang-orang yang sok nasehatin gue. hear, jangan sok nasehatin deh kalo elo belum pernah ngalamin kayak gini. ini pake emosi, pake rasa. ngandelin logika lebih salah lagi.

kata orang cerita di sini terlalu emosional banget. terlalu teenage banget. anak yang pemarah banget. sure, kalau hidup lo lempeng-lempeng aja, dan gak pernah kesangkut masalah ini itu, atau elo termasuk orang yang tolerannya tinggi, elo akan ngerasa cape baca buku ini. begitu banyak teriakan emosi di sini, begitu labil tokoh-tokohnya. tokoh yang sendirian, yang dihantui mimpi buruk setiap hari. bukan cerita anak sma yang menye-menye jatuh cinta digodain saling benci lalu jadi cinta. tapi tentang menyakiti karena sakit, dendam amarah dan ketabahan menghadapinya. tentang masalah yang bertubi-tubi, yang dibuat sendiri dan konsekuensinya.

tentang ketakutan luar biasa dan ketidaktakutan sama sekali.
tentang ambisi hidup sendiri padahal tak bisa mandiri.
tentang kesombongan bisa mengatasi hidup tanpa orang lain.
tentang satu proses menjadi dewasa. marah itu wajar, tapi histeris itu enggak.

mun isukan teu hujan.. istilah bahasa sunda untuk sesuatu yang nggak pasti..
bisa ya, bisa enggak..
bisa jadi, bisa enggak..
liat aja besok deh..
gimana nanti..

View all my reviews

Mistress of Spices (Penguasa Rempah-Rempah)

The Mistress of Spices (Penguasa Rempah-Rempah)The Mistress of Spices by Chitra Banerjee Divakaruni
My rating: 4 of 5 stars

#2011-40

Tahukah kau, Tilo, hal yang paling menyedihkan di dunia? Itu adalah ketika kau memeluk seseorang yang paling kau cintai sampai hanya memikirkannya saja sudah seperti kilauan cahaya di dalam kepalamu, sedangkan kau merasakan bukan kebencian, kau merasakan kekosongan besar yang mengembang di dalam dirimu, dan kau tahu kau bisa memeluknya atau melepaskannya pergi, dan tidak ada perbedaan antara keduanya. h.207

Perempuan dan rempah-rempah, seharusnya seperti hal yang tak dapat dipisahkan. Di mana pun ia berada, aroma rempah menyelimuti tubuhnya. Pun dengan Tilo, yang ditunjuk untuk berada di Amerika bukan sekedar menjual rempah-rempah, namun juga menolong orang-orang dengan rempahnya itu. Itu misinya.

Dengan jahe, akar kebijaksanaan yang bertonjolan, ia menolong Geeta, gadis India yang hampir hilang di metropolis.
Dengan kalo marich, lada hitam, yang mempunyai kemampuan untuk menyedot keluar rahasia-rahasiamu.
Dengan dhania, biji ketumbar, berbentuk bulat seperti bumi, untuk menjernihkan penglihatanmu. Bila direndam dan diminum, airnya membersihkan dirimu dari kesalahan-kesalahan lama.
Dengan kayu manis, pembuat sahabat, kayu manis dalchini cokelat hangat seperti kulit, untuk menemukan bagimu seseorang yang akan berlarian bersamamu dan tertawa bersamamu dan mengatakan Inilah Amerika, tidak terlalu buruk.

Rempah-rempahlah yang membisikkan padanya siapa dari mereka yang harus diberikan pada orang-orang yang melangkah masuk ke tokonya. Rempah-rempah yang memutuskan untuk bicara, atau tidak bicara ketika ia melanggar peraturan sebagai penguasa. Rempah juga yang menolongnya memberikan kemudaan ketika ia ingin, ketika jiwa aslinya memberontak untuk merasakan gairah yang menggoda.

Dan ia sudah memilih.. Perempuan harus memilih bagaimana hidupnya harus dijalani. Dan cinta yang ia ingini.


View all my reviews

Big Breasts and Wide Hips

Big Breasts and Wide HipsBig Breasts and Wide Hips by Mo Yan
My rating: 5 of 5 stars

#2011-39

review ini aman untuk dikonsumsi. tidak mengandung spoiler.
tapi untuk 18+ ;))

Sewaktu pertama melihat buku ini direkomendasikan oleh mbak Endah Sulwesi, dari penerbit waktu itu, aku sudah tertarik membacanya. Cerita tentang kehidupan sekeluarga di masa Cina pendudukan Jepang, dan bagaimana mereka bertahan di tengah pergolakan politik itu sampai pada masa ketua Mao, pasti menjanjikan satu sisi sejarah yang menarik.

Dan hal yang paling menarik, tentu saja judulnya! Judul Big Breast and Wide Hips ini adalah satu-satunya kalimat yang tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Pertama lihat judulnya tentu saja menggelitik. Judulnya begitu amat lah.. Kalau diterjemahkan mungkin saja bisa dicekal FPI karena dianggap mengandung pornografi, tak pantas dipajang di tempat umum. Alternatif terjemahannya mungkin ini :
1. Payudara Besar dan Pinggul Lebar -- biasa banget ya, seperti artikel kesehatan
2. Payudara Molek dan Pinggul yang Moleg -- terdengar cukup 'nakal' dan bikin cowok deg-degan. Berpotensi buat dicekal FPI.

Berhubung aku perempuan, jadi sebenarnya terdengar biasa-biasa saja, tidak berdesir atau apalah. Justru yang membuat aku deg-degan adalah ketika membacanya, di KRL atau kendaraan umum lainnya, dengan covernya yang berwarna merah cerah itu sangat menyolok untuk ditoleh orang, apalagi kalau sampai terintip judulnya. Jadi aku sering mengira, kalau ada orang yang melihat aku dengan pandangan aneh ketika membaca buku ini, apa dia mengira bahwa yang aku baca adalah novel yang penuh gairah, apa nggak malu gitu (lha, bacanya aja pagi-pagi di kereta), atau hanya terkagum-kagum saja melihat perempuan sekecil aku membaca buku yang begitu tebal. Walau begitu, aku lebih sering mengira yang pertama, jadinya lebih sering meletakkan kulit buku di pangkuanku, supaya judulnya tidak terbaca orang lain.

Dan judul buku ini bukan hanya pemanis wajah buku supaya menarik. Tetapi isinya juga menggambarkan kecantikan-kecantikan dan keindahan perempuan karena kelebihan mereka atas 'breast' dan 'hip' nya itu. Sembilan perempuan molek yang mempertaruhkan hidupnya untuk orang yang dicintainya, walaupun mereka saling membunuh, namun masih menyayangi karena sadar bahwa mereka sebenarnya keluarga. Pergantian rezim di sekeliling mereka yang berdampak pada pesona pimpinan yang membawa perempuan-perempuan ini, satu demi satu, mengikuti kata hatinya, yang mereka bilang itu cinta.

Tokoh perempuan utama, Ibu, banyak yang membandingkan dengan Ursula di 100 tahun kesunyian - Gabriel Garcia Marquez, tapi seperti biasa ketika membaca, aku mencoba melepaskan diri dari cerita lain, supaya bisa menikmati cerita ini, dan ternyata sangat mudah melepaskan Ibu dari Ursula, dengan caranya mempertahankan hidup, menghadapi keluarganya, getir dan emosi yang diderita ibu mampu membuatmu menggigit bibir, terenyuh. Situasi yang berbeda.

setiap orang tahu bahwa peluru tidak punya mata, bahwa selongsong artileri tidak akan menerima permintaan maaf. h.451

Deskripsi yang jujur tentang 'breast' dan 'hips' dari sisi satu-satunya lelaki dalam keluarga ini, tidak terlihat vulgar dan porno, tapi indah dan mengesankan, khayalan-khayalan remaja yang sebatas ia tahu, malah terkadang memang menggelitik, dan membuat aku berpikir, 'ooh, is that in a man's mind when they see our shape?'



View all my reviews

The Tombs of Atuan (Earthsea Cycle #2)

The Tombs of AtuanThe Tombs of Atuan by Ursula K. Le Guin
My rating: 4 of 5 stars

#2011-38

Seperti buku sebelumnya, cerita di buku ini mengalun. Lembut, tenang, dengan sedikit riak-riak, dan terbaca indah dan anggun.
Gadis kecil yang terpilih menjadi pendeta itu tak nyaman dengan apa yang ditakdirkan dengannya. Bukannya ia belajar menjadi seorang pemimpin, tapi ia mengikuti hasrat dirinya.
Ia tahu takdirnya, tapi ia melawannya. Ia tak mau terpenjara dalam kekuasaan yang digenggamnya. Ia memilih bebas, dan kembali menggunakan nama kecilnya. Dan ia bertemu lagi dengan Ged.

View all my reviews

Arus Balik: Sebuah Epos Pasca Kejayaan Nusantara di Awal Abad 16

Arus Balik: Sebuah Epos Pasca Kejayaan Nusantara di Awal Abad 16Arus Balik: Sebuah Epos Pasca Kejayaan Nusantara di Awal Abad 16 by Pramoedya Ananta Toer
My rating: 5 of 5 stars

#2011-37

Nenek moyangku orang pelaut
Gemar mengarung luas samudera
Menerjang ombak tiada takut
Menembus badai sudah biasa

Angin bertiup, layar berkembang
Ombak menderu di tepi pantai
Pemuda b'rani bangkit sekarang
Ke laut kita beramai-ramai


NUSANTARA. Apa yang bisa saya ceritakan tentang negeri ini? Sebuah negeri di tengah lautan luas, dengan pulau-pulau yang subur akan rempah-rempah di antaranya. Penghasil lada, pala, kayumanis, yang diburu di seluruh dunia. Cengkeh dan rokok kretek yang tak ada duanya.

Ya, dulu kita tergantung pada laut sebagai jalan membuka dunia. Pedagang dari Arab, Cina, India yang bersahabat membeli rempah dan menjual sutra. Kejayaan nusantara adalah armada. Phinisi yang membentangkan layarnya perkasa. Karena laut adalah pelindung kita. Pada angin kita berlayar, pada gelombang kita terjang.

Tetapi menunggu lebih lama adalah kebinasaan..

Di sini ada Wiranggaleng, pemuda desa yang pandai dan jujur, amat patuh pada atasannya, selalu mengikuti tanpa sadar benar dan salahnya. Prajurit yang berbakti, setia pada junjungan, abdi yang jujur dan dipermainkan kekuasaan. Kepiawaiannya di laut dan darat mendatangkan jaya untuk tahta, namun bala untuk diri dan keluarganya.
Prajurit, sejak dulu hidupmu selalu susah, tak berubah, hanya digunakan sebagai alat penguasa, martir untuk kejayaan tahta.

“Kesalahan orang-orang pandai ialah menganggap yang lain bodoh, dan kesalahan orang-orang bodoh ialah menganggap orang-orang lain pandai.”

Di sini ada Almawasa, syahbandar berlidah ular, makelar dari segala urusan adipati, penasihat yang hanya mementingkan diri sendiri. Licik, bengis, dan bermulut manis, Almasawa adalah otak dari persekongkolan, pengkhianatan, dan kebohongan terorganisir, tak punya nyali bila berdiri sendiri.
Cih! Sepertinya Almasawa banyak meninggalkan keturunan di nusantara masa kini. Ratusan pembohong, pembisik, penyebar isu, penjilat kelas kakap, muncul sebagai berita sehari-hari, melakukan pembenaran sana-sini, bertindak seolah-olah mewakili orang banyak, tapi sebenarnya memeras, dan mengiris-iris pedih.

"Semua Allah yang menentukan, Kanjeng Sunan," Manan masih juga membuka mulut. "Semua Kanjeng Sunan, tetapi yang yang tahu bertanggung jawab hanyalah manusia."

Di sini ada Sultan Trenggono, yang berkedudukan di Demak, bukan tepi laut. Kurang berhasrat mendirikan bandar besar di Jepara, namun lebih membesarkan pasukan darat. Menyerang perbatasan tetangganya sendiri, untuk memperbesar kerajaannya, dengan dalih penyebaran agama.
Kita punya laut, Sultan. Kita punya potensi yang bisa dikembangkan, kita punya jalan, kita punya kekayaan yang akan dicuri bila tidak terjaga. Kenapa darat yang diperkuat? Kenapa bukan kapal yang dibangun untuk menghadapi Peranggi?

Ah, jenderal tua itu. Rupanya ia meniru Trenggono selama 32 tahun memerintah. Diperkuatnya Angkatan Darat tempat ia dibesarkan, menciptakan pemimpin-pemimpin yang haus kekuasaan. Yang tega mengorbankan rakyat, saudara sendiri untuk memuluskan siasat kejayaan. Yang memungut upeti untuk kehidupan jaya yang semu. Dan menganaktirikan Angkatan Laut, penopang kejayaan Nusantara di masa lalu.

"Barang siapa kehilangan air, dia kehilangan tanah, barang siapa kehilangan laut, ia kehilangan darat.."

Nusantara negeriku. Kau berikan Pramoedya yang menulis kisah demikian dramatis. Kata-kata yang indah, pengobar semangat dan pelipur lara di negeri yang tuli ini. Lihat strategi perang Wiranggaleng, Kala Cuwil, Banteng Wareng. Lihat semangat juang yang tak pernah patah. Lihat prajurit yang begitu mulia demi keutuhan negerinya.
LALU KITA APA?

Apa kita hanya orang-orang yang berteriak-teriak IN-DO-NE-SIA di tepi lapangan bola? Apa kita hanya orang-orang yang berteriak TU-RUN-KAN di depan gedung MPR?

Berbuatlah untuk negeri ini, seperti Wiranggaleng, si prajurit.
Karena negeri ini tidak berdosa.
Penguasalah yang tidak bisa mengelolanya dengan baik. Jangan biarkan ia jatuh ke tangan penjilat dan pembohong yang mengatasnamakan negeri, namun tak lebih dari pencuri uang rakyat.

Air adalah kehidupan, darah yang mengaliri nadi. Laut adalah penghubung, pemersatu negeri nusantara ini. Surga keindahan Indonesia.

Jalesveva Jayamahe! Di laut kita jaya!

7 bintang.


View all my reviews

Senyum Karyamin

Senyum KaryaminSenyum Karyamin by Ahmad Tohari
My rating: 4 of 5 stars

#2011-36

Karyamin.
Sampir.
Sanwirya.
Waras.
Minem.
Kasdu.
Suing.
Kimin.
Blokeng.
Sutabawor.
Masgepuk.
Kenthus.
Dawet.
Samin.
Sulam.


Nama-nama pilihan Ahmad Tohari ini dalam kumpulan cerpen yang menyiratkan kesederhanaan, nama yang 'ndeso' sesuai dengan latar tempat penceritaan beliau, tempat desa dengan orang-orang yang tidak memikirkan menimbun harta, melainkan makan apa kita hari ini?
Mungkin mereka memikirkan apalah arti sebuah nama, dan nama itu yang dipakai sebagai pengingat kejadian saat anaknya lahir.

Tahun sekarang, siapa yang bisa ingat arti nama Suing, dan kenapa ada orang yang memberi nama anaknya demikian, daripada dinamai Yanto begitu misalnya. Ah, apalah arti sebuah nama, begitu sering orang berkata. Sederhana kata orang-orang ini. Dan masih berteman dengan takdir, sabar, nerimo, nasib...


View all my reviews

Klub Koktail

Klub Koktail (Cocktails for Three)Klub Koktail by Madeleine Wickham
My rating: 2 of 5 stars

#2011-35

Buat siapa yang pernah baca Sophie Kinsella, pasti menyadari kalau gaya tulisannya lucu, dan penuh humor. Walaupun gadis-gadis Kinsella selalu mendapatkan keberuntungan mendadak setelah mengalami masa sial yang parah, tapi cara penceritaan sampai gadis-gadis ini berhasil dengan ide dan cara cerdas namun tidak terpikir oleh orang lain selalu membuat saya menutup novelnya dengan nyaman, karena merasa segar.

Nah, gaya penulisan yang segar ini yang nggak ditemui ketika Kinsella menulis dengan nama aslinya Madeleine Wickham. Ceritanya, sangat drama sekali, seperti di cerita ini, tentang 3 orang yang bersahabat, dengan persoalannya masing-masing, konflik dengan masuknya orang luar, pemecahan masalah oleh sahabat, selesai. Memang sih gaya cinderellanya tetap ada ketika gadis-gadis ini bertemu dengan pujaan hati yang super kaya, dan bisa membelikan mereka apa saja, tapi gaya penulisannya terasa setengah-setengah. Karakternya dangkal banget. Mungkin Wickham berusaha bikin karakter persahabatan seperti beberapa karya laris misalnya Sex and the City-nya Candace Bushnell atau In Her Shoes-nya Jennifer Weiner, tapi untuk buku ini bisa dikatakan tidak berhasil.

Persahabatan antara Candice, Roxanne dan Maggie yang kebetulan bekerja di media yang sama, kebetulan suka minum koktail bersama, punya permasalahan masing-masing, berantem, dan berbaikan lagi, terasa sangat biasa. Tidak ada konflik yang kuat dalam merangkai kisah ketiganya. Malah cenderung masalah satu orang tidak mempengaruhi yang lain. Maggie dan stress kelahiran bayinya, Candice dan “sahabat” barunya, dan Roxanne dengan pria misterius yang dicintainya. Tidak ada keterkaitan ketiganya. Hanya kebetulan saja bertemu kembali. Bedakan dengan adegan Carrie yang terjebak dalam waktu Miranda melahirkan atau curhat Charlotte dan Miranda soal mengurus bayi di Sex and the City.. Ada satu benang merah yang merangkaikan kisah. Di Cocktail for Three yang katanya bersahabat hanya bertemu di saat minum koktail bersama saja. Bahkan ibu hamil minum koktail, tanpa ada larangan dari sahabat2nya ini! Uggh..Selebihnya menceritakan tentang masalahnya sendiri-sendiri saja. Padahal dengan latar belakang tempat bekerja yang sama, mestinya bisa menjadi kunci rangkaian yang lebih menarik.

Dan sepertinya, sebelum terjebak dengan gaya melodrama ala Danielle Steele ini (which is I enjoyed Steele better) lebih baik membaca karya Mrs Wickham ini dengan nama Sophie Kinsella. Lebih menyegarkan!

View all my reviews

Sabtu, 26 November 2011

Cinta di Dalam Gelas

Cinta di Dalam GelasCinta di Dalam Gelas by Andrea Hirata


#2011-34#

Akhirnya, Pakcik!!! Akhirnyaa!!
Kutemukan juga bagaimana seorang Maryamah berubah menjadi Maryamah Karpov..
Lalu, kenapa judul buku ini bukan Maryamah Karpov saja? Kenapa bisa buku sebelumnya tentang Menyelamatkan cinta tersasar di seberang Lautan itu mendapatkan judul yang amat dramatis ini??

Lihat bagaimana Pakcik menggambarkan permainan catur laksana medan perang, di mana kuda menyerang, benteng bertahan, Raja yang tertusuk, prajurit pelindung, seperti berada di suatu pertempuran yang dahsyat! Sungguh, Pakcik adalah pencerita piawai dalam hal ini. Mengembalikan penceritaan khas melayu, dengan kebiasaan-kebiasaan harian yang unik, dengan gaya bercerita seperti pada seorang teman, yang bisa akan terdiam, dan mengikuti cerita terus-menerus, karena penasaran dengan pertempuran-pertempuran Maryamah.

Boi, kau tengok itu Maryamah. Dari seorang buruh timah, yang belajar bahasa Inggris, lalu belajar catur lintas dunia dengan teknologi bernama internet kepada seorang grandmaster dunia. Dalam cerita ini, itu mungkin, Boi. Semua tekad yang bulat akan bisa mencapai tujuannya. Perempuan yang menantang satu kampung bermain catur. Aku sih tak tahu seberapa mungkin itu bisa terjadi, Boi. Aku sendiri tak bisa bermain catur. Jika ditanyakan padaku tentang main ular tangga, halma, atau kartu, bisa aku ajari sedikit-sedikit. Namun catur, aku buta.

Tapi cerita Pakcik ini, Boi, bisa menggambarkan ke seseorang yang buta catur pun bisa menikmatinya. Tidak hanya dengan menonton ke-32 pion hitam putih itu menari, namun kisah tragedi, kemenangan, airmata, darah, mewarnai kisah setiap langkah dalam 64 kotak itu. Hingga seorang Qui Genus Humanum Ingenio Superavit pun hanya mendapat porsi satu bab, ah, hanya dua halaman mungkin.

Lalu cinta? Cinta di dalam Gelas? Gelas siapa? aah, ke kebun lah kau A Ling! Kali ini Pakcik sudah bosan dengan kisah cintamu yang mengangkat tenggelamkan Ikal, sehingga mendaratkanmu di sudut, tidak tersentuh cerita. Ya, cintalah pada bergelas-gelas kopi yang dijual di warung Paman, tempat pertandingan ini diramaikan. Bukalah Buku besar peminum kopi yang akan membuatmu terbahak, sama ketika kau menyusun daftar sakit gilanya si Ikal sejak Laskar Pelangi.

Ah, aku menemukan Paman di sini, Boi. Paman!! Kukira 'Paman' sudah punah ditelan 'Om', 'Lik', 'Tulang', dll. Kukira Paman hanyalah istilah kenangan yang akan kujumpai di buku bahasa Indonesia tanpa tahu di belahan mana di bumi nusantara ini yang masih memanggil adik laki-laki ayah atau ibu dengan sebutan Paman. Rasanya ingin kupeluk erat-erat Paman ini, kutemukan setelah bertahun-tahun hilang dari kosakataku.

Dan demi rambut ikalku, aku akan mengangkat 4 jempol apabila buku ini berjudul selayaknya, Maryamah Karpov!!!


View all my reviews

madre

Madre (Kumpulan Cerita)Madre by Dee
My rating: 3 of 5 stars

#2011-33#

madre, dari bahasa spanyol berarti ibu. Entah apa yang membuat nenek Lakshmi yang India, pencipta madre ini menamakannya demikian. Mungkin karena madre adalah ibu dari semua adonan roti Tan de Bakker.
Tapi kenapa dari bahasa spanyol? Ada kenangan maniskah dengannya? Kenapa tidak dari bahasa India, dari tempat moyang Lakshmi berada?

madre, yang diwariskan ke tangan Tansen, dan menitipkan dirinya sendiri untuk dipertaruhkan, apakah ia hidup dengan Tansen, atau memiliki tuan yang baru.

(atau kebetulan?) mempertemukan madre dengan peri roti.
Nasiblah yang membuat Tansen menjadi penentu hidup toko Tan de Bakker, sebagai pemilik madre, untuk bertanggung jawab. membuat ceritanya bukan sekadar fragmen hidup, tapi tentang peralihan nasib, konsekuensi atas pilihan yang diambil sendiri.

***
Tidak tahu, apakah Dee masih bisa membuat cerita panjang sebagus Supernova lagi, setelah beberapa kumpulan cerita sebelumnya tidak menorehkan kesan yang kuat. Saya termasuk penggemar Dee di era Supernova, dengan cara menulis, tema dan ide cerita yang unik, kaya dengan pengalaman pikiran. Bukan penggemar era kumcer dan Perahu Kertas-nya, yang lebih ringan, kenes dan mudah dicerna. Karya kumcer ini tidak selalu mudah dicerna juga, terkadang malah tidak mengerti maksudnya apa.

Jadi sebagai penggemar Dee seri Supernova, saya masih rindu tokoh Diva, sang supermodel angkuh, Gio petualang tampan, Bodhi, seniman tato pengembara, atau Elektra gadis listrik yang unik. Satu kisah manusia yang tak biasa, dengan pengalaman hidup yang unik, pencarian diri, bukan cuma potongan fragmen kebetulan yang tak terselesaikan.

Saya berharap banyak pada guruji, kisah Ari ahli spiritual yang pernah bersahabat dengan Ari juru ramal, yang saya harapkan bisa diolah lebih kompleks dengan karakter tokoh2 yang kuat, dengan cerita yang lebih panjang dan menarik, bukan cuma potongan baca sesaat seperti ini. Mudah-mudahan bisa jadi cerita utuh dengan pengolahan menarik.

Namun saya suka satu cerita terakhir ini, sederhana, ringan, tapi utuh. bukan sekedar gumaman dari penulisnya. Membuat saya lupa bahwa masih ada puisi cinta sesudahnya.

***

Starla dengan petualangan cintanya, hidupnya yang ceria, fluktuatif, bervariasi.
"Oh, Starla. Jangan sampai aku balik mencari alasan kenapa kamu masih hidup, ya. Karena itu cuma sopir bajaj dan Tuhan yang tahu."
Che yang stabil, hidup dengan rutinitas yang dipilihnya sendiri, sejak sarapan hingga berangkat tidur.
Kami bersahabat baik sejak hari pertama kami berkenalan. Sesuatu yang bisa dikategorikan sebagai "mukjizat".
mukjizat? kebetulan? Ah, itu kayaknya nggak perlu dijelaskan.
Being real friend never need a reason..

View all my reviews

Padang Bulan

Padang BulanPadang Bulan by Andrea Hirata
My rating: 3 of 5 stars

#2011-32#

Pakcik, buat saya sih nggak masalah apabila cerita ini dikasih judul Padang Bulan atau Serunai burung Punai misalnya. Bukannya di buku sebelumnya anda sudah 'menceritakan' Maryamah Karpov yang cuma menjelaskan sekilas lalu dan menuai amat banyak kritik, menghabiskan energi membacanya untuk mencari tahu siapa itu Maryamah, dalam seluruh cerita yang bertema 'Penyelamatan A Ling bukan oleh Maryamah, tapi oleh mimpi-mimpi Lintang'.

Cerita cinta lanjutannya, dengan judul 'Padang Bulan' (yang merupakan novel pertama dari dwilogi ini) seperti sebuah judul 'aman' yang tidak akan menimbulkan banyak perdebatan, seperti halnya akan lebih tidak bermasalah lagi bila anda menjudulinya 'Pelayaran yang Tertunda' atau 'Kepak Sayap Juang Merpati Muda'. Karena itu aku baru membacanya sekarang, Pakcik.

Ceritanya sih cukup menarik dan lucu. Sesudah penyelamatan A Ling yang dramatis di buku sebelumnya, dan bagaimana Ikal masih berusaha mendapatkan A Ling yang tidak semudah itu walau sudah ada di 'genggaman'nya. Cinta itu misteri, Boi! Tidak ada yang bisa mengerti cinta selain cinta itu sendiri. Bahkan seorang master dari lautan seberang pun baru terkena mabuk cinta di kampung halamannya. Sehingga mengembalikan dirinya pada cinta daripada mengejar kesuksesan yang menjadi cita-cita orang2 di sekitarnya, bukan keinginannya sendiri. Yah, cinta itu termasuk mempertaruhkan harga diri, Boi! Jangan kalah dengan seorang Chow Yun Fat! Katanya..

Tekad yang kuat juga ditunjukkan oleh tokoh lain, Enong, perempuan pendulang timah pertama di situ. Gadis kecil yang berubah menjadi perkasa akibat tekanan di sekelilingnya. Yang hingga dewasa masih memiliki keinginan untuk belajar Bahasa Inggris. Sangat kontras dengan Ikal, yang mendapatkan banyak kesempatan untuk belajar, tapi malah tidak mengamalkan ilmunya, karena diperdaya cinta. Cinta, Boi!

Wow, lihat Pakcik, siapa yang anda bikin waras di sini? Rupanya paham umum bahwa laki-laki bertindak berdasarkan logika dan perempuan berdasarkan emosi atau perasaan dijungkirkan di sini Lihat si Ikal yang berulang kali kena omel ibunya karena terlalu memenangkan perasaannya pada A Ling, dan Enong yang bersikap realistis, berjuang demi hidupnya, keluarga dan mimpi2nya sendiri dan menimbulkan simpati.
Atau memang perjuangan hidup yang semata-mata termotivasikan oleh apa yang dicita-citakan? Kurasa, itu agak benar adanya.
Tabik, Pakcik!



View all my reviews

Turiya

TuriyaTuriya by Maradilla Syachridar
My rating: 3 of 5 stars

#2011-31#

turn on : Kekal, by Homogenic

It so dark in here
No I can`t see a light
Take all the fires on me


Tiga orang, dua lelaki, satu perempuan. Bersahabat, katanya. Perempuan penyendiri, yang suka melamun, bermimpi, membayangkan sosok dalam bingkai jendelanya. Satu lelaki pelukis, yang merekam mimpinya dalam sapuan kuas. Satu lelaki agung, yang punya kerajaan anggurnya.
Disatukan dalam mimpi, lukisan dan gelas-gelas anggur.

It`s all my desire
But you just surrender
Take all the pain in your dreams


Cinta segitiga. Si lelaki wine mencintai perempuan mati-matian, dan si perempuan mencintai lelaki pelukis. Dan sayang mereka bertemu dalam mimpi. Dalam birunya absurd paradiso. Di mana semua yang tak mungkin menjadi nyata. Ketika pikiran-pikiran gila, bahasa yang tak terungkap terungkap dalam mimpi.

Langkahku terpejam
Titik ku berada
Perlahan arahku memudar


Ketika kamu berpijak antara mimpi dan kenyataan, mana yang kau pilih? Kenyataan yang membuat kau sakit kepala setiap hari, atau mimpi yang tak terprediksi, tak bisa dipilih. Kadang-kadang menyenangkan sekali terjebak dalam mimpi, ketika kenyataan begitu memuakkan.

Semu bayangku
Cermin tak berujar
Kemana arahku berjalan


"Mimpi tentang tidur adalah seindah-indahnya mimpi. Maka tidurlah. Niscaya engkau akan tidur dalam mimpimu." (kata seorang sahabat)
Kenyataan memang untuk dihadapi, namun tidak untuk ditelan. Terkadang perlu untuk bermimpi, sesekali. Jangan terlalu sombong pada dunia, atau takluk karenanya. Terjerat dan tak bisa lepas lagi.

Semua
Tertuju pada bayangku
Saat
Kau renggut nafas jiwaku
Biaskan angkuh diriku


Pada akhirnya, semua hanyalah kepingan bertajuk one day in my life. Kisah bergulir lagi, mulai dari awal. Tak pernah ada akhir, sebelum kau mati. Baik mimpi dan kenyataan bisa terjadi.

...
Am I hurting you that much
Am I putting you in doubt
Did I treat you so unkind
Do I have to lose you now……
...
Times goes by (many possibilities) pass me by
Don’t stop turn around
Time goes by (many possibilities) pass me by
Don't stop turn around...


Am I? - Homogenic : turn off.


In Hindu philosophy, turiya (or chaturtha) is the experience of pure consciousness. It is not a state of consciousness. The term state will imply change, but turiya never changes or evolves to something else. It is the background that underlies and transcends the three common states of consciousness: the state of waking consciousness (jagrata), the state of dreaming (svapna), and dreamless sleep (susupti).
-wikipedia-

View all my reviews

Kedai 1001 Mimpi: Kisah Nyata Seorang Penulis yang Menjadi TKI

Kedai 1001 Mimpi: Kisah Nyata Seorang Penulis yang Menjadi TKIKedai 1001 Mimpi: Kisah Nyata Seorang Penulis yang Menjadi TKI by Valiant Budi
My rating: 4 of 5 stars

#2011-30#

*dulu pinjam, karena baru dapat dari Klub Buku, jadi pengen bikin review*

Gila, kalo saya bilang, bahwa motivasi Valiant untuk pergi ke Arab Saudi itu untuk nyari bahan tulisan, dan nyari pengalaman. Gila di sini bukan berarti kurang waras, tapi cool aja gitu, sampe ada orang yang sangat nekad begitu. Dan bukan pengalaman manis yang didapat, namun juga pengalaman pahit. Toh, setiap pengalaman adalah pembelajaran bukan? Dan pengalaman adalah guru yang terbaik.

Saya menyarankan pembantu saya untuk baca ini, supaya dia nggak tergoda untuk pergi ke Arab Saudi. Bukan semata-mata karena takut ia diapa-apain orang di negeri orang, tapi juga karena kalau ia meninggalkan saya, lalu siapa yang membantu mengurusi keluarga saya? Lha, si pembantu ini sudah seperti keluarga sendiri. Tapi tak ayal, ketika lagi ada kebutuhan uang, kadang-kadang ia mencetuskan keinginannya untuk pergi ke Arab. Saya sih tidak bermaksud menakut-nakuti dia dengan membaca buku ini, justru berita di koran atau televisi tentang penyiksaan TKI lebih menakutkan.

Buku ini lucu, banyak menceritakan bagaimana Valiant berusaha suka di tengah duka, kelicikan-kelicikan yang terjadi, dan jelas, buku ini menceritakan banyak tentang karakter bangsa Arab dalam memperlakukan bangsanya sendiri, terutama perempuan, dan sikapnya terhadap pendatang. Memang sih ada yang baik, tapi koq sepertinyna defaultnya itu ya yang petantang petenteng itu ya.

Mendapatkan buku ini kembali di kala stress mendera di kantor akibat kekurangan orang, yah, jadi teringat juga dengan pengalaman si Valiant, yang menjadi babu, waiter dan barista sekaligus, dan akhirnya membuat saya bersyukur. Kalau di sini saya bisa pulang dan ketemu keluarga saya untuk melepas stres, lha kalau di sana? Hmm... tapi kerja lebih dari 100 jam seminggu memang berasa penyiksaan (tiba-tiba curcol). Tanpa dibayar lembur pula.. (curcol tahap2). Untunglah hanya terjadi menjelang deadline proyek saja.

Buku ini sempat dibahas dalam salah satu sesi siaran di RPK FM beberapa waktu yang lalau, dan kebetulan memang cocok sekali dengan berita saat itu tentang kasus TKI-TKI Indonesia yang dihukum di Arab Saudi. Jadi semakin mengintimidasi bahwa orang Arab memang begini-begitu. Yah, tidak jauh dari pendapat saya selama ini sih.

"There's a thing that money can't buy. It's called ATTITUDE." (hal. 371)

****
-sesi siaran-
satu kata buat buku ini:

rhe : mimpi.
thata : realita.
indri : pengalaman.
yancen : enak.

dan yang jadi saya tahu, bahwa ice cappucinno itu sebenarnya tidak ada. karena cappucinno dibuat dari kopi yg dicampur susu yang dihangatkan lalu dikocok hingga berbuih.
masa hangat dikasih es?


View all my reviews

Kelas Memasak Lilian

Kelas Memasak LilianKelas Memasak Lilian by Erica Bauermeister
My rating: 2 of 5 stars

#2011-29#

yang didapat ketika baca buku ini = lapar.

masakannya enak-enak, kelas restoran, dan banyak resep italia favoritku, canneloni dengan saus yang menetes-netes, taart coklat berwarna putih, kepiting saus lemon.

penguasa-penguasa dapur yang bikin teringat ketika baca buku ini :

1. Burger Blenger.
Sudah pernah nyoba? Kalau menurut saya, rasanya enaakk sekali. Dagingnya yang dipanggang sampai empuk, tebal dan mantep lah (sangat jauh beda dengan mcD punya), sayurannya kyuri jepang yang segar dan tomat. Cheesenya selembar tidak merusak rasa asli burger. dan yang bikin lezat adalah sausnya!! Pasti itu bukan mayonaise botolan yang dioleskan, karena lebih kental creamnya, lebih terasa zaitunnya, bawang putih bubuk, serta ada rasa asam sedikit yang mungkin dari vinegar berkualitas bagus, dan kemerahan pasta tomat. Ukuran rotinya yang berdiameter kurleb 15 cm kelihatan mantap, gak seperti (lagi2) mcD punya. Jadi kalau aku melahap burger blenger ini, mungkin itulah rasanya seperti penduduk bikini bottom melahap krabby patty masakan spongebob.
Harganya hanya 12rb per buah, lebih murah dibandingkan yang sama enaknya yaitu Burger King, tapi seharga 3x lipatnya.
Nah, kebetulan di kios Burger Blenger di ujung jalan Lamandau ini aku mendapatkan buku ini pada suatu sore, sambil menikmati sepotong burger. Menilik judulnya, semoga saja yang memberi tidak punya harapan besar bahwa aku akan bisa masak pada suatu hari..

2. tukang kue keren
Salah satu orang yang saya kenal bisa memasak kue2 yang aneh-aneh dengan enak. Maksudnya bukan cuma sekedar cake atau kue karamel atau brownies, tapi kue2 yang bisa kita temui di toko kue yang bagus, seperti cheese cake, choco cake, black forest, cupcake. Lain kali mungkin kita bisa minta tiramisu atau opera cake tergantung dia dapet pesenan apa.
Selain itu taste untuk makanan enak sangat jitu. Jadi kalau satu tempat kata tukang kue ini enak, maka makanannya emanglah enak. Sesuatu yang agak susah dilakukan olehku yang hanya mengenal enak dan enak sekali (apalagi kl gratis).

3. Ibuku
Ditulis terakhir sebagai pamungkas. Ibulah yang tak pernah lelah mengajarkan masak ketika aku sekolah. Ibu yang tiap bulan puasa mengajakku membuat kue kastengel kesukaannya dan nastar kesukaanku. Dari ibu juga aku tahu kalau yang pertama dikocok dengan mixer adalah telur dan gula. Dari ibu juga aku tahu kalau memasukkan terigu ke dalam mixer harus diawur dengan sendok yang digoyang-goyang supaya jatuhnya sedikit-sedikit. Dan aku ingat berjanji untuk rajin masak kue supaya ayahku mau membelikan kami oven besar (dan tak kutepati sesudah 2 buah brownies dan 3 loyang pizza waktu SMA)
Ibuku, yang membuat semur iga terenak dan pepes ikan mas terlezat kalau aku pulang ke Bandung, akhirnya pasrah ketika aku memang tidak punya minat memasak yang biasa2 saja. Bisa buat macaroni schotel tapi tidak bisa sayur asem. Menyadari kalau aku bukan ibu rumah tangga seperti dirinya, tapi mengikhlaskan aku sibuk bekerja. Merelakan bahwa aku tidak bisa memasak kue-kue, karena lebih memilih untuk memiliki gerinda dan gergaji listrik daripada mixer...

View all my reviews

Musafir

MusafirMusafir by Gola Gong
My rating: 2 of 5 stars

#2011-28#

View all my reviews

Minggu, 20 November 2011

Canting

CantingCanting by Arswendo Atmowiloto
My rating: 4 of 5 stars

#2011-27#

"Kalau kalian akan mati kelaparan, saya akan membawa basi dan menjejalkan ke mulut kalian. Kalau kalian telanjang, saya akan bawa kain membalut tubuh kalian. Kalau kalian mati, saya akan membelikan peti mati. Tapi tidak untuk tetek bengek membeli sepeda, mengecat rumah, atau membayar hutang. Ini semua saya lakukan karena saya ingin melakukan. Bukan karena kalian adik-adikku. Pada orang lain yang saya kenal pun akan saya lakukan hal yang sama.

Saya tak ingin dipuji. Kalau memuji, jangan sampai saya mendengar.

Saya tak takut dicaci. Kalau mencaci, jangan sampai saya mendengar. Saya dilahirkan dengan telinga yang kecil dan tipis kulitnya, tak bisa mendengar hal-hal seperti itu."

Pak Bei-hal 132.

View all my reviews

Kelas Lima Di St. Clare

Kelas Lima Di St. ClareKelas Lima Di St. Clare by Enid Blyton
My rating: 3 of 5 stars

#2011-26#
Buku terakhir serial St. Clare.
Saat anak-anak pemberontak ini berubah menjadi dewasa tak terkecuali Allison.
Persahabatan masa sekolah memang takkan pernah berakhir.

View all my reviews