ulasan. resensi. kesan.

ulasan. resensi. kesan. ini bukuku, apa bukumu?

Sabtu, 18 September 2010

Gadis Charleston (Twenties Girl)

Gadis Charleston (Twenties Girl)Gadis Charleston by Sophie Kinsella

My rating: 5 of 5 stars


#2010-61#



”Kalau kau tinggal di suatu tempat, tidak peduli berapa lama, kau perlu melibatkan diri dengannya. Kalau tidak, kau tidak benar-benar menjalani hidupmu. Hanya berfungsi.”h.334.



Twenties girl. Gadis 20-an. Gadis dari tahun 1920 bernama Sadie Lancester. Selalu berusia 20 tahun. Karena dia tidak fana. Dia hantu. Arwah penasaran yang tidak mau dikubur karena belum menemukan kalung kesayangannya.



Sadie menghantui cucu buyutnya, Lara, untuk mencari kalungnya. Lara yang mulanya terganggu dengan kehadiran Sadie, ditambah dengan kepusingan pekerjaannya karena rekanannya meninggalkannya, akhirnya bisa bersahabat dengan Sadie. Lucunya, Sadie memaksa Lara untuk berkenalan dengan Ed, salah satu eksekutif yang ia taksir, seseorang yang baru tinggal di London tapi tak pernah berjalan-jalan.



Konflik disajikan antara hubungan Lara dengan keluarganya, dengan Josh mantan pacarnya, pamannya yang pengusaha terkenal, pencarian kalung, pencarian kandidat headhunting, perkenalannya dengan Ed, dijalin dengan cerita yang mengalir lancar dan lucu, tanpa berkesan banyak kebetulan. Mungkin lebih banyak kenekatan.



Menariknya adalah, perindahan loncatan antara hal-hal yang dialami oleh Lara terjadi sangat apik, seperti membuka hari. Tidak terasa terburu-buru, tetapi runut menceritakan kejadian pada satu waktu ke waktu yang lain. Satu ketika ia berbicara tentang menghadapi klien, lalu malamnya berkencan dengan Ed, yang dirangkai dengan kehadiran hantu Sadie yang mengganggunya.



Yang menjadi nilai tambah saya adalah Kinsella menceritakan dengan detail setting profesi Lara, bagaimana kesehariannya, kesibukannya, yang membuat tokoh ini istimewa, membuat kesibukan hariannya memang menjadi bagian dari cerita tanpa terasa sebagai tempelan belaka.



Cara mengungkap misteri siapa Sadie sebenarnya terasa agak kebetulan, tapi, itulah khas tokoh tak-mau-menyerah Kinsella, ketika semua kekesalan menghimpit, kekuatan terbesarlah yang akan keluar.



***

Sophie Kinsella selalu menjadi favorit saya. Walaupun ceritanya sering berupa cinderella story, tapi cara pengemasan dan kelucuan barunya membuat karyanya dinanti. Yang saya kagum, ia berhasil lolos dari prototipe 'Becky Bloomwood' dari Shopaholic series yang melambungkan namanya. Banyak penulis cerita serial yang tidak bisa menulis sesuatu yang berbeda dari karakter barunya. Namun, Kinsella berhasil lepas dari jeratan itu. Tokoh-tokohnya selalu memiliki identitas baru, bila dibandingkan dengan tokoh di Shopaholic, menyelesaikan masalah dengan cara yang berbeda-beda. Sehingga bisa dibandingkan Emma Corrigan di Can You Keep a Secret?, seorang gadis yang tak sengaja membocorkan rahasia dirinya pada seseorang yang tak ia kenal, yang ternyata rekanan kantornya, Samantha si pengacara super pintar yang kaget dan menemukan dirinya adalah The Undomestic Goddess di daerah pedesaan, Lexy si bukan siapa-siapa yang mengalami amnesia 3 tahun dalam Remember Me? adalah sales karpet, dan Lara ini, twenties girl, dari perusahaan headhunter yang didatangi arwah penasaran.



Apakah tidak ada persamaan? Tentu ada. Kinsella selalu membuat gadis-gadis ini tidak terlalu cantik,tampak bodoh, kekurangan cinta, dan mendapat pangerannya karena intensitas pertemuan. Namun gadis-gadis ini selalu memiliki kekuatan tersembunyi, ide-ide dan keberanian, prinsip percaya diri yang kuat, bahkan untuk mengambil risiko. Di saat uang tidak bisa menyelesaikan segalanya.



Inner beauty itu memang ada. Kecantikan tidak tersembunyi dalam kaki jenjang, pinggul ramping, atau rambut pirang. Justru ketidaksempurnaannya membuat gadis-gadis ini dijatuhcintai. Melalui dialog-dialog cerdas dan lucu, sifat sedikit manja tapi mandiri, walaupun betis besar, badan agak gemuk, menjadi tak nampak karena lebur dengan kehangatan dan persahabatan yang diberikannya. Karena ketidaksempurnaan berarti ada sesuatu yang harus diisi untuk mengimbangi.



Mereka seperti girl next door yang bisa menjadi sahabat anda, kekasih, saudara. Terkadang bingung dan bengong, namun manis, ramah, dan berani mengambil sikap.



Tidak usah repot untuk mengatakan ini bacaan ringan atau berisi. Sebut saja ini kisah cinta, persahabatan, keberuntungan, ide, keberanian dan kenekatan. Untung juga saya dapat buku ini dari sahabat. Terima kasih kang Hippo atas e-booknya, terima kasih Ijul atas bukunya..





View all my reviews

Tidak ada komentar: