ulasan. resensi. kesan.

ulasan. resensi. kesan. ini bukuku, apa bukumu?

Minggu, 29 Juli 2012

Partikel

 Supernova: PartikelSupernova: Partikel by Dee
My rating: 5 of 5 stars

Ada momen tatkala kita perlu menunjukkan dominasi. Ada momen tatkala kita harus diam membatu. Ada pula momen tatkala yang terbijak adalah lari. Dan dibutuhkan insting jitu untuk menentukan momen manakah yang tengah kita hadapi. (h.246)

Hidup itu pilihan, katanya. Dan memang ada satu titik di mana kita harus menentukan langkah apa yang harus diambil. Seperti ketika membaca buku ini. Setelah sekian lama kunanti, ketika akhirnya datang juga aku tidak buru-buru membacanya. Karena aku ingin mendapat saat yang tepat untuk meraih buku ini. Menunggu momen yang tepat. Tidak dalam antusias berlebihan, tidak sedang gembira, tidak sedang sedih, supaya membaca buku ini bisa mengembalikan emosi sempat hilang kemana. Kemudian tiba saat buku ini memanggil-manggil untuk dibaca.

“Hai, ada Zarah di sini.”
Aku jatuh cinta pada cewek unik ini. Ia tipe soliter kelas satu yang sanggup memutuskan segalanya sendiri, berani menjalani hidup yang ia pilih sendiri. Berani, itu kuncinya. Dan komitmen atas apa yang diyakininya benar. Dan intuisi yang bagus untuk bertahan hidup. Dan membuatku bertanya lagi, pergi itu untuk mencari atau berlari?

Akhirnya kumengerti betapa rumitnya konstruksi batin manusia. Betapa sukarnya manusia meninggalkan bias, menarik batas antara masa lalu dan sekarang. Aku kini percaya, manusia dirancang untuk terluka. (h.264)

Melihat kehidupan Zarah tepat di awal masa aku memutuskan untuk kembali ke alam untuk mengembalikan hidupku. Melongok kenekadannya ke alam terbuka, kegigihannya sebagai fotografer, memandang diriku sendiri yang di umur segini masih penakut. Kalimantan, London, Afrika, menjelajah, menunggu, menangkap momen-momen kehidupan makhluk-makhluk yang terjajah manusia. Menunggu dalam diam untuk pergerakan panjang. Ia pergi atas kebetulan-kebetulan yang terjadi, sesuatu yang memungkinkan perjalanannya. Yang ia pun tak tahu penyebabnya. Ketika orang melihat bahwa ia berlari, mungkin sebenarnya ia sedang mencari. Tapi, benarkah kebetulan itu ada? Atau ia cuma sesuatu yang diatur semesta?

Pengkhianatan ada dalam batin setiap manusia, hanya menunggu momen tepat untuk menyeruak, dirayakan, dan diamini sebagai titik lemah dari kemanusiaan. (h.370)

Kenapa cinta perlu ada? Untuk berhenti. Jeda. Merasa lengkap dan sempurna. Tetapi mencintai menjadi alasan untuk dikhianati. Selalu butuh alasan untuk kembali berlari. Tidak semua teman selalu setia menjadi teman. Tidak semua teman bersedia menjadi teman. Maka ketika ia tidak mendapat yang dicari, ia akan kembali berlari. Melakukan perjalanan lagi. Lalu apa sebenarnya arti perjalanan itu sendiri?

Menjadi kuat bukan berarti kamu tahu segalanya. Bukan berarti kamu tidak bisa hancur. Kekuatanmu ada pada kemampuanmu bangkit lagi setelah berkali-kali jatuh. Jangan pikirkan kamu akan sampai di mana dan kapan. Tidak ada yang tahu. Your strength is simply your will go on. (h.462)

Jangan pernah berhenti Zarah. Energi yang diberikan kepadamu sangat besar. Kekuatan pencarianmu itu yang membuat semesta membukakan jalannya. Selalu ada orang-orang yang menyayangi dan rela melakukan apa pun untukmu. Rasanya aku ingin memelukmu, sebesar aku ingin memeluk diriku sendiri. Meyakinkan kalau kamu istimewa. Kamu lebih dari orang-orang biasa dengan peristiwa biasa. You deserve better, though. Kamu harus tahu untuk apa kamu ada di semesta ini.

“Saya tidak lagi berlari. Cuma mencari.”(h.473)

Tahukah kamu, untuk apa kamu ada di dunia?

on my way to bandung | 21.07.12| 17:12


View all my reviews

Antologi Rasa

Antologi RasaAntologi Rasa by Ika Natassa
My rating: 4 of 5 stars

"Kalau ada apa-apa, ngomong ke gue ya, Key," kata gue malam itu. "Kalau lo pusing karena ada nasabah lo yang ngemplang dan perlu gue datangin untuk gue gebukin supaya bayar tunggakannya ke lo, gue juga mau." (h.328)

Menurut kamu bagaimana kalau ada seorang sahabat laki-laki mengatakan demikian? Apakah kamu merasa tersanjung dan berbunga-bunga? *oh, so sweet....* Atau merasa kata-kata itu gombal saja dan hanya salah satu upaya rayuan pria? *lebay deh lo....*

Sah-sah aja sih mengatakan demikian. Memang harus hati-hati menghadapi laki-laki macam Harris Risjad. Lelaki sejuta pesona ganteng keren yang (seharusnya) sanggup menundukkan hatimu. Bikin melongo sekaligus misuh-misuh tanpa ampun. Jatuh cinta setengah mati sama Keara, yang jelas-jelas menendangnya jauh-jauh.

Keara yang agak muna' karena ia nggak mau mengakui kalau ia naksir berat sama Ruly. Loh, memangnya kalau cinta harus bilang? Kalau enggak gimana? Ada sih yang bilang walaupun cewek, berani bilang aja kalau cinta, ngapain gengsi, muna' banget, sih. Weeww.. Asal tahu aja kalau minta duit ke ortu itu seribu kali lebih mudah daripada bilang cinta ke gebetan yang dikenal baik. Dipikir gampang apa menumbuhkan keberanian gitu? Kalau mengungkapkan itu semudah jatuh cintanya, pasti nggak bakal banyak film atau novel bertemakan cinta dan segala liku-likunya. Untuk itulah Tuhan menciptakan kesulitan dalam cinta. Haha!

Dan Ruly, protagonis yang digambarkan hampir mirip dengan Fahri AAC (pas miripnya karena sama-sama pengen gue lempar) baik hati, santun, taat, dan bodohnya nggak lihat kalau di depan matanya ada sahabat perempuan yang jatuh cinta sama dia. Noraknya karena suka sama ST 12 (apaaa coba maksudnya si cowok 'idaman' ini mesti suka ST 12? kenapa? kenapaa? HAH!!!)

Dan aku suka sekali buku ini. Kata-katanya lugas, lucu, tas tes, jleb, menohok, bikin jungkir balik, jujur, dan bikin mengkampret-kampretkan cinta. Cocok banget dijuduli Antologi Rasa. Dari rasa indah terbang ke bulan sampai rasa bego pengen ditabrak truk juga ada.

Ada diantara lo yang sekeren gue dan sudah pernah naik Formula Rossa? Ini roller coaster tercepat di dunia, hanya ada di amusement park untuk pencinta balapan yang ada di Ferrarri World di Abu Dhabi, akselerasi 0-240 km/jam dalam hanya 4,9 detik! Belokan paling tajamnya sampai 70 derajat dan G-Force-nya – tekanan kecepatan- sampai 1,7 Gs.
Kecepatan roller coaster itu sukses mengacak-acak detak jantung gue ketika gue ke sana tahun lalu. Sinting. Tapi mendengar cerita dari mulut si Ruly ini tentang dia dan Keara tadi malam efeknya kira-kira begini : gue naik roller coaster tujuh kali berturut-turut, pas turun gue udah ketawa-ketawa gila saking pusingnya, sempoyongan mau nyebrang jalan terus ditabrak truk dan mati terkapar. (h.323)


Yeaahh, kutipan dari Harris lagi. Apa perlu jatuh cinta sama lelaki semacam dia? Atau lebih baik kita mendendangkan lagu John Mayer ini sama-sama??

Friends, lovers, or nothing...
There'll never be an in-between...



View all my reviews

My Name is Red

Namaku Merah Kirmizi - My Name is RedNamaku Merah Kirmizi - My Name is Red by Orhan Pamuk
My rating: 5 of 5 stars

Ketika ditanya, kenapa sih baca Orhan Pamuk, aku hanya mengangkat bahu. Katanya bagus, sih. Dapat Nobel Sastra juga, wow! Pasti bagus, nih. (dan penulisnya ganteng ;))Jadi ketika menemukan beberapa buku Orhan Pamuk di Shopping Yogya, langsung kubeli saja. Benar saja, dari kalimat pertama sudah membiusku untuk tetap kekeuh membacanya.



Bahkan godaan dari Partikel-nya Dee yang sedang hip nggak membuatku berganti arah. Walau ada beberapa teman baca bareng seperti kak Leila S Chudori, juga Venkanteswari malah berhenti di tengah2 dan membaca Partikel (haha!). Sempat ngajak Lisa dan Desiree juga, namun sampai tamat dua bulan berikutnya, mereka belum juga dapat bukunya. Jadinya cuma Lita (yang ternyata baca dr tahun kemarin) yang tetap rajin membacanya.

Sebenarnya ini bisa saja menjadi sebuah cerita pembunuhan biasa jika dituangkan dalam bentuk novel seperti karya pop lainnya. Namun penceritaan dari berbagai sudut pandang pelakunya membebaskan kita untuk mengenali masing-masing karakternya lebih dalam, lebih detail, bahkan sampai titik kematiannya sekali pun. Kita bisa paham apa yang terjadi pada dirinya berdetik-detik sesudah satu hantaman terkena kepala sampai terpisah raga dari jasadnya. Pengkarakteran sendiri-sendiri ini membuat kita masuk seolah-olah ke dalam kepala masing-masing tokohnya, memaksa untuk memahami jiwa masing-masing. Seperti bermain drama dengan berbagai peran yang diciptakan oleh Pamuk.

Pamuk menyihir dengan lika liku tokohnya, membuat kita saling menebak saling menyalahkan siapa itu si pembunuh yang kerap bicara sendiri. Semua pikiran menjadi nyata yang menari-nari. Semua bisa memiliki alasan yang kuat untuk menghabisi. Semua dengan sejarah dunia ilustrasi yang melatari cerita menjadi kaya. Pertentangan antara cara pandang lukisan 'dari mata Tuhan' dan 'dari mata manusia'. Mengingatkanku kenapa Masjidil Haram selalu digambarkan dari 'atas'. Dibumbui dengan cinta terpendam 12 tahun yang masih mencari-cari. Tokoh perempuan plin-plan, dan tokoh perempuan banyak akal.

This is not a love story. This is no longer a history. This is about what happen in the place called world. The place that've been built by God, and people who discovered it.

: Sesungguhnya, nikmat Dia manakah yang kau dustakan?



View all my reviews

Memori

MemoriMemori by Windry Ramadhina
My rating: 4 of 5 stars

Harus kuakui, ekspektasiku cukup tinggi ketika tahu bahwa tokoh utamanya adalah seorang arsitek, profesi yang kugeluti selama 10 tahun ini. Dan pengen tahu aja, apakah Windry menggambarkan arsitek sebagai seseorang yang hidupnya menyenangkan, hanya menggambar-gambar, berkhayal, dapat duit, seperti yang sering dideskripsikan selintas lalu dalam novel-novel lain (atau sempat main piano sambil Arisan!), atau arsitek yang menderita bahagia sepertiku (haha.. pengakuan suffer in happiness) yang sering kepontang panting, sebel sama bos, kadang-kadang ditolak, kadang-kadang dibilang hebat, berkelung asa mewujudkan mimpi orang lain, tergila-gila pada Frank Gehry.. (kalau aku masih mimpi bekerja pada Ken Yeang di Malaysia).

Yeaa.. sebagai seorang arsitek betulan, Windry memilih yang kedua. Dikelotoknya bagaimana bekerja di sebuah biro arsitek itu, dari sejak mulai menarik garis, mengutak-atik AutoCAD (sekarang sih Sketch Up ya?) tertidur sambil menggambar, hidup antara kopi dan kebul semen, presentasi satu ke presentasi lainnya. Nggak ada tuh acara sering nongkrong-nongkrong di cafe (mana sempat??) apalagi nongkrong di club sambil gila-gilaan. Kalaupun ada sempat, tentu sambil ngobrol hal-hal menarik, bukan gosip mondar mandir kiri kanan selebriti haha hihi nggak jelas (sama ibu-ibu Arisan!).

Yang jelas jadi arsitek itu membahagiakan kok. Truly definitely. Namanya juga cita-cita. Dijalani dengan passion dan tanggung jawab.

(Hah? Siapa itu yang ngomong? Siapa itu yang suka galau sendiri kalau tengah malam masih di kantor berkutat dengan CADnya dan memaki-maki komputernya? Siapa itu yang teriak-teriak dengan jargon dewa 'Kerja adalah cinta yang mengejawantah'? Dan dijawabnya sendiri 'Makan itu cinta!!!')

:))))
Semangat, In!!

Di luar ke-arsitek-annya, konflik Mahoni dan keluarganya sangat menarik. Ia sangat tabah menghadapi apa yang menimpa dirinya. (ya, iyalaah.. kan arsitek! *plak* apa coba hubungannya?) Kehidupannya di Virginia yang mendadak harus ditukar dengan kehidupan di Indonesia dengan keluarga ayahnya yang nggak pernah dikenalnya. Dan menjalani hari-hari barunya di tengah kesibukannya sebagai arsitek. Wajar buat aku, karena aku pun pernah mengalami kerja gila-gilaan di tengah konflik luar biasa, dan terima kasih semesta, satu dengan yang lain ternyata saling mendistraksi dengan caranya sendiri. Dan sesudah itu lewat, cuma bisa bersyukur bahwa kita tidak menjadi gila karenanya. Setiap tempaan akan membuat kita lebih kuat. Life must go on..

Yang membuat aku tersenyum tertawa dalam buku ini adalah nama tokoh-tokohnya. Sebagai seseorang yang berguru pada padepokan gambar bangunan yang sama dengan Windry (gosh, apa kata pak GT kalau baca kalimatku di atas :)) Simon Marganda adalah teman satu studioku di tahun terakhir, dari survey site hingga nginep bareng, tentunya aku nggak akan lupa tawa dan candaan Simon yang baik hati in, hmm.. 10 tahun yang lalu?? Sudah lama juga ya. Masih inget tampang si Simon.
MOSS Studio, iya pernah dengar lah, isinya teman-teman sepadepokan yang kreatif berani bikin sendiri. Neri, is it the same girl i knew work in hadiprana, eh?

Ceritanya bisa ditandai sebagai penceritaan yang berhasil tentang profesi arsitek (Kelihatan menderita dan galaunya gitu, hahaa!!) Aku bahkan tak mengenal Windry di masa perkuliahan, cuma kebetulan kenal di goodreads, dan ternyata kami satu suhu. ;))

Dan kalau kata kak Ardianto Rusly : Menggambar adalah membangun dalam pikiran.. Pikirkan apa yang kamu gambar ini bisa dibangun. Selesaikan logisnya. (demi apa aku mengutip kata-kata beliau), maka cerita ini ibarat desain, Windry menyelesaikan buku ini dengan finishing yang rapi dan logis. Cinta pada yang dicinta, atau cinta pada mimpi-mimpinya? Hidup ini pilihan. Termasuk apakan kamu memutuskan untuk jadi arsitek atau tidak. Apapun yang kau lakukan, kerjakan dengan hati. Sehingga kamu bisa senantiasa bahagia.

\\(^_^)//
*back to my desktop and pray 'langit tak akan runtuh di atas kepala kita'*





View all my reviews

Para Pemuja Matahari

Para Pemuja MatahariPara Pemuja Matahari by Lutfi Retno Wahyudyanti
My rating: 4 of 5 stars

Naia mungkin refleksi mimpi-mimpi masa remajaku. Keberanian, kenekatan yang ia miliki, untuk menjelajahi alam ini dengan kedua kakinya, sendiri pula, membuatku teringat pada pahlawan petualangku masa itu, Roy Boy Harris, tokoh rekaan Gol A Gong dalam serial Balada Si Roy yang menemani masa remajaku. Beda Naia dengan Roy sangat jelas, Naia perempuan dan berasal dari keluarga berkecukupan, sehingga bisa liburan dengan uang saku yang cukup, sementara Roy seorang anak yatim di Banten, harus menulis untuk membiayai perjalanannya. Yang sama dari mereka adalah tekad untuk melihat dunia, melihat kehidupan tidak dari yang sehari-hari dijalani. Yang membuat bersyukur atas karunia yang diberikan di atas.

Menariknya mengikuti petualangan Naia karena ia berasal dari keluarga yang berkecukupan. Ingin tahu saja bagaimana sih anak yang seharusnya bisa manja ini survive di jalanan, di alam, di desa, di tempat-tempat yang tidak semua orang bisa menerima kebaikannya. Naia menjalaninya ketika berumur 19 tahun! Saat umurku segitu, aku juga sedang tergila-gila jalan-jalan dengan teman-temanku di pencinta alam. Namun, aku tidak punya keberanian sehebat Naia untuk pergi sendiri ke Kanekes, Baduy, salah satu tempat impianku saat itu, yang aku tahu tempat itu juga dari Balada Si Roy yang kubaca, juga karena disiplin ilmu yang kujalani membuat aku selalu tertarik pada permukiman tradisional, ruang hidup sederhana yang dibutuhkan oleh manusia.

Beberapa tempat yang dituju Naia memang merupakan tempat-tempat yang ingin kutuju sejak muda. Akhirnya tiga tahun lalu aku sampai juga ke Baduy (sudah bukan 19 tahun lagi, itu pun dengan tour, bukan backpacker ala Naia) aku sangat bersyukur karena selain permukiman tradisional memang peminatan khususku, kampung Baduy yang tenang, damai dan memberikan energi positif kembali ke kita. Rasanya kembali ke masa jalan kaki 5-6 jam di siang hari, dengan pemandangan indah, ngobrol dengan bapak-bapak Baduy yang membantu membawakan ransel, anak-anak gadis yang cantik-cantik berkulit kuning langsat. Aku cukup beruntung karena sewaktu aku ke sana ketika mereka sedang kerja bakti mengganti dinding rumah yang dari gedhek bambu, dan atap pelepah. Seandainya di Baduy dalam boleh memotret, pasti sudah kuabadikan proses kerja baktinya. Setiap rumah dikerjakan oleh 15-an lelaki, dengan rangka bambu, lantai juga dari papan dan bambu. Rumah-rumah ini pun tidak menggunakan paku, hanya berpegangan pada pasak dan ikat rami untuk penguat rangkanya. Teknologi tradisional yang mereka pahami turun temurun ini tentang mendirikan bangunan tidak pernah punah, senantiasa dilestarikan dengan transfer wawasan ketika kerja bakti ini. Ketika aku tiba di sana sekitar pukul 2 siang, ternyata hari itu mereka sudah mengganti dinding dan atap 15 rumah sejak pagi! Dan aku senang sekali karena Baduy itu cerita pertama Naia, karena ketika pergi ke Baduy 3 tahun yang lalu juga menjadi semacam come back ke dunia perjalanan setelah vakum beberapa tahun. Dan aku menjadi sangat bersyukur karena sampai sekarang masih punya energi untuk menikmati Indonesia yang indah ini.

jalan batu

Selain Baduy, tempat-tempat lain yang dikunjungi Naia juga bikin ngeces, membangkitkan jiwa jalan-jalanku ke mana pun (selain Gunung Salak, sih, karena gunung itu agak mistis juga). Segara Anakan, Karimun Jawa, Kawah Ijen, tempat-tempat yang bukan merupakan obyek wisata umum yang dikunjungi masyarakat. Tidak semua dijalani dengan mudah, beberapa kesulitan yang khas dan wajar terjadi di sini. Kehabisan bis, sakit, kehabisan uang, jauh dari ATM, dan lainnya. Nggak semua pendapatnya juga mudah diterima orang lain. Lihat Naia yang ditolak uang pemberiannya di Segara Anakan, ketemu Bowo yang sinis yang suka menyalahkan keadaannya sendiri.

“Kalau tiap hari cuma dapat sedikit, kenapa kau masih jadi nelayan? Kenapa enggak cari pekerjaan lain?” tanya Naia.
“Sejak kakek buyut, keluargaku nelayan. Selain itu, aku juga nggak punya keahlian lain. SMP aja aku nggak lulus.”
“Aku nggak ngelihat hubungan antara nggak punya keahlian dengan tidak lulus SMP. Kau kan bisa ambil les atau minta orang lain ngajarin keahlian yang pengen kamu punya. Pernah dengar nama Thomas Alva Edison nggak? Dia dulu SD aja nggak lulus. Tapi dia bisa nyiptain lampu yang sekarang dipakai di seluruh dunia. Kartini juga cuma lulusan SD. Tapi dia suka baca buku dan majalah.”
“Itu kan kata kamu yang orang kaya dan nggak tahu kerasnya hidup. Kau k alau pengen sesuatu tinggal minta ke orang tua. Beda dengan aku.”
Naia diam saja. Aku nggak ngerti. Kenapa orang selalu memakai make keadaan sebagai alasan kenapa dirinya nggak maju? Toh, banyak orang di dunia ini gagal sekolah tapi bisa jadi pengusaha sukses? Kenapa orang lebih memilih untuk menerima nasibnya begitu saja seagai hal yang tidak bisa diubah? Lalu menghabisi separuh hidupnya untuk menyesali hal-hal yang tidak bisa ia capai. Mulai dari nyalahin keluarganya lah, nyalahin pemerintah lah. Pokoknya nyalahin apa pun selain dirinya sendiri dan tetap nggak mau berubah! (h.134-135)


Begitu banyak hal yang ditemui dan berbeda dari sudut pandang kita memang bikin ngelus dada. Inilah perjalanan sesungguhnya, ketika kita melihat berbagai pandangan dari orang lain dengan latar yang berbeda-beda sehingga membentuk pendapat masing-masing atas sesuatu hal. Dan kita nggak bisa marah karenanya. Kalau kita nggak suka ya sudah, tetapi tetap saja kita berteman dengan yang berpendapat beda. Memaksakan pendapat nggak selalu lebih baik, namun bisa memberikan benih permusuhan. Ini baru dari pemuda desa. Bagaimana kalau ketemu aparat pemerintahan ya?

Aku mengenal Lutfi ketika berkunjung ke Jogja bersama teman-teman Goodreads. Ternyata, ia juga rajin berjalan-jalan mengelilingi Indonesia (ngintip blognya). Pantas kalau sebagian petualangannya diceritakan di sini. Setelah lama tidak membaca karya fiksi genre perjalanan karya penulis Indonesia, tulisan Lutfi ini memberikan semacam oase menarik. Seandainya banyak remaja yang membaca buku ini, pasti banyak juga anak-anak yang bernekat-nekat keliling Indonesia dan bersyukur bahwa dirinya beruntung. Memang sih, cara yang dipakai Naia ini agak salah (itu makanya dulu aku bilang nggak bisa senekat Naia), tapi rasanya masih ada cara yang lebih diijinkan orang tua.

Satu kata saja : Keren!

Karimun Jawa, Bromo, Kawah Ijen, Meru Betiri.. here I come...

View all my reviews

Minggu, 06 Mei 2012

Now and Then

Now and Then Now and Then by Ann Arnellis
My rating: 3 of 5 stars

Semarang. Kota masa kecilku menghabiskan taman kanak-kanak dan separuh masa SD. Kenangan tersisa ketika adik perempuanku masih ada, kami berlarian di Simpang Lima, menunggu ayah pulang di taman KB, menemani ibu belanja di pasar Bulu, jalan-jalan di Gedung Batu ( klenteng Sam Po Kong) memandang Tugu Muda dari motor bebek, berempat menyusuri kota sampai Gombel. Ah, masa-masa yang tak pernah kembali. Miss you, sis.

Judul bukunya menimbulkan pertanyaan, now and then, sekarang dan kemudian? Kemudian apa? Nggak ada yang pasti untuk cinta, seperti juga hal-hal lainnya. Namun, kata orang, cinta dapat menghilangkan rasa takut terhadap apa pun. ( h.68).

Banyak yang bilang ceritanya biasa, tentang cinta antara dua etnis yang berbeda. Memang cinta itu datangnya biasa aja bukan? Tidak harus seperti kisah ekstraordinari seperti Ferre dan Diva. Kecuali untuk seorang petualang yang mencari cintanya yang teristimewa. Cinta yang terbangun antara Lian dan Pras terjadi begitu lambat, sesuatu yang dibangun dari kedekatan, pertemuan tiba-tiba, dan waktu-waktu tambahan yang menjadi teratur. Namun memang harus ada kebetulan dalam pertemuan, untuk membuatnya istimewa. Jika tidak, akan terasa hambar belaka.

Cerita ini cantik seperti covernya. Membacanya di saat pikiran ingin rehat cukup menyenangkan. Tidak terlalu menye-menye dengan kata-kata berbunga-bunga, juga tidak berat dengan bahasa sastra. Kunci menikmatinya adalah baca dengan pikiran kosong, tanpa dibebani dengan pengalaman membaca yang sudah bejibun. Sangat jamak terjadi untuk orang yang banyak baca sastra akan menilai novel ini ringan. Tetapi kalau kita adil terhadap buku, membaca tanpa membanding-bandingkan, maka akan menikmati cerita. Waktu untuk membaca sangat berharga untukku, sehingga amat sayang apabila habis untuk mencari kesalahan tulisan (yang untung jarang ditemukan).

Poin lebihnya untukku adalah kota Semarang yang digambarkan cukup lengkap, melengkapi yang tergambar dalam ingatan. Walau tidak ada momen romantis di anjungan pandang di Gombel untuk melihat lampu kota, namun Pasar bulu, Tugu Muda, Lawang Sewu, Gombel, bahkan Ponder Stasiun Tawang dilukiskan kegiatannya dengan rapi.

Tidak masalah ceritanya berakhir bahagia atau tidak, yang penting tahu di mana menghentikannya, memberi penekanan, "hmm, it gonna be....."

View all my reviews

Sabtu, 14 April 2012

Perjalanan ke Atap Dunia

Perjalanan ke Atap DuniaPerjalanan ke Atap Dunia by Daniel Mahendra
My rating: 5 of 5 stars

Perjalanan adalah Keberanian Bermimpi


"Kang, kita mau jalan-jalan ke Curug Malela tanggal 23 April, ikutan yuk!"
"Wah... Kok tanggal segitu. Tanggal segitu aku masih di Tibet/Nepal. "
"Sampai Nepal? Sekarang masih di Bangkok? Napak tilas jejak si Roy?? *iri* "
"Belum. Sekarang udah di Chengdu (China).
Nanti malam baru mau naik kereta ke Lhasa (Tibet)."
"Wah, jalan-jalan melulu nih... Seru banget...
Nanti dinapaktilasin ah perjalanannya.. "

Waw! Tibet? Nepal? Yang di kaki Everest?

***
Itu percakapan terakhirku dengan Daniel, ketika ia dalam perjalanan. Beberapa bulan kemudian aku tak mendengar kabarnya lagi. Di mana berada dan kapan ia pulang, aku tak tahu. Hanya status twitter-nya yang terbaca Om Mani Padme Hum tak berubah dari waktu ke waktu.

Sampai pada suatu hari tak sengaja aku membuka situs blog miliknya, yang menampilkan Journey to the Rooftop of the World, berupa catatan-catatan perjalanannya ke Tibet, yang sudah sampai episode belasan kalau nggak salah. Deuh, kemana aja aku? Kok nggak baca dari awal?

Lalu kujejaki tulisannya dari awal. Sejak ia menceritakan mimpinya untuk mengunjungi Tibet. Sebuah catatan perjalanan yang dilakukan sendiri, tentang perjalanan mengenali diri sendiri. Menggapai mimpi masa kecilnya, yang memanggil-manggil. Yang ia coba abaikan sebagai salah satu pemaafan akan impian yang dikiranya tak akan terwujud. Namun ternyata semesta mengamini. Mimpi itu dipanggil dari angannya. Perjalanan menggapai mimpi yang kemudian dirawi menjadi sebuah catatan panjang yang ada di tanganku untuk dibaca.

***
Pada suatu hari, muncul pertanyaan seperti ini :
Kamu tahu bedanya mimpi dan khayalan?
Mimpi didapat saat tidur, dan khayalan dipikirkan saat bangun, pikirku. Ketika kita bermimpi, kita tidak sadar apa yang kita mimpikan, ketika berkhayal kita tahu apa yang kita inginkan, kita khayalkan, walau kadang tak tahu bagaimana cara memenuhi khayalan itu.

Lalu perjalanan macam apa yang dilakukan petualang ini? Ketika ia membaca Tintin in Tibet, ia berkhayal untuk dapat mengunjungi tempat itu. Kuil, salju, dan petualangan menyusuri pegunungan di dataran tertinggi dunia, menghantui pikirannya. Dijadikannya khayalan itu sebagai bagian dari mimpinya, yang terkadang muncul lewat alam bawah sadarnya. Sampai lewat masa remajanya yang dihabiskan di antara gunung dan api unggun, mungkin harapan itu masih tertanam baik-baik dalam kepalanya.

Kamu tahu? Mimpi adalah harapan yang tertunda. Akan terus bersemayam dalam kepala, andaikata kau tidak berani melangkah mewujudkannya. Siapa sangka, membutuhkan waktu dua puluh lima tahun untuk memantapkan sebuah khayalan yang berubah menjadi mimpi, ketika sebuah tangan yang tiba-tiba menarik mimpi ke masa kecil, untuk kemudian dilontarkan sampai tujuan. Dan ia bangun untuk menyongsongnya.

When you want something all the universe conspires in helping you to achieve it. (The Alchemist-Paulo Coelho)

Dan bergulirlah perjalanan petualang ini menuju negeri impiannya. Dengan berbagai kebetulan-kebetulan keberuntungan yang menaunginya, sahabat-sahabat yang diandalkan, ia melangkahkan kaki ke negeri awan itu. Si petualang ini bercerita pengalamannya menginap di bandara, lalu naik kereta dari Chengdu ke Lhasa, bercerita apa yang ditangkap mata, apa yang dibaui hidungnya, siapa yang ditemui, bahasa yang tak ia pahami, bahkan teman merokok dengan bahasa yang berbeda. Ya, karena kereta adalah kendaraan favoritnya, maka tak salah jika ia mengupas banyak hal dalam perjalanan kereta selama dua hari dua malam itu. Ke dataran tinggi naik kereta, kenapa tidak?

Di Tintin in Tibet diceritakan tentang Tintin yang mencari sahabatnya Chang, yang hilang di pegunungan kawasan Tibet. Dalam perjalanan ini, apa yang dicari oleh petualang ini ?

Mungkin seandainya ia memang tidak mencari sesuatu, namun banyak yang ia temui. Ia banyak bertemu dengan teman-teman baru dari berbagai negara. Teman-teman yang (irinya) sudah mengunjungi negeri kita yang indah. Teman-teman dengan berbagai tindak tanduk, dari sesama backpacker seperti dirinya, sampai yang selalu bertambah volume bawaannya. Kata orang sih, teman yang terdekat adalah teman yang ada di saat kita sama-sama susah. Mungkin karena dinikmati dengan gembira, perjalanan ini tidak dirasa susah. Jadi tetap dekatkah pertemanan yang tercipta dalam perjalanan ini?

Kamu ajak kami mengelilingi negeri impianmu itu. Kuil-kuil indah dengan para biksu yang beribadah di dalamnya. Sebuah kegiatan keagaamaan yang dikomersilkan sebagai situs wisata. Hatimu terusik. Kamu putuskan menjelajah kota sendiri. Dan di situ kau lihat kehidupan sehari-hari. Menyeberang jalan dalam pengawasan tentara. Sholat di masjid yang kamu yakini tertinggi di dunia. Bercakap dengan orang sekitar.

Aku ngeloyor pergi melihat-lihat jalanan, kota, kampung, masyarakat setempat, atau pedagang di sepanjang jalan. Bagiku melebur langsung pada kehidupan setempat jauh lebih mengasyikkan dan lebih memberikan arti. Karena bersentuhan langsung dengan nadi kehidupan sebuah tempat justru memberikan gambaran tentang wajah tempat itu sendiri. (Monastery, h.163)

Perjalanan, selalu memberikan kebahagiaan untuk yang menikmatinya. Sehingga deru angin, jalan buruk, terpaan hujan, hanya dirasakan sebagai pengalaman. Karena memang tergantung apa yang mau diraih, apakah proses perjalanannya, atau tujuan perjalanannya. Apabila yang penting adalah tujuannya, maka segala cara tercepat, terefektif, harus dilakukan. Apa pun untuk mencapai tujuannya itu. Apabila yang penting prosesnya, maka dicari jalan supaya dalam proses perjalanannya yang lebih panjang itu bisa bermakna. Proses ini tidak selalu mudah, namun terkadang juga kesulitan bisa lewat tanpa berarti. Apalagi perjalanan yang diawali dari mimpi. Dari sesuatu yang hanya dari angan-angan belaka, dan diwujudkan. Bukan hanya tujuannya, namun prosesnya pun juga harus bisa dinikmati.

Mimpi itu masih panjang rupanya. Mungkin masih ada mimpi-mimpinya yang belum terwujud. Masih ada cahaya matahari, desau angin, dan mungkin gadis manis yang menunggu. Juga orang-orang yang menanti kisahmu. Cerita-ceritamu membangkitkan mimpi-mimpi lama yang sempat mengeram di kepalaku. Perlahan aku mulai menata apa yang sebenarnya aku inginkan, dan apa yang bisa aku lepaskan. Mimpi itu kini seperti menanti-nanti untuk terwujud. Mimpi untuk melakukan hal-hal yang selama ini cuma ada dalam pikiran.

Namun satu hal pasti yang dapat kutarik kesimpulan dari semua ini, paling tidak untuk diriku sendiri, adalah: beranilah bermimpi! Beranilah memiliki keinginan! Walau pikiran sadar kita menafikan kemungkinan-kemungkinan itu, tetap beranilah menetapkan tujuan. Karena nyatanya, ketika kita berani memutuskan untuk menggapai mimpi kita, alam bawah sadar kita justru bekerja membantu kemungkinan-kemungkinan mimpi tersebut menjadi kenyataan. Dengan dan lewat cara yang tak pernah kita duga sebelumnya. (Pulang, h.341)

Petualang, apa yang membuatmu pergi? Apa benar kamu hanya mengejar mimpi? Mungkinkah kau pergi hanya untuk merasakan bagaimana rindu pulang?

Bandung, 14 April 2012. 23:32
Indri Juwono.
Pembaca buku. Pengamat jalan. Arsitek.


View all my reviews

Selasa, 20 Maret 2012

Cerita Cinta Enrico

Cerita Cinta EnricoCerita Cinta Enrico by Ayu Utami
My rating: 4 of 5 stars

#2012-04

”Kami, para lelaki, sering melakukan sesuatu demi kegagahan. Tapi kaum perempuan berbuat demi kehidupan. Lelaki sering berbuat untuk egonya sendiri, sedang perempuan berbuat untuk orang lain.” (h.135)

Hai, Enrico, kamu tahu? Kisahmu ini sangat unik. Kamu beruntung sekali punya Ayu yang bisa menuliskan cerita hidupmu. Tidak semua orang beruntung bertemu Ayu dan dituliskan perjalanan hidupnya, lho.

Aku suka ibumu, perempuan kuat yang rela masuk hutan untuk mendampingi ayahmu. Perempuan bersepatu pantovel dengan betis mengkal, siap menanggung beban keluarga dan anak-anaknya. Membesarkan dirimu di tengah bayangan kehilangan kakakmu. Aku tahu, kehilangan terbesar bagi ibu adalah kehilangan anaknya. Saat itu seperti separuh jiwanya hilang. Saat yang ditimang-timang, dicinta, dirawat dengan perhatian yang lebih besar dari pada kepada kekasih. Lalu tiba-tiba hilang, kosong, tak tahu lagi bagaimana menyalurkan energinya. Jadi ketika si Khasiar sang Pengkhabar hadir untuk memberikan jalan pencerahan untuk bertemu kembali dengan kakakmu, ditempuhnya jalan itu.

Seperti juga Enrico yang katanya tidak ingat lagi kematian kakaknya. Kehilangan saudara kandung ketika kecil itu berat. Tiba-tiba belahan jiwa, teman ketika bangun dan sebelum tidur. Dulu aku juga menangisi adikku selama dua minggu, katanya. Dan seperti Enrico, menghilangkan kesedihan adalah dengan perlahan melupakan, mengalihkan pada hal-hal lain.

“Cuma yang sungguh setiakawan adalah dia yang berkorban untuk sesuatu yang tanpa harapan sekalipun!” (h.145)

Tadinya, aku merasa bahwa cerita ini sangat mirip dengan gaya bercerita Salman Rushdie di Midnight Children. Cerita tentang seorang anak dengan waktu kelahiran yang unik, dan kisah hidup yang dihubung-hubungkan dengan sejarah yang terjadi pada masa itu. Aku maklum. Ayu pernah membahas buku ini di Galeri Salihara tempat aku mendengarnya bercakap. Pasti ia suka sekali juga dengan buku ini. Namun, aku berontak dari pikiranku sendiri! Cerita, haruslah dinikmati sendiri, jangan dipikir dengan susah, dikira mirip ini mirip itu, yang membuat kita tidak bisa menikmati ceritanya. Kosongkan pikiran kalau perlu sebelum membaca! Karena yang membuat sebuah cerita itu bagus atau tidak adalah penceritaannya sendiri. Jangan asal membandingkan, karena siapa tahu pembandingnya tidak tepat. Nikmati saja. Baca. Karena Cerita Cinta Enrico ini begitu mengalir, mudah dipahami, seperti mendengar Ayu berkisah bercerita di depan panggung.

”Jika angin itu sedang menerpa lawan mainmu, biarkan dia di atas angin. Sama seperti dengan perempuan, kau harus tahu kapan kau di aatas dan kapan di bawah. Jangan kau paksa dia membuka kartunya. Tinggal pandai-pandai kau membaca angin itu. Aku tak pernah kalah telak, sebab aku tahu kapan berhenti.” (h.140)

Kehidupan masa muda sesudah masa kanak juga dilalui dengan keras. Perjalanan cintamu sendiri rupanya tidak mulus, ya. Tidak tahu, apakah kamu memanfaatkan perempuan untuk kesenanganmu, atau perempuan memanfaatkan untuk kesenangan mereka. Eh, apakah perempuan sama dengan cinta? Mungkin bagi sebagian laki-laki, tidak ya?

Tapi tidak disangkal, laki-laki memang butuh perempuan. Ketika tidak ada, terasa ada yang hilang. Mungkin ini akibat kehilangan tulang rusuk di masa penciptaan. Enrico, ternyata takut juga kamu ditinggal Ayu.

”Betapa menakutkan hidup jika kau tidur dengan mimpi buruk dan terjaga dalam kekosongan. Setiap kali kekosongan itu begitu mencekat, aku menginginkan hadirnya kekasih.” (h.168)


View all my reviews

Jia, Sebuah Kisah Dari Korea Utara

Jia, Sebuah Kisah Dari Korea UtaraJia, Sebuah Kisah Dari Korea Utara by Hyejin Kim
My rating: 4 of 5 stars

#2012-03
Ketika mendengar nama Korea, apa yang kau ingat? Apakah ponsel Samsung, tanaman Ginseng, olimpiade Seoul, atau melodrama mengharu biru dan grup penyanyi beranggotakan banyak orang?
Sadarkah bahwa semua itu hanya terjadi di Korea Selatan? Dan apa yang terjadi di Korea Utara jauh berbeda 180 derajat.

Tahun 80-an, di Korea Utara masih ada gulag, pembuangan tahanan politik, orang-orang yang tidak disukai oleh pemerintahan karena mengungkapkan pikirannya sendiri. Jia mengalami hal ini. Masa kecilnya dihabiskan di daerah pembuangan yang tandus, sampai ia berhasil dilarikan ke Pyongyang. Tahun 1997, ketika di Indonesia iklim politik mulai goyang, di Korea Utara masih saja ada penangkapan-penangkapan kepada warga yang membelot, yang dianggap kaum pembangkang. Silsilah orang diselidiki. Setiap orang bisa menjadi mata-mata atas yang orang lainnya.

Tahun itu, usia Jia 18 tahun, sama denganku di Indonesia. Di sini, aku bisa bersekolah sebagai langkah menuju cita-citaku, di Korea Utara, Jia bekerja sebagai penari tanpa tahu cita-citanya, terjebak dalam cintanya pada seorang tentara yang ia takutkan sikapnya apabila sampai tahu apa yang ia sembunyikan di masa lalu. Dan akhirnya ia melihat tanah seberang sebagai impian. Dan jalan keluarnya harus dibayar mahal...

Yang menciptakan batas itu hanyalah sekelompok penguasa dengan tentara sebagai anteknya, tidak memberi penghidupan yang layak di negaranya, namun tidak mengijinkan rakyatnya untuk bahagia di tempat lain. Orang-orang kecil selalu menjadi korban atas batas.




View all my reviews

Kamis, 08 Maret 2012

The Unknown Errors of Our Lives: Kesalahan-Kesalahan yang Tidak Diketahui dalam Hidup Kita

The Unknown Errors of Our Lives: Kesalahan-Kesalahan yang Tidak Diketahui dalam Hidup KitaThe Unknown Errors of Our Lives: Kesalahan-Kesalahan yang Tidak Diketahui dalam Hidup Kita by Chitra Banerjee Divakaruni
My rating: 4 of 5 stars

#2012-02

"Waktu aku beranjak dewasa di Calcutta, ibuku punya satu ungkapan yang sangat disukainya : Cinta seorang pria baik akan menyelamatkan hidupmu."

Kesembilan kisah dalam cerita ini mengisahkan sepenggal hidup perempuan. Mereka memiliki satu titik, satu hal dalam hidup yang akan mengubah jalan.

Nyonya Dutta yang mencari kebahagiaannya ketika mengikuti anak lelaki dan menantunya ke Amerika, ketika ternyata kehidupan sehari-hari bersama tidaklah sama dengan liburan keluarga. Gelisah. Perempuan yang meninggalkan anaknya untuk menjaga adiknya. Menggantikan tugas ibu yang pernah menjaga mereka berdua. Persaudaraan. Leela dan nyonya Das yang tidak mengenal satu sama lain namun bersama dalam situasi ketidakberuntungan. Rasa bersalah. Mona, yang hidup bersama ibunya sejak kecil, tidak bisa memaafkan ayahnya yang meninggalkannya. Penyesalan. Aparna, yang tergolek di rumah sakit usai melahirkan anak pertamanya, patah semangat untuk hidup, dan dibangkitkan oleh seorang dokter Inggris. Cinta. Seorang kakak, yang hidup berpindah-pindah karena kegagalan keluarganya, seorang ayah yang pemabuk, seorang ibu rapuh yang menyayangi kedua anaknya. Ketakutan. Mira, perempuan Bombay yang melarikan diri ke Amerika sesudah huru hara, mencari kehidupan yang baru dalam cinta perempuan dan laki-laki. Gurun Sacramento yang mengajari pencarian dirinya. Kepercayaan. Ruchira, yang menyadari bahwa setiap orang punya masa lalu, dan tak selamanya itu bisa lewat begitu saja. Selalu bisa kembali tiba-tiba. Apologize. Seorang ibu dan dua anaknya yang berlibur dari California ke Calcutta. Mencoba menelusuri masa lalu di kota ini. Mengenalkan budaya asli pada anak-anaknya yang kelahiran Amerika. Melihat bintang dari dataran India. Kenangan.

Apa yang kau cari, Perempuan? Ketika kau meninggalkan kampung halamanmu untuk mencari pengalaman, tempaan untuk sejenak menguatkan, sebelum berputar dalam lingkaran api itu, dengan sindoor di kepala. Perempuan-perempuan ini punya hak untuk memilih seperti apa hidup yang dijalaninya. Mereka saling menguatkan satu sama lain.
...yang juga percaya bahwa untuk menyelamatkan orang yang kaucintai, kau harus mengorbankan hidupmu sendiri.

Ashwini, Bharani, Kritika, Rohini. Nama-nama bintang dalam bahasa Bengali. Kenangan. Kampung halaman takkan lupa dari ingatan.


View all my reviews

Rabu, 07 Maret 2012

The House of the Spirit (Rumah Arwah)

Rumah ArwahRumah Arwah by Isabel Allende
My rating: 5 of 5 stars

#2012-01
Novel ini indah sekali.
Sebuah novel dengan cerita beberapa generasi, mengenai kehidupan seseorang, kekuasaan, tanah, pergolakan politik di sekitarnya, dan cinta pada keluarga.

Seperti halnya tuan-tuan tanah di Amerika Selatan, Esteban Trueba punya rumah besar yang apik, yang didiami oleh keluarganya, dan tanah perkebunan yang luas, yang didiami bersama petani penggarapnya, yang menghasilkan kekayaan untuk tanah pertanian itu sendiri. Petani-petani tersebut diperkenankan tinggal di lahan itu, dididik sebagai petani handal, anak-anak mereka disekolahkan, sehingga dipikir itulah satu cara yang adil. Trueba punya tanah, petani menggarap dan diperbolehkan tinggal di tanah garapannya. Satu simbiosis mutualisme di masa lampau.

Lalu zona aman itu berubah ketika petani mulai memberontak, menuntut kemerdekaan mereka. Tuan tanah tetap tidak merasa salah, merasa sudah mencukupi kebutuhan orang-orang yang diperkenankan tinggal di tanah. Esteban tidak sadar, bahwa orang-orang di sekitarnya mulai menjauh darinya, berdekatan dengan pihak-pihak yang ia anggap musuh. Di keluarga ini, revolusi memakan anak-anaknya sendiri. Tak diketahuinya anak-anaknya yang menyeberang ke kubu yang menentang tuan tanah. Lalu ia sendiri yang membasmi kubu itu. Dan ia ditinggalkan dalam ketidak tahuannya.

Laki-laki. Kuasa, gagah, dan ego. Tanpa itu mereka tidak bisa hidup. Bahkan dalam sakit pun ia masih mempertahankan kuasa dan egonya. Merasa jumawa atas hidup tiga perempuan : Clara, istrinya, yang dicintainya habis-habisan dan mendampinginya dengan lembut dan keras, Blanca, anak perempuannya yang tidak ia ketahui sisi lainnya, mencintai orang yang dianggapnya salah, Alba, cucunya yang memperjuangkan apa pun demi cinta, bahkan dirinya sendiri, melepaskan diri dari kungkungan keluarganya yang borjuis. Perempuan-perempuan yang masih memiliki sifat lembut di balik kekerasanan hatinya, mempunyai tanggung jawab total dalam ketabahannya, dan keberanian atas keyakinannya sendiri.

Trueba dengan egonya, tidak sadar bahwa perempuan-perempuan ini seharusnya bisa menjadi sumber kekuatannya, namun ia tidak mengalah, karena memang laki-laki tidak mengalah. Zaman yang berubah sejak tuan tanah, revolusi sosialis, penguasaan oleh militer. Ia berdamai dengan dunia dengan caranya sendiri.


View all my reviews

Selasa, 31 Januari 2012

Epitaph

EpitaphEpitaph by Daniel Mahendra
My rating: 3 of 5 stars

#2011-57

Surat yang tak kunjung usai,



Dan,
Sudah banyak yang memperingatkan bahwa novel ini adalah memoar kematian, yang menceritakan kenangan-kenangan akan ditinggalkan seseorang yang amat disayangi. Tapi tetap saja terbit rasa ingin tahuku, karena kematian selalu menimpulkan tanya kenapa, dan pengungkapan misteri di baliknya. Bukan satu perkara mudah untuk menggambarkan kisah di balik jatuhnya helikopter dan hilang berbulan-bulan, jika tidak pernah berada dalam situasi yang mirip. Dan misteri bisa terpecahkan atau tidak terpecahkan. Memoar kehilangan seseorang yang dikasihi dalam kecelakaan helikopter, yang peristiwanya pun dihilangkan oleh yang berkepentingan.

Dan,
Membaca kisah cinta Laras dan Haikal, alih-alih terharu, aku tertawa, melihat karakter Laras yang begitu hidup, bersemangat dan selalu ceria. Haikal, penulis sok cuek dengan gayanya yang cool, sudah pasti diidamkan oleh tipe perempuan seperti Laras, yang bisa menenangkan ambisinya yang meledak-ledak. Pasangan yang sepertinya akan cocok mengisi satu sama lain. Cara berkenalan antar mereka yang biasa saja namun berkesan. Aku seperti berada di sana menyaksikan mereka berkenalan.
"Hei, kamu bahkan belum tahu siapa namaku!" seruku kesal.
Ia berhenti, menoleh kemudian tersenyum :
"Laras Sarasvati!"


Dan,
Aku banyak tergagap-gagap ketika membaca buku ini, menerka-nerka siapa yang sedang bercerita dalam bab ini. Kadang Laras, kadang Haikal, kadang Langi, yang porsinya sedikit. Mungkin banyak karya yang dituliskan lebih dari satu tokoh 'aku', dengan beberapa orang penutur kisah, namun aku sering merasa hilang di dalamnya, bingung apakah penceritaan dalam helaan nafas Langi atau catatan Laras yang hidup dalam penggambaran dialog tokoh-tokohnya. Laras hidup bagai cerita dalam lembaran buku harian, atau udara yang melayang menceritakan tentang kisah hidupnya, ambisi dan mimpi-mimpinya. Lalu aku berpikir, apa yang kau lakukan Langi? Apa yang membuatmu harus ada di sana? Cinta Haikal dan kemampuannya menulis membuat ia seharusnya bisa menjadi penutur utama, dengan emosi dalam dirinya yang tergambar lewat kenangan akan diri Laras. Haikallah orang yang tepat untuk menceritakan ini, bukan Langi, yang tidak kenal, tidak memiliki keterkaitan emosi apa pun dengan keduanya, hanya sebagai pembaca catatan Laras. Tindak Haikal yang hanya sebagai pengantar catatan, dan menelepon hanya untuk mengingatkan Langi, menjadikan karakternya datar, tak lebih seperti bayang-bayang, padahal ia adalah tokoh utama di sini, tokoh yang banyak dihidupkan lewat tulisan-tulisan Laras. Mungkin Haikal bukan tipe orang yang bisa curhat berjam-jam pada Langi, dia akan memendam erat-erat kenangannya. Tapi aku yang membaca, merasa seandainya Haikal yang menulis cerita ini, emosi duka yang terjadi akan lebih kuat, seperti mendengarkan cerita dari orangnya langsung, bukan Langi sebagai penutur kedua.

Dan,
Mungkin seperti pembaca lainnya, aku terganggu dengan catatan kaki yang banyak menjelaskan singkatan-singkatan yang sebenarnya sudah umum di masyarakat. Aku juga terganggu dengan sejarah perfilman yang diceritakan amat panjang. Seharusnya bisa dipersingkat.
Pun juga dengan cerpen yang diselipkan di dalam cerita. Apa ini? Layout cerpen ini menghilangkan garis besar kisah yang hendak kau ceritakan. Seandainya cerpen ini diletakkan dalam bab sendiri, atau dicetak dalam garis miring, mungkin akan membuat pembaca sepertiku tidak kehilangan fokusnya. Ya, mungkin cerpen ini menguatkan karakter Haikal yang cenderung tampak kuat dan tangguh di luar, namun di dalam hati punya hal-hal yang dipendam yang tidak dibaginya ke orang lain, namun cukup mengusik pikirannya. Karakter khas pejalan, pendaki gunung. Ya, aku banyak mengenal karakter itu di sekitarku, lelaki yang tenang, melakukan perjalanan tanpa banyak omong, memilah mana yang perlu atau tidak perlu dibahas, dan bisa mencurahkan isi pikirannya yang berkecamuk dalam tulisan. Mungkin karena itu kamu merasa perlu menyisipkan cerpen di dalam cerita ini, tidak hanya sekedar menunjukkan bahwa Haikal adalah seorang penulis.
Tetapi, apabila kamu memutuskan untuk tidak menuliskan cerpen ini, mungkin akan lebih fokus. Karakter Haikal yang pemikir tampak di saat kunjungannya ke rupah bapak tua di tepi pantai itu, ketika di sana ia dipertanyakan kesepian.
“Kebahagiaan itu bukan dicari, tapi diciptakan.”
“Kau boleh saja merasa kesepian, namun setelah kau ungkapkan kesepian itu, itu bukan kesepian lagi namanya. Seperti halnya rahasia, jika ia telah lagi diceritakan, ia tak lagi pantas disebut rahasia.”


Dan,
Benar, buku ini membangkitkan kenangan akan kematian orang yang amat kita sayang. Ketika sehari-hari bertegur sapa, lalu tiba-tiba tak ada. Apalagi menjadi orang yang terakhir melihatnya dalam keadaan hidup. Rasanya seperti aku terlempar lagi ke lorong waktu 23 tahun yang lalu, ketika kehilangan satu-satunya adik perempuanku. Dan membuat kami meninggalkan kota Bandung dengan duka, dan baru bertahun-tahun kemudian kembali untuk bertinggal lagi. Jembatan dalam sampul bukumu mengingatkanku pada jembatan di Cikutra, yang kulewati setiap aku mengunjungi makamnya.

Dan,
Pegunungan itu, selalu memberikan rasa debar ketika melintas di atasnya. Gerakan naik turun pesawat, dan guncangan-guncangan kecil yang terjadi memberi tanda kita untuk berdoa memohon keselamatan. Membaca lembar-lembar yang mengisahkan pencarian Laras diceritakan dengan rinci dan detail, membuat aku membayangkan lembah tersembunyi yang tidak tersapu oleh tim SAR. Deretan pegunungan yang membentang di sisi barat Sumatera hingga Sumatera Utara, hembusan turbulensi udara yang amat mungkin karena kontur pegunungan dan perbedaan tekanan. Pencarian untuk memberikan penghormatan terakhir dan selayaknya pada mereka.

Dan,
Membaca novel ini, awalnya seperti membaca sebuah monumen kesedihan sebuah kematian, namun lama kelamaan ternyata ini adalah monumen kehidupan, kenangan seorang Laras, seorang gadis yang amat teguh dengan cita-cita, yang tidak pernah beralih sedikitpun. Yang tahu ke mana ia harus melompat, ke mana kakinya harus didaratkan. Menyusun semua langkah yang diambilnya, dengan segala resikonya. Seorang gadis dengan gairahnya yang menggebu-gebu di tengah lesunya perfilman, masih memiliki impian bahwa keadaan akan berubah. Lepas dari stereotipe cita-cita anak kecil. Seseorang yang punya keyakinan akan impiannya. Dan tahu bagaimana mewujudkan mimpinya.

Dan,
Mungkin ceritaku akan lain apabila aku bertemu Haikal terlebih dahulu daripada denganmu. Mungkin akan lebih banyak kukorek tentang sosok melankolis kolerik ini. Atau cerita tentang Laras kekasihnya. Namun waktu mengatakan lain. Aku bertemu denganmu lebih dulu daripada Haikal. Sehingga kita memang tidak bercerita soal laki-laki ini, tetapi tentang hal-hal lain di luar sana. Tapi aku mengaku, Dan. Aku jatuh cinta pada Haikal.

***

setelah merayu setahun penuh, akhirnya aku mendapatkan buku ini dari penulisnya. buat agenda tutup tahun 2011.

buat Indri Juwono,
terima kasih untuk persahabatan yang manis!

Daniel Mahendra
Bandung, 24 Desember
Malam Natal 2011


View all my reviews

Gadis Kaya Yang Sombong

Gadis Kaya Yang SombongGadis Kaya Yang Sombong by Enid Blyton
My rating: 3 of 5 stars

#2011-56

View all my reviews

Tintin 3 in 1 Complete Vol.6

Tintin 3 Complette Vol.6Tintin 3 Complette Vol.6 by Herge
My rating: 5 of 5 stars

#2011-55

Sudah dua tahun aku memburu buku ini. Karena aku punya semua jilid dari seri Tintin hardcover ini, yang kukumpulkan satu demi satu, menabung, kecuali nomor ini, karena aku mencarinya kemanapun. Setiap ke toko buku impor yang kucari adalah buku ini. Susahnya, karena ini adalah edisi lama. Sementara edisi barunya sampulnya beda, dan ukurannya beda juga. Tidak bagus kalau dikumpulkan jadi satu dengan jilid-jilid yang aku miliki, sehingga aku tidak membelinya.

Aku trauma membeli online. Pernah aku memesan dari satu toko buku online di Indonesia, bahkan sampai menunggu 1 bulan sampai datang, karena ia memesan dari luar negeri juga. Sesudah datang, eh, tetap saja sampulnya yang baru, padahal yang dipajang di situsnya adalah sampul yang aku idamkan. Langsung aku kembalikan lagi.
Maka ketika ada di amazon atau book depository mengaku menjual dengan sampul biru ini, aku tak langsung percaya. Kukirimkan email bertanya mengenai konsistensi sampul. Nah, balasannya mereka tak bisa jamin bahwa yang tercantum dalam situs mereka adalah edisi sampul yang sama!
Satu-satunya cara, maka aku harus melihat wujud fisiknya dulu, baru aku membeli. Dan itu berarti aku harus keliling toko buku. Juga teman-teman yang sedang berada di luar negeri kutitipi siapa tahu menemukan edisi incaranku ini.

Lalu aku menemukannya ditawarkan di satu forum jual beli. Langsung kuhubungi orangnya dan bertanya, apakah barangnya masih ada? Masih katanya. Harganya? xxx, katanya. Belum kusetujui untuk membeli, masih ingin membandingkan harga. (kemana?)
Tak disangka, beberapa hari kemudian aku datang ke pameran buku, dan mampir ke stan toko buku ak.sa.ra favoritku, dan bertanya, adakah mereka jual buku Tintin yang kuidamkan ini? Mereka bilang, nanti kami cek ya, sepertinya ada. Keesokan paginya, ternyata dari ak.sa.ra menellepon dan mengatakan kalau buku impianku itu ada!!!
Yihaaa!!! Harganya di bawah xxx pula.
Maka dua hari berselang kemudian aku menjemput si Tintin ini di toko buku tersebut. Dan ia dalam genggamanku sekarang..

Satu yang paling kuperhatikan dalam cerita Tintin ini sejak Destination Moon sampai Tintin in Tibet adalah kemampuan (atau kekurangan) tali temalinya. Bahkan roket, tank bulan, dan menaiki tebing, semua hanya tali belaka, tanpa alat bantu carabiner, towing, atau sejenisnya. Wuih! Imajinasi...

View all my reviews

Sabtu, 28 Januari 2012

Pengantin Dusun di Beverly Hills

Pengantin Dusun di Beverly HillsPengantin Dusun di Beverly Hills by Kavita Daswani
My rating: 4 of 5 stars

#2011-54

karena cinta menuntutmu untuk berpikir dewasa, bukan cuma bersenang-senang..

View all my reviews

Cerita tentang Rakyat yang Suka Bertanya: Kumpulan Cerita Pendek

Cerita tentang Rakyat yang Suka Bertanya: Kumpulan Cerita PendekCerita tentang Rakyat yang Suka Bertanya: Kumpulan Cerita Pendek by A.S. Laksana
My rating: 3 of 5 stars

#2011-53

Malam ini jam 22.05.

Kereta api ekonomi dari Tanah Abang menuju Depok-Bogor. Kereta terakhir malam itu. Kelas tiga, isinya rakyat jelata. Hujan deras di luar, walau tidak diiringi petir bertalu-talu , membasahi kursi-kursi fiberglas warna oranye. Jendela tidak bisa ditutup, sehingga percikan air masuk melaluinya. Layak? Yah, namanya rakyat, cuma bisa menerima, sudah kebawa saja untung, tidak ketinggalan dan tidak harus berganti-ganti kendaraan sampai tujuan. Sampai Depok hanya 1500 rupiah. Sampai Bogor hanya 2500 rupiah. Murah, hanya seharga sebotol air mineral 600 ml kios pinggir jalan, sudah bisa memindahkan rakyat sejauh 80 km.

Kereta ini kosong. Bisa dibilang kosong, karena hanya ada sekitar 30-an orang di dalam gerbong. Semuanya duduk. Hanya ada dua perempuan di situ. Aku dan seorang perempuan berperawakan sedang berambut keriting yang sedang menggunakan ponselnya. Ia tidak takut dirampas ponselnya. Aku takut. Maka ponsel kutaruh di dalam tas yang kupeluk di dada. Dan aku memilih membaca buku ini. Buku Cerita tentang Rakyat yang Suka bertanya. Kumpulan cerpen yang bisa diputus-putus membacanya tiap satu cerita. Tak ada petugas keamanan yang tampak di kereta. Tak ada petugas pemeriksa karcis. Mungkin kereta ini bebas, mengangkut siapa saja yang butuh tumpangan ke Bogor. Disubsidi, untuk membawa rakyat bolak balik dari Jakarta ke Bogor.

Tadi pagi, aku sampai bagian cerpen Para Pencerita oleh Linda Christanty. Di sebelahku, seorang bapak-bapak tua dengan ransel jambon lusuh tidur selonjoran di bangku kereta yang kosong.Ia mengambil empat lima bangku sekaligus. Kepalanya beralaskan seikat karung plastik, entah isinya apa. Sebatang tongkat bambu diletakkan di sebelahnya. Di kananku, seorang bapak-bapak yang mengenakan kaos polo dan selalu mengamati stasiun-stasiun yang dilewati. Ia seperti tidak ingin kelewatan stasiun tujuannya (seharusnya memang semua penumpang tak ingin terlewat tujuannya). Mungkin bapak ini tak terbiasa naik kereta. Lalu lewat seorang pemuda ke arah gerbong belakang. Pemuda itu berperawakan bersih, namun bertato. Aku agak takut. Tapi toh, pemuda itu lewat saja tanpa mengusik orang-orang yang dilaluinya. Depan aku duduk, ada seorang bapak tertidur. Kemeja rapi, celana bahan, sepatu kulit, dan memeluk tas ransel. Naik dari stasiun Sudirman. Mungkin ia lelah bekerja setelah seharian memeras otak di gedung-gedung pencakar langit itu. Sampai pulang semalam ini pula. Mungkin ia memimpikan cepat sampai bertemu keluarganya di rumah. Mungkin juga ia memikirkan anaknya yang masuk SMP tahun ini. Di depan bapak berkaos polo ada anak muda membawa gitar. Mungkin ia habis main ke rumah temannya. Mungkin juga salah satu yang menjajakan suara di warung-warung makan di Tanah Abang ditemani gitarnya. Ia hanya mengenakan celana pendek, kaos oblong dan sandal jepit. Hujan belum berhenti. Melanjutkan dengan Menjadi Anjing dari Miranda Harlan.

Pedagang bebas mondar mandir di dalam gerbong kereta ini. Penjual tahu, penjual jeruk, pedagang jepit dan peniti. Penjual jeruk mengobral dagangannnya yang hampir habis. Sepuluh ribu saja, teriaknya, untuk empat kantong jeruk mini. Penghabisan, katanya. Penjual tahu dan jeruk memakai gerobak beroda yang diluncurkan di dalam gerbong. Bagaimana pengelola kereta mau melarang berjualan? Kita sama-sama cari makan. Ini cara yang halal daripada meminta-minta. Tak perlu dituntut hukum seperti yang dialami Grubug dalam cerpen Oka Rusmini.

Tak seperti biasanya, tak ada anak-anak kecil yang menyapu lantai gerbong sambil berjongkok, dan menengadahkan tangan meminta imbalan dan belas kasihan orang-orang yang duduk sepanjang gerbong. Tak ada juga pengamen dengan kotak musik tergantung di dada mengiringi suara nyanyian lagu dangdutnya. Mungkin karena hujan sehingga mereka malas keluar. Atau mungkin karena sudah malam dan anak-anak kecil penyapu itu sudah belajar di rumah. Mungkin pengamen tadi juga sedang mengajari anak-anaknya menyanyi di rumah.

Inilah rakyat sebenarnya. Yang berjuang untuk keluarganya dan tidak diperhatikan oleh empunya negara di mana mereka tinggal. Yang kemarin ditemui Dahlan Iskan ketika ia naik kereta sejenis ini untuk pergi rapat ke Bogor. Kereta yang kalau pagi ke arah Jakarta terisi hingga satu setengah kali lipatnya kapasitas gerbong. Satu kapasitas gerbong, setengahnya lagi di atap kereta. Penumpang atap bodoh bernyawa tujuh. Tidak penting keselamatan, yang penting bisa duduk dengan berangin daripada berdesakan dalam gerbong. Inilah rakyat yang berpeluh keringat dalam satu kotak benda transportasi yang akan membawa mereka sampai tujuan. Dan mereka hanya bisa pasrah ketika jumlah kereta ekonomi dikurangi dan diganti dengan kereta AC yang lebih mahal ongkosnya. Mereka bertanya tapi tidak didengar. Maka semakin sempitlah kotak gerbong diisi oleh wajah-wajah rakyat yang jujur lelah.

Cerpen terakhir tamat. Juru Runding oleh Puthut EA. Tentang seorang lulusan SD yang karena ketekunannya bisa menjadi orang berpengaruh. Sehingga banyak orang-orang yang membutuhkan jasa dia untuk menegosiasikan sesuatu. Mungkin perlu seorang Mbarno sebagai Juru Runding antara rakyat dan pengelola kereta?

Kereta masuk stasiun UI. Bapak berkaos polo itu bertanya, sudah sampai mana? UI, jawabku. Ia tidak percaya, ia berjalan ke pintu kereta untuk melihat keadaan sekeliling, lalu kembali duduk di sebelahku. Benar UI, mbak. Di stasiun berikutnya ia turun. Masuk stasiun Depok Baru bapak dengan ransel jambon lusuh berdiri dan beranjak turun. Sekarang di deretku tinggal aku dan dua anak muda yang mendengarkan earphone dari ponsel yang digenggamnya. Di luar terdengar suara ting tong ting tong tanda kereta melintasi jalan raya dan palang persimpangan ditutup. Aku berdiri. Lantai gerbong masih basah terkena terpaan hujan dari luar akibat pintu dan jendela yang tak bisa menutup. Kereta berhenti di stasiun Depok Lama. Aku turun. Kupandangi kereta rakyat itu. Orang-orang yang beragam. Sama, aku juga rakyat. Lalu aku bergegas berlari supaya tak kehabisan ojek.

Aku bertanya, kenapa sarana untuk rakyat keadaannya demikian menyedihkan ya? Mungkin juga bukan pengelola kereta yang salah. Pengguna yang merusakkannya juga. Pengelola berulang kali memperbaiki. Hujan belum berhenti. Untung tidak ada gangguan sinyal. Untung tidak ada kabel listrik tersambar petir, langganan penyebab keterlambatan kereta kalau hujan. Terima kasih, kereta rakyat.

Depok lama. 23.10.
27.12.2011



View all my reviews

Amulet Samarkand (The Bartimaeus Trilogy, Buku Satu)

Amulet Samarkand (The Bartimaeus Trilogy, Buku Satu)Amulet Samarkand by Jonathan Stroud
My rating: 5 of 5 stars

#2011-52

Kak Roos sering bilang, buku favoritnya : Barty!
Dan sesudah baca buku ini, nggak salah banget deh, kak Roos bilang begitu. Barty lucu banget..

Bartimeaus : Jin narsis dengan segudang pengalaman, besar kepala, sombong, namun kuat, baik hati dan setia. Setia?? Eh, setia dibawa ancaman tuannya daripada jiwanya terbelenggu dalam kotak berisi serbuk rosemary? Pernah melayani Firaun, mengerjakan istana-istana, sudah hidup beberapa abad.
Nathaniel : yang dilayani Barty. Anak lelaki yang emosinya meledak-ledak, luar biasa dalam menghafal, yang gara-gara balas dendam iseng sampai mengakibatnya terungkapnya persekongkolan penghianatan dalam dunia persihiran di kota London.

Yang satu angkuh tapi lucu, yang satu sombong tapi pemarah. Berdua ini akhirnya bahu membahu dari yang cuma melakukan pencurian ‘kecil’ atas benda’besar’ , sampai menyelamatkan dunia dari tangan penyihir jahat Lovelace yang ingin memenangi dunia dengan benda yang ternyata ‘besar’ itu.
Pertempuran darat, udara, dalam ruangan, dalam kubah, digambarkan seru sekali dan mendetail membuat kita terhisap ke dalamnya seolah-olah menonton kejadian itu. Perubahan wujud jin sesuai kebutuhan, kecerdasan Nathaniel juga sering membuat takjub.

Ah, salah satu terbaik dari genre fantasi. Terjemahannya keren!

Me-review bintang lima selalu sulit..




View all my reviews

Adventures of Tintin: Land of Black Gold, Destination Moon & Explorers on the Moon

Adventures of Tintin: Land of Black Gold, Destination Moon & Explorers on the MoonAdventures of Tintin: Land of Black Gold, Destination Moon & Explorers on the Moon by Hergé
My rating: 4 of 5 stars

#2011-51

Seri Tintin 3 in 1 ini adalah salah satu yang menjadi favorit saya. Sudah pernah baca di waktu kecil, dan baca lagi sekarang edisi bahasa Inggrisnya. Sengaja memang tidak beli lagi edisi bahasa Indonesianya yang diterbitkan Gramedia, soalnya nama2nya lain dari yang aku kenal waktu kecil dulu.
Jadi di sini masih Calculus, Snowy, Thomson dan Thompson..

Pertama adalah pertemuan Tintin dan Capt. Haddock dengan Abdullah, anak Ben Kalish Bab, pengusaha minyak kaya raya dari dataran Arab. Abdullah yang nakalnya luar biasa ini, sering sekali mempermainkan Captain Haddock. Lucu juga, perjalanan mereka di padang pasir dengan humor khas padang pasir seperti fatamorgana, badai pasir, kebodohan Thomson and Thompson berputar-putar di gurun. Juga intrik-intrik di ladang minyak dengan sejuta keberuntungan untuk Tintin.

Perjalanan ke bulan yang kocak banget!
Bayangkan, seorang reporter, seorang pelaut, seorang ilmuwan, pergi ke Bulan.. (ngapain juga ada pelaut pergi ke bulan?), apalagi pelaut ini adalah pelaut yang suka minum mabuk dan suka mengumpat-ngumpat. Bayangkan apabila 'blistering barnacles!'-nya itu dipakai di luar angkasa, menjadi 'sejuta badai asteroid!' . Belum lagi keikutsertaan dua detektif yang ketiduran di dalam roket dan tanpa sengaja terbawa waktu tinggal landas. Lebih lucunya lagi, ketika rambut mereka tumbuh terus menerus..

Pengen juga bagian yang ini difilmkan, pasti seru juga. Dari cuma perjalanan orang-orang lucu ini, bisa jadi heboh banget, perang bintang, konspirasi, perebutan kekuasaan dunia..
Waktu baca ini jadi mikir seorang teman yang pergi ke Tibet karena terinspirasi oleh buku Tintin in Tibet. Lalu, sesudah baca Exploring to the Moon lalu saya tanya,”Dan, kamu kapan pergi ke bulan?”




View all my reviews

Meraba Indonesia: Ekspedisi "Gila" Keliling Nusantara

Meraba Indonesia: Ekspedisi Meraba Indonesia: Ekspedisi "Gila" Keliling Nusantara by Ahmad Yunus
My rating: 5 of 5 stars

#2011-50

Dalam beberapa bulan ini, banyak kesempatan untuk membaca tentang Indonesia, tanah tumpah darahku ini. Dari Arus Baliknya Pramoedya sampai Potongan Cerita di Kartu Pos nya Agus Noor. Masih masuk dalam daftar ingin saya baca adalah Nasionalismenya Pandji.
Benar adanya bahwa buku adalah jendela dunia...
Berkesempatan membaca Meraba Indonesia seperti membangun mimpi-mimpi masa muda saya. Yang suka bertualang. Mimpi saya untuk menjelajahi Indonesia yang indah ini. Mimpi yang terpaksa harus saya gantungkan sesaat demi cita-cita masa kecil. Maka saya gembira sekali ketika diminta untuk memoderatori diskusi bukunya, bercerita tentang suka duka sepak terjang orang-orang yang berani mengelilingi Indonesia, untuk membaginya dengan kita, memberikan jendela pandang untuk kita yang belum berkesempatan untuk itu.

Ini bukan buku catatan perjalanan seperti kebanyakan yang hanya membahas asyik-asyiknya suatu perjalanan. Lebih banyak ditonjolkan sisi humanisnya di sini. Dan perjalanan ini dilakukan di Indonesia! Negeri yang penuh dengan keindahan sekaligus ketidakindahan birokrasinya. Kecantikan yang menutupi coreng moreng di baliknya. Negeri yang sulit untuk dijelajahi karena tersebar di pulau-pulau, sementara transportasi airnya masih jauh dari layak melayani.

Indonesia dari perjalanan Yunus dan Farid dari sisi-sisi terluarnya, yang mereka jalani dari Bandung ke Jakarta, Teluk Kiluan Lampung, Bengkulu, Pulau Enggano, Kepulauan Mentawai, Padang, Tapanuli, Nias, Simeulue, Aceh, Sabang, Medan,..
Di sini mereka meraba tradisi lokal yang masih erat dengan keseharian warga masyarakat. Tato di kepulauan Mentawai, yang perlahan menghilang seiring dengan stigma negatif pemerintahan Orde Baru terhadap perajah tubuh ini. Upacara lompat batu di Nias yang kaya dengan seni budayanya, rumah Omo Hada rumah tradisional Nias yang temasuk dalam World Endangered Heritage, mengingatkan saya akan kekecewaan ketika kuliah saya melewatkan masa ekskursi ke Nias (suatu hari kelak saya akan ke sana..) lalu berpindah ke Simeulue dengan tradisi ‘smong’ yaitu menyelamatkan diri ke dataran tinggi ketika terjadi pasang surut tiba-tiba. Cerita-cerita singkat, namun memberi kesan menarik akan kekhasan daerah-daerah ini.

Selat Malaka, Pulau Penyengat, Pulau Natuna, ke Pulau Kalimantan, Pontianak, Sintang, Pulau Karimata, terus menyusuri sisi selatan dan timur Kalimantan, hingga Derawan, Nunukan dan Tarakan..
Ini pahitnya Indonesia. Bertemu polisi lautan yang seharusnya mengayomi namun malah memeras kapal-kapal yang lewat, kalau begini, bagaimana transportasi laut bisa maju jika untuk menjalaninya sehari-hari pun penuh ketakutan begitu. “Sudah biasa,” katanya. Tidak bisa, jerit batin saya.
Pun melihat Natuna yang berlimpah gas namun rakyatnya tetap tidak makmur. Ini menjadi pertanyaan besar sekali buat Indonesia. Kenapa di daerah-daerah yang hasil alamnya melimpah tapi penduduk di situ tak bisa ikut merasakan imbasnya? Tak hanya Natuna. Bangka Belitung, Papua, dan banyak daerah lain di Indonesia tak pernah menjadi bahan evaluasi. Kenapa hanya sisi eksploratifnya yang ditonjolkan dari daerah-daerah tersebut. Kenapa sisi pengembangan sumberdaya manusia di daerah tidak menjadi salah satu prioritas selain berapa dolar yang bisa dihasilkan oleh daerah itu?
Berpindah ke Kalimantan, potret hutan hujan tropis raksasa itu seakan sirna oleh potret keringnya sungai Kapuas, salah satu yang terpanjang di Indonesia, punahnya hutan oleh area kelapa sawit, pembukaan lahan gambut. Apalagi Kalimantan sekarang. Menurut cerita teman, banyak orang berlomba-lomba mendulang batubara tanpa memikirkan efek samping dari tambang yang ia buka. Banyak lubang-lubang menganga yang hanya dihijaukan kembali sekenanya. Menurut teman saya, perusahaannya berusaha menaati peraturan dengan menanam kembali seribu pohon, namun sesudah itu dibiarkan. Apa yang terjadi? Hutan tropis itu tidak pernah kembali. Tanpa perawatan, tanaman akan mati. Mungkin Yunus dan Farid tidak menuliskan itu sekarang, tapi suatu saat kelak, kebusukan-kebusukan ini harus dibongkar.

Makassar, Takabonerate, Wakatobi, Pulai Banggai, Pulau Togean, Pulau Miangas, Ternate, Raja Ampat, Banda Neira, Merauke..
Di sinilah potret kelautan Indonesia. Ketika mereka menggantungkan diri pada laut yang memeluk keseharian. Laut yang menjadi energi untuk hidup sehari-hari. Maka akan miris ketika mereka tahu bahwa Indonesia akan mengimpor ikan. Sementara mereka bersusah payah bertaruh nyawa setiap hari ke laut.

Dan potret-potret kehidupan lain yang ditampakkan dalam keseharian petualangan mereka. Mungkin mereka hanya tamu, mungkin mereka tidak ikut merasakan apa yang dialami. Tapi mereka berani untuk melaporkan apa yang ada di negeri tercinta ini, supaya semua sadar apa yang terjadi di tepian pantai Indonesia, bukan hanya duduk santai penuh fasilitas di kota bernama Jakarta. Mereka petualang. Penjelajah.


View all my reviews

Piramid

PiramidPiramid by Ismail Kadare
My rating: 3 of 5 stars

#2011-49

“Jangan hiraukan ocehan tolol dan menyesatkan! Piramid bakal membuat kita lebih kuat dan makin bahagia! Piramid akan membantu surga dan bumi mencapai kesepahaman yang lebih baik!”

Buku ini penuh humor?
Entah selera humor saya sedang rendah atau begitu sedih melihat penderitaan rakyat Mesir ketika membangun piramid ini. Piramid yang dibangun selama bertahun-tahun, hanya sebagai perlambang kuasa, ternyata tidak bisa dinikmati oleh si pembangun, pencetus, bahkan si Firaun sendiri yang tadinya tidak ingin punya piramid, menjadi takut ketika piramid itu sendiri sudah jadi.

Pembangunan piramid ini memperlihatkan betapa berkuasanya orang-orang di sekitar penguasa, orang-orang yang merasa bisa meyakinkan si penguasa sendiri. Memperlihatkan si penguasa yang bodoh, yang demi ia ‘mendengarkan-apa-kata-orang-banyak’ tetapi malah mengorbankan ribuan rakyatnya sendiri.

Piramid, yang puncaknya mengangkasa, dianggap sebagai pembelah langit. Keempat sudutnya, yang menunjukkan empat mata angin, sebagai kestabilan dunia. Di situlah si mummi berdiam, dalam kuburan batu yang dibangun oleh ribuan nyawa, dibalsem agar awet hingga akhir jaman, memamerkan kedigdayaannya. Sebenarnya, bukan si Firaunlah yang berkuasa, namun piramid itu sendiri. Piramid yang ketika jadi akan memanggil jiwa Firaun ke dalamnya. Piramid yang ditakuti bahkan oleh pembuatnya.

Ada intrik, persekongkolan, tuduh menuduh, yang tidak pernah terselamatkan oleh namanya kematian. Yang menuduh pun bisa kena pancung, yang menuding bisa kena tikam, semua berebut kepentingan untuk keselamatannya sendiri.

Dalam satu hal proses ‘pemaksaan’ pembangunan piramid ini mengingatkan pada pembangunan calon-gedung-anggota-dewan kita yang katanya representatif. Ada orang-orang yang merasa berkepentingan. Ketika pembangunan Piramid, orang-orang berkepentingan ingin dapat kedudukan yang bagus di sisi para dewa, karena mereka amat mungkin mati sesudah membuatnya. Sedangkan di calon-gedung-anggota-dewan kita, supaya dapat proyek, keuntungan besar di tangan mereka, dan kemungkinan jabatan di sisi presiden kelak. Dan Piramid dibangun untuk kematian, sedangkan calon-gedung-anggota-dewan untuk kerakusan.

Jadi, siapa yang bisa menikmati Piramid? Bukan bangsa Mesir yang tersiksa oleh pembangunannya. Bukan si Arsitek yang tahu bahwa ia akan mati untuk mengubur rahasianya. Bukan juga Firaun yang telah menghukum orang-orang atas dakwaan memperlambat kerja pembangunan. Kemudian ia menghukum orang-orang lain karena alasan sebaliknya, mempercepat laju pekerjaan. Lalu sekali lagi untuk alasan yang pertama. Dan sesudahnya tanpa alasan sama sekali. Dan ia akhirnya merasa bahwa piramid menginginkan dirinya untuk mati, untuk bersatu dengannya.

Piramid adalah monumen kebanggaan, kekuatan, sekaligus monumen ketakutan yang luar biasa.


View all my reviews