ulasan. resensi. kesan.

ulasan. resensi. kesan. ini bukuku, apa bukumu?

Minggu, 09 Maret 2014

Sarongge

SaronggeSarongge by Tosca Santoso

My rating: 5 of 5 stars


Satu setengah tahun yang lalu, aku melihat buku ini di lantai basemen Blok M Square. Pertama melihat aku langsung tertarik, berjudul Sarongge, karya Tosca Santoso, dengan sampul sebuah pohon besar yang rindang, dengan pengantar Ayu Utami. Saat itu aku tidak menanyakan harganya, karena takut mahal dan belum tahu harga aslinya. Dan lagi, jumlah buku yang belum kubaca di rumah juga menumpuk banyak, sehingga aku tidak berniat menambah timbunanku itu.

Beberapa bulan kemudian, tiba-tiba aku ingat lagi dengan buku itu, ketika daerah Sarongge mulai diperbincangkan di twitter. Baru aku tahu, bahwa Sarongge itu nama daerah di kawasan Puncak, di mana di sana ada program adopsi pohon dari Green Radio. Aku mulai mencari lewat toko buku online yang ternyata sudah tidak ada stok dan akhirnya menanyakan ke penulisnya langsung @toscasantoso via twitter. Ternyata di toko-toko buku di Jakarta sudah tidak ada, dan masa iya aku keliling seluruh toko buku? Jakarta itu kan propinsi, sehingga agak sulit dicapai ujung satu dengan satunya lagi. Bisa berhari-hari kalau keliling.

Untunglah, dengan pertemananku dengan pencinta-pencinta buku, ada yang memberi tahu kalau buku ini masih ada di Toga Mas Semarang. Aku langsung menitip pada rekan BBI Tezar dibelikan dan kubilang nanti kuambil kalau aku ke Semarang. Tetapi buku dikirimkan lewat seorang teman pada bulan September 2013, ke Jakarta, dan belum ketemu juga denganku sampai aku ke Semarang di Oktober 2013 (Kubilang juga apa, Jakarta itu propinsi, bikin janji temu aja susah!). Akhirnya buku itu sampai di tanganku pada bulan Desember 2013, bersama dengan Tezar ke Jakarta, dan bertemu juga dengan Essy yang dititipi bukunya. Oh iya, pada bulan Nopember ketika aku berjalan-jalan ke Toga Mas Depok, aku menemukan 2-3 eksemplar juga buku Sarongge ini. (laahh, tahu ada di sini ngapain nitip?)

[caption id="attachment_2119" align="aligncenter" width="500"]
sarongge (sumber : toscasantoso.tumblr.com)
sarongge
(sumber : toscasantoso.tumblr.com)[/caption]

Ekspektasiku tidak salah. Aku terharu membaca bab-bab awal buku ini. Bercerita tentang kawasan petani di Sarongge yang terdesak oleh hutan Perhutani yang mengakibatkan mereka tidak bisa berladang lagi. Berebut cahaya matahari antara pepohonan hijau dengan sayuran yang ditanam petani. Disalahkan atas berpindah-pindahnya lahan berladang. Dan petani yang terdesak oleh pemodal besar yang menguasai pertanian komoditas tertentu yang sedang 'in' sehingga berebut pasokan air dari sumber bersama. Dan mereka selalu kalah karena kurangnya pengetahuan sehingga sering dikelabui oleh pasal-pasal buatan penguasa.

Meskipun mengambil bentuk novel, tapi buku ini menjejali kita tentang pengetahuan tentang tanaman-tanaman tropis, kehidupan petani Indonesia yang terkena dampak besar oleh salah guna olah lahan oleh pemerintah, dari sisi pengetahuan Husin, seorang Sarjana Pertanian yang mengabdikan harinya untuk membantu masyarakat desa Sarongge memaksimalkan daerahnya di bidang pertanian. Juga dari sisi Karen, pejuang lingkungan yang mempertahankan hak tanah ulayat yang semena-mena diaku menjadi tanah pemerintah untuk ‘dijual’ kepada perusahaan pemegang HPH atau pemilik izin tambang.

Mengikuti perjalanan Husin, seperti berada di sampingnya saat ia menjelaskan tanaman ki hujan, cecenet, rasamala, saat langkahnya satu per satu mendaki Gunung Gede menyusuri jalur ritual penduduk menuju makam Eyang Suryakencana, sedih melihat gambaran edelweiss yang lama kelamaan berkurang karena ratusan pendaki menghancurkan proses hidupnya. Menghidupkan pertanian organik dengan bahan alam untuk pupuk dan pembasmi hamanya. Memaksimalkan potensi-potensi hutan untuk dinikmati bersama oleh warga di kaki gunungnya. Menikmati alam dengan sederhana.

Tiap kali di bawah tenda seperti ini, saya merasa alangkah sedikitnya sebetulnya ruang yang dibutuhkan manusia.
[h.83]


Bersama Karen yang menyerang pengusaha hutan di Riau yang ingin mengubah hutan gambut menjadi kelapa sawit, dan bertahan dari pengusaha tambang di Sumba, hingga pengejarannya di Papua, membuat gemas. Kenapa orang demikian serakah ingin memperkaya dengan menggali terus menerus dari bumi yang subur ini, yang sudah memberikan secukupnya untuk masyarakat yang ada di sekitarnya dan merawatnya kembali, kemudian jatuh ke tangan orang-orang yang mengaku pintar, namun hanya bisa mengeksploitasi, meraup sebesar-besarnya, tanpa berpikir untuk mengembalikan kondisi itu sehingga bisa bermanfaat untuk sekitarnya? Masyarakat sekitar menjadi miskin, kehilangan tempat mencari bahan makanannya karena sudah berubah menjadi tambang, dan memaksakan penggantinya sesuai caranya seolah-olah itu adalah yang benar untuk penduduk setempat.

Di Papua, ratusan pohon sagu ditebang untuk diubah menjadi kebun kelapa sawit, sementara penduduk yang terbiasa makan sagu diminta mengganti makan beras, yang juga harus diimpor dari luar Papua. Jangan tanya tentang perusahaan tambang tembaga yang menemukan emas ketika mereka mendapat hak untuk 'merusak' gunung suci yang berada dalam wilayah ulayat suku Amungme. Gunung tembaga ini adalah duku-duku sebutan untuk gunung suci yang dianggap sebagai tempat kembalinya arwah setelah mati. Ketika gunung sudah hilang ditambang, ke mana arwah mereka pergi? Kepercayaan ini diingkari begitu saja. Diabaikan.

Misalnya tambang tembaga itu ditemukan di bawah Tembok Ratapan Yerusalem, apakah orang Yahudi akan membiarkan tempat suci mereka digusur buldoser penambang? Kalau tanah Emas ada di bawah Ka'bah di Mekah, apa ada yang berani menambang di sana? Atau kalau sumber uranium ada di bawah bait Allah di Yerusalem, siapa yang akan membongkar tempat suci itu tanpa membangkitkan perlawanan orang Kristen? Agama-agama besar punya pembelanya sendiri. Sedangkan kepercayaan Amungme akan lenyap, bersama gunung mereka yang setiap hari dikeruk buldoser.
(h.300)


Aku seperti mencintai negeri ini sekaligus membenci pengelolanya. “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.” itu tak lebih dari jargon yang ditanamkan semasa sekolah. TANPA adanya penanaman mental yang cukup bahwa kita HARUS menjaga negeri ini, maka negeri ini akan jatuh pada mental serakah seperti masa penjajah yang dijilat oleh kerajaan yang mau daerahnya aman. Seharusnya tidak begitu. Seharusnya dengan berbagai macam disiplin ilmu yang membuat jumlah intelektual muda meningkat negeri ini dan sadar tingkat kritisnya negeri ini. Seharusnya pengusaha-pengusaha ini sudah waktunya berpindah generasi yang lebih melek lingkungan. Seharusnya belajar dengan musnahnya budaya, pemukiman, akan mengakibatkan berkurangnya kekayaan negeri ini, yang tidak sekadar dijadikan tontonan, tapi membiarkan hidup dengan kebiasaan-kebiasaan budayanya. Berpikir global tidak melupakan yang lokal.

Biarkan zamrud itu berkilau lagi...


Inilah saat kita
menjemput embun dan matahari
Tanpa kata. Tanpa peta
Tak perlu janji hari nanti
[h.125]


minggu panas : 23.02.2014 : 17.02 : menanti hari bumi 22 april

[caption id="attachment_2120" align="aligncenter" width="500"]
program adopsi pohon (sumber : toscasantoso.tumblr.com)
program adopsi pohon
(sumber : toscasantoso.tumblr.com)[/caption]

View all my reviews



Tidak ada komentar: