ulasan. resensi. kesan.

ulasan. resensi. kesan. ini bukuku, apa bukumu?

Minggu, 12 April 2015

7 Divisi

7 Divisi7 Divisi by Ayu Welirang

My rating: 4 of 5 stars


Alam, memang menjadi tempat belajar untuk mengenal pribadi masing-masing. Yang kuat, yang manja, yang tabah, akan diperlihatkan seketika mereka berhadapan dengan alam. Untuk yang sering jalan ke gunung, pasti sifat egois itu makin lama makin terkikis. Ketika di alam, semua adalah satu tim, karena cuma alam dan mungkin kematian yang bisa memisahkan.

Aku bisa merasakan guruh yang menyapu langit Arcawana, berjalan di punggungan-punggungan tipis, menemukan tebing satu-satunya jalan, terpaksa nge-camp di jalur, dari kata-kata yang ditutur Ayu. Bagaimana Gitta menapaki pitch demi pitch di tebing itu, seperti cerita film yang terbayang-bayang di kepalaku. Arcawana dalam bayanganku adalah Argopuro, gunung yang kulihat di latar belakang jauh ketika aku berdiri di menara pandang Taman Nasional Baluran, tak jauh dari Banyuwangi.

Sebenarnya cerita ini bernilai 4* bagiku, jika tidak ada jalur kereta yang salah, atau beberapa penulisan istilah teknis yang salah, jadi agak-agak mengganggu di awal. Demikian juga dengan nama-nama penduduk desa misterius di Arcawana. Namun akhirnya aku bisa menikmati cerita selanjutnya dengan tidak terlalu mengindahkan itu, cuma memberi catatan-catatan khusus.

Ide ceritanya menarik, karena agak jarang buku tentang gunung, yang ditulis oleh pendaki gunung beneran pula. Walaupun perekrutannya agak mirip dengan film 'Now You See Me', tapi cerita keseluruhannya cukup menarik untuk dibaca pembaca remaja yang butuh tema alternatif.

Jadi walaupun turun menjadi 3* tapi akhirnya kukembalikan lagi menjadi 4 karena jika aku kenal penulisnya, pasti aku tambah satu *.

Terus menulis, Ayu.




View all my reviews

Minggu, 09 Maret 2014

Fight Club

Fight ClubFight Club by Chuck Palahniuk

My rating: 4 of 5 stars


aku nggak tahu kenapa membutuhkan lebih dari 6 bulan untuk menamatkan buku ini. serius, kupikir ketika itu aku memulainya dengan pikiran yang waras dan dunia yang sukacita. tak berhasil menyatukan moodku dengan buku ini.

dan ketika kamu merasa kalah, dan butuh teman, dan ingin menghancurkan apa saja yang ada di dekatmu. yah, itu yang dirasakan Joe, ketika semua miliknya hilang dalam sekejab dan ia memulai kehidupannya yang baru.

setiap orang berhak marah, mencaci, membanting dan memukul apa saja. namun selalu ada batasan-batasan di dalam jaringan manusia. norma boleh dan tidak boleh, batas gila maupun wajar yang bisa diterima, batasan yang diciptakan manusia. ketakutan-ketakutan yang dibatasi oleh pikiran-pikiran sendiri. berusaha melompat untuk tidak mengenali semuanya.

aku belajar untuk berhenti marah, berhenti menyalahkan keadaan. mencoba mencari sesuatu yang memang diriku, atau seseorang yang membuatku jatuh cinta lagi.

kadang entah siapa yang ada di dalam diri, si penceria, si semangat, si motivator, atau si pencemburu, si cengeng, si menyerah pada kondisi yang ia tidak bisa dapatkan. atau bukan siapa-siapa, yang menerima kenyataan yang sudah jujur, dan berharap keadaan sebaliknya. berharap suatu saat jawaban itu akan berubah.

dan kadang pengen bilang ke seseorang yang selalu mencelamu, "eh, kamu tuh biasa aja. nggak usah sombong. cih!"



View all my reviews

Sarongge

SaronggeSarongge by Tosca Santoso

My rating: 5 of 5 stars


Satu setengah tahun yang lalu, aku melihat buku ini di lantai basemen Blok M Square. Pertama melihat aku langsung tertarik, berjudul Sarongge, karya Tosca Santoso, dengan sampul sebuah pohon besar yang rindang, dengan pengantar Ayu Utami. Saat itu aku tidak menanyakan harganya, karena takut mahal dan belum tahu harga aslinya. Dan lagi, jumlah buku yang belum kubaca di rumah juga menumpuk banyak, sehingga aku tidak berniat menambah timbunanku itu.

Beberapa bulan kemudian, tiba-tiba aku ingat lagi dengan buku itu, ketika daerah Sarongge mulai diperbincangkan di twitter. Baru aku tahu, bahwa Sarongge itu nama daerah di kawasan Puncak, di mana di sana ada program adopsi pohon dari Green Radio. Aku mulai mencari lewat toko buku online yang ternyata sudah tidak ada stok dan akhirnya menanyakan ke penulisnya langsung @toscasantoso via twitter. Ternyata di toko-toko buku di Jakarta sudah tidak ada, dan masa iya aku keliling seluruh toko buku? Jakarta itu kan propinsi, sehingga agak sulit dicapai ujung satu dengan satunya lagi. Bisa berhari-hari kalau keliling.

Untunglah, dengan pertemananku dengan pencinta-pencinta buku, ada yang memberi tahu kalau buku ini masih ada di Toga Mas Semarang. Aku langsung menitip pada rekan BBI Tezar dibelikan dan kubilang nanti kuambil kalau aku ke Semarang. Tetapi buku dikirimkan lewat seorang teman pada bulan September 2013, ke Jakarta, dan belum ketemu juga denganku sampai aku ke Semarang di Oktober 2013 (Kubilang juga apa, Jakarta itu propinsi, bikin janji temu aja susah!). Akhirnya buku itu sampai di tanganku pada bulan Desember 2013, bersama dengan Tezar ke Jakarta, dan bertemu juga dengan Essy yang dititipi bukunya. Oh iya, pada bulan Nopember ketika aku berjalan-jalan ke Toga Mas Depok, aku menemukan 2-3 eksemplar juga buku Sarongge ini. (laahh, tahu ada di sini ngapain nitip?)

[caption id="attachment_2119" align="aligncenter" width="500"]
sarongge (sumber : toscasantoso.tumblr.com)
sarongge
(sumber : toscasantoso.tumblr.com)[/caption]

Ekspektasiku tidak salah. Aku terharu membaca bab-bab awal buku ini. Bercerita tentang kawasan petani di Sarongge yang terdesak oleh hutan Perhutani yang mengakibatkan mereka tidak bisa berladang lagi. Berebut cahaya matahari antara pepohonan hijau dengan sayuran yang ditanam petani. Disalahkan atas berpindah-pindahnya lahan berladang. Dan petani yang terdesak oleh pemodal besar yang menguasai pertanian komoditas tertentu yang sedang 'in' sehingga berebut pasokan air dari sumber bersama. Dan mereka selalu kalah karena kurangnya pengetahuan sehingga sering dikelabui oleh pasal-pasal buatan penguasa.

Meskipun mengambil bentuk novel, tapi buku ini menjejali kita tentang pengetahuan tentang tanaman-tanaman tropis, kehidupan petani Indonesia yang terkena dampak besar oleh salah guna olah lahan oleh pemerintah, dari sisi pengetahuan Husin, seorang Sarjana Pertanian yang mengabdikan harinya untuk membantu masyarakat desa Sarongge memaksimalkan daerahnya di bidang pertanian. Juga dari sisi Karen, pejuang lingkungan yang mempertahankan hak tanah ulayat yang semena-mena diaku menjadi tanah pemerintah untuk ‘dijual’ kepada perusahaan pemegang HPH atau pemilik izin tambang.

Mengikuti perjalanan Husin, seperti berada di sampingnya saat ia menjelaskan tanaman ki hujan, cecenet, rasamala, saat langkahnya satu per satu mendaki Gunung Gede menyusuri jalur ritual penduduk menuju makam Eyang Suryakencana, sedih melihat gambaran edelweiss yang lama kelamaan berkurang karena ratusan pendaki menghancurkan proses hidupnya. Menghidupkan pertanian organik dengan bahan alam untuk pupuk dan pembasmi hamanya. Memaksimalkan potensi-potensi hutan untuk dinikmati bersama oleh warga di kaki gunungnya. Menikmati alam dengan sederhana.

Tiap kali di bawah tenda seperti ini, saya merasa alangkah sedikitnya sebetulnya ruang yang dibutuhkan manusia.
[h.83]


Bersama Karen yang menyerang pengusaha hutan di Riau yang ingin mengubah hutan gambut menjadi kelapa sawit, dan bertahan dari pengusaha tambang di Sumba, hingga pengejarannya di Papua, membuat gemas. Kenapa orang demikian serakah ingin memperkaya dengan menggali terus menerus dari bumi yang subur ini, yang sudah memberikan secukupnya untuk masyarakat yang ada di sekitarnya dan merawatnya kembali, kemudian jatuh ke tangan orang-orang yang mengaku pintar, namun hanya bisa mengeksploitasi, meraup sebesar-besarnya, tanpa berpikir untuk mengembalikan kondisi itu sehingga bisa bermanfaat untuk sekitarnya? Masyarakat sekitar menjadi miskin, kehilangan tempat mencari bahan makanannya karena sudah berubah menjadi tambang, dan memaksakan penggantinya sesuai caranya seolah-olah itu adalah yang benar untuk penduduk setempat.

Di Papua, ratusan pohon sagu ditebang untuk diubah menjadi kebun kelapa sawit, sementara penduduk yang terbiasa makan sagu diminta mengganti makan beras, yang juga harus diimpor dari luar Papua. Jangan tanya tentang perusahaan tambang tembaga yang menemukan emas ketika mereka mendapat hak untuk 'merusak' gunung suci yang berada dalam wilayah ulayat suku Amungme. Gunung tembaga ini adalah duku-duku sebutan untuk gunung suci yang dianggap sebagai tempat kembalinya arwah setelah mati. Ketika gunung sudah hilang ditambang, ke mana arwah mereka pergi? Kepercayaan ini diingkari begitu saja. Diabaikan.

Misalnya tambang tembaga itu ditemukan di bawah Tembok Ratapan Yerusalem, apakah orang Yahudi akan membiarkan tempat suci mereka digusur buldoser penambang? Kalau tanah Emas ada di bawah Ka'bah di Mekah, apa ada yang berani menambang di sana? Atau kalau sumber uranium ada di bawah bait Allah di Yerusalem, siapa yang akan membongkar tempat suci itu tanpa membangkitkan perlawanan orang Kristen? Agama-agama besar punya pembelanya sendiri. Sedangkan kepercayaan Amungme akan lenyap, bersama gunung mereka yang setiap hari dikeruk buldoser.
(h.300)


Aku seperti mencintai negeri ini sekaligus membenci pengelolanya. “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.” itu tak lebih dari jargon yang ditanamkan semasa sekolah. TANPA adanya penanaman mental yang cukup bahwa kita HARUS menjaga negeri ini, maka negeri ini akan jatuh pada mental serakah seperti masa penjajah yang dijilat oleh kerajaan yang mau daerahnya aman. Seharusnya tidak begitu. Seharusnya dengan berbagai macam disiplin ilmu yang membuat jumlah intelektual muda meningkat negeri ini dan sadar tingkat kritisnya negeri ini. Seharusnya pengusaha-pengusaha ini sudah waktunya berpindah generasi yang lebih melek lingkungan. Seharusnya belajar dengan musnahnya budaya, pemukiman, akan mengakibatkan berkurangnya kekayaan negeri ini, yang tidak sekadar dijadikan tontonan, tapi membiarkan hidup dengan kebiasaan-kebiasaan budayanya. Berpikir global tidak melupakan yang lokal.

Biarkan zamrud itu berkilau lagi...


Inilah saat kita
menjemput embun dan matahari
Tanpa kata. Tanpa peta
Tak perlu janji hari nanti
[h.125]


minggu panas : 23.02.2014 : 17.02 : menanti hari bumi 22 april

[caption id="attachment_2120" align="aligncenter" width="500"]
program adopsi pohon (sumber : toscasantoso.tumblr.com)
program adopsi pohon
(sumber : toscasantoso.tumblr.com)[/caption]

View all my reviews



The Casual Vacancy - Perebutan Kursi Kosong

The Casual Vacancy - Perebutan Kursi KosongThe Casual Vacancy - Perebutan Kursi Kosong by J.K. Rowling

My rating: 4 of 5 stars


my favorite is Kay!



View all my reviews

Fira dan Hafez

Fira dan HafezFira dan Hafez by Fira Basuki

My rating: 4 of 5 stars


"Memiliki seharusnya mengajarkan kita tentang kehilangan dan kehilangan seharusnya mengajarkan kita tentang memiliki.”

Kata-kata itu update-an seorang teman-yang tidak terlalu akrab- di twitter tadi malam. Kedengerannya klise khas kata-kata motivator ya? Tapi buat siapa pun yang pernah memiliki kehilangan, pasti tahu rasanya seperti ini. Tidak seperti orang-orang yang hidupnya begitu normal, yang lempeng aja sok memberi nasihat.

Aku nggak bisa bohong, bahwa air mataku menggenang sambil membaca buku ini, membaca cerita sederhana yang dituturkan Fira tentang Hafez, suami keduanya yang meninggal sebelum umur 30 tahun mendadak karena aneurisma. Aku masih ingat dua tahun lalu, ketika aku membaca kabar kematian Hafez, dan kutuliskan status di google+ ku : "Bagaimana rasanya mencintai seperti itu?"

Cerita kehidupan singkat yang manis, masa-masa yang dilewati berdua, cara berkomunikasi, hal-hal sederhana yang dijalani, sekadar naik motor berdua yang lucu, Hafez, kamu pantas dicintai seperti itu. Bahwa seseorang yang kehilanganmu akan mengenangmu dengan cara yang indah.

Aku mengenal buku-buku Fira sejak masa awal umur 20-anku, dan entah kenapa merasa cocok. Buku-bukunya seperti menjadi teman, karena tidak disesaki dengan banyak petuah dan hidup itu seharusnya bagaimana, tetapi mengalir begitu saja, sesuatu sebab yang mungkin terjadi dan akibat dari hal-hal yang diungkapkan.

Fira menjelaskan bukan bagaimana perempuan menjadi tegar, tapi tentang kesakitan itu sendiri. Tentang hal-hal yang mesti ditanggungkan. Tentang jatuh cinta yang salah, tentang hati yang berbalik arah, tentang raga yang meninggalkan jiwa, tentang mabuk, ketidakbahagiaan, dan kegagalan dalam tangisan. Karena hal-hal itu ada, namun tidak pernah mampir di kehidupan orang normal, yang kehidupan cintanya semulus cerpen masa SMA. Dan ini yang banyak tidak dimengerti orang. Akibatnya orang sibuk men-judge, asik menasehati, tanpa tahu bagaimana rasanya kalah. Orang enak saja bilang, 'sudahlah' ketika sesak di dada ingin teriak, bukannya memberikan belanga untuk menangis.

Haters always everywhere. Ketika banyak orang mengatakan lebay, berlebihan, karena sebenarnya mereka tidak tahu apa-apa soal kehilangan. Atau mereka terlalu sombong ketika berhasil mengatasinya.

Apakah saya berhenti menangis gara-gara sudah menulis ini? Tidak. Saya masih menangis setiap hari, bangun tidur, sebelum tidur, bahkan ketika saya berjalan sendirian di mal. Pasrah, ikhlas, bukan berarti saya tidak menangis. Ijinkan saya menangis. Bahkan setiap air adalah cerminan hati saya. Bukan karena sedih, tapi karena saya manusia dan saya mencintai Hafez. (h.110)

I feel you, mbak Fira. Ketika gamang dan rapuh memang seseorang rentan menangis. Aku pun masih seperti itu. Terkadang mentertawakan kehidupan, terkadang mengingat sambil menangis. Setelah tiga tahun yang lalu, terlalu banyak perubahan dalam diriku. Karena aku sadar yang berdiri adalah sesuatu yang rapuh, bisa hancur dalam sekali sentuh. Seperti tanah liat yang berdiri karena air, dan lebur ketika airnya menguap. Atau tanah yang berdiri tegak, namun hancur hanyut dibawa arus air..

Ketika Fira bercerita tentang Syaza Galang, anak dari pernikahan pertamanya, pastinya aku juga teringat Bintang. Gadis luar biasa sabar yang setiap hari menantiku pulang, yang seperti Syaza, aku juga tak tahu ketika ia tahu-tahu bisa naik sepeda roda duanya. Yang amat pandai dan tak lupa mengatakan I Love You sebelum tidur. Yang kukecup pipinya setiap pagi. Bintanglah guruku, tempat belajar sabar, yang membuatku lupa akan nada-nada tinggi, mencoba bagaimana memahami orang lain. Mungkin juga saking sabarnya kami sampai selalu 'ya, sudahlah' ketika ada yang jahat dan menyakiti. Bintang sering diganggu teman2nya di sekolah. Tapi ia tidak pernah membalas. Ia menjauhi dan main dengan teman2 yang baik dengannya. Ia sabar kalau meminta sesuatu dan kubilang tunda dulu. Yang jelas apa pun yang kujanjikan padanya akan kutepati. Yang tidak mampu kukatakan tidak. Karena demikianlah aku mengajarkan janji.

Hujan. Air mataku ditarik awan. Dilipatgandakan. Lalu dijatuhkan. Agar kau tahu sedih tak terperikan.
Mereka menyebut aku perempuan hujan. Karena aku perempuan.
Dan aku berteman hujan. Simpel, tapi kamu tak mengerti juga, kan?
Tangan aku kecil. Hati aku besar. Apalagi ruang memaafkan. Semua kutumpahkan. Pada hujan. (h.119)


Terima kasih kak Lisa Febrianti untuk pembicaraan kita dua tahun silam, yang mengajarkan bagaimana menghadapi kehilangan. Semoga kehidupanmu sekarang membahagiakan, dan bayi dalam kandunganmu kini lahir dengan selamat.

Terima kasih untuk seorang ibu dari dua anaknya yang sudah dewasa, yang memberikanku kesempatan berkata jujur tentang hidup, mengajari menghargai kesendirian, dan berpesan,”Nggak ada jodoh yang sempurna, mbak In.”

Seperti banyak orang yang tetap sayang Fira, semoga aku pun punya kesempatan yang sama.









View all my reviews

The Fault In Our Stars - Salahkan Bintang-Bintang

The Fault In Our Stars - Salahkan Bintang-BintangThe Fault In Our Stars - Salahkan Bintang-Bintang by John Green

My rating: 5 of 5 stars


I like this book. I do liiiikeeeee this book...

I like this book because this is not just about cancer between Hazel and Augustus, this also about love, pain, and trust.
Selama ini aku selalu berpikir persepsi. Sakit itu persepsi. Trauma itu persepsi. Tapi dengan kanker, hal-hal ini benar terjadi tanpa dipersepsikan. Sesuatu yang harus dihilangkan dengan pereda sakit. Sakit itu nyata, menggerogoti dari dalam seperti dan sewaktu-waktu meledak seperti granat.

Augustus Walters, the hot cute guy playing basketball menderita kanker yang mengharuskan sebelah kaiknya diamputasi, jatuh cinta pada Hazel Grace, penderita kanker paru di sebuah forum support group.
Sampai akhirnya mereka menjadi dekat, dan Augustus mengajak Hazel ke Belanda untuk menemui penulis favoritnya Peter Van Houten.

Di sana mereka sadar bahwa mereka jatuh cinta.

“I'm in love with you," he said quietly.

"Augustus," I said.

"I am," he said. He was staring at me, and I could see the corners of his eyes crinkling. "I'm in love with you, and I'm not in the business of denying myself the simple pleasure of saying true things. I'm in love with you, and I know that love is just a shout into the void, and that oblivion is inevitable, and that we're all doomed and that there will come a day when all our labor has been returned to dust, and I know the sun will swallow the only earth we'll ever have, and I am in love with you.”


Ketika jatuh cinta, keinginan terbesar adalah bersamanya, memandang matanya, melihat senyumnya, bercerita sehari-hari tentang hal-hal tak penting, tentang buku yang dibaca bersama, permainan bersama, dan impian-impian akan masa depan.....

Tapi ketika masa depan itu tidak ada, dan yang ingin dilakukan adalah menghargai setiap waktu bersama, ketika jarak tidak menjadi masalah, ketika takut bukan lagi ancaman, ketika kematian terasa dekat, ketika air mata sudah tak ada artinya... yang ada hanya cinta yang membangunkan setiap hari, waspada apa yang akan terjadi hari itu, di sisa waktu yang sempit..

There are days, many of them, when I resent the size of my unbounded set. I want more numbers than I’m likely to get, and God, I want more numbers for Augustus Waters than he got. But, Gus, my love, I cannot tell you how thankful I am for our little infinity. I wouldn’t trade it for the world. You gave me a forever within the numbered days, and I’m grateful.”

Dan sakit itu menjadi teman yang harus dijalani bersama dengan hidup. Dimaafkan sebagai kesalahan. Karena cinta dengan sakit bisa dijalani tanpa penyesalan...






View all my reviews

One Amazing Thing

One Amazing ThingOne Amazing Thing by Chitra Banerjee Divakaruni

My rating: 5 of 5 stars






View all my reviews

Seekor Anjing Mati di Bala Murghab

Seekor Anjing Mati di Bala MurghabSeekor Anjing Mati di Bala Murghab by Linda Christanty

My rating: 4 of 5 stars


ini buku terakhir yang aku baca di 2013. sebenarnya tidak diniatkan terakhir, namun ternyata sesudah membacanya di bulan nopember, aku tak sanggup membaca apa-pun lagi. kesibukan menyita waktuku.

buku ini bahkan sempat kubawa berkeliling gunung dan laut di awal nopember, dan kubawa pulang lagi dengan hanya menyelesaikan satu cerpennya. bukti bahwa perjalanan lebih membiusku daripada buku. mungkin bukan perjalanannya, tapi, ah. apa pun itu, sesuatu pengalih perhatian yang amat besar.

tapi usai mendengar debat linda usai penyelenggaraan acara salah satu event tahunan di dunia sastra, aku tergerak untuk meraihnya lagi. rasanya tak patut jika membuka dan tak menyelesaikannya.

dan pagi akhir november itu, sebelum kamu menjemputku di stasiun kotamu, buku ini selesai.





View all my reviews

Like the Flowing River

Like the Flowing RiverLike the Flowing River by Paulo Coelho

My rating: 3 of 5 stars


beli di KL. ditamatkan di kereta, lalu ditinggalkan di jogja.



View all my reviews

Kamis, 30 Januari 2014

Confession of an 'X'


Sebelumnya aku minta maaf pada Santaku yang baik hati yang sudah memberiku buku The Fault in Our Star yang sudah aku masukkan sebagai buku impian. Tapi apa daya, di tengah kesibukan dan ketidakmood-an membaca, ternyata buku ini tak dapat terselesaikan dan sampai batasnya tiba pun masih bergeming di halaman belasan.

Maaf-maaf-maaf...

Tapi aku suka dengan buku ini. Banyak yang bilang terjemahannya tidak bagus, namun menurutku masih cukup oke. Istilahnya memang kaku, tapi memang kejadian di luar negeri tak sama dengan di Indonesia. Kisah tentang kanker yang cukup enak dimulai. Masih penasaran sih, salahnya si bintang apaa?? Bintang kan lucu dan menggemaskan.


Jadi, sembari liburan esok hari, baru aku mau baca bukunya...
Tadi pagi mau baca bukunya, tapi karena sedang girang terpilih sebagai finalis Bloscar Travel Awards oleh Skyscanner, maka aku malah sibuk promo minta vote.

Pasti aku review dan edit di sini !

Maaf yah santaku, tapi aku bisa menebak dirimu.
Hari ini aku sengaja gak blogwalking, dan gak baca obrolan di whatsapp, biar fair dan jujur dan gak mengeliminasi siapa yang jadi santaku.

Dari alamat pengirim : Jakarta Timur
pikiranku langsung ke Orin dan Dewi?

dari kata-kata half Indonesia half Japanese :
siapa yah yang kira-kira kejepang2an? Orin atau Lina?
kucek di daftar BBI dan voilaaaaa, kutemukaaannn....




Ini diaaaa, Orinthia Lee..

Dear santa yang baik, sudah nggak kulihat petunjuk "covered with green bunch and blue sea.." itu, karena sudah yakin banget deeh.. Mengakulah besok :D

Jumat, 20 Desember 2013

kado akhir tahun dari secret santa


siapa nggak senang dapat kado? aku juga..
makanya aku niat banget ikutan secret santa tahun ini lagi, sesudah tahun lalu berhasil memenangkan hadiah sebagai pen-curhat riddle terkeren untuk secret santa BBI 2012 dengan segala kelucuannya . tahun ini, untunglah Tuhan tidak memberi cobaan seberat itu lagi dengan memberikan sebuah kado dengan alamat kirim Jakarta Timur.


aha, aha.. sepertinya aku pernah bertemu dengannyaaaa..
*nyengir-nyengir setan*
dan bukunya, the fault in our stars dari john green adalah satu buku dari 50-an wishlistku yang tidak susah dicari. tentu aku bukan X yang jahat kan santaku sayaang.. horeeee, akhirnya dapat buku ini. dan jadi harus membacanya sesegera mungkin kan..


riddle-nya, sangat mudah dipecahkan seperti membanting gelas ketika sedang gusar.
pecahkan saja gelasnya biar ramai! biar mengaduh sampai gaduh.


oh santa-ku yang baik hati, untunglah kau bukan pengagum timun inggris sehingga tidak ikut memberikan riddle yang harus dipecahkan oleh detektif. aku tahu banyak yang bisa memecahkan ini.



"Half Indonesians Half Japanese
covered with green branch and blue sea
whether you wonder where my address is
look at the santa's list and you will see
enjoy the book and good luck!"


eh. eh. eh.
tetiba ketika mengetik ulang aku menjadi ragu pada tebakanku sendiri.
si dia bukan ya? si dia bukan ya? (duh, kayak tebak2an jodoh)
kok kemarin yakin sekarang ragu.

dasar cewek berbintang taurus, peragu!

baiklah, aku akan bertanya pada hati sajaa....


Jumat, 01 November 2013

Mahameru Bersamamu

Mahameru Bersamamu by Ken Ariestyani

4 of 5 star

<i>Lalu, satu langkah di depannya, saya berhenti, langkah saya bertambah berat, napas saya tersengal, saya tersungkur di pasir Mahameru... Saya membiarkan diri seperti itu untuk beberapa saat. Bibir saya bergetar mengucap syukur atas kesempatan yang diberikan-Nya. Hampir pukul setengah sepuluh saya tiba di Mahameru. (h.201)</i>

Bahagia itu sederhana. Sesederhana keinginan nonton konser Sheila on 7. Sejak beken tahun 2000-an, sempat gagal nonton di tahun 2011, baru minggu lalu akhirnya aku nonton penampilan Duta, Erros dkk dalam satu konser bersama ulang tahun satu stasiun radio. Sendirian tentu saja, karena di lingkungan teman-teman yang anak metal ini jarang yang jadi Sheila gank. Eih, perjuangan banget kan nontonnya?

Sesederhana keinginan nonton konser Bon Jovi yang entah kapan manggungnya lagi, karena dulu waktu manggung di Jakarta aku masih SMA dan tak diijinkan ke Jakarta. Eih, sederhana? Sulit gitu dicapainya. Mari lupakan konsep bahagia itu sederhana.

Bahagia adalah ketika kamu menginginkan sesuatu dan terwujudkan. Sesuatu kondisi yang bisa disyukuri. Bisa terwujud begitu saja, atau dengan perjuangan. Seperti Ken, yang punya mimpi 'dinyanyikan Janji Suci-nya Yovie dan Nuno di puncak Mahameru', yang ia tulis bareng-bareng di status twitternya.

Setelah berinteraksi lewat dunia maya oleh rekan-rekan setim-nya, persiapan naik gunung, plus perasaan gundah gulana yang melatari pelariannya, Ken menghadapi ujian penaklukan dirinya. Iya, gunung! Gunung bukanlah destinasi penaklukan. Di gununglah tempat mengukur kemampuan, menurunkan ego, mempertebal solidaritas, sadar diri untuk berjuang terus, dan terus untuk sampai puncak. Di sini diperlihatkan rasa sabar, tantangan untuk tidak menyerah, juga keikhlasan pada diri sendiri.

Semeru sendiri adalah gunung tertinggi di pulau Jawa, yang menjadi puncak impian banyak pendaki di pulau Jawa, baik pendaki pemula maupun pendaki senior yang ingin kembali lagi. Alam perjalanannya yang indah dengan hamparan berbagai vegetasi dataran tinggi memikat banyak orang untuk datang dan lagi.

Ken, yang kukenal dari seorang teman lewat jejaring facebook mengatakan, buku pertamanya ini adalah perjalanan hati, bukan sekadar penaklukan gunung. Bagaimana perjalanan menjadi pelariannya hingga berubah menjadi sebuah pencarian pengisi hati yang memotivasinya untuk lanjut dan terus walau lelah melanda perjalanannya.

Membaca tuturannya yang kalem di buku ini mengulang arti bahagia yang sederhana. Rasanya bahagia ketika pesan singkat dibalas, rasanya bahagia ada yang menemani ngeteh di tengah malam, rasanya bahagia ketika ketemu kelebatan punggungnya. Dan rasa itu makin memuncak dan besar ketika pelarian itu berubah menjadi pencarian momen bahagia. Dan Semeru itu latar indah yang tergambarkan.

Iya, bahagia itu sederhana, ya. 
Bisa dirasakan di mana saja.

<i>Mereka, ada yang sudah lama menyimpan dalam angan keinginan untuk menyambangi Mahameru. Namun terganjal berbagai hal. Kesibukan aktivitas sehari-hari mendapat porsi paling besar dalam daftar tertundanya niat mereka pergi ke sana. Tak sedikit juga yang menjadikan Semeru sebagai tujuan pertama dalam sejarah pendakian mereka, termasuk saya. (h.65)</i>

Jumat, 18 Oktober 2013

Niskala

NiskalaNiskala by Daniel Mahendra

My rating: 4 of 5 stars


right book at the right time to read.

bacalah jika kamu merasa ragu.



View all my reviews

The Various Flavours Of Coffee - Rasa Cinta dalam Kopi

The Various Flavours Of Coffee - Rasa Cinta dalam KopiThe Various Flavours Of Coffee - Rasa Cinta dalam Kopi by Anthony Capella

My rating: 4 of 5 stars


Aku bukan penggemar kopi. Bukan karena tidak suka, tapi lebih ke masalah kesehatan. Minum kopi bisa membuat perutku mual dan berkeringat dingin. Mungkin karena kandungan kafein di dalamnya yang memacu detak jantung lebih cepat dan juga memacu asam lambung untuk berproduksi sehingga hanya kembung yang kurasakan ketika memaksakan diri menenggak segelas kopi yang berbau harum untuk memaksa mata tetap melotot ketika lelah.

Sialnya, aku mencintai aroma kopi.

Lalu kusadari, masalahku dengan kopi ini hanya terjadi ketika minum kopi instan dalam sachet. Semua kopi sachet yang kuminum, sampai yang namanya terkenal secara internasional pun berefek sama pada perutku. Sampai aku menemukan satu merk yang dihidangkan padaku ketika aku meeting di pabrik pembuatnya. Yang juga memproduksi permen kopi terkenal. Harumnya membuatku mencicipnya sedikit ketika masih panas dan berbuih. Eih, satu jam, dua jam, sampai pulang, tak bermasalah dengan perutku. Akhirnya sesekali aku mencobanya, hanya dengan merk dan jenis itu.

Namun memang kopi itu harus diminum dalam kondisi tertentu. Kadang aku nyaman meminumnya, kadang juga tidak. Mungkin ada satu kondisi lelah yang tak tertanggungkan oleh kopi.

Awal tahun ini aku terbang ke Belitong. Di sana terkenal dengan kedai kopinya sebagai tempat bermasyarakat, bersosialisasi antar penduduknya. Aku mencoba minum kopi di saat sarapan di satu kedainya. Aromanya yang harum, dari bubuk kopi lokal yang dimasak terus menerus di tungku batu, menguarkan bau yang menggoda untuk dicicip. Dan ternyata, tidak bermasalah dengan perutku.

Aku jarang minum kopi kecuali butuh. Dan terkadang aku lebih memilih minuman lainnya untuk menjaga mata dari kantuk. Namun kopi-kopi lokal ini, yang dimasak dengan air mendidih, bukan dengan air dispenser, memang memberikan sensasi menggoda. Sehingga aku pun jadi rajin mencobai kopi-kopi lokal di tempat-tempat yang kudatangi.

Membaca buku ini membuatku merindukan lagi harumnya kopi. Bagaimana ia berada di gudang dan meraup segenggam biji kopi untuk dibaui, membuatku kembali ke gudang harum di belakang toko Kopi Aroma Bandung. Cara menikmati kopi dengan mencium dan menyesapnya sebagai teman diskusi membuatku percaya bahwa peminum kopi adalah pemikir. Bertualang mencari bibit kopi terbaik hingga Afrika dan Brasil, hingga sejarah moka yang berasal dari kota Mecca. Dalam beberapa cerita lain yang pernah kubaca juga dikisahkan bahwa kopi dibawa ke Indonesia oleh pedagang dari Arab.

Kopi yang tersaji dari rumah hingga gelas di warung atau di kafe mahal di sebuah pusat perbelanjaan memberikan gengsi pada lokasi meminumnya.
Tapi untukku tempat minum kopi hanya satu : di material berbahan gelas. Aku nggak suka kopi di cangkir kertas.



View all my reviews

Labirin Rasa : Beri Ruang untuk Hati Temukan Cintanya

Labirin Rasa : Beri Ruang untuk Hati Temukan CintanyaLabirin Rasa : Beri Ruang untuk Hati Temukan Cintanya by Eka Situmorang-Sir

My rating: 3 of 5 stars


Berhubung begitu banyak pembaca menulis terntang Kayla yang keriting dan jerawatan (sesaat ngaca, enggak ah, gak jerawatan) jadi aku mau melihatnya dari satu sosok yang nyebelin sepanjang bacanya. Iyah, Ruben. Cowok ganteng yang nyebelin ini menghiasi lebih dari separuh cerita buku ini. Eh, bukan sekadar hiasan, ding. Ia pangeran malah.. (lah, kalau pangeran sih pajangan ateuh..)

Pertama kali Kayla ketemu Ruben di kereta Jakarta - Jogja. Cowok yang digambarkan gantengnya mirip Adipati Dolken ini (menurut saya ya, kalau menurut kamu enggak ya sah-sah aja) berhasil memikat hati Kayla sejak pertama kali bertemu. Si Ruben ini sok kegantengan banget, mentang-mentang disuruh nganter-nganterin cewek ikal jerawatan, terus merasa dirinya lebih oke gitu dan asik menebar pesona. Padahal, dia kan bisa aja nggak mau temenan dngan alasan nganter-nganter pacarnya yang cantik bak pramugari itu.

Kan, dengan Ruben yang sok baik ke Kayla, bikin si cewek ini ngerasa yang enggak-enggak. Apalagi di umur segitu masa kuliah, kayaknya emang harus sah punya gandengan buat dibawa ke mana-mana. Potensi Kayla buat ge-er nih gede banget, apalagi kota wisata macam Jogja gitu kan, ditemani senyum Ruben pula yang sangat meruntuhkan iman.

Kedua ketemu Ruben lagi sesudah ia lulus kuliah, tentu saja Kayla sudah agak cakepan sesudah lulus kuliah. Mereka jalan bareng lagi waktu ke Medan, bahkan ke Danau Toba berdua. Ya ampuunnn... ini Ruben nyebelin lagi deh. Masa waktu jalan sama Kayla, dia masih sempet flirting kiri kanan, sih? Danau Toba itu indah loh, seharusnya menjadi lokasi yang tepat untuk menyatakan cinta, tapi apa yang Ruben lakukan?

Lagi-lagi dia tebar pesona dan sok yakin bahwa Kayla sudah begitu terikat dengan dirinya sehingga nggak mungkin lepas lagi. Ih, bodoh kamu mas! Cewek pejalan itu selalu hati-hati, nggak segitu gampangnya ngelepasin hati. Makanya kalau punya relationship, mau itu TTM atau HTS ya dijaga aja (eiyah, gak jelas juga) harus dimaintenance. Jangan mentang-mentang ngerasa cewek itu udah deket banget dan tergila-gila padamu, terus bisa dikasih sikap apa aja.

Dan di Jakarta akhirnya mereka jadian dong.. Walaahh butuh berapa tahun tuh buat menyadari bahwa Kayla yang dulu keriting dan jerawatan, udah menjadi wanita kantoran yang cakep. Sebel dong, kenapa ia baru ngeh Kayla pas udah cakep, yang selama ini jadi korban permainan hatinya. Nah sialnya, perubahan status dari HTS ke pacaran ini selalu bikin p-o-s-e-s-i-f. Kalau sudah kerja kan pilihan kesibukan orang cuma dua, sibuk dan sibuk banget. Kayla nggak sempet jalan-jalan lagi, gak sempet pacaran lagi, dan apa yang terjadi.. Ruben marah besar.

Emang sih kalau sudah pacaran, ada ekspektasi lebih daripada sekadar HTS-an. Pengen sering ketemu, pengen diperhatiin, pengen telfon tiap hari, pengen dikangenin, pengen diajak cerita bareng, ada ciuman ada temennya (masa sendiri, sih?) pengen.. yah, macam-macam deh.. betewe juga, hak dan kewajiban orang pacaran apaan sih ya sebenarnya? :D (lah, malah curcol).. dan terjadilah hal yang membuat Ruben menjadi cowok termenyebalkan sepanjang buku *ulek-ulek Ruben pake cobek*.

Saran buat cewek-cewek sih, kalau ada cowok yang semodel Ruben begini, hati-hati aja deh.. Memang nggak semua cowok ganteng itu nggak baik seperti nggak semua cowok jelek itu nyebelin, setidaknya yang ganteng nyebelin ini bisa dipelajari dari si Ruben ini. Cari trik dan siasat kalau pengen mendapatkan yang seperti ini. Kegantengan bukan selalu syarat sih, tapi bisa jadi bahan pertimbangan, haha. Dan cowok menyebalkannya nggak cuma satu di Labirin rasa. Ada banyaak.. kamu bisa lihat dan pelajari tipe masing-masing.

Ada David penggemar cewek seksi, ada Andy yang jutek, ada Patar yang protektif, bisa dipelajari lah tipe-tipe cowok dan upaya memenangkan hati. Eih, hati untuk dimenangkan? Emangnya kejuaraan?? Emangnya sayembara???
iya doongg, kan harus keluar dari labirin.. Untuk memenangkan Goblet of Fire. :))

"You came along. And I feel belonged. Giggling with plently happiness. Seizing the day business, I see the blue sky when you drop by. I don't know why but all of sudden, the flowers bloom and the images loom. I talk to an angel. I talk to you."




View all my reviews

Selasa, 13 Agustus 2013

Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa: Kumpulan Cerita Absurd

Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa: Kumpulan Cerita AbsurdSelama Kita Tersesat di Luar Angkasa: Kumpulan Cerita Absurd by Maggie Tiojakin

My rating: 4 of 5 stars


Ketika terpintas kata absurd, what's on your mind? Sering dikategorikan sebagai aneh, menjadi absurd itu menyenangkan. Kenapa? Ya, kita kan nggak perlu mikir apa-apa, just let it flow. Setiap pembicaraan yang bertopik awal apa, bisa lari ke mana dan menyisakan sesuatu yang nggak perlu dikenang. Tapi entah ada saja yang teringat.

Pikirkan latar. Baca paragraf-paragraf awalnya. Kau akan terlingkupi sehingga terfokus pada ceritanya. Itu yang membuat ceritanya kuat, tidak seperti cerpen-cerpen soliter yang bisa terjadi di mana saja. Lalu menjadikannya khas, sehingga cerita yang tertuliskan sesudahnya menjadi istimewa, hanya cocok untuk latar itu.

Ambil acak. Mulai dari cerita yang disuka. Lalu melompat-lompatlah. Kamu tak akan benar-benar tersesat. Seperti Maggie menulis di catatannya. Yang tersisa adalah pertanyaan. Hidup bisa terus berjalan walau penuh tanya kan?

Terletak di ujung dunia, di mana hujan turun tanpa henti dan matahari terus bersembunyi di balik awan gelap, kota ini menelan, mengunyah, dan melepehkan segala macam warna hingga kusam tanpa nyawa. Merah, kuning, biru, hijau, jingga, ungu, semua tampak sama saja jika dibalut sendu. Hanya ada satu warna yang konstan di sini; yaitu abu-abu. Bahkan air laut yang mengelilingi tepian kota tampak keabuan. Begitu pula dengan langit yang memayungi serta tanah yang menjadi pijakan kami.


Seketika duniamu berpindah dari langit biru ke kota kelabu ini. Tersesat di dalamnya sampai tuntas, dan bertanya, kenapa ia tetap berdiam di situ?

Lalu beralihlah ke halaman 154, di sebuah ruang keluarga yang tenang. Hal unik tidak selalu di kehidupan yang unik. Hal ini bisa saja berawal dari kehidupan sehari-hari, yang selalu berulang setiap hari, di waktu yang sama.

Salina buru-buru menghabiskan sajian makan malam yang tersedia di atas meja sambil terus melirik ke arah jam dinding. Pipinya menggembung, penuh makanan. Ia mengunyah sekuat tenaga. Ibu memperhatikan gerak-gerik putri bungsunya dengan mata mendelik. "Makan yang benar," ujar wanita paruh baya tersebut. "Nanti tersedak. Nggak bisa napas."


Ambil buku ini beserta setumpuk kartu remi. Raih satu kartu acak secara tertutup. Cocokkan dengan urutan cerpen ini. Mulailah membaca.

Atau senandungkan lagu bintang kecil sambil jarimu menari di atas daftar isi. Ketika lagu berakhir, perhatikan di mana telunjukmu mendarat. Mulailah membaca.

Atau kau punya cara lain untuk mulai? Probabilitas itu matematis. Jangan selalu menyalahkan ketersesatan. Bahkan Alice pun memilih menyusuri Wonderland, alih-alih menyesali ketersesatannya. Di langit, banyak yang bisa dilihat. Bulan sabit semalam, atau hujan meteor di langit jernih hitam.

Cobalah, karena tak perlu cara normal untuk membaca cerita absurd.



View all my reviews

Unforgettable

UnforgettableUnforgettable by Winna Efendi

My rating: 5 of 5 stars


berbicara dengan seseorang, tanpa memandang, siapa, apa, dan latar, itu menyenangkan. kamu bisa jujur kepada diri sendiri, tanpa menimbulkan impresi.



View all my reviews

Rabu, 24 Juli 2013

Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya

Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun CahayaSurat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya by Dewi Kharisma Michellia

My rating: 5 of 5 stars





Menutup buku ini, aku merasa sebagai seorang alien karena bisa menikmati ceritanya yang datar. Sambil melamun di tepi jendela, bercerita tentang kehidupannya yang naik turun, hilang, terbang, larut dalam pikiran.

Dear Mi,
Kau buka ceritamu dengan patah hati. Sesuatu yang mestinya terdengar sedih dan mengenaskan sebagai alasan kenapa surat-surat ini ada. Tapi kau tidak larut dalam kesedihan. Kau berusaha untuk membuatnya tidak tahu bahwa kau sedih ketika hatimu yang retak akhirnya hancur berkeping. Kau beranikan diri datang ke pernikahan itu dengan wajah palsu. Perasaan yang datar. Yang dituliskannya dalam cerita.

Dear Mi,
Aku melihat kau tidak membiarkan dirimu terombang-ambing. Mencari cercah keseharian yang menyita kesibukan. Mengisi hari untuk melupakan. Menikmati rutinitas, kejaran waktu, lalu larut dalam lelah untuk kembali memulai hari. Tapi bukan ini yang kau cari. Ini pelarian, karena sesungguhnya kau masih memikirkan dirinya.
Banyak hal konyol kulakukan bersamanya, terlepas dari tubuh kami yang sama-sama menua. Pada pertemuan kelima dan keenam, kami berpura-pura tak saling mengenal. Di mal dan galeri lukisan, kami berpencar membelah kerumunan, berintraksi dengan orang-orang yang tak kami kenal. Sejam kemudian, aku sudah menggandeng seorang pria, dan kau menggandeng seorang perempuan. Sebelum kembali bertemu, kami memastikan identitas orang-orang itu : apakah mereka lajang, usia mereka berapa, apa ada pekerjaan tetap dan lainnya. Setuntasnya, kami menuju tempat yang sudah kami janjikan. Disana, kami memperkenalkan pria dan perempuan yang tak kami kenal itu kepada satu sama lain dan menjodohkan mereka.
h.124

Dear Mi,
Kau mencintai lagi dalam hujan. Kau membuatku tersenyum membaca suratmu. Akhirnya kau temukan bahagiamu, semoga tuk selamanya. Lagu, puisi, tari, tulisan yang tak bisa banyak dibagi dulu, kini menemukan duetnya. Kau membuat hatimu berbicara, melayang, dan bercengkrama. Kau bahagia.

Dear Mi,
Ketika datang laramu, dan kau hanya bisa membawa ceritamu ke dunia absurd, dunia khayalan yang tak sengaja tercipta, imaji kegelapan yang kau tenggelami. Aku sedih. Aku ingin menolong tapi kau menjauh, kau membangun pagar di sekelilingmu agar cuma kau yang merasakan sakitmu.
Mungkin saat ini sebenarnya aku tidak sedang mencari-cari Tuhan -- atau mencari-carimu yang ada pada jarak jutaan tahun cahaya. Mungkin tidak mempertanyakan kepercayaanku. Aku hanya mempertanyakan separuh bagian dari diriku. Bahkan aku tak pernah mampu menemukan jalan untuk bernegosiasi dengan diriku yang angkuh itu. Tak pernah ada konsesi. Tak pernah ada kesepakatan.
h.216


Dear Mi,
Biarkan aku menolongmu. Kuajak terbang melihat bintang, ke mana tak ada lagi yang kehilanganmu dan merasa kau tinggalkan. Kuajak kau melalui asteroid untuk belajar melalui kerikil yang menghadang melayang. Kugandeng kau menyusuri nebula kabut susu untuk sebelum berpindah galaksi.

Suratku tidak panjang, namun aku ingin kuperpendek jarak sejuta tahun cahaya antara kita.

salam,
Alien.
kuharap malam ini, kita melihat purnama yang sama.

Judul: Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2013
ISBN13: 9789792296402
Harga: Rp 45.000



View all my reviews

Selasa, 23 Juli 2013

Kapitan Pedang Panjang

Kapitan Pedang PanjangKapitan Pedang Panjang by Fira Basuki

My rating: 4 of 5 stars


Namaku Lelananging Djagad, artinya lelaki yang amat lelaki atau sebutan lain untuk Arjuna. Aku lari dari keluargaku yang ningrat untuk mencari pengalaman hidup. Aku tidak mau disekolahkan ke negeri Belanda, negeri penjajah yang merampas harta negeriku. Aku menceburkan diri ke lautan, dengan nahkoda Kapten Darmo, dan kapalnya Sembrani, si pemilik Pedang Panjang. Kapten Darmo berkata bahwa Sembrani si kuda terbang akan menuntun jalannya di lautan. Jika sedang dalam keputusasaan, Sembrani akan muncul, dan menolongmu.

Aku bertempur melawan Belanda di lautan, sesaat sebelum kemerdekaan tanah air yang kucintai ini. Lepas dari tawanan tentara Belanda aku ditahan oleh Jepang, kaum kuning kecil yang datang dari timur dan ingin menguasai tanahku juga lautku. Semua demi kekuasaan. Diselamatkan Sekutu, aku merapat. Kembali ke Surabaya, menjejak tanah kembali. Dan bertemu dengan Kemuning, nenekmu, Laras.

Ombak bergulung-gulung. Gelap gulita, petir menyambar-nyambar. Padahal baru saja kami berjalan, kenapa sudah diterjang ombak seperti ini. Kapal Sembrani, demikian kuberi nama seperti Kapal Jung Jawa yang dulu dimiliki Kapten Darmo, bergoyang ke kiri kanan terempas ombak.
“Gulung layaaaar!” teriakku.
Satu per satu layar digulung dengan susah payah karena angin seperti menentangnya. Sebagai nahkoda pun aku tidak akan berfungsi banyak karena kemudi bergerak sendiri ke kiri dan ke kanan. Keadaan jadi gelap gulita, semua cahaya di kapal mati. Kami mati-matian mengeluarkan air dari kapal.
Ya, Gusti! Jangan biarkan kapal ini terbalik!
(h.86)



Namaku Laras Maharani Djagad. Aku orang tua tunggal yang sedang membaca buku harian kakekku. Hidupku tidak bisa dibilang normal. Aku mengejar cinta seorang Rain, yang kukenal dan berpisah, dan berusaha merebut cintanya. Aku tahu Rain ada, dan bersamaku, tapi apakah hatinya untukku? Sementara aku terus membangun karirku, bepergian ke luar negeri, untuk memantapkan hatiku apakah aku memilihmu, Rain. Tapi apakah kau memikirkanku di kala aku memikirkanmu? Apakah kau bisa menerimaku dan Rose, yang juga merindukan seorang ayah?

Ada garis hidup yang harus dijalani. Ada kebetulan yang mungkin terjadi. Ada kaitan yang di luar nalar kita. Ada petunjuk yang datang dari mimpi. Masa lalu dan masa kini, tak berbeda, hanya dipisahkan oleh hitungan waktu. Ada doa yang harus dipanjatkan. Pedang warisan ini harus berjalan ke mana ia harus berada. Ini adalah jalan pedang mencari tuannya.

Ketika saatnya lepas, maka harus ikhlas. Karena takdir sudah menyuratkan demikian.

Aku membaca buku dengan plot baju mundur yang menarik. Mengenang petualangan Djagat, meriuh dengan pelarian Laras. Mengikuti ombak dan Sembrani Djagat, dan gemuruh hati Laras. Mereka sama-sama kuat dalam dunianya masing-masing. Dalam perjuangan, atau dalam pesta. Masalah itu bisa dibuat, bisa juga tak terprediksi. Namun bahagia itu diciptakan.



View all my reviews

Siluet dalam Sketsa

Siluet dalam SketsaSiluet dalam Sketsa by Gerakan Indonesia Membaca Sastra (GIMS)

My rating: 3 of 5 stars


Ada kekhawatiran ketika membaca sebuah antologi cerpen. Kekhawatiran bahwa tidak semua ceritanya bagus dan aku suka. Apalagi ini. Ada 12 penulis yang bergabung dan menyuarakan isi hatinya dalam cerita.

Semuanya tentang laki-laki, makhluk yang menurut perempuan meresahkan dan terkadang bikin masalah. Yang menyenangkan bila mencinta dengan ucapan puji semanis madu. Cerita dari berbagai sudut. Awal-awal cerita terasa beberapa cerpen terlalu lambat atau terlalu cepat.

Beruntunglah, cerita Arnelis berjudul Penghulu bisa memikat hatiku. Kisah seorang penghulu menghadapi lelaki amat muda yang jatuh cinta pada anaknya. Aku juga suka Lelaki dari Utara tulisan Indah Ariani.

Namun lama-lama kami jadi mahir melakukan apa yang sebelumnya sulit kami pahami. Aku mulai bisa membaca arah mata angin, dan dia mulai membaca bibir dan hati dengan baik. Tapi hanya arah mata angin, bibir, dan hati kami berdua. Itu saja akhirnya.

Aku juga suka Kembang Kitiran dari Nina Samidi. Dalam perumpamaan penari, perempuan akan mengabarkan dunia kalau ia jatuh cinta, sementara lelaki akan menyimpan baik-baik perasaannya. Kalau perlu merahasiakannya. Dang! Seperti benar adanya begitu.

Makin halaman belakang cerpen-cerpennya juga bagus, tidak terpatok pada ending cerpen yang selalu kejutan walaupun tetap ada satu dua yang seperti itu. Aliran katanya renyah dengan bahasa kenes, juga ada dengan renungan tokoh yang tidak paham dirinya.

Sketsa itu kini tergantung di dinding ruang kerjaku. Dengan memori yang masih kuat terpatri di benak, kubuat gambar dirinya di dalamnya.





View all my reviews