ulasan. resensi. kesan.

ulasan. resensi. kesan. ini bukuku, apa bukumu?

Jumat, 01 Maret 2013

Garis Batas: Perjalanan di Negeri-Negeri Asia Tengah

Garis Batas: Perjalanan di Negeri-Negeri Asia TengahGaris Batas: Perjalanan di Negeri-Negeri Asia Tengah by Agustinus Wibowo

My rating: 5 of 5 stars






View all my reviews

Flipped

FlippedFlipped by Wendelin Van Draanen

My rating: 4 of 5 stars






View all my reviews

Kuda Terbang Maria Pinto

Kuda Terbang Maria PintoKuda Terbang Maria Pinto by Linda Christanty

My rating: 4 of 5 stars


dapat di toko bukunya Iiw Anak Hilang, dan ceritanya keren banget.



View all my reviews

Oliver's Story

Oliver's StoryOliver's Story by Erich Segal

My rating: 4 of 5 stars






View all my reviews

Love Story

Love StoryLove Story by Erich Segal

My rating: 5 of 5 stars


Where do I begin
To tell the story of how great a love can be
The sweet love story that is older than the sea
The simple truth about the love she brings to me
Where do I start

With her first hello
She gave new meaning to this empty world of mine
There'd never be another love, another time
She came into my life and made the living fine
She fills my heart

She fills my heart with very special things
With angels songs, with wild imaginings
She fills my soul with so much love
That anywhere I go I'm never lonely
With her around, who could be lonely
I reach for her hand-its always there

How long does it last
Can love be measured by the hours in a day
I have no answers now but this much I can say
I know Ill need her till the stars all burn away
And she'll be there

How long does it last
Can love be measured by the hours in a day
I have no answers now but this much I can say
I know Ill need her till the stars all burn away
And she'll be there


http://www.youtube.com/watch?v=ih3Z9m...
soundtrack dan cuplikan filmnya

Aku sudah menonton filmnya yang cantik, dan ratusan kali mendengarkan lagunya dalam berbagai versi, dari instrumentalia, dinyanyikan Andy Williams, bahkan yang diaransemen oleh Idris Sardi berjudul Romi dan Yuli, untuk film Pengantin Remaja dengan jalan cerita yang mirip. Karena aku hapal nadanya, setiap ketemu piano selalu tergoda untuk bertangtingtung lagu ini.

Semua feel yang dihasilkan untuk berbagai lagu ini sama : sedih. Perasaan menyayat dan kehilangan digambarkan dalam irama pelan dan cinta yang begitu besar mengharukan. Setiap mendengar lagu itu, rasanya mataku sebak mengingat kisah film yang dimainkan oleh Ryan O'Neall dan Ali McGraw itu.

Baru tahun ini aku membaca bukunya yang didapat dari Secret Santaku di seberang lautan dan membaca kisah Oliver dan Jenny ini.

"Apa yang dapat kita ceritakan mengenai gadis dua puluh lima tahun yang telah tiada?"

Love Story menjadi banyak sekali inspirasi film-film atau buku dengan tema sejenis. A Walk to Remember-nya Nicolas Sparks yang difilmkan dengan pemain Mandy Moore dan juga mengangkat kisah sepasang kekasih yang dipisahkan oleh maut. Cerita sederhana masa sekolah yang menimbulkan ketertarikan, sampai masa dewasa ketika cinta mereka diuji.

Dan sekali lagi, membaca buku ini membuat mataku berkaca-kaca untuk kisah yang melahirkan lagu yang indah ini...







View all my reviews

Sepeda Merah Vol. 2: Bunga-Bunga Hollyhock

Sepeda Merah Vol. 2: Bunga-Bunga HollyhockSepeda Merah Vol. 2: Bunga-Bunga Hollyhock by Kim Dong Hwa

My rating: 4 of 5 stars


Cerita di buku kedua ini lebih mengharukan daripada Sepeda Merah 1. Di sini lebih banyak diceritakan tentang pasangan kakek nenek yang mendiami Yahwari.

Bisa dibayangkan perasaan orang-orang tua itu yang ditinggalkan anak-anaknya merantau, baik menjadi bahagia atau sedih, mereka tak berhenti mendoakan anak2nya..,

Hanya tukang pos pelipur kangen mereka yang menyampaikan kabar dari orang-orang yang mereka sayang...





View all my reviews

Sepeda Merah Vol. 1: Yahwari

Sepeda Merah Vol. 1: YahwariSepeda Merah Vol. 1: Yahwari by Kim Dong Hwa

My rating: 4 of 5 stars


Buku ini mengingatkanku pada masa kecilku yang sering berkirim-kiriman surat dengan sahabat penaku di luar kota. Ketika itu aku selalu senang apabila tukang pos datang dengan sepedanya dan membawakan surat untukku. Di masa itu, aku juga masih mengoleksi perangko dan sampul hari pertama.

Aku juga teriingat pada almarhum kakekku dan uwakku yang bekerja di Kantor Pos dulu, dan sering menceritakan tentang pengalaman-pengalaman mereka bekerja dengan surat menyurat. Teringat kantor pos almarhum uwakku di Kadugede Kuningan, Cirebon, Jawa Barat, tempat aku sering menghabiskan masa liburan dengan bermain-main petak umpet di dalam kantor pos, kadang membantu menimbang paket, melihat-lihat buku perangko yang belum dirobek, bermain-main dengan cap tanggal. Warna jingga yang selalu menghiasi kantor dan rumah dinas mereka adalah warna kenangan masa kecilku.

Seperti kakek dan uwakku, si tukang pos bersepeda merah ini juga sangat mencintai pekerjaannya, mengantarkan kabar pada orang-orang tanpa alamat surat, hanya dengan menamai rumah dengan cantik.

Buku ini membuat... tersenyum manis.



View all my reviews

The Giving Tree

The Giving TreeThe Giving Tree by Shel Silverstein

My rating: 4 of 5 stars






View all my reviews

The Missing Piece

The Missing PieceThe Missing Piece by Shel Silverstein

My rating: 4 of 5 stars


complete isn't always perfect.
when you think you find something fit, maybe it will hold you close.



View all my reviews

Rabu, 30 Januari 2013

Rumah Kopi Singa Tertawa

Rumah Kopi Singa TertawaRumah Kopi Singa Tertawa by Yusi Avianto Pareanom

My rating: 4 of 5 stars


Ketika pertama membuka bungkusan buku dari Secret Santa, Rumah Kopi Singa Tertawa ini, aku girang banget. Tepat sehari sebelum aku menerima buku ini, aku hampir saja berniat membeli buku ini lewat bukabuku.com. Tapi karena sedang nggak terlalu niat belanja, jadi cuma sampai tahap lihat-lihat saja sambil senang, o, buku ini ada di sini toh. Mengingat aku sekarang jarang ke Gramedia karena jarang diskon, toko buku online menjadi pilihan menarik.

Aku tertarik buku ini karena judulnya yang unik, dan covernya manusia berwajah cakil. Terlebih lagi, yang promo buku ini adalah Ninus, mantan editor KPG yang keren, sehingga percaya deh bahwa buku ini bagus. Bahkan Ninus dulu mengajak datang ke launchingnya di Coffewar, yang dijadikan setting sampul buku ini. Tapi sayangnya, aku berhalangan hadir, sayang sekali.

Isi ceritanya adalah kumpulan cerpen tentang manusia, tentang kematian, tentang perempuan, bahkan ada Sora Aoi dalam bahasan. Cerpen yang dikumpulkan, seperti kelompok-kelompok orang di sebuah cafe, atau rumah kopi, memiliki satu keriuhan sendiri-sendiri tanpa harus bertaut satu sama lain. Ceritanya mengalir bebas sampai agak kenyang, kemudian bubar sendiri-sendiri.

Mana ya cerpen favoritku? Semuanya aku suka. Yusi menulis cerpennya dengan lugas, tanpa bahasa yang berbunga bunga. Menggelitik ketika membuka paragrafnya :
Bu Sewon, pemilik rumah yang kukontrak di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, senang sekali membagi masakan dari dapurnya. Ia pemurah, kirimannya selalu dalam porsi besar. Amal ini akan menjadi sesuatu yang menggembirakan semua orang sekiranya tidak ada fakta keras : masakannya tidak pernah enak.
(Dari Dapur Bu Sewon - h.124)


Tema-tema cerpennya sederhana, namun diolah dengan cara yang unik. Bagaimana bisa kamu teringat pada masa kecil ketika ada pemicunya di masa dewasa.

Sewaktu bocah, ia pernah menggetok kepala anak buta. Ini terjadi 30 tahun yang lalu, Manik benar-benar sudah melupakan dosanya kalau saja tak ada agen asuransi sialan itu.
(Dosa Besar no.14 - h.19)


Beberapa kali Yusi menyelipkan cerita wayang, empatinya terhadap penderitaan Ekalaya, si jago panah yang tak mujur nasibnya karena kesombongan Arjuna, juga tentang punakawan seperti si Semar yang bijak atau Petruk yang berhidung panjang. Apakah hidung panjang pertanda suka bohong?

Ada cerpen yang terdiri dari beberapa cerita pendek seperti keluarga yang memiliki kesamaan. Kisah perempuan, selalu menjadi tautan yang menarik.

Kecuali darah, kau bisa memilih atau menawar segalanya di dunia ini. Makanan ringan kesukaanmu, tim sepakbola yang ingin kaubenci setengah mati, pekerjaanmu, pasanganmu, agamamu, kecenderungan seksualmu, segalanya. Kau bahkan bisa memilih tak beragama atau aseksual. Tapi darah, belenggunya abadi.
(Tiga Maria dan Satu Mariam - h.131)


Yusi Avianto Pareanom, lahir dan besar di Semarang. Lulus dari Teknik Geodesi UGM, lalu berkarir sebagai wartawan di Forum Keadilan dan Tempo. Karena saat ini berkhikmad di Penerbit Banana, aku yakin ia suka buku Catcher in the Rye, cerita tentang Holden Cautfield yang pemarah itu.

Maut itu rahasia. Tapi, tidak selalu begitu. Beberapa orang tahu bagaimana dan kapan kematiannya akan tiba. Seorang ninja misalnya, sangat paham bahwa ia hanya bisa mati di tangan ninja lain jika tak ingin meninggal dunia karena sebab-sebab alami. Jika sudah bosan bernyawa, ia tinggal cari gara-gara dengan sesamanya yang lebih lihai.
(Cara-cara Mati yang Kurang Aduhai - h.9)


Antara kehidupan dan kematian, Secret Santaku adalah seseorang yang sehari-hari menolong orang di rumah sakit di Halmahera sana, namun suka berceloteh tentang buku. Terima kasih Putri Utama. Cerah harimu di lautan yang biru. Semoga kelak bisa mengunjungimu.




View all my reviews

Ekspedisi Ciliwung - Laporan Jurnalistik Kompas: Mata Air, Air Mata

Ekspedisi Ciliwung - Laporan Jurnalistik Kompas: Mata Air, Air MataEkspedisi Ciliwung - Laporan Jurnalistik Kompas: Mata Air, Air Mata by Tim Ekspedisi Ciliwung Kompas 2009

My rating: 5 of 5 stars






View all my reviews

Les Miserables

Les MisérablesLes Misérables by Victor Hugo

My rating: 5 of 5 stars






View all my reviews

Remember When

Remember WhenRemember When by Winna Efendi

My rating: 3 of 5 stars


Cerita ini mengembalikanku ke masa-masa SMA ideal tipikal yang masih diulangi dengan resep yang sama oleh sinetron2 FTV. Ada cowok ganteng yang hobi main basket, ada cewek cantik yang (untungnya) suka melukis. Ada cowok pintar yang aktif sebagai ketua OSIS, ada cewek pintar, cupu, namun ternyata cantik.

Freya adalah tokoh favoritku. Alasannya simpel, karena mirip aku waktu sekolah. Pintar, rajin, cuma bedanya.. Ia ternyata cantik, sementara aku biasa aja.. :D Karakter lainnya sering muncul di cerpen majalah remaja, namun sayangnya, di kehidupan nyata nggak.

Adrian. Waktu aku SMA, nggak ada anak basket yang ganteng dipuja cewek-cewek, sampai2 aku mikir beneran nggak sih cerpen2 itu. Sampai akhirnya waktu kuliah ternyata makhluk pemain basket yang ganteng itu beneran ada dalam wujud Wiro Ribismo dan Dhani Marlen yang dipuja cewek-cewek seantero UI.

Moses yang dingin, pintar, ketua OSIS. Di SMAku dulu juga nggak ada ketua OSIS sekeren ini. Adanya ketua yang biasa-biasa aja. Oh iya, untung Moses dan Adrian nggak satu paket. Jadi punya keunggulan masing-masing. Kalau di cerpen remaja sih, segala kebaikan itu jadi di satu orang.

Gia. Model seperti ini selalu muncul di sekolah mana pun. Dari SD sampai kuliah. Cantik, kenes, pandai bergaul. Namun bedanya di cerita ini, Gia sendiri, tidak ditemani serombongan cewek agak cantik, agak gaul yang nyinyir.

Ceritanya manis, mudah dicerna, dan mudah selesai. Cocok dibawa liburan. Dibaca sejak dari bis bandara sampai Depok.





View all my reviews

Camar Biru

Camar Biru: Cinta Tak Selalu Tepat WaktuCamar Biru: Cinta Tak Selalu Tepat Waktu by Nilam Suri

My rating: 3 of 5 stars



Di hari ketujuh itu, gue belajar kalau warna hitam adalah warna yang paling dominan. Yang bisa menutupi warna-warna pastel yang biasa gue puja. Juga bahwa doa kadang hanya rangkaian kata tanpa makna. Dan fakta bahwa manusia tidak lebih istimewa dari bola.

Bahwa manusia bisa tetap menangis
walau tanpa air mata.

Bahwa hati bisa saja berhenti berfungsi,
tetapi tetap nyeri.

Jantung bisa saja terasa meledak,
tetapi ternyata tetap berdetak.

Bahwa ternyata kita bisa mati,
walau tetap hidup.

(h.65)


dan kamu tetap di sana, menelan penderitaanmu sendiri.



View all my reviews

Sabtu, 26 Januari 2013

Museum Kata di Negeri Laskar Pelangi


Tak pernah kubayangkan akan bisa ketemu Andrea Hirata di tanah kelahirannya, Belitong, yang sekarang masuk provinsi Bangka Belitung di Indonesia. Trip awal tahun 2013 kemarin kuikuti hanya karena ingin menjelajah pulau mungil yang terkenal karena Andrea merangkai cerita dalam buku berjudul Laskar Pelangi yang akan mendunia karena diterjemahkan dalam 18 bahasa.

Lokasi tujuan pertama adalah replika SD Muhammadiyah Gantong, yang berjarak sekitar 2 jam dari Tanjung Pandan, tempat pesawat kami mendarat. Tak seperti di set aslinya di tepi jalan, replika ini terletak di atas tanah perbukitan yang berwarna putih. Belitong memang banyak mengandung kapur pada tanahnya. Bangunan ini mirip sekali dengan set lokasi sekolah tempat Ikal, Lintang dan teman-temannya menuntut ilmu sekolah dasar. Dinding-dinding lapuk, kursi-kursi yang rusak, ruangan kelas yang hanya dua, bahkan balok kayu penahan dinding masih terpasang di sini. Memang, buku dan film ini berhasil menjadi ikon untuk pulau kecil ini sehingga apa pun yang berbau Laskar Pelangi bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan yang datang.





Sesudah siang berjalan-jalan ke bendungan, kami menuju desa tempat tinggal Andrea Hirata. Di sana, ia mendirikan Museum Kata Andrea Hirata, yang berisi koleksi poster-poster, kutipan-kutipan menggugah, juga contoh sampul dari berbagai edusu buku karyanya. Museum ini berada dekat dengan rumah orang tua Andrea Hirata. Bentuknya mengikuti bebanyakan rumah asli di sana, dengan kayu-kayu, atap seng. Lantainya masih dari kayu beralaskan tikar. Sangat alami.

Aku pernah beberapa kali bertemu dengan Andrea di Jakarta, dalam beberapa acara perbukuan, namun tidak bisa disebut kenal. Tidak bisa dibilang ngefans sekali dengan bukunya, namun secara umum aku suka dengan ceritanya. Aku bahkan punya hampir seluruh buku karya Andrea Hirata. Menurutku, cerita-cerita Andrea sangat Melayu sekali, seperti sastra-sastra lama Indonesia. Ceritanya santai ringan mudah dibaca, kenes dan bisa diterima siapa saja, mengandung unsur petualangan dan imajinasi yang pasti disukai anak-anak sampai dewasa. Tokoh-tokohnya hidup dan lucu. Cerita terakhir yang kubaca, Cinta di dalam Gelas adalah karya Andrea favoritku. Cerita tentang seorang yang belajar catur sampai lewat internet, juga belajar bahasa Inggris dengan tekun, dengan latar kebiasaan-kebiasaan orang Belitong sehari-hari. Warung Kopi yang menjadi lokasi pertandingan benar tersebar di sekeliling Belitong. Salah satu sub babnya berjudul Buku Besar Peminum Kopi tentang berbagai kebiasaan di Belitong, entah benar atau tidak, tapi bisa membangkitkan tawa.



Sangat beruntung karena ketika kami datang ke Museum Kata Andrea Hirata, si pemilik museumnya ini ada. Dengan ramah ia meladeni tamu-tamu yang ingin berfoto bareng dengannya di depan sebuah tungku yang senantiasa memanaskan kopi khas Belitong yang bisa dinikmati sembari mengobrol dengan Andrea. Agak sayang sih, karena sebagian besar peserta trip bukan pembaca buku sepertiku, sehingga mereka cuma heboh berfoto-foto saja. Maka ketika aku mendapatkan kesempatan untuk ngobrol dengannya, aku utarakan saja bahwa aku sangat suka membaca dan tergabung baik dalam Goodreads Indonesia dan Blogger Buku Indonesia.



“Apa itu Blogger Buku Indonesia?,” tanyanya. Kujelaskan bahwa Blogger Buku Indonesia adalah kumpulan orang-orang yang hobi nge-blog yang berkaitan dengan buku, dan terutama resensi buku.
“Penggagasnya mas Hernadi Tanzil dari Bandung,” tukasku. “Wah, Hernadi Tanzil saya kenal, dulu sering ketemu di Bandung,” ujar Andrea yang memang kita tahu, pernah tinggal dan bekerja di Bandung. Pantas saja, memang Bandung yang sempit itu memang mungkin mempertemukan orang-orang yang giat dengan dunia perbukuan.
“Saat ini sedang dirintis ke arah website, namun sekarang sudah ada blog agregator yang mengumpulkan link dari blog-blog yang jadi anggota, sehingga resensi atau post baru bisa diintip lewat sana,” sambil berharap penjelasanku ini tidak salah.
“Wah, menarik sekali, ternyata ada ya kumpulan blogger yang hanya membicarakan buku..”

Weih, jadi bangga jadi bagian BBI, sampai-sampai aku promosikan seperti ini. Aku mengingatkan,”Aku terakhir ketemu mas Andrea di Jakarta, waktu itu ada pembacaan cerpennya Agus Noor di Teater Jakarta. Aku sedang bareng mbak Endah Sulwesi.” Iya, itu salah satu Blogger Buku yang paling jadul namun masih beken yang dulu suka sekali menulis resensi, namun kini sibuk dengan pekerjaaannya sebagai editor di salah satu penerbit.

“Kenal Kurnia Effendi juga dong?” tanyanya mengingat pada seorang kawan.
“Iya, dong. Masih aktif tuh mas KeF di acara perbukuan, terakhir ketemu juga waktu launching bukunya Leila S Chudori, Pulang.”
Andrea tertarik dengan aktivitas Blogger Buku Indonesia, namun karena aku pun tidak seberapa aktif, hanya memantau perkembangan BBI lewat facebook, aku hanya menceritakan beberapa kegiatan rutin, seperti posting bareng. Kan masih muda, masih bisa berkembang lagi kan, beb!


Beberapa lama mengobrol seru tentang dunia perbukuan, juga rencananya untuk berdiam di Perancis sambil promo buku-bukunya yang diterjemahkan. Berbagai jadwal tour sudah menunggu Andrea di Eropa dan Australia. Beruntung juga sebenarnya aku sempat menjumpainya lagi sebelum ia meninggalkan Indonesia. Entah kapan lagi akan ketemu dengannya. Sebenarnya aku agak menyesal karena aku berencana membawa buku Laskar Pelangi-ku untuk berfoto di depan SD Muhammadiyah Gantong, namun ketinggalan di Depok. Seandainya buku itu terbawa, pasti aku bisa mendapatkan tanda tangan Andrea di bukuku itu. Di Museum ini yang dijual hanya kaus Andrea Hirata, yang bisa dibeli dan ditantatangani olehnya. Seandainya buku-bukunya juga dijual di sini, pasti asyik bisa langsung mendapatkan tanda tangannya.



Kemudian siang itu juga kami dijamu dengan makan siang bersama ala Belitong, di rumah di samping Museum Kata. Setiap set untuk 4 orang, dengan urutan makan harus yang lebih tua dulu yang mengambil makanannya. Makanan khas Belitong ini amat lezat, atau memang kami yang memang sedang lapar-laparnya ditambah gerimis, membuat tak lama dimakan langsung habis.


Sebelum berpisah kami berfoto dulu dengan Andrea Hirata, salah satu ikon Belitung yang berhasil mengangkat daerahnya lewat sebuah karya seni tulis. Beberapa acara telah berlangsung di tempat ini dan mungkin akan terus berjalan seiring dengan majunya tingkat pariwisata di Belitong.



Usai dari daerah Gantong, kami ke Tanjung Tinggi yang di cerita Laskar Pelangi disebutkan sebagai daerah tempat tinggal Lintang, sahabat Ikal. Jarak yang ditempuh dengan mobil sekitar 2 jam, sehingga aku membayangkan bahwa Lintang menempuh itu dengan mengendarai sepeda, pakai bertemu buaya pula! Jadi bersyukur bahwa kita bisa sekolah dengan mudah dan berlomba mencapai mimpi agar tidak kalah dengan Laskar Pelangi.

depok. 26.01.2013 : 01.46
travel 4-6 Januari 2013 with Steffy & Devi. photo courtesy of us.

Rabu, 16 Januari 2013

Riddle Santa yang Ter-L(H)ambat

Sebelumnya mau minta maaf ke teman-teman BBI, duh, si Indri ini ke mana aja sih nggak posting-posting si riddle??


Jadi begini ceritanya, sesudah liburan Natal yang ke Dieng itu (tempat di mana aku memamerkan kaus BBIku, haha..) di kantor aku menerima sepucuk surat. Loh, mana bukunya? Sabar, akan kuceritakan kelanjutannya..

Pelan-pelan kubuka surat itu, yang bertuliskan alamat pengirim Secret Santa! Tetap pertanyaan kedua, mana bukunya?? Office Boyku yang kutugasi nerima buku sampai bosen tiap siang ditanyain, ada paket untukku gak?


Balik ke surat,yang kubaca dan ku paham isinya, kumasukkan lagi ke amplop lalu kumasukkan pouch besarku yang biasa kubawa ke mana-mana. Berdiamlah si riddle di situ untuk beberapa waktu. Aku berniat untuk meposting riddle tersebut sampai bukunya datang, makanya ketika orang-orang heboh untuk posting buku Secret Santa-nya, aku malah nggak bisa posting apa-apa.
Hmm, mestinya sih bisa diposting riddlenya doang..

Minggu demi minggu berlalu, tahun berganti, aktivitas kembali memuncak, sampai satu SMS tiba :
*cek ponsel*
ahhh, dodooolll.... udah kehapussss.....

Jadi intinya SMS yang terhapus itu dari bukabuku.com yang menanyakan lokasi di mana kantorku berada. Aku jawab : Buku apa ya?. Dijawab : Bukunya ada tiga, sudah dibungkus. Aku balas lagi : Saya nggak merasa pesan buku, apa itu buku hadiah ya? Sambil harap-harap cemas bin girang.
Oke, tentu saja isi SMSnya tidak persis seperti itu, namanya juga terhapus. Baru kemarin loh ngehapusnya..

Lalu tidak dibalas lagi. Lalu tak ada buku yang datang juga. Lalu aku sedih mengira Santaku sudah melupakan aku. Lagian ini sudah bulan Januari,.. ah, sudahlah. *lebay awal tahun* Tapi nggak perlu sampai nyanyi Butiran Debu, kan?

Keesokan sorenya, di tengah kegalauan karena gambar yang tak kunjung usai, tuntutan ngeprint dari si bos, datanglah si Office Boy tengil dengan bungkusan coklat di tangannya naik ke studioku di lantai 2 1/2. Horraaayyyy.... bukuku dataaaangggg... -tentu di sini nggak ada adegan peluk-pelukan sama office boy, karena emang nggak ada, dan nggak kehapus.



Benar saja, ketika dibuka, ada tiga buku iniiii....


itu kan wishlistku!! Pertama buku Rumah Kopi Singa Tertawa oleh Yusi Pareanom ini memang kepengen punya sejak si Ninus, teman di goodreads promosi buku ini di twitter. Bahkan sehari sebelum terima paket ini, aku sempat browsing di bukabuku.com juga, karena nyarinya di toko buku juga rada susah ya.. (bilang aja males nyari) *getok*

oii, kecup Santanya duluu..

Buku kedua, Love Story-nya Erich Segal dan Oliver Story juga kepengen baca dari dulu sejak nonton filmnya udah lama sih, dan dengerin lagunya oleh Andy Williams bolak-balik (dan punya keinginan terpendam untuk bisa main piano lagu Love Story ini).

Kemudian tadi siang dapat SMS lagi dari panitia Santa, hohoho.. kalau riddlenya harus diposting. Maka begitu sampai rumah malam ini aku berniat posting si riddle. Langsung kuubek pouch-ku dengan semangat untuk mencari amplop riddle itu. Dan ternyata saudara-saudara... HILANG! *indri minta dikarungin Santa*
wakwaaawww...


Entah di mana aku sempat bongkar-bongkar pouch-ku itu. Yang jelas tahun baru aku di Bandung, malah ketemu dengan beberapa member BBI Bandung juga, Annisa, Astrid, Sabrina, dan oh-my-god-gue-lupa-namanya yang rumahnya di Ciwastra dan sempat bareng sampai Supratman. Huhuuuu, maafkan temanmu ini, deekk...

Kemudian dua minggu yang lalu aku jalan-jalan di Belitong, bisa jadi tercecer di pulau itu juga. Haduh, bagaimana ini, halo, otak, apakah masih bisa bekerja??

Syukurlah aku sempat bolak balik membaca petunjuk riddle beralamatkan sebuah rumah sakit di luar pulau Jawa.. (hmm, pasti dokter nihhh..) Isinya begini kira-kira
(dengan modifikasi seperlunya).

Pasti kamu sudah bisa mengira aku di mana kalau melihat alamatku. Tapi baiklah, aku akan menulis beberapa hal :
Aku adalah seorang petualang yang kebetulan sedang berada di utara. Angin membaeaku ke sini beberapa saat untuk menikmati keindahan Indonesia.


Yah, sebenarnya cuma segitu yang bisa diingat otakku. Mudah-mudahan sembari bebongkar bakal ketemu di manakah si Riddle ini gerangan berada. Kira-kira dengan segitu bisa ditebak, kan? Kalau aku sih udah bisa nebak, haha.. *sambil ngitungin berapa benjol yang ada di kepala tadi*

Sabtu, 29 Desember 2012

Pulang

PulangPulang by Leila S. Chudori
My rating: 5 of 5 stars

Setiap aku melakukan perjalanan, orang yang baru kukenal selalu bertanya, “Mbak, aslinya mana?”. Lalu aku cuma jawab simpel, “Jawa, Mas.” Kupikir cukup sampai di situ, namun orang itu akan lanjut bertanya,”Jawanya mana?”. Lalu aku bingung mau pilih yang mana, jawaban variatif pun kulontarkan, tergantung yang nanya dan lokasi bertanyanya sih. Kalau berada di daerah timur, aku akan menjawab, dari Jakarta tempat kerjaku, atau dari Bandung rumah orangtuaku sekarang atau Depok tempat tinggalku atau Cirebon kota kelahiranku. Itu Jawa bukan? Iya dong, kan berada di Pulau Jawa. Sementara kalau mengenalku lebih jauh pasti akan tahu bahwa ada beberapa kota lain yang pernah aku tinggali, tempat aku pernah merasa pulang.

Kemudian ditanya lagi,”Jadi pulangnya ke mana nih, mbak?” Jawabannya tentu bervariasi tergantung tujuanku saat itu. Pulang sebenar-benarnya memang ketika kita berada di rumah, tempat tidur sehari-hari. Namun aneh rasanya karena ketika hampir tidur di rumah aku selalu merasa ingin berada di tempat lain, di tempat-tempat impianku. Pernah aku berkata, aku ingin berada di suatu tempat begitu lama sehingga aku merindukan pulang. Ya, di antara perjalananku saat ini, aku belum pernah merindukan pulang. Kadang aku rindu Bintang, namun ketika ia bertualang bersamaku, maka tak ada lagi yang membuatku ingin pulang. Aneh? Ya, karena terlalu seringnya aku tidak berada dekat dengan orang-orang terdekatku, teknologi yang membuat bisa berkomunikasi kapan saja, jadi rasa kangen itu hampir tidak ada. Dan juga karena aku selalu bisa diterima di rumahku yang mana saja, sehingga biasa-biasa saja. Pulang, ya, pulang. Beraktivitas sejenak di rumah, kemudian pergi lagi. Bisa dihitung berapa hari dalam setahun aku berada di rumah yang kutinggali selama sehari penuh.

Tidak demikian dengan Dimas Suryo, yang tidak sengaja berada di pengasingan dan tidak bisa pulang ke rumahnya di Indonesia. Kehidupan sebagai seorang eksil politik di negeri orang, tujuan dari pelarian-pelariannya di luar negeri, bukan karena keinginannya untuk bertualang, namun nasiblah yang mendamparkan hidupnya di Perancis, direndahkan oleh rezim kekuasaan yang menganggap dirinya adalah salah satu dari bahaya laten yang pernah menghantui Indonesia. Pemerintah yang ketakutan akan kembalinya salah satu musuh politik berusaha menghalangi kembalinya tokoh-tokoh yang dianggap bisa menghidupkan kembali faham yang dilarang di Indonesia itu.

Kehidupan Dimas Suryo ini mengundang haru. Kerinduannya pada Indonesia, pada ibu dan adiknya yang dilabeli E.T (eks Tapol) di KTP-nya , lewat surat-surat yang diterimanya, deritanya di negeri orang, hasrat untuk bertahan hidup dengan terus memasak masakan Indonesia, bahkan bersama teman-temannya membangun restoran Indonesia. Kerinduan yang dipendamnya dalam bentuk dua stoples kunyit dan cengkeh sebagai pengobat laranya akan keinginannya untuk pulang.

Di beberapa bagian aku menangis haru membacanya. Sungguh ini cerita yang tak pernah aku dengar selama masa sekolahku. Bagian Indonesia yang terkubur yang ditutupi seolah itu borok negeri. Luka yang tak pernah diobati. Betapa sulitnya menjadi terpinggirkan. Kecintaan pada negeri namun tak pernah diakui. Sementara yang ditebarkan hanyalah bibit-bibit kebencian pada mereka. Orang Indonesia di Paris tak mau sama sekali menengok mereka, hanya mencemooh belaka.

Kerinduan Dimas Suryo, dan teman sepelariannya Nugroho dan Risjaf sedikit terobati ketika mereka tahu bahwa Lintang, anak Dimas harus mengambil data studinya di Indonesia tahun 1998, tepat ketika pecah revolusi baru lagi di Indonesia meruntuhkan orde baru, yang sudah menyiksa mereka selama bertahun-tahun, dengan tidak menghilangkan kewarganegaraan mereka, dan menghilangkan kesempatan mereka untuk pulang berkumpul dengan keluarganya. Lintang yang menjadi saksi runtuhnya rezim yang mencengkeram nama keluarganya itu mendapati betapa mirisnya menjadi dirinya sendiri, juga ayahnya yang tak puya tempat pulang.

Bacaan hebat sebagai penutup akhir tahun. Membacanya seperti membuka sejarah bangsa, memperlihatkan sisi lain yang selama ini ditutupi oleh kurikulum sejarah. Suatu kebenaran yang tidak bisa dibungkus rapat lagi. Dan membuatku menghargai sebuah PULANG.


View all my reviews

Minum Teh bersama Kartini

Minum Teh bersama KartiniMinum Teh bersama Kartini by Suryatini N. Ganie
My rating: 2 of 5 stars

Apa asyiknya ikut goodreads? Untuk aku, jawaban spesialnya adalah : dari goodreads aku punya banyak teman yang bisa kutemui apabila sedang berada di kota-kota lain di Indonesia. Hihi, lucu ya? Sementara orang-orang dapat teman dari forum2 traveling, aku malah dari sebuah klub buku.

Tapi memang senang sekali sih, kalau ketemu teman-teman sehobi, ngobrol tentang buku, hunting di palasari bandung, books semarang, sampai shopping jogja, sembari jalan-jalan dan diskusi soal sejarah kota (dan pasti!) makanan khas. Ketemu sesama penggila buku di berbagai kota itu mengasyikkan, dan dengan adanya internet, kalau ketemu sudah seperti sudah ngobrol berbulan-bulan.. ;)

Nah, mau tahu aku dapat buku ini di mana? Di Bali! Tepatnya di rumah Mia Queen yang sedang disatroni olehku dan Ndari. Ceritanya aku baru sampai Bali sendiri setelah keliling Jawa Timur dengan teman goodreads Jogja dan Bandung (nah, kan! teman jalan juga dapat dari goodreads!). Sesudah sepagian keliling2 dengan seorang teman kuliahku, karena sorenya ia ada acara keluarga, maka aku kontak Mia Queen dan Ndari buat ketemuan.. Asyik kaann..

Sesudah cerita2 tentang segala macam gosip perbukuan, meluncurlah kita ke rumah Mia, yang ternyataaa.. sedang bagi2 bukunya.... hebohlah aku dan Ndari membongkar2 buku yang dikeluarkan dari koleksi Mia. Setelah dapat dua buku lama Ayu Utami, buku bergambar termos ini menarik perhatianku. Kumpulan cerpen selalu bisa menjadi bacaan alternatif di kala mumet.

Seperti banyak komen-komen yang lain, cerpen-cerpen di sini membuatku mempertanyakan kebetulan. It doesn't matter with the book, tapi persahabatan yang menyertai ketemunya buku ini terasa lebih menyenangkan.

Thanks Ndari buat jalan-jalannya keliling Denpasar, thanks Mia buat bukunya.

:)

View all my reviews

Unpopular!

Unpopular!Unpopular! by Niken Anggrek
My rating: 3 of 5 stars

Pernah SMA? Pernah kan? Kecuali yang mengalami masa sekolahnya namanya SMU, masa SMA memang nggak ada duanya. Kata kepala sekolahku dulu sewaktu upacara pembukaan Penataran P4, masa SMA adalah masa paling indah, hanya dialami di SMA, bukan di STM atau SMEA atau SMKK (ada yang masih ingat singkatannya sebelum melebur jadi SMK? :D)

Woah, Penataran P4? Pasti anak SMA sekarang nggak mengalaminya, hanya MOS berkuncir pelangi yang dikenal. Penataran P4 itu untuk mendalami nilai-nilai luhur butir-butir Pancasila yang ada 36 butir itu.. (dengar-dengar, sekarang sudah 45 ya?) Penataran ini ajang yang bagus untuk berkenalan dengan siswa lain di SMA, yang ternyata, hanya berlangsung seminggu, kemudian kelasnya dipisah lagi.

Salah satu butir di P4 sila ke 5 butir 12 kalau nggak salah : Tidak bergaya hidup mewah. Nah, berhubung si Arum, tokoh di unpopular ini nggak belajar P4, cuma MOS doang, jadi pikiran dia penuh dengan mimpi2 tentang gadget keren yang dimiliki teman-temannya, dibandingkan dengan ponsel bergame snake lungsuran dari mamanya. Namanya juga anak remaja, pastilah standar hidupnya mengikuti apa yang ada terkeren di majalah saat itu.

Seperti aku dulu, yang merasa asyik kalau pake baju Osella atau H & R (ya ampun, ini pembongkaran umur), melakukan dosa terbesar yaitu pernah ngefans sama Atalarik (dijewer!), make Docmart biar kelihatan keren (dengan pita kuning yg ngelewer itu), dan bermimpi bisa masuk finalis Gadis Sampul (haiaaahh, belajar sonoo!!)

Dari dulu sampai sekarang, selalu ada geng keren di kelas ya, makanya temannya si Arum ini juga ada yang masuk geng keren dengan fashionistnya, namun diperlihatkan mereka lebih suka gosip artis daripada berita terkini. Kalau dipikir-pikir, dulu aku mirip Arum juga ya. Biasa banget gitu. Rambut ikal gak jelas, potongan bob sampai lulus, kulit muka berminyak (syukurlah gak pernah jerawatan), tinggi biasa-biasa aja, sekolah naik angkot atau sepeda, dan punya orangtua yang agak pelit soal gaul yee..

Bedanya sih aku berkacamata (tambah biasa lagi kan), suka main basket atau sepedaan sampai hitam, dan rajin belajar (nggak ding, ini juga biasa2 aja, buktinya kelas 3 pernah rangking 34.. - prestasi rangking terburuk sepanjang sekolah SD-SMA). Geli membaca pikiran-pikiran Arum, ya, ampuun aku gitu banget ya dulu.. untung sekarang udah sadar walau pun masih ada yang menuduh sok eksis (eh, sumpe lo? ge-er banget sih :)))

Tepatnya sih, memang mengalami apa yang dilewati Arum juga, bahwa hidup itu nggak sekadar kelihatan keren, tapi ada banyak hal yang bisa dilalui sebagai remaja, masa transisi untuk menemukan arah tujuan kita, saat yang tepat untuk menentukan passion kita. Ha, semoga saja passion itu tepat. Untuk memilih jurusan di UMPTN... ;)


View all my reviews

Tintin: The Complete Companion

Tintin: The Complete CompanionTintin: The Complete Companion by Michael Farr
My rating: 5 of 5 stars



View all my reviews