ulasan. resensi. kesan.

ulasan. resensi. kesan. ini bukuku, apa bukumu?

Minggu, 29 Juli 2012

Memori

MemoriMemori by Windry Ramadhina
My rating: 4 of 5 stars

Harus kuakui, ekspektasiku cukup tinggi ketika tahu bahwa tokoh utamanya adalah seorang arsitek, profesi yang kugeluti selama 10 tahun ini. Dan pengen tahu aja, apakah Windry menggambarkan arsitek sebagai seseorang yang hidupnya menyenangkan, hanya menggambar-gambar, berkhayal, dapat duit, seperti yang sering dideskripsikan selintas lalu dalam novel-novel lain (atau sempat main piano sambil Arisan!), atau arsitek yang menderita bahagia sepertiku (haha.. pengakuan suffer in happiness) yang sering kepontang panting, sebel sama bos, kadang-kadang ditolak, kadang-kadang dibilang hebat, berkelung asa mewujudkan mimpi orang lain, tergila-gila pada Frank Gehry.. (kalau aku masih mimpi bekerja pada Ken Yeang di Malaysia).

Yeaa.. sebagai seorang arsitek betulan, Windry memilih yang kedua. Dikelotoknya bagaimana bekerja di sebuah biro arsitek itu, dari sejak mulai menarik garis, mengutak-atik AutoCAD (sekarang sih Sketch Up ya?) tertidur sambil menggambar, hidup antara kopi dan kebul semen, presentasi satu ke presentasi lainnya. Nggak ada tuh acara sering nongkrong-nongkrong di cafe (mana sempat??) apalagi nongkrong di club sambil gila-gilaan. Kalaupun ada sempat, tentu sambil ngobrol hal-hal menarik, bukan gosip mondar mandir kiri kanan selebriti haha hihi nggak jelas (sama ibu-ibu Arisan!).

Yang jelas jadi arsitek itu membahagiakan kok. Truly definitely. Namanya juga cita-cita. Dijalani dengan passion dan tanggung jawab.

(Hah? Siapa itu yang ngomong? Siapa itu yang suka galau sendiri kalau tengah malam masih di kantor berkutat dengan CADnya dan memaki-maki komputernya? Siapa itu yang teriak-teriak dengan jargon dewa 'Kerja adalah cinta yang mengejawantah'? Dan dijawabnya sendiri 'Makan itu cinta!!!')

:))))
Semangat, In!!

Di luar ke-arsitek-annya, konflik Mahoni dan keluarganya sangat menarik. Ia sangat tabah menghadapi apa yang menimpa dirinya. (ya, iyalaah.. kan arsitek! *plak* apa coba hubungannya?) Kehidupannya di Virginia yang mendadak harus ditukar dengan kehidupan di Indonesia dengan keluarga ayahnya yang nggak pernah dikenalnya. Dan menjalani hari-hari barunya di tengah kesibukannya sebagai arsitek. Wajar buat aku, karena aku pun pernah mengalami kerja gila-gilaan di tengah konflik luar biasa, dan terima kasih semesta, satu dengan yang lain ternyata saling mendistraksi dengan caranya sendiri. Dan sesudah itu lewat, cuma bisa bersyukur bahwa kita tidak menjadi gila karenanya. Setiap tempaan akan membuat kita lebih kuat. Life must go on..

Yang membuat aku tersenyum tertawa dalam buku ini adalah nama tokoh-tokohnya. Sebagai seseorang yang berguru pada padepokan gambar bangunan yang sama dengan Windry (gosh, apa kata pak GT kalau baca kalimatku di atas :)) Simon Marganda adalah teman satu studioku di tahun terakhir, dari survey site hingga nginep bareng, tentunya aku nggak akan lupa tawa dan candaan Simon yang baik hati in, hmm.. 10 tahun yang lalu?? Sudah lama juga ya. Masih inget tampang si Simon.
MOSS Studio, iya pernah dengar lah, isinya teman-teman sepadepokan yang kreatif berani bikin sendiri. Neri, is it the same girl i knew work in hadiprana, eh?

Ceritanya bisa ditandai sebagai penceritaan yang berhasil tentang profesi arsitek (Kelihatan menderita dan galaunya gitu, hahaa!!) Aku bahkan tak mengenal Windry di masa perkuliahan, cuma kebetulan kenal di goodreads, dan ternyata kami satu suhu. ;))

Dan kalau kata kak Ardianto Rusly : Menggambar adalah membangun dalam pikiran.. Pikirkan apa yang kamu gambar ini bisa dibangun. Selesaikan logisnya. (demi apa aku mengutip kata-kata beliau), maka cerita ini ibarat desain, Windry menyelesaikan buku ini dengan finishing yang rapi dan logis. Cinta pada yang dicinta, atau cinta pada mimpi-mimpinya? Hidup ini pilihan. Termasuk apakan kamu memutuskan untuk jadi arsitek atau tidak. Apapun yang kau lakukan, kerjakan dengan hati. Sehingga kamu bisa senantiasa bahagia.

\\(^_^)//
*back to my desktop and pray 'langit tak akan runtuh di atas kepala kita'*





View all my reviews

Tidak ada komentar: